Share

Dikhianati Diranjang Pernikahan
Dikhianati Diranjang Pernikahan
Penulis: Kina nak kuningan

Pengakuan.

last update Terakhir Diperbarui: 2025-09-15 23:53:49

Rania  baru saja selesai membereskan piring di dapur. Rumah kecil yang mereka tinggali sejak menikah itu terasa sepi. 

Tanpa suara Bima di dalamnya, tanpa canda tawa, hanya suara televisi yang menyala sekadar mengusir kesunyian.

Ketika ponselnya bergetar di atas meja, Rania buru-buru meraihnya. Nama “Bima” terpampang jelas di layar. 

Senyum tipis sempat terbit di bibirnya, ia begitu merindukan suaminya. Enam bulan sudah Bima merantau, meninggalkan dirinya seorang diri di kota ini demi pekerjaan.

“Dek…” suara Bima terdengar dalam, lebih berat dari biasanya. “Mas boleh ngomong sesuatu nggak?”

Rania  tertegun. Pertanyaan itu terdengar janggal. Biasanya Bima langsung bercerita panjang tanpa basa-basi. Ada nada ragu di suaranya kali ini. 

Jantung Rania  mendadak berdetak lebih cepat, firasat buruk mulai menghantui. Namun dengan cepat menjawab.

“Ngomong aja, Mas. Ada apa?” ujarnya mencoba terdengar biasa, walau sebetulnya perasaannya mulai tak tenang.

Sejenak, hanya keheningan yang menyahut. Rania bisa mendengar helaan napas berat dari seberang yang terdengar berat.

“Tapi… janji jangan marah ya, Dek.” akhirnya suara Bima terdengar.

Rania mengernyit. Perasaan gelisah makin kuat. “Iya. Aku janji. Sekarang bilang aja, Mas.”

Lalu kalimat itu meluncur dari mulut Bima. Kalimat yang seketika menghantam jantung Alexa seperti palu godam.

“Mas lagi ingat seseorang terus, Dek. Tapi… bukan kamu.”

Waktu seperti berhenti. Rania  tercekat. Kata-kata itu bergema di kepalanya, menghantam berkali-kali. 

Bukan aku?

Lalu?!

“Mas…” suaranya tercekat. “Apa maksudmu?” 

“Namanya Rini. Entah kenapa wajah dia kebayang terus. Mas juga gak ngerti.” ucapnya tanpa ada beban di setiap katanya yang keluar dari mulutnya.

Brak! 

Gelas di meja yang tak sengaja tersenggol oleh tangan Alexa pecah berantakan. Ia tidak peduli. Matanya panas, dadanya sesak.

“Rini?” tanyanya lirih, nyaris berbisik. 

“Kamu serius ngomong gini sama aku, Mas?”

“Maaf, Dek.” Suara Bima terdengar datar, nyaris tanpa rasa bersalah.

Air mata Rania  jatuh, panas di pipinya. Tapi kemarahan lebih kuat daripada tangisnya.

 “Jadi, selama ini yang kamu pikirin bukan aku? Aku istri kamu, Mas! Apa kurangnya aku sampai kamu tega ngomong kayak gini?!” 

“Apa kamu gak punya hati?!” umpat Rania. 

“Aku cuma jujur soal perasaan sendiri,” jawab Bima dingin.

Rania  terbahak, getir. “Jujur? Kamu sebut ini jujur? Ini pengkhianatan, Mas! Kita memang belum punya anak, tapi bukannya itu berarti kita bisa lebih fokus saling jaga, saling percaya? Aku selalu percaya sama kamu, dan sekarang kamu tega hancurin itu!”

Hening.

 Bima tidak membantah, tidak juga membela. Seakan semua yang ia katakan sudah mutlak.

Rania  mengusap wajahnya yang basah air mata,  “Kamu ingat, Mas, waktu kamu minta izin merantau enam bulan lalu?”

Bima diam.

Suara Rania  meninggi. “Malam itu, kamu bilang ada tawaran kerja di pulau seberang. Aku sempat ragu, Mas! Aku takut kita jauh. Tapi kamu bujuk aku. Kamu janji!”

Suara Alexa pecah, tangisnya semakin deras. “Kamu janji nggak akan macam-macam di sana! Dan sekarang? Janji itu cuma omong kosong.”

“Dek, jangan gitu. Mas cuma…”

“Cukup!” potong Alexa lantang. 

