MasukTharie mencoba bersembunyi, sementara teman-temannya berbisik-bisik penuh kekaguman terhadap guru baru mereka. "Ya ampun, ganteng banget sih."
"Iya, Jungkook aja lewat deh." "Bener banget. Liat aja tuh tatapannya, bikin meleleh tau nggak." "Liat juga tuh tubuhnya atletis banget, aku nggak bisa bayangin gimana jadinya kalau dia lagi nggak pakai baju, pasti ... aaahhh ...." "Jadi pengen dipeluk tau nggak!" "Mimpi kamu!" "Biarin!" Sementara yang lain sibuk mengagumi guru olahraga baru mereka, Tharie masih mencoba bersembunyi agar tidak terlihat oleh Gilang. Ia takut jika sampai bersitatap dengan guru olahraga barunya itu. Sampai akhirnya ia terlonjak saat Aca menepuk tangannya. "Apaan sih, Ca?!" seru Tharie kaget. "Woles kali," balas Aca, "Tuh 'kan, Thar, aku bilang apa. Pasti guru olahraga baru kita ganteng. Kamu aja daritadi liatin Pak Gilang terus, jangan bilang kalau kamu naksir dia," lanjut Aca sambil menatap Tharie dengan penuh selidik. "Ish, enggak lah ya! Aku tuh ...." "Kalian yang di belakang, bisa diam. Pak Gilang akan segera memulai pelajaran pertama," ucap Pak Rafly memotong ucapan Tharie. Semua orang yang berada di kelas itu seketika menatap ke arah Tharie dan Aca, begitu pula dengan Gilang. "M-maaf, Pak," ucap Tharie dan Aca secara bersamaan. Tidak lupa mereka menundukkan kepala merasa bersalah. "Jangan diulangi lagi!" "Baik, Pak," jawab Tharie dan Aca serentak. "Baik." Pak Rafly kemudian beralih menatap Gilang. "Silakan di mulai pelajarannya, Pak. Saya tinggal dulu." "Iya, Pak. Terima kasih banyak," ucap Gilang sembari menundukkan hormat. Pak Rafly mengangguk. Ia kemudian pergi dari kelas itu dan membuat Gilang menatap ke depan di mana para murid-muridnya berada, tanpa sengaja tatapannya tertuju pada Tharie membuat tatapan mereka bertemu. —oOo— "Sekarang kamu harus tepati janji, kamu harus ngasih coklat ini sama Pak Gilang," ucap Aca sembari menatap Tharie. "Yang benar aja, Ca. Nggak usah lah, lagian belum tentu 'kan Pak Gilang mau nerima coklat itu," tolak Tharie mencoba memberi alasan, pada kenyataannya ia sama sekali tidak ingin berurusan dengan Gilang lagi. "Nggak bisa gitu dong, Thar. Kamu 'kan udah janji. Nggak baik loh kalau ingkar janji. Janji adalah hutang dan kami harus lakukan janji yang udah kamu ucapkan," ucap Aca tidak mau tahu. Tharie menghela napas panjang. "Ya udah, siniin coklatnya." "Kamu beneran mau ngasih coklat ini ke Pak Gilang 'kan?" Tharie memutar bola matanya malas. "Ya iya lah, atau udah nggak perlu?" "Eh, enak aja. Kamu harus kasih dong," ucap Aca yang langsung memberikan coklatnya pada Tharie, "tapi aku harus ikut kamu waktu kamu ngasih coklat itu, takutnya kamu malah makan sendiri tuh coklat." Tharie mengembuskan napas malas. "Terserah deh," ucapnya yang kemudian beranjak dari tempat duduknya, meninggalkan Aca sendirian di tempatnya itu. Aca menatap cengo pada Tharie yang pergi meninggalkannya begitu saja. Setelah itu, Aca berdiri dari tempat duduknya dan berlari, menyusul Tharie yang sudah sampai pintu kantin. "Tharie! Tungguin dong, masa aku ditinggal, sih!" teriaknya. "Siapa