共有

Bab 4

作者: Saraswati_5
last update 最終更新日: 2026-01-09 09:27:31

Tepat pukul sebelas malam, Tharie memasuki rumah milik kedua orang tuanya. Rumah yang selalu sepi, karena kedua orang tuanya yang selalu pulang dini hari dan akan kembali pergi saat Tharie masih tidur. Tharie mengembuskan napas saat hari ini pun tidak ada orang di rumahnya. Namun, senyum kemudian muncul di bibirnya saat mendengar suara langkah kaki dari arah dapur. "Apa mungkin Mama udah di rumah?" pikir Tharie.

Ia lalu menatap ke arah dapur, berharap jika pikirannya benar. Namun, senyum seketika hilang saat harapannya tidak terjadi, nyatanya yang sedang berada di dapur adalah asisten rumah tangganya yang selalu menemani dirinya selama ini. "Baru pulang, Non?" tanya wanita paruh baya itu dengan lembut.

Tharie tersenyum. "Iya, Bik. Bibik belum tidur?"

"Belum, Non. Non mau Bibik siapin makan malam?"

Tharie menggeleng. "Enggak, Bik. Aku mau langsung istirahat aja."

"Kalau begitu selamat istirahat, Non."

"Iya, Bik," jawabnya yang langsung melangkahkan kakinya menaiki anak tangga menuju lantai dua di mana kamarnya berada.

Sampai di kamar, Tharie mendudukkan tubuhnya di tepi tempat tidur. Ia lalu menghela napas panjang, saat ingatannya kembali mengingat pengkhianatan yang Roni lakukan. Namun, yang membuatnya tidak tenang saat ia mengingat ketika dengan beraninya ia mencium seorang laki-laki yang sama sekali tidak ia kenali. Apalagi itu adalah ciuman pertamanya, ciuman yang selama ini ia jaga untuk suaminya kelak.

Tharie menangkup wajahnya dengan kedua tangannya. Setelah itu, ia menyugar rambutnya frustasi. "Ya ampun, Tharie! Bisa-bisanya kamu nyium cowok yang enggak kamu kenal, sekarang gimana coba? Gimana kalau suatu saat kamu ketemu sama cowok itu lagi?" ucap Thari panik.

"Tapi, kalaupun ketemu nggak masalah juga sih, tu cowok ganteng banget, mana perhatian juga lagi," ucap Tharie lagi, tetapi kali ini sembari membayangkan wajah Gilang, "Andai, suatu saat yang jadi suami aku itu dia, pasti nanti aku bakal seneng banget, deh," lanjutnya sembari tersenyum.

Namun, detik selanjutnya Tharie menggelengkan kepalanya. "Aaaarrrrgghhh! Kenapa aku malah jadi mikirin tuh cowok, sih! Seharusnya aku 'kan sekarang lagi sedih gara-gara Roni udah selingkuh!" ucap Tharie kesal.

"Tapi ada untungnya juga sih tau cowok sialan itu selingkuh, gimana jadinya kalau aku nggak tau dan aku sama dia nikah? Bisa-bisa hidup aku menderita," ucap Tharie sembari bergidik ngeri.

"Udahlah, sebaiknya aku lupain kejadian hari ini, anggap angin lalu dan sebaiknya aku tidur," ucap Tharie yang kemudian pergi ke kamar mandi untuk cuci muka, baru selanjutnya ia tidur.

—oOo—

Dua hari setelah kejadian itu, Tharie memulai aktivitas dia kembali dan saat ini ia sedang duduk di meja makan untuk sarapan. Seperti biasa, Tharie akan sarapan seorang diri di sana. Kalian tahu lah, alasannya apa. Ya, kedua orang tua Tharie sudah pergi pagi-pagi sekali tadi.

"Bik, aku berangkat sekolah dulu ya," pamit Tharie sembari mengusap mulutnya dengan tisu.

"Loh, sarapannya nggak dihabiskan, Non?"

Tharie menggeleng. "Enggak, Bik, aku udah kenyang," jawabnya.

Bik Sri mengangguk. "Kalau begitu hati-hati, Non."

"Iya," jawab Tharie sembari berjalan keluar rumah, mendekati motor matic miliknya dan berangkat.

Sampai sekolah, Tharie memarkirkan motor matic-nya di tempat parkir. Ia kemudian berjalan menuju kelas sembari sesekali tersenyum pada beberapa siswa yang menyapanya. "Pagi," balasnya.

Sampai akhirnya saat ia sudah berada di depan kelas ia mendengar seseorang meneriakkan namanya. Tharie menoleh sekilas dan tersenyum saat melihat Aca yang tengah berjalan dengan cepat ke arahnya. "Baru datang, Ca?" tanya Tharie saat teman sebangkunya sudah berada di depannya.

"Iya, nih. Gimana kabar kamu? Kamu baik-baik aja 'kan setelah kejadian waktu itu?" tanya Aca yang terlihat sangat khawatir pada teman sebangku sekaligus sahabatnya sedari kecil.

Di saat ia mendengar dari Tharie jika ia sudah putus dari Roni karena Roni selingkuh, Aca sangat khawatir. Saking khawatirnya Aca bahkan hendak ke rumah Tharie saat Tharie menceritakan kejadian itu. Ia khawatir jika Tharie melakukan hal bodoh di saat temannya itu sedang kalut, apalagi ia sangat tahu seberapa besar rasa cinta Tharie pada Roni.

"I'm fine, Ca. Kamu nggak perlu khawatir," balas Tharie sembari mendudukan diri di kursi.

Aca yang sudah duduk di kursinya menghela napas lega. "Syukur deh kalo kamu baik-baik aja. Aku takut banget tau nggak waktu itu."

Tharie menatap Aca dengan kening yang berkerut. "Takut? Takut kenapa?" tanyanya bingung.

"Takut kalau kamu tiba-tiba buhuh diri gara-gara cowok brengsek itu."

Tharie diam sesaat. Ia kemudian mengalihkan perhatiannya pada pada ponselnya. Pura-pura sibuk dengan ponselnya untuk menghindar dari tatapan Aca. "Ya, enggak lah. Kayak nggak ada cowok lain aja, sampai ngelakuin hal bodoh kek gitu." Tharie tertampar dengan ucapannya sendiri.

"Bagus kalau gitu, deh. Lagian dari awal kamu pacaran sama dia, aku itu udah nggak setuju. Dia keliatan banget kalo cowok nggak bener, cuma mau manfaatin kamu aja," balas Aca.

"Oh iya, Thar, di sekolah kita bakal ada guru olahraga baru loh, penggantinya Pak Ervian," ucap Aca memberitahu.

"Pantesan di grup sekolah rame banget, jadi mau ada guru baru?"

Aca mengangguk. "Denger-denger nih ya, Thar, guru olahraga baru kita itu ganteng banget, loh, nggak kalah ganteng sama Pak Ervian," ucapnya sembari ikut melihat ponselnya, penasaran sama kabar yang beredar di grup sekolah.

"Kalau ganteng itu mah relatif, Ca. Belum tentu menurut kamu ganteng tapi menurut orang lain ganteng juga."

"Tapi ini mah ganteng banget, Thar. Kamu liat aja," ucap Aca dengan mata berbinar, tidak lupa ia menunjukkan layar ponselnya pada Tharie padahal Tharie sendiri juga sedang memegang ponselnya sendiri.

Tharie mengalihkan tatapannya dari ponselnya ke ponsel Aca. Ia menunjukkan ekspresi bingung. "Ganteng apaan? Orang nggak keluaran mukanya," ucap Thari yang setelahnya kembali menatap ponselnya sendiri.

"Ish ... kamu tuh. Walaupun nggak keliatan wajahnya tapi baru liat bodynya dari belakang kita udah bisa tebak seperti apa wajahnya, Thar. Aku yakin, guru olahraga baru kita ini gantengnya nggak kalah sama Jungkook."

"Jangan berharap banyak, Ca. Gimana kalau ternyata cuma bodynya aja yang bagus tapi wajahnya kayak Walid?" balas Tharie.