“Jangan panggil aku ‘Dek’ lagi dengan mulut yang sama yang ngaku mikirin perempuan lain!”

Suasana semakin tegang. Rania  menggenggam ponselnya erat-erat, seolah ingin menghancurkan benda pipih itu.

“Kamu tahu nggak, Mas? Aku di sini selalu nungguin kabar kamu. Aku nggak pernah ngelarang, nggak pernah curiga berlebihan. Aku selalu percaya. Dan ternyata yang aku percaya justru nusuk aku dari belakang!”

Bima akhirnya bersuara, pelan tapi menusuk. “Lebih baik aku bilang sekarang, daripada nanti kamu tahu dari orang lain. Pasti kamu lebih sakit.”

Hah! omong kosong macam apa itu?

Rania  terdiam, lalu tertawa hambar. “Lebih sakit? Kamu pikir aku nggak sakit sekarang? Justru yang paling nyakitin adalah denger pengakuan ini langsung dari mulut kamu, Mas. Dari suami yang aku cintai.”

Dadanya naik-turun, air mata tak berhenti mengalir. Rania  merasa seluruh dunia bersekongkol untuk menjatuhkannya malam itu.

“Siapa dia?” tanya Rania dengan nada dingin. “ Sudah seberapa jauh hubungan kalian?”

Bima tak segera menjawab. Hanya hening. Hening yang terasa seperti ribuan pisau menusuk hatinya.

“Jawab!” bentak Rania, kali ini penuh amarah.

“Bukan. Dia cuma teman,” ucap Bima akhirnya, terdengar seperti alasan murahan.

“Teman?” Rania  tertawa getir. 

“Kalau cuma teman, kenapa wajah dia yang kebayang terus? Kalau cuma teman, kenapa sampai kamu tega ngomong gini sama aku? Aku bukan anak kecil, Mas!”

Suasana kembali hening. 

Disebrang sana Bima benar-benar tidak tahu harus berkata apa. Niat hati ingin berkata jujur, tapi yang ada malah pertengkaran yang terjadi.

Rania  menutup wajahnya dengan telapak tangan, tubuhnya gemetar hebat. Tangisnya kini pecah tanpa bisa ditahan lagi.

 “Apa kamu tahu seberapa sakitnya aku dengar semua ini, Mas? Sakit! Lebih sakit daripada apa pun yang pernah aku rasain.”

“Dek… aku minta maaf,” sahut Bima lemah.

“Maaf?” Rania menatap layar ponselnya dengan pandangan kabur. 

“Kamu pikir kata maaf bisa nyembuhin luka yang kamu buat? Luka ini nggak akan pernah sembuh, Mas. Kamu hancurin kepercayaan aku. Dan kepercayaan itu nggak bisa kamu beli dengan kata ‘maaf’!”

Detik itu juga Rania  memutuskan panggilan. Ia tidak sanggup lagi mendengar suara suaminya. Dengan tangan gemetar, ia menekan tombol merah di ponselnya.

Tut…

Sambungan terputus.

Rania  masih terduduk di lantai kamar, tubuhnya gemetar hebat. Nama itu terus bergema di kepalanya.

Rini.

Siapa dia?

Rania mengerutkan kening, mencoba mengingat ingat. Tidak pernah ada nama itu dalam hidupnya. Namun justru itulah yang membuat hatinya semakin tersayat.

 Kalau perempuan itu bukan siapa-siapa, kenapa bisa begitu dalam menancap di pikiran Bima?

Rania  menatap nanar ponsel, melihat pesan terakhir Bima.  

“Maaf.” hanya kata itu yang terlulis.

Rania  mencengkram benda itu erat-erat, seolah jika ia remukkan, rasa sakitnya juga akan hancur bersamaan.

_____

Malam itu Rania  tidak bisa tidur. Kepalanya penuh dugaan, kecemburuan, dan rasa takut. Ia memandangi dinding kamar yang dingin, teringat janji-janjinya dengan Bima dulu. Enam bulan lalu, suaminya berangkat dengan alasan pekerjaan. Tapi sekarang? Apakah semua itu hanya kedok?

Hatinya berteriak ingin percaya. Tapi logika mulai menggugat, kalau tidak ada apa-apa, kenapa Bima sampai berani mengucapkan nama perempuan lain dengan begitu enteng?

Rania  memberanikan diri membuka ponsel. Ia mencoba mencari-cari jejak. Dengan tangan gemetar Rania membuka akun media sosial milik Bima.