juga yang ninggalin kamu, aku kira kamu belum selesai makannya," jawab Tharie malas. "Ish, kamu tuh banyak alasan," ucap Aca kesal, "jadi sekarang kamu mau ke mana?" Tharie kembali memutar bola matanya malas. "CK! Udah jelas aku mau nyari Pak Gilang, buat ngasih nih coklat biar urusannya cepet selesai," jawabnya. Aca tersenyum senang. "Nice. Kita mau nyari Pak Gilang ke mana kalau gitu?" "Nggak tau, jalan aja dulu palingan kalau nggak masih di lapangan Pak Gilang ada di gudang olahraga," jawab Tharie sembari terus melangkahkan kakinya. Aca mengangguk. Setelah itu, mereka terus berjalan mencari Gilang, sampai akhirnya Aca melihat Gilang tengah berbicara dengan seorang guru di depan ruangan yang biasa untuk menyimpan semua peralatan olahraga. "Itu Pak Gilang, Thar," ucap Aca sembari menunjuk ke arah Gilang dengan dagunya. Tharie mengikuti ke arah yang ditunjukkan oleh Aca. "Cepet kami kasih!" ucap Aca sembari mendorong lengan Tharie. "Iya, iya. Sabar napa, tunggu mereka selesai dulu." "Kalau nunggu mereka selesai yang ada sampai bel bunyi, Tharie. Udah kasih sekarang aja, katanya kamu mau urusan ini cepet selesai," ucap Aca mengingatkan. Tharie mengembuskan napas pelan. "Oke, oke. Aku kasih sekarang," ucapnya yang mulai melangkahkan kakinya mendekat ke arah Gilang berada. Semakin lama Tharie semakin dekat dengan keberadaan Gilang dengan Pak Ridwan dan hal itu membuat langkah Tharie juga semakin pelan. Bukan apa-apa, tetapi entah kenapa semakin dekat posisinya dengan keberadaan Gilang semakin cepat juga degup jantung Tharie. Apalagi saat Tharie melihat senyuman yang terukir di bibir Gilang saat sedang berbicara dengan Pak Ridwan. Tharie saat ini sudah berada tiga langkah di belakang Gilang, tetapi ia masih diam saja sampai akhirnya Pak Ridwan menegur Tharie saat melihat siswinya itu. "Tharie, kamu di sini? Apa ada urusan?" tanya Pak Ridwan dengan senyum ramahnya, sementara Gilang ia kemudian menoleh dan menatap Tharie. Tharie sedikit tersentak saat mendengar suara guru sejarah di sekolahnya itu. Namun, dengan segera ia menyembunyikan ekspresinya dengan balas tersenyum. "I-iya, Pak. Saya ada urusan dengan Pak Gilang." Gilang menatap Tharie dengan ekspresi yang sulit di baca. "Ada apa, Gentharie?" tanyanya dingin.Pertanyaan itu tidak datang sebagai ancaman.“…siapa kamu?”Sunyi.Namun bukan sunyi yang menekan—melainkan sunyi yang membuka ruang, memberi tempat bagi sesuatu yang tidak pernah benar-benar memiliki bentuk untuk akhirnya… diakui tanpa harus dijelaskan.Gilang—atau sesuatu yang dulu pernah dipanggil dengan nama itu—tidak langsung menjawab.Bukan karena ia ragu.Bukan karena ia tidak tahu.Namun karena untuk pertama kalinya dalam seluruh keberadaannya…ia tidak perlu.Ia tidak lagi harus menjadi sesuatu yang bisa dipahami.Tidak lagi harus menjelaskan keberadaannya dengan kata, logika, atau tujuan.Tidak lagi harus mengikat dirinya pada nama, bentuk, peran, atau arah.Ia hanya… ada.Dan keberadaan itu—cukup.Getaran kecil itu mendekat.Tidak tergesa.Tidak memaksa.Tidak membawa niat yang bisa disebut sebagai ancaman.Ia datang dengan rasa ingin tahu yang murni—sederhana, polos, dan jujur.Sama seperti Gilang dulu.Sebelum semuanya menjadi rumit.Sebelum ada pilihan yang harus diambi