"Ihh, nggak mungkin banget, Thar. Masa body oke, tapi kayak Walid? Nggak banget," ucap Aca dengan bergidik ngeri.

"Ya, 'kan nggak ada yang tau, Ca."

"Oke, kita buktiin."

"Buktiin apa?" tanya Tharie bingung.

"Kalau guru olahraga kita ganteng. Kebetulan mata pelajaran pertama di kelas kita 'kan olahraga, kita liat seperti apa wajah guru olahraga baru kita. Kalau dia ganteng, kamu harus kasih coklat ini sama dia," ucap Aca sembari menunjukkan coklat pada Tharie.

Tharie mengerutkan keningnya saat melihat coklat yang tiba-tiba sudah di tangan Aca. "Coklat dari mana tuh, Ca? Perasaan daritadi aku nggak liat kamu bawa coklat."

Aca tersenyum. "Coklat dari kantin, aku beli kemarin dan lupa belum aku makan."

"Ish ... terus kalau guru olahraga baru kita nggak ganteng gimana?"

"Kalau guru olahraga baru kita nggak ganteng, aku bakal gantiin kamu piket selama satu bulan, gimana?"

Tharie tersenyum. "Oke," jawabnya yakin jika guru olahraga baru mereka tidak lebih tampan dari Jungkook.

Teeettt!!

Suara bel tanda pelajaran pertama akan segera dimulai berbunyi. Semua siswa dan siswi masuk ke dalam kelas dan duduk di kursi mereka masing-masing. Namun, walaupun mereka sudah duduk di kursi mereka masing-masing mereka tetap berisik, sampai akhirnya terdengar suara ketukan sepatu pantovel di lantai, tidak lama kepala sekolah masuk ke dalam kelas Tharie.

"Selamat pagi, anak-anak," sapa Pak Rafly dengan suara yang berwibawa.

"Selamat pagi, Pak," jawab semua siswa di sana.

"Hari ini saya ingin memperkenalkan guru olahraga baru kalian yang akan menggantikan Pak Ervian yang sedang cuti panjang. Silakan masuk, Pak Gilang."

Tidak lama setelah itu, seorang pria berpostur tegap dengan senyum ramah memasuki kelas.

"Selamat pagi, saya Gilang. Saya sangat bersemangat untuk menjadi bagian dari tim pengajar di sekolah ini dan berharap bisa memberikan yang terbaik untuk kalian semua," ujar Gilang dengan suara yang lembut namun penuh autoritas.

Detak jantung Tharie tiba-tiba berdegup kencang, matanya membulat tidak percaya. Wajah itu, rambut hitam pekat milik laki-laki di depan kelasnya tidak asing bagi Tharie. "Mati aku!"

この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード
コメント (1)
goodnovel comment avatar
Fathur
bakal syok banget sih kalau aku jadi Tharie.
すべてのコメントを表示

最新チャプター

  • Dikhianati Mantan, Jatuh Pada Duda Tampan   Bab 99

    Aula sekolah yang semula riuh perlahan berubah menjadi ruang penuh bisik dan tatapan tajam. Pernyataan Gilang masih menggantung di udara ketika pria yang mengaku sebagai orang tua murid itu melangkah maju.“Saya tidak puas dengan klarifikasi seperti ini,” katanya tegas. “Hubungan guru dan murid itu sakral. Sekali tercoreng, kepercayaan kami sebagai orang tua runtuh.”Beberapa orang mengangguk setuju. Beberapa lain terlihat ragu.Kepala sekolah mencoba menenangkan suasana. “Pak, kami sedang melakukan investigasi internal. Mohon beri kami waktu.”“Waktu?” pria itu mendengus. “Sementara rumor terus menyebar? Anak-anak kami melihat ini setiap hari di media sosial!”Tharie merasakan dadanya seperti diremas. Ia berdiri beberapa langkah di belakang Gilang, menyaksikan bagaimana pria itu tetap tegak di tengah tudingan.“Apa Bapak punya bukti pelanggaran?” tanya Gilang tenang.“Bukti?” pria itu tersenyum sinