Share

Bab 5

Penulis: Saraswati_5
last update Terakhir Diperbarui: 2026-01-09 09:31:57

Tharie mencoba bersembunyi, sementara teman-temannya berbisik-bisik penuh kekaguman terhadap guru baru mereka. "Ya ampun, ganteng banget sih."

"Iya, Jungkook aja lewat deh."

"Bener banget. Liat aja tuh tatapannya, bikin meleleh tau nggak."

"Liat juga tuh tubuhnya atletis banget, aku nggak bisa bayangin gimana jadinya kalau dia lagi nggak pakai baju, pasti ... aaahhh ...."

"Jadi pengen dipeluk tau nggak!"

"Mimpi kamu!"

"Biarin!"

Sementara yang lain sibuk mengagumi guru olahraga baru mereka, Tharie masih mencoba bersembunyi agar tidak terlihat oleh Gilang. Ia takut jika sampai bersitatap dengan guru olahraga barunya itu. Sampai akhirnya ia terlonjak saat Aca menepuk tangannya. "Apaan sih, Ca?!" seru Tharie kaget.

"Woles kali," balas Aca, "Tuh 'kan, Thar, aku bilang apa. Pasti guru olahraga baru kita ganteng. Kamu aja daritadi liatin Pak Gilang terus, jangan bilang kalau kamu naksir dia," lanjut Aca sambil menatap Tharie dengan penuh selidik.

"Ish, enggak lah ya! Aku tuh ...."

"Kalian yang di belakang, bisa diam. Pak Gilang akan segera memulai pelajaran pertama," ucap Pak Rafly memotong ucapan Tharie.

Semua orang yang berada di kelas itu seketika menatap ke arah Tharie dan Aca, begitu pula dengan Gilang. "M-maaf, Pak," ucap Tharie dan Aca secara bersamaan. Tidak lupa mereka menundukkan kepala merasa bersalah.

"Jangan diulangi lagi!"

"Baik, Pak," jawab Tharie dan Aca serentak.

"Baik." Pak Rafly kemudian beralih menatap Gilang. "Silakan di mulai pelajarannya, Pak. Saya tinggal dulu."

"Iya, Pak. Terima kasih banyak," ucap Gilang sembari menundukkan hormat.

Pak Rafly mengangguk. Ia kemudian pergi dari kelas itu dan membuat Gilang menatap ke depan di mana para murid-muridnya berada, tanpa sengaja tatapannya tertuju pada Tharie membuat tatapan mereka bertemu.

—oOo—

"Sekarang kamu harus tepati janji, kamu harus ngasih coklat ini sama Pak Gilang," ucap Aca sembari menatap Tharie.

"Yang benar aja, Ca. Nggak usah lah, lagian belum tentu 'kan Pak Gilang mau nerima coklat itu," tolak Tharie mencoba memberi alasan, pada kenyataannya ia sama sekali tidak ingin berurusan dengan Gilang lagi.

"Nggak bisa gitu dong, Thar. Kamu 'kan udah janji. Nggak baik loh kalau ingkar janji. Janji adalah hutang dan kami harus lakukan janji yang udah kamu ucapkan," ucap Aca tidak mau tahu.

Tharie menghela napas panjang. "Ya udah, siniin coklatnya."

"Kamu beneran mau ngasih coklat ini ke Pak Gilang 'kan?"

Tharie memutar bola matanya malas. "Ya iya lah, atau udah nggak perlu?"

"Eh, enak aja. Kamu harus kasih dong," ucap Aca yang langsung memberikan coklatnya pada Tharie, "tapi aku harus ikut kamu waktu kamu ngasih coklat itu, takutnya kamu malah makan sendiri tuh coklat."

Tharie mengembuskan napas malas. "Terserah deh," ucapnya yang kemudian beranjak dari tempat duduknya, meninggalkan Aca sendirian di tempatnya itu.

Aca menatap cengo pada Tharie yang pergi meninggalkannya begitu saja. Setelah itu, Aca berdiri dari tempat duduknya dan berlari, menyusul Tharie yang sudah sampai pintu kantin. "Tharie! Tungguin dong, masa aku ditinggal, sih!" teriaknya.

"Siapa juga yang ninggalin kamu, aku kira kamu belum selesai makannya," jawab Tharie malas.

"Ish, kamu tuh banyak alasan," ucap Aca kesal, "jadi sekarang kamu mau ke mana?"

Tharie kembali memutar bola matanya malas. "CK! Udah jelas aku mau nyari Pak Gilang, buat ngasih nih coklat biar urusannya cepet selesai," jawabnya.

Aca tersenyum senang. "Nice. Kita mau nyari Pak Gilang ke mana kalau gitu?"

"Nggak tau, jalan aja dulu palingan kalau nggak masih di lapangan Pak Gilang ada di gudang olahraga," jawab Tharie sembari terus melangkahkan kakinya.