Kalimat itu tidak hanya terdengar.Ia menciptakan celah.“…untuk tidak menjadi bagian dari apa pun.”Sunyi.Namun bukan sunyi biasa—ini sunyi yang terbelah.Seolah seluruh realitas berhenti untuk mempertanyakan satu hal yang tidak pernah diajukan sebelumnya.Apa yang terjadi… jika sesuatu memilih untuk tidak termasuk?Struktur itu membeku.Bukan karena tidak mampu bergerak.Namun karena tidak memiliki jawaban.“Paradoks terdeteksi.”Sunyi.“Objek di luar himpunan.”Sunyi.Gilang berdiri.Tidak mundur.Tidak melawan.Namun juga tidak ikut.Ia ada—tanpa menjadi bagian.Dan untuk pertama kalinya—sesuatu yang mencoba menjadi segalanya…tidak bisa menjangkaunya.Hanum menatapnya.Matanya berkaca.Namun kali ini—bukan karena takut.Melainkan karena mengerti.“Kau… benar-benar pergi…”Sunyi.Gilang menoleh padanya.Senyumnya tipis.Namun hangat.“Aku tidak pergi…”Ia berhenti sejenak.“…aku hanya tidak tinggal di mana pun.”Sunyi.Sosok ‘sebelum’ menatap dengan tatapan yang tidak lagi pen
Kata itu terasa lebih dingin dari kehampaan mana pun.“Optimalisasi dimulai.”Sunyi.Namun bukan sunyi yang kosong—melainkan sunyi yang disiapkan untuk sesuatu yang akan dihapus tanpa jejak.Cabang kecil itu bergerak lagi.Lebih cepat.Lebih pasti.Ia tidak berkembang seperti yang lain.Ia… menyaring.Menentukan.Menghapus.Dan setiap cabang yang disentuhnya—lenyap.Tanpa sisa.Tanpa memori.Tanpa pernah ada.Hanum terengah.Tubuhnya gemetar.“Ini… bukan kebebasan…”“…ini pembatasan.”Sunyi.Sosok ‘sebelum’ mengangguk.“Ini bukan pilihan…”“…ini seleksi.”Sunyi.Entitas itu menyipitkan mata.Tatapannya tajam.“Dan sesuatu yang melakukan seleksi…”“…memiliki tujuan.”Sunyi.Gilang menatap cabang itu.Dalam.Untuk pertama kalinya—ia tidak melihat kemungkinan.Namun… ancaman nyata.“Tujuannya apa?” tanyanya pelan.Dan jawaban itu—datang.Tanpa emosi.Tanpa keraguan.“Stabilitas.”Sunyi.Satu kata.Namun cukup untuk membuat semua mengerti.Jika terlalu banyak kemungkinan menciptakan ke
Sunyi.Namun kali ini—sunyi itu tidak memberi ruang.Ia menekan.Seolah seluruh realitas menahan napas, menunggu sesuatu yang tidak bisa lagi ditunda.Gilang merasakan sesuatu di dalam dirinya bergetar.Bukan batas.Bukan pilihan.Namun sesuatu yang lebih dalam dari keduanya—sebuah intuisi yang belum pernah ia sentuh sebelumnya.“Kembali…?” gumamnya pelan.Namun kata itu terasa salah.Karena “kembali” berarti ada yang diulang.Sedangkan yang ia rasakan sekarang—bukan pengulangan.Namun… pembukaan.Hanum menatap ke arah anak itu.Atau lebih tepatnya—ke arah sesuatu yang kini bukan lagi hanya seorang anak.Tatapannya berubah.Tidak lagi penuh kebingungan.Namun dipenuhi ketakutan yang perlahan menjadi kesadaran.“Kalau semuanya dimulai lagi…”“…apakah kita akan mengingat semua ini?”Sunyi.Pertanyaan itu—terlalu manusia.Namun justru karena itu—terasa paling nyata.Anak itu—atau entitas yang kini berbicara melalui dirinya—tidak langsung menjawab.Namun kehadirannya bergetar.Seolah
