Share

Dikejar Mantan, Dipeluk Atasan
Dikejar Mantan, Dipeluk Atasan
Penulis: Riichan

BAB 1

Penulis: Riichan
last update Tanggal publikasi: 2026-06-24 16:03:57

“Bukankah itu Leon Vale?” ucap salah satu rekan kerja Loraine.

Beberapa orang menatap ke arah luar jendela dari lantai tiga. Lalu beralih ke arah Loraine yang mencoba tetap fokus bekerja.

“Iya, sudah sekitar enam bulan, mantan suami Loraine melakukan itu,” jawab rekan kerja lain.

Beberapa orang melirik ke arah Loraine lagi. Ia merasa tidak nyaman dengan tatapan sinis rekan-rekan kerjanya itu.

“Lagian, kenapa sih kau bercerai dengan pria sebaik dan seromantis Leon Vale?” tanya salah satu rekan kerja yang duduk tepat di samping Loraine.

“Benar, banyak wanita mendambakan untuk menjadi pasangannya. Lalu kau? Malah melepaskannya,” sahut rekan kerja lain.

“Ehm… kembali bekerja,” ucap asisten manajer.

Suasana kembali tenang setelah asisten manajer menegur. Loraine bisa sedikit bernapas lega. Ia sesekali melirik ke arah jam dinding, berharap agar waktu berhenti supaya ia tak pulang.

Lalu rekan kerja di sampingnya kembali berbisik pelan, “apa kau sedang jual mahal? Atau sedang pamer karena seorang Leon Vale tergila-gila padamu meski sudah bercerai?”

Tanpa menunggu respons dari Loraine, rekan kerjanya itu kembali fokus pada layar komputer di depannya.

Ucapan mendadak rekan kerjanya itu terngiang di kepala Loraine. Ia menelan ludah kemudian memejamkan matanya. Mencoba mengalihkan fokusnya untuk mencari cara agar tak bertemu dengan mantan suaminya saat pulang nanti.

“Loraine?” panggil asisten manajer.

Loraine tak menjawabnya, ia terhanyut dalam pikirannya sendiri. Asisten manajer kembali memanggilnya untuk kedua kalinya, tetapi tetap tak mendapatkan jawaban dari Loraine. Sampai akhirnya siku rekan kerja di sampingnya Loraine menyenggol sikunya dengan kuat.

Loraine tersentak dan menoleh langsung ke arah rekan di sampingnya.

“Apa telingamu sudah tak berfungsi? Asisten manajer memanggilmu beberapa kali!” bisiknya.

Loraine panik dan berdiri lalu membawa catatan dan bergegas menuju meja asisten manajer. Tatapan tajam asisten manajer membuatnya kembali tak nyaman.

“Ma-maafkan saya, Bu. Saya tidak mendengar panggilan Anda,” ucapnya akhirnya.

Asisten manajer menghela napas panjang.

“Kinerjamu akhir-akhir ini memburuk. Banyak kesalahan pada dokumen yang kamu kerjakan. Jadi sebaiknya kamu hari ini lembur dan perbaiki semuanya,” ucap asisten manajer sambil menyodorkan dokumen-dokumen yang perlu perbaikan.

“Ba-baik, bu,” jawab Loraine sambil menunduk.

“Sebaiknya pisahkan antara pekerjaan dan urusan pribadi. Kalau kinerjamu semakin memburuk lebih dari ini, terpaksa perusahaan akan memutus kontrak kerjamu. Yasudah, kamu boleh kembali ke mejamu lagi,” lanjut asisten manajer.

Loraine menunduk pada asisten manajer dan kembali ke meja kerjanya.

“Kali ini aku harus fokus pada kerjaanku,” gumamnya dalam hati.

Ia melihat tumpukan dokumen yang harus diperbaiki lalu tersenyum pelan dan berpikir, “dengan ini, aku bisa pulang terlambat. Leon sudah pasti tak ada di sana lagi saat aku pulang nanti.”