Aca mengangguk. Setelah itu, mereka terus berjalan mencari Gilang, sampai akhirnya Aca melihat Gilang tengah berbicara dengan seorang guru di depan ruangan yang biasa untuk menyimpan semua peralatan olahraga. "Itu Pak Gilang, Thar," ucap Aca sembari menunjuk ke arah Gilang dengan dagunya.

Tharie mengikuti ke arah yang ditunjukkan oleh Aca. "Cepet kami kasih!" ucap Aca sembari mendorong lengan Tharie.

"Iya, iya. Sabar napa, tunggu mereka selesai dulu."

"Kalau nunggu mereka selesai yang ada sampai bel bunyi, Tharie. Udah kasih sekarang aja, katanya kamu mau urusan ini cepet selesai," ucap Aca mengingatkan.

Tharie mengembuskan napas pelan. "Oke, oke. Aku kasih sekarang," ucapnya yang mulai melangkahkan kakinya mendekat ke arah Gilang berada.

Semakin lama Tharie semakin dekat dengan keberadaan Gilang dengan Pak Ridwan dan hal itu membuat langkah Tharie juga semakin pelan. Bukan apa-apa, tetapi entah kenapa semakin dekat posisinya dengan keberadaan Gilang semakin cepat juga degup jantung Tharie. Apalagi saat Tharie melihat senyuman yang terukir di bibir Gilang saat sedang berbicara dengan Pak Ridwan.

Tharie saat ini sudah berada tiga langkah di belakang Gilang, tetapi ia masih diam saja sampai akhirnya Pak Ridwan menegur Tharie saat melihat siswinya itu. "Tharie, kamu di sini? Apa ada urusan?" tanya Pak Ridwan dengan senyum ramahnya, sementara Gilang ia kemudian menoleh dan menatap Tharie.

Tharie sedikit tersentak saat mendengar suara guru sejarah di sekolahnya itu. Namun, dengan segera ia menyembunyikan ekspresinya dengan balas tersenyum. "I-iya, Pak. Saya ada urusan dengan Pak Gilang."

Gilang menatap Tharie dengan ekspresi yang sulit di baca. "Ada apa, Gentharie?" tanyanya dingin.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Dikhianati Mantan, Jatuh Pada Duda Tampan   Bab 99

    Aula sekolah yang semula riuh perlahan berubah menjadi ruang penuh bisik dan tatapan tajam. Pernyataan Gilang masih menggantung di udara ketika pria yang mengaku sebagai orang tua murid itu melangkah maju.“Saya tidak puas dengan klarifikasi seperti ini,” katanya tegas. “Hubungan guru dan murid itu sakral. Sekali tercoreng, kepercayaan kami sebagai orang tua runtuh.”Beberapa orang mengangguk setuju. Beberapa lain terlihat ragu.Kepala sekolah mencoba menenangkan suasana. “Pak, kami sedang melakukan investigasi internal. Mohon beri kami waktu.”“Waktu?” pria itu mendengus. “Sementara rumor terus menyebar? Anak-anak kami melihat ini setiap hari di media sosial!”Tharie merasakan dadanya seperti diremas. Ia berdiri beberapa langkah di belakang Gilang, menyaksikan bagaimana pria itu tetap tegak di tengah tudingan.“Apa Bapak punya bukti pelanggaran?” tanya Gilang tenang.“Bukti?” pria itu tersenyum sinis. “Kadang kebenaran

  • Dikhianati Mantan, Jatuh Pada Duda Tampan   Bab 98

    Pagi itu, halaman sekolah terasa berbeda.Biasanya suara tawa siswa memenuhi udara, bercampur dengan derap langkah yang terburu menuju kelas. Namun hari ini, bisikan lebih dominan daripada tawa. Tatapan lebih tajam daripada sapaan.Tharie merasakan semuanya.Begitu ia turun dari mobil, beberapa pasang mata langsung tertuju padanya. Ada yang pura-pura tidak melihat. Ada yang terang-terangan menatap dengan rasa ingin tahu berlebihan.“Eh itu dia…”“Katanya mau nikah sama Pak Gilang…”“Seriusan? Gila…”Bisikan itu seperti jarum kecil yang menusuk satu per satu.Tharie menunduk, mencoba menguatkan langkahnya. Ia sudah berjanji pada dirinya sendiri—ia tidak akan lari.Di sisi lain halaman, Gilang berdiri di depan ruang guru. Wajahnya tenang seperti biasa, tapi sorot matanya menunjukkan kewaspadaan.Beberapa guru berbisik saat ia lewat.“Ini sudah keterlaluan.”“Walaupun belum terbu