Ternyata ada nama “Rini” sering muncul di komentar. Foto-foto dengan tanda suka love. Pesan-pesan pendek namun sarat arti mendalam.

Rania  menatap layar dengan dada sesak. Seketika perasaan hancur semalam berubah jadi campuran amarah dan kecurigaan yang lebih tajam.

Ia harus tahu lebih dalam  siapa perempuan bernama Rini itu.

Karena bagaimana pun, luka yang ia derita tidak akan terjawab kalau ia hanya berdiam diri.

Malam itu mungkin Bima sudah menghancurkan kepercayaannya. 

Tapi satu hal yang tidak Bima ketahui, bahwa ia sedang menghancurkan hidupnya sendiri. 

“Kamu akan menyesal Mas!”

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Dikhianati Diranjang Pernikahan   45

    Waktu terasa seakan berhenti di ruangan sederhana itu.Udara mendadak terasa lebih berat, seolah semua yang hadir menahan napas di saat yang bersamaan.Suara derap langkah pelan terdengar dari arah kamar, langkah yang ragu, namun nyata.Satu… dua… tiga…Semua mata tertuju ke arah yang sama.Detik berikutnya, sosok itu muncul.Rania berdiri di ambang pintu. Wajahnya pucat, tubuhnya terlihat lebih kurus, pakaian yang ia kenakan sederhana dan lusuh, jauh dari citra Rania yang selama ini mereka kenal. Namun meski begitu, matanya tetap sama. Mata yang selama berminggu-minggu hanya bisa mereka lihat lewat bayangan dan doa.“Rania…,” gumam Gunawan lirih, suaranya nyaris tak terdengar.Diana tak mampu lagi menahan dirinya.“RANIA!!!” teriaknya penuh luapan emosi.Wanita itu berlari, tubuhnya bergetar hebat saat memeluk putrinya erat-erat, seolah takut jika ia melepasnya, Rania akan kembali menghilang. Tangis Diana pecah, membasahi bahu Rania.“Ya Allah… Raniaku… kamu masih hidup… kamu benar

  • Dikhianati Diranjang Pernikahan   44

    Mobil melambat hingga akhirnyaberhenti total.Ardi mematikan mesin, bukan karena ingin, tapi karena jalan di depan mereka benar-benar tak bisa dilewati. Sebuah batang pohon besar melintang, tumbang entah karena usia atau sengaja ditebang.Udara terasa semakin dingin meski matahari sudah tinggi.“Ada apa, Di?” tanya Gunawan dari kursi belakang.“Sepertinya kita harus jalan kaki,” jawab Ardi pelan, matanya menyapu sekeliling. “Mobil tidak bisa lewat.”Diana menelan ludah. Tangannya mencengkeram tas di pangkuannya. “Tempat ini… benar-benar sepi.”Tak ada suara burung.Tak ada tanda kehidupan manusia di sekitar sini.Ardi turun lebih dulu, membuka bagasi dan mengambil tas kecil berisi air minum dan kebutuhan seadanya. Ia menatap ponselnya sekali lagi. Titik lokasi masih sama.“Masih sekitar dua kilometer dari sini,” katanya berusaha tenang. “Kita jalan pelan-pelan saja.”Mereka melangkah masuk ke jalur tanah sempit yang hanya cukup dilewati satu orang. Pepohonan rapat membuat cahaya mat

  • Dikhianati Diranjang Pernikahan   43

    “Kamu tidak boleh masuk, Pak. Pak Ardi sedang ada tamu,” ucap sekretaris Ardi dengan suara tegas sambil berdiri menghadang pintu.“Aku harus bertemu Pak Ardi sekarang. Ini penting,” balas Bima tanpa menurunkan nada suaranya. Tangannya sudah lebih dulu mendorong pintu.“Pak…!” sekretaris itu panik, berusaha menahan, namun tenaga Bima jauh lebih kuat.Bima tidak peduli lagi. Detik ini, yang ada di kepalanya hanya satu nama, Rania.Ia tidak peduli bila setelah ini ia dipecat, dimaki, atau diusir. Selama sepuluh tahun ia gagal melindungi wanita itu. Kali ini, ia tidak akan mundur.“Pak Ardi…!” teriak Bima begitu kakinya menginjak ruangan wakil direktur.Di dalam ruangan, suasana mendadak membeku.“Pak Ardi, maaf… saya tidak bisa menahannya,” ucap sang sekretaris terengah, wajahnya pucat karena panik.Ardi yang sedang berdiri di dekat meja kerjanya menoleh tajam.“Tak apa. Keluarlah,” titahnya dingin.Sekretaris itu mengangguk cepat lalu menutup pintu dari luar, meninggalkan tiga orang

  • Dikhianati Diranjang Pernikahan   42

    Tok…tok…“Nak, apa kamu sudah bangun? Ini anak Nenek sudah datang,” suara Nek Darmi terdengar lembut dari balik pintu.Rania terbangun setengah kaget. Matanya yang masih berat langsung terbuka lebih lebar, jantungnya berdegup lebih cepat dari biasanya.“Ah… iya, Nek. Aku segera keluar,” sahutnya cepat.“Baiklah,” balas Nek Darmi sebelum melangkah kembali ke depan.Rania bangkit dari dipan sederhana. Dengan tangan sedikit gemetar, ia merapikan rambut dan membasuh wajah seadanya. Napasnya ditarik dalam-dalam, berusaha menenangkan diri. Hari yang ia tunggu akhirnya tiba.Begitu keluar, udara pagi yang sejuk langsung menyapa. Di teras rumah gubuk itu, sudah duduk Nek Darmi bersama suaminya dan seorang pria paruh baya yang wajahnya tampak ramah.“Selamat pagi,” sapa Rania sopan, meski suaranya terdengar sedikit gugup.Mereka menoleh hampir bersamaan.“Kemarilah, Nak,” ujar Nek Darmi sambil menepuk dipan kosong di sampingnya.Rania mengangguk dan melangkah mendekat. Ia duduk perlahan, menya

  • Dikhianati Diranjang Pernikahan   41

    “Kamu masih lemah, jangan terlalu banyak bergerak dulu,” ucap wanita tua itu lembut. Keriput di wajahnya justru membuat sorot matanya tampak hangat. “Nanti lukanya bisa makin sakit.” ucap wanita yang memperkenalkan diri bernama Nenek Darmi.“Gak apa-apa, Nek. Ini sudah jauh lebih baik,” sahut gadis itu pelan, berusaha tersenyum meski tubuhnya masih terasa nyeri.Wanita tua itu tersenyum lega. “Syukurlah kalau begitu.”Rania menarik napas dalam, lalu mengumpulkan keberanian.“Emm… Nek, apa saya boleh pinjam ponsel? Saya mau hubungi keluarga saya. Mereka pasti sedang mencari saya.”Wajah wanita itu berubah ragu.“Aduh, cu…”“Panggil saja Rania, Nek,” potongnya cepat, seolah ingin menegaskan jati dirinya yang hampir terasa samar setelah kejadian itu.Wanita tua itu mengangguk pelan. “Iya, Rania. Begini, Nenek tidak punya ponsel, Nak. Di desa ini jarang yang pakai. Tapi dua hari lagi anak Nenek akan pulang dari kota. Kamu bisa pinjam ponselnya nanti.”Jawaban itu bagai angin segar bagi Ra

  • Dikhianati Diranjang Pernikahan   40

    Tok… tok…Bima mengetuk pintu ruangan wakil direktur dengan ragu. Jantungnya berdegup kencang, telapak tangannya terasa dingin oleh keringat. Tidak lama kemudian, suara dari dalam terdengar mempersilahkannya masuk.“Selamat sore, Pak Ardi. Maaf mengganggu waktunya,” ucap Bima dengan kepala sedikit menunduk begitu masuk.Ardi mengangkat wajahnya dari berkas yang sedang ia baca, lalu mengangguk singkat. “Tidak masalah. Silahkan duduk.”“Terima kasih,” sahut Bima pelan. Ia duduk di kursi yang berhadapan langsung dengan Ardi, punggungnya terasa kaku, nafasnya tidak teratur.Ardi menyilangkan tangan di dada. Tatapannya tajam, tanpa sedikit pun kehangatan.“Ada perlu apa kamu mencari saya?” tanyanya lugas, tanpa basa-basi.Bima menelan ludah. “Maaf sebelumnya, Pak… saya hanya ingin memastikan. Kabar yang beredar itu… apa benar Rania mengalami kecelakaan pesawat?” tanyanya hati-hati, suaranya nyaris bergetar.Raut wajah Ardi mengeras. “Iya, itu benar.” Ia berhenti sejenak, lalu menatap Bima

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status