LOGIN
“Bukankah itu Leon Vale?” ucap salah satu rekan kerja Loraine.
Beberapa orang menatap ke arah luar jendela dari lantai tiga. Lalu beralih ke arah Loraine yang mencoba tetap fokus bekerja. “Iya, sudah sekitar enam bulan, mantan suami Loraine melakukan itu,” jawab rekan kerja lain. Beberapa orang melirik ke arah Loraine lagi. Ia merasa tidak nyaman dengan tatapan sinis rekan-rekan kerjanya itu. “Lagian, kenapa sih kau bercerai dengan pria sebaik dan seromantis Leon Vale?” tanya salah satu rekan kerja yang duduk tepat di samping Loraine. “Benar, banyak wanita mendambakan untuk menjadi pasangannya. Lalu kau? Malah melepaskannya,” sahut rekan kerja lain. “Ehm… kembali bekerja,” ucap asisten manajer. Suasana kembali tenang setelah asisten manajer menegur. Loraine bisa sedikit bernapas lega. Ia sesekali melirik ke arah jam dinding, berharap agar waktu berhenti supaya ia tak pulang. Lalu rekan kerja di sampingnya kembali berbisik pelan, “apa kau sedang jual mahal? Atau sedang pamer karena seorang Leon Vale tergila-gila padamu meski sudah bercerai?” Tanpa menunggu respons dari Loraine, rekan kerjanya itu kembali fokus pada layar komputer di depannya. Ucapan mendadak rekan kerjanya itu terngiang di kepala Loraine. Ia menelan ludah kemudian memejamkan matanya. Mencoba mengalihkan fokusnya untuk mencari cara agar tak bertemu dengan mantan suaminya saat pulang nanti. “Loraine?” panggil asisten manajer. Loraine tak menjawabnya, ia terhanyut dalam pikirannya sendiri. Asisten manajer kembali memanggilnya untuk kedua kalinya, tetapi tetap tak mendapatkan jawaban dari Loraine. Sampai akhirnya siku rekan kerja di sampingnya Loraine menyenggol sikunya dengan kuat. Loraine tersentak dan menoleh langsung ke arah rekan di sampingnya. “Apa telingamu sudah tak berfungsi? Asisten manajer memanggilmu beberapa kali!” bisiknya. Loraine panik dan berdiri lalu membawa catatan dan bergegas menuju meja asisten manajer. Tatapan tajam asisten manajer membuatnya kembali tak nyaman. “Ma-maafkan saya, Bu. Saya tidak mendengar panggilan Anda,” ucapnya akhirnya. Asisten manajer menghela napas panjang. “Kinerjamu akhir-akhir ini memburuk. Banyak kesalahan pada dokumen yang kamu kerjakan. Jadi sebaiknya kamu hari ini lembur dan perbaiki semuanya,” ucap asisten manajer sambil menyodorkan dokumen-dokumen yang perlu perbaikan. “Ba-baik, bu,” jawab Loraine sambil menunduk. “Sebaiknya pisahkan antara pekerjaan dan urusan pribadi. Kalau kinerjamu semakin memburuk lebih dari ini, terpaksa perusahaan akan memutus kontrak kerjamu. Yasudah, kamu boleh kembali ke mejamu lagi,” lanjut asisten manajer. Loraine menunduk pada asisten manajer dan kembali ke meja kerjanya. “Kali ini aku harus fokus pada kerjaanku,” gumamnya dalam hati. Ia melihat tumpukan dokumen yang harus diperbaiki lalu tersenyum pelan dan berpikir, “dengan ini, aku bisa pulang terlambat. Leon sudah pasti tak ada di sana lagi saat aku pulang nanti.” Pikiran itu membuatnya sedikit lega, mengingat tekanan yang ia rasakan sejak enam bulan terakhir. Waktu berlalu tanpa ia sadari. Saat menoleh ke arah luar jendela, langit sudah gelap. Ia melihat jam dinding yang sudah menunjukkan hampir pukul 10 malam. “Wah… sudah selarut ini,” gumamnya. Ia menatap ke sekelilingnya, tak ada siapapun dan hanya dirinya sendiri. Ia bergegas menyelesaikan dokumen terakhirnya. Akhirnya setelah selesai, ia bersiap untuk pulang. Namun sebelum itu, ia melirik ke arah jendela lagi. Memastikan bahwa Leon tak lagi menunggunya. “Di-dia sudah tak ada,” gumamnya lega. Lalu ia berjalan keluar ruangan dan menuju ke arah lift. Saat lift berhenti di lantainya, pintu lift terbuka. Ternyata ada seseorang di dalamnya, Loraine sedikit membungkuk padanya. Nathan hanya mengangguk pelan. Loraine sedikit canggung, sebab untuk pertama kalinya ia satu lift dengan seorang direktur operasional. Terlebih hanya berdua saja. “Baru selesai lembur?” tanya Nathan memecah keheningan. “Be-benar, pak,” jawab Loraine. Pintu lift terbuka di lantai satu, Loraine kembali membungkuk sebelum ia keluar. Nathan kembali mengangguk pelan saat pintu mulai tertutup. Dan pintu lift kembali terbuka di basement, ia keluar dan menuju mobilnya yang terparkir tak jauh dari pintu lift. Di waktu yang sama, Loraine berjalan keluar dari gedung. Karena yakin Leon sudah tak ada, ia merasa lega. Baru beberapa langkah dari pintu gedung, tiba-tiba lengan nya ditarik paksa. “Lepaskan aku!” ucapnya. Leon tak menghiraukan ucapan Loraine. Dia tetap menariknya paksa. “A-aku akan berteriak jika kau tak melepaskanku,” kata Loraine. “Teriak saja, lihat sekelilingmu. Apa ada orang yang akan menolongmu?” jawab Leon dengan santai. Loraine melihat sekeliling dan ternyata memang sepi. Tak ada orang lewat atau siapapun yang bisa dimintain tolong. Ia akhirnya tetap mencoba melepaskan diri. Namun karena tak fokus memperhatikan jalan, ia tersandung dan tersungkur jatuh. Leon tetap memegang lengannya, bahkan sekarang menyeret wanita itu tanpa peduli. Ia berjalan menuju mobilnya yang terparkir di pinggir jalan. “Hentikan, sakit!” rintih Loraine. Air matanya keluar tanpa bisa ditahan. Loraine memohon pada Leon. Leon pun berhenti dan menoleh padanya, lalu menarik paksa untuk membantunya berdiri. “Aku sudah cukup bersabar menunggumu kembali, dan sekarang kesabaranku sudah habis!” teriak Leon untuk pertama kalinya pada Loraine. Tubuh Loraine mendadak bergetar, kakinya terasa lemas dan ia terjatuh kembali. Air matanya bercucuran tanpa henti, ia benar-benar tak memiliki tenaga untuk melawan. “Aku tak mau kembali ke rumah itu,” bisik Loraine pelan. Leon tak mendengar ucapan Loraine, dia kembali menyeret Loraine. Kemudian membuka pintu mobilnya. Saat hendak memasukkan Loraine ke dalam mobil, seseorang menarik lengan Leon untuk menghentikannya. “Cukup!” Suara itu membuat mata Loraine terbelalak. Bersambung…Loraine akhirnya kembali bekerja. Pagi itu, ia duduk di meja kerjanya yang berada tepat di luar ruangan Nathan. Di seberangnya, Jackson sudah sibuk memeriksa beberapa dokumen yang menumpuk. “Selamat datang kembali di dunia kerja,” ucap Jackson tanpa mengalihkan pandangan dari layar komputernya. Loraine tertawa kecil. “Terima kasih.” “Bagaimana rasanya kembali?” “Lumayan.” Jackson meliriknya. “Tidak merasa ingin kembali libur?” “Kalau bisa, tentu saja.” Jackson mengangguk setuju. “Jawaban yang sangat jujur.” Loraine baru saja membuka salah satu dokumen ketika pintu ruangan Nathan terbuka. “Bu Loraine.” Loraine langsung menoleh. “Ya, Pak?” “Bisa masuk sebentar?” “Baik.” Loraine bangkit dari kursinya dan membawa sebuah map sebelum masuk ke ruangan Nathan. Jackson memperhatikan pintu yang kembali tertutup. Ia kemudian melihat jam. Lima belas menit telah berlalu. Jackson kembali menatap pintu itu. “Mentang-mentang sudah resmi menikah, sekarang terang-terangan berduaan,” gerut
Beberapa hari berlalu setelah keluarga Kimberly menerima konsekuensi atas apa yang mereka lakukan.Untuk pertama kalinya setelah minggu-minggu yang berat, Nathan dan Loraine benar-benar terasa tenang.Pagi itu, Loraine berdiri di depan meja makan sambil memperhatikan Nathan yang masih membaca sesuatu di tablet.“Bukankah kau bilang sudah tidak mau membuka pekerjaan saat sarapan?”Nathan mengangkat wajah. “Aku tidak sedang bekerja.”Loraine menunjuk layar di tangannya. “Lalu itu apa?”Nathan melihat tabletnya sendiri sebelum tersenyum santai. “Laporan.”“Laporan itu pekerjaan.”“Ini hanya lima menit.”Loraine menarik napas panjang lalu mengambil tablet tersebut dari tangannya.“Nathan.”“Loraine.”“Sudah.”Nathan menatap istrinya yang dengan tenang meletakkan tablet itu jauh dari jangkauannya. “Kau sekarang mulai mengatur ya.”“Apa tak boleh?”Nathan tertawa kecil. “Baiklah. Aku menyerah.”Loraine kembali duduk di hadapannya. “Bagus.”Nathan memperhatikannya beberapa detik sebelum berk
Pagi itu, sebelum ayah Kimberly sempat melakukan apa pun terhadap bukti yang masih tersisa, suara ketukan keras terdengar dari pintu rumahnya.Pria itu baru saja turun dari tangga ketika beberapa orang berseragam berdiri di hadapannya dengan surat perintah penangkapan. Wajahnya seketika berubah saat salah satu penyidik menyebut namanya dan mengatakan bahwa ia diperiksa atas dugaan keterlibatan dalam rekayasa kecelakaan bus dua puluh tahun lalu.“Apa maksud kalian?” tanyanya dengan suara berat.“Kami memiliki cukup bukti untuk membawa Anda ke kantor kepolisian.”Pria itu sempat mencoba membantah, tetapi tidak ada lagi ruang untuk berkelit. Kesaksian mantan pekerja bengkel, catatan pembayaran, dokumen perusahaan, serta pengakuan Kimberly telah membentuk rangkaian bukti yang tidak mudah dipatahkan.Untuk pertama kalinya setelah dua puluh tahun, pria yang selama ini bersembunyi di balik nama besar keluarganya akhirnya dibawa pergi dengan tangan terikat. Dan kali ini, tidak ada seorang pun
Pagi berikutnya, suasana di rumah utama keluarga Green terasa jauh lebih berat daripada biasanya.Tidak ada percakapan santai seperti hari-hari sebelumnya. Para anggota keluarga yang mengetahui Kimberly sedang diperiksa polisi memilih diam, sementara August sejak pagi belum kembali ke rumah setelah meninggalkan kantor kepolisian tempat istrinya menjalani pemeriksaan lanjutan.~Di tempat lain di ruang keluarga West, Nathan duduk bersama Loraine, Clara, Daniel, Adrian, dan Daisy. Tidak seorang pun berbicara sampai suara pintu terbuka.Jackson masuk sambil membawa sebuah map tebal di tangannya.Nathan langsung menatapnya. “Bagaimana?”Jackson berjalan mendekat dan meletakkan map tersebut di atas meja. “Kami menemukan bukti terakhir yang kami butuhkan.”Adrian yang sejak tadi diam langsung mengangkat wajah. “Bukti apa?”Jackson membuka map itu perlahan. “Mantan pekerja bengkel yang saya ceritakan sebelumnya akhirnya memberikan keterangan lengkap. Setelah melihat kembali salinan surat pem
Ruangan pemeriksaan itu terasa jauh lebih dingin daripada yang Kimberly bayangkan.Ia duduk di salah satu sisi meja dengan seorang pengacara di sampingnya. Di seberang mereka, dua penyidik membuka beberapa map berisi dokumen yang sudah dikumpulkan selama penyelidikan ulang kecelakaan bus dua puluh tahun lalu. Kimberly berusaha mempertahankan wajah tenangnya, tetapi kedua tangannya yang sejak tadi saling menggenggam terlalu erat menunjukkan hal yang berbeda.“Sekali lagi kami tegaskan, Nyonya Kimberly. Pemeriksaan ini dilakukan untuk memperoleh keterangan Anda mengenai sejumlah bukti yang ditemukan dalam penyelidikan ulang,” ujar penyidik di depannya.Kimberly mengangguk pelan. “Saya mengerti.”Penyidik membuka dokumen pertama.“Pada pemeriksaan kendaraan sebelum kecelakaan, tidak ditemukan kerusakan serius pada sistem pengereman bus tersebut. Namun setelah kecelakaan, ditemukan kerusakan yang cukup parah pada bagian yang sama.”Kimberly hanya diam.“Apakah Anda mengetahui hal tersebut
Pagi itu, rumah utama keluarga Green yang biasanya tenang mendadak kedatangan beberapa orang berseragam polisi.Beberapa pelayan yang sedang berada di ruang depan saling berpandangan ketika dua polisi masuk bersama seorang penyidik. Mereka tidak datang untuk sekedar bertamu, karena salah satu dari mereka membawa sebuah map berwarna cokelat yang sejak tadi berada erat di tangannya.“Maaf mengganggu. Kami ingin bertemu dengan Nyonya Kimberly,” ujar salah satu polisi.Kakek Green yang kebetulan sedang duduk di ruang keluarga langsung mengernyitkan dahi. “Ada urusan apa polisi datang ke rumah saya?”“Kami membawa surat perintah pemeriksaan terkait penyelidikan kecelakaan bus dua puluh tahun lalu.”Suasana seketika berubah.Nenek Green yang duduk tidak jauh dari Kakek langsung menatap polisi itu dengan wajah terkejut. Sementara beberapa anggota keluarga yang sedang berada di ruangan tersebut mulai saling berbisik.“Kecelakaan dua puluh tahun lalu?” ulang Kakek dengan suara berat.“Benar, T