  • Dikhianati Mantan, Jatuh Pada Duda Tampan   Bab 97

    Rumah sakit itu terasa lebih dingin dari biasanya.Bau antiseptik menusuk hidung, lampu-lampu putih menyilaukan mata, dan suara langkah tergesa di lorong panjang membuat jantung siapa pun ikut berdegup tak karuan.Tharie hampir berlari menyusuri koridor, Gilang di sampingnya, Papa Elham dan Mama Ami sedikit tertinggal di belakang. Di ujung lorong, papan bertuliskan ICU berdiri seperti gerbang yang memisahkan harapan dan kehilangan.“Bagaimana kondisi Ayah saya?” tanya Papa Elham pada dokter yang baru keluar.Dokter itu menghela napas pelan. “Tekanan darah beliau turun drastis. Kami sudah melakukan tindakan stabilisasi. Untuk sementara, kondisinya kritis, tapi masih bisa dipantau.”Tharie merasa lututnya melemas.“Kakek sadar?” suaranya bergetar.“Beberapa kali membuka mata. Tapi tidak lama.”Mama Ami memeluk putrinya, namun Tharie hampir tidak merasakan pelukan itu. Dunia di sekitarnya seperti teredam, hanya menyisakan satu pikiran: waktu.Waktu yang mungkin benar-benar menipis.Setel

  • Dikhianati Mantan, Jatuh Pada Duda Tampan   Bab 96

    Langit sore itu menggantung rendah di atas rumah besar keluarga Elham, seperti ikut menahan napas bersama seorang gadis yang duduk terdiam di tepi ranjangnya. Tharie menatap lurus ke luar jendela. Halaman rumahnya yang biasanya terasa luas dan nyaman kini seperti berubah menjadi penjara tanpa jeruji. Angin berembus pelan, menggoyangkan tirai putih yang menjuntai hingga lantai. Ia memeluk kedua lututnya, pikirannya berputar-putar pada satu kalimat yang terus terngiang sejak kemarin malam. “Kamu harus menikah dengan Gilang secepatnya.” Kalimat itu tak hanya mengejutkannya. Kalimat itu meruntuhkan dunianya. Pintu kamar diketuk pelan. “Tharie, boleh Mama masuk?” suara Mama Ami terdengar lembut, tapi ada ketegangan samar di dalamnya. Tharie tidak menjawab. Namun pintu tetap terbuka perlahan. Mama Ami masuk dengan langkah hati-hati. Ia duduk di tepi ranjang, menatap putrinya yang tampak lebih pucat dari biasanya. “Kamu belum makan dari tadi siang,” ucapnya pelan. “Aku tidak lapar, M

  • Dikhianati Mantan, Jatuh Pada Duda Tampan   Bab 95

    Setelah pertemuan dengan Hanum, Aditya, dan Intan, hidup Tharie terasa… lebih sunyi.Bukan karena tekanan berkurang sepenuhnya.Justru karena semuanya menjadi terlalu tenang.Tidak ada lagi desakan langsung dari Papa. Tidak ada pembicaraan tentang tanggal. Tidak ada tatapan menghakimi dari keluarga Gilang. Bahkan di sekolah, rumor mulai mereda karena fokus siswa teralihkan oleh ujian akhir.Namun ketenangan itu membuat pikirannya bekerja lebih keras.Ia mulai memikirkan hal-hal yang sebelumnya tidak sempat ia pikirkan.Tentang Queen.Tentang masa lalu Gilang.Tentang bagaimana rasanya menjadi perempuan kedua dalam hidup seorang laki-laki yang pernah mencintai begitu dalam.---Suatu sore, setelah les tambahan, Tharie tidak langsung pulang. Ia duduk sendirian di bangku taman belakang sekolah—tempat yang sama di mana ia pernah mengatakan, “mari coba.”Langit berwarna jingga. Angin s

  • Dikhianati Mantan, Jatuh Pada Duda Tampan   Bab 94

    Ketenangan itu kembali terusik ketika Papa Elham menerima tamu tak terduga di rumah.Tharie baru tahu ketika Mama memanggilnya turun dengan wajah yang tak bisa ia baca—antara tegang dan gugup.“Tharie, ada tamu.”Ia menuruni tangga perlahan. Dari balik pegangan kayu, ia melihat tiga sosok duduk di ruang tamu.Dan napasnya tercekat.Gilang tidak datang.Yang datang adalah keluarganya.Seorang wanita paruh baya dengan raut wajah tegas namun anggun duduk paling depan. Sorot matanya tajam, tetapi tidak dingin. Di sampingnya, seorang pria berusia sekitar tiga puluhan dengan pembawaan tenang dan dewasa. Dan di sebelah pria itu, seorang wanita yang wajahnya lembut, namun menyimpan kedalaman yang sulit dijelaskan.Tharie mengenali mereka dari cerita yang pernah Gilang sampaikan.Hanum.Ayah angkatnya.Aditya, kakak angkatnya.Dan Intan—istri Aditya—yang tidak lain adalah orang tua dar

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status