Pikiran itu membuatnya sedikit lega, mengingat tekanan yang ia rasakan sejak enam bulan terakhir.

Waktu berlalu tanpa ia sadari. Saat menoleh ke arah luar jendela, langit sudah gelap. Ia melihat jam dinding yang sudah menunjukkan hampir pukul 10 malam.

“Wah… sudah selarut ini,” gumamnya.

Ia menatap ke sekelilingnya, tak ada siapapun dan hanya dirinya sendiri. Ia bergegas menyelesaikan dokumen terakhirnya.

Akhirnya setelah selesai, ia bersiap untuk pulang. Namun sebelum itu, ia melirik ke arah jendela lagi. Memastikan bahwa Leon tak lagi menunggunya.

“Di-dia sudah tak ada,” gumamnya lega.

Lalu ia berjalan keluar ruangan dan menuju ke arah lift. Saat lift berhenti di lantainya, pintu lift terbuka. Ternyata ada seseorang di dalamnya, Loraine sedikit membungkuk padanya.

Nathan hanya mengangguk pelan. Loraine sedikit canggung, sebab untuk pertama kalinya ia satu lift dengan seorang direktur operasional. Terlebih hanya berdua saja.

“Baru selesai lembur?” tanya Nathan memecah keheningan.

“Be-benar, pak,” jawab Loraine.

Pintu lift terbuka di lantai satu, Loraine kembali membungkuk sebelum ia keluar. Nathan kembali mengangguk pelan saat pintu mulai tertutup. Dan pintu lift kembali terbuka di basement, ia keluar dan menuju mobilnya yang terparkir tak jauh dari pintu lift.

Di waktu yang sama, Loraine berjalan keluar dari gedung. Karena yakin Leon sudah tak ada, ia merasa lega. Baru beberapa langkah dari pintu gedung, tiba-tiba lengan nya ditarik paksa.

“Lepaskan aku!” ucapnya.

Leon tak menghiraukan ucapan Loraine. Dia tetap menariknya paksa.

“A-aku akan berteriak jika kau tak melepaskanku,” kata Loraine.

“Teriak saja, lihat sekelilingmu. Apa ada orang yang akan menolongmu?” jawab Leon dengan santai.

Loraine melihat sekeliling dan ternyata memang sepi. Tak ada orang lewat atau siapapun yang bisa dimintain tolong. Ia akhirnya tetap mencoba melepaskan diri.

Namun karena tak fokus memperhatikan jalan, ia tersandung dan tersungkur jatuh. Leon tetap memegang lengannya, bahkan sekarang menyeret wanita itu tanpa peduli. Ia berjalan menuju mobilnya yang terparkir di pinggir jalan.

“Hentikan, sakit!” rintih Loraine.

Air matanya keluar tanpa bisa ditahan. Loraine memohon pada Leon. Leon pun berhenti dan menoleh padanya, lalu menarik paksa untuk membantunya berdiri.

“Aku sudah cukup bersabar menunggumu kembali, dan sekarang kesabaranku sudah habis!” teriak Leon untuk pertama kalinya pada Loraine.

Tubuh Loraine mendadak bergetar, kakinya terasa lemas dan ia terjatuh kembali. Air matanya bercucuran tanpa henti, ia benar-benar tak memiliki tenaga untuk melawan.

“Aku tak mau kembali ke rumah itu,” bisik Loraine pelan.

Leon tak mendengar ucapan Loraine, dia kembali menyeret Loraine. Kemudian membuka pintu mobilnya. Saat hendak memasukkan Loraine ke dalam mobil, seseorang menarik lengan Leon untuk menghentikannya.

“Cukup!”

Suara itu membuat mata Loraine terbelalak.

Bersambung…

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Komen (2)
goodnovel comment avatar
Luna Maji
Takut sama Leon....
goodnovel comment avatar
Krisna Dewi
Kok seruu ini novel
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • Dikejar Mantan, Dipeluk Atasan   BAB 78

    “Kalau begitu...” ucap Nathan. Loraine menatapnya.Nathan mengangkat alis. “Bagaimana dengan pesta pernikahan kita?”Pertanyaan itu membuat pikiran Loraine yang sebelumnya sudah mulai tenang kembali berantakan.“Pesta pernikahan,” pikirnya. “Benar. Kami baru saja membicarakan berakhirnya kontrak, lalu Pak Nathan mengungkapkan perasaannya, dan sekarang bagaimana dengan pesta pernikahan yang tinggal beberapa minggu lagi?” batinnya sangat bergejolak. Loraine menundukkan wajah.“Bagaimana dengan pesta pernikahan kita?”Pertanyaan Nathan kembali terngiang di kepalanya. Sejujurnya, Loraine sendiri tidak tahu.“Kalau menurut saya...” Loraine berhenti sejenak. “Saya akan mengikuti keputusan Anda.”Nathan mengerutkan dahi. “Mengikuti keputusanku?”Loraine mengangguk pelan.“Ya. Bagaimanapun, pesta ini awalnya diadakan karena kontrak kita.” Loraine memainkan ujung tisu di tangannya. “Jadi setelah kontraknya berakhir, saya pikir keputusan selanjutnya ada di tangan Anda.”Nathan menatapnya bebe

  • Dikejar Mantan, Dipeluk Atasan   BAB 77

    “Loraine, jangan menangis seperti itu. Aku benar-benar tidak tahu harus melakukan apa.” Suara Nathan terdengar panik.Loraine masih menunduk. Tangannya menggenggam tisu yang diberikan Nathan, sementara air mata terus mengalir tanpa bisa ia hentikan.Ia sendiri tidak mengerti kenapa dirinya menangis sebanyak ini. Padahal Nathan tidak mengatakan sesuatu yang menyakitkan, justru sebaliknya.Untuk pertama kalinya, pria itu mengatakan apa yang sebenarnya ia rasakan. Nathan mencintainya. Kalimat sederhana itu terus berputar di kepala Loraine. “Aku mencintaimu, Loraine.”Entah kenapa, mendengarnya langsung dari mulut Nathan membuat dadanya terasa sesak sekaligus hangat. Selama beberapa waktu terakhir, Loraine memang mulai menyadari bahwa sikap Nathan kepadanya telah berubah.Perhatian kecil yang semakin sering diberikan. Cara Nathan selalu memastikan dirinya sudah makan lalu cara pria itu memperhatikannya ketika mereka sedang berada di rumah. Ba

  • Dikejar Mantan, Dipeluk Atasan   BAB 76

    “Apa yang ingin Anda sampaikan?” tanya Loraine. Nathan terdiam, pertanyaan sederhana itu justru membuat seluruh keberanian yang sudah dikumpulkannya sejak tadi terasa menghilang.Ia menatap Loraine yang masih duduk di hadapannya. Wanita itu terlihat tegang. Kedua tangannya masih berada di atas pangkuan, sementara matanya menatap Nathan dengan penuh rasa penasaran.Nathan menarik napas panjang, ia sudah sampai sejauh ini. Kontrak mereka sudah berakhir. Tidak ada lagi alasan untuk menyembunyikan perasaannya di balik kesepakatan. Jika ia ingin mempertahankan wanita itu, sekarang adalah satu-satunya kesempatan untuk mengatakannya.“Ada sesuatu yang sebenarnya sudah cukup lama ingin kukatakan,” kata Nathan. Loraine menunggu.Nathan menatapnya beberapa detik sebelum akhirnya berkata, “Mungkin ini akan terdengar egois.”Loraine sedikit mengerutkan dahi. “Egois?” ulangnya. Nathan mengangguk pelan. “Karena setelah kontrak ini berakhir, seharusnya aku membiarkanmu pergi.”Jantung Loraine be

  • Dikejar Mantan, Dipeluk Atasan   BAB 75

    “Mengakhiri kontrak?”Nathan masih terdiam, kalimat Loraine terus berputar di kepalanya. Ia menatap wanita di hadapannya tanpa berkata apa-apa. Untuk beberapa detik, pikirannya benar-benar kosong.Lalu berbagai kemungkinan mulai bermunculan.Jika ia menyetujui permintaan Loraine, semuanya akan selesai. Tidak ada lagi alasan bagi mereka untuk tinggal bersama. Loraine bisa kembali menjalani hidupnya sendiri.“Lalu, bagaimana dengan diriku?” tanya Nathan dalam hati.Ia menundukkan wajahnya. “Tapi jika aku menolak? Aku membutuhkan alasan,” lanjutnya dalam hati.Ia ingin mengakui bahwa dirinya tidak ingin kontrak itu berakhir. Dan itu berarti harus mengakui perasaan yang bahkan sampai sekarang masih dipendamnya itu.Nathan mengepalkan tangannya di bawah meja.“Aku setuju,” suara dalam pikirannya berkata demikian. “Kalau memang dia ingin pergi, lepaskan.” Namun suaranya yang lain segera menyela. “Tidak.” Nathan menarik napas panjang. “Kalau aku mengatakan tidak, lalu apa yang akan kukataka

  • Dikejar Mantan, Dipeluk Atasan   BAB 74

    Dua bulan berlalu sejak Nathan pertama kali menyadari bahwa perasaannya terhadap Loraine sudah berubah. Sejak saat itu, banyak hal berubah di antara mereka. Belum ada pengakuan atau pembicaraan mengenai perasaan masing-masing. Tapi Nathan juga tidak lagi berusaha menyembunyikan perhatiannya kepada Loraine. Jika sebelumnya ia selalu mencari alasan untuk membantu wanita itu, kini ia melakukannya tanpa banyak berpikir.Loraine pun mulai terbiasa dengan kebiasaan-kebiasaan kecil dengan Nathan yang perlahan menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.~Suasana di kantor Green Group jauh lebih sibuk daripada biasanya. Hari itu merupakan hari yang sudah ditunggu-tunggu Nathan selama berbulan-bulan. Pengumuman resmi mengenai posisi barunya akhirnya disampaikan.Nathan West secara resmi dipromosikan menjadi Wakil CEO Green Group. Berita tersebut langsung menjadi bahan pembicaraan di seluruh perusahaan.Beberapa karyawan mengucapkan selamat ketika Nathan melewati lorong kantor. Bahkan beberapa

  • Dikejar Mantan, Dipeluk Atasan   BAB 73

    Senin pagi datang terlalu cepat bagi Nathan. Pria itu berdiri di depan cermin sambil merapikan dasinya. Tatapannya tampak serius, tetapi pikirannya justru dipenuhi satu hal yang sama sekali tidak berhubungan dengan pekerjaannya.Loraine.Nathan menghela napas. “Mulai hari ini, bersikaplah biasa.” Ia menatap pantulan dirinya sendiri.“Dia tetap sekretarisku. Aku tetap atasannya.” Nathan mengangguk seolah sedang memberikan instruksi penting kepada dirinya sendiri.“Tidak perlu memperhatikannya terus-menerus. Tidak perlu memikirkan apa yang dia lakukan. Dan yang paling penting…”Ia berhenti sejenak.“Jangan bersikap aneh.”Setelah merasa cukup yakin, Nathan mengambil jasnya lalu keluar dari kamar. Namun begitu turun ke lantai bawah, langkahnya langsung berhenti.Loraine sudah berada di meja makan. Wanita itu sedang mengobrol dengan bibi Ratna sambil sesekali melihat jam di dinding. Rambut panjangnya diikat sederhana. Pakaian kerjanya sudah rapi.Nathan terdiam.“Pagi, Pak Nathan.”Nathan

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status