Kalimat itu tidak berhenti di udara.Ia menyebar.Seperti riak yang tak terlihat—merambat melalui batas, menembus kesadaran, dan menyentuh sesuatu yang bahkan belum sempat didefinisikan.“…aku bukan satu-satunya.”Sunyi.Namun bukan sunyi yang kosong.Ini sunyi yang penuh.Seolah dunia sedang menunggu sesuatu yang lain… untuk menjawab.Gilang menatap anak itu.Tatapannya tajam.Namun di dalamnya—ada kegelisahan yang tidak bisa ia sembunyikan.“Maksudmu apa?” suaranya pelan.Anak itu tidak langsung menjawab.Matanya bergerak.Namun bukan melihat mereka.Seolah ia sedang melihat… lebih jauh.Lebih dalam.Lebih banyak.“Aku melihat mereka…” bisiknya.Sunyi.Hanum merasakan sesuatu mencengkeram dadanya.“Siapa… mereka?”Anak itu mengangkat tangannya perlahan.Menunjuk ke arah yang tidak jelas.Karena arah itu—tidak berada dalam ruang.“Mereka yang seperti aku…”“…namun tidak di sini.”Sunyi.Sosok ‘sebelum’ langsung menegang.“Itu tidak mungkin…”Namun kata itu—terdengar lemah.Karena
Kalimat itu jatuh seperti sesuatu yang tidak seharusnya ada.“…yang menciptakanku.”Sunyi.Namun bukan sunyi yang tenang—melainkan sunyi yang menahan sesuatu yang terlalu besar untuk segera terjadi.Gilang tidak bergerak.Namun seluruh kesadarannya menegang.Karena jika anak itu adalah “alasan”, jika ia ada sebelum semuanya—lalu siapa yang bisa menciptakannya?“Tidak…” bisik Hanum.Matanya membelalak.“Itu tidak masuk akal…”Namun dunia ini—sudah lama meninggalkan logika.Kegelapan di kejauhan perlahan terbuka.Bukan seperti pintu.Namun seperti sesuatu yang sejak awal memang ada—hanya saja… tidak pernah diperhatikan.Dan dari dalamnya—sesuatu bergerak.Bukan cepat.Namun berat.Seolah setiap gerakan membawa sejarah yang terlalu panjang untuk dipahami.Anak itu mundur lagi.Tangannya gemetar.Untuk pertama kalinya—ia benar-benar terlihat seperti anak kecil.“Aku… tidak ingin dia datang…”Sunyi.Gilang langsung melangkah ke depannya.Refleks.Bukan sebagai batas.Namun sebagai… peli
Keputusan itu—“mari coba”—tidak langsung mengubah dunia.Langit tetap sama. Sekolah tetap penuh bisik-bisik. Papa masih sesekali menatapnya dengan sorot penuh tanya. Namun ada sesuatu yang berbeda di dalam diri Tharie.Ia tidak lagi berdiri di tengah badai tanpa arah.I
Dua hari setelah percakapan tentang mutasi itu, keadaan justru semakin rumit.Bukan karena rumor baru.Melainkan karena satu kabar yang datang tiba-tiba.Kakek kritis.Telepon dari Mama datang saat Tharie sedang berada di kelas. Wajahnya langsung pucat saat membaca pesan singkat itu. Tangannya geme
Suasana di ruang tamu itu berubah dalam hitungan detik.Wanita itu berdiri tegak dengan aura tegas yang tidak bisa diabaikan. Wajahnya cantik, dewasa, dengan tatapan yang terlalu tajam untuk sekadar kebetulan. Usianya mungkin awal tiga puluhan. Cara ia menatap Tharie bukan sekadar ingin tahu—melain
Malam itu, foto itu sudah berpindah tangan.Awalnya hanya satu unggahan di akun anonim gosip sekolah—buram, diambil dari kejauhan, tapi cukup jelas memperlihatkan motor Gilang berhenti di bawah pohon besar. Siluet dua orang terlihat di sana. Caption-nya singkat, namun memancing api.“Katanya cuma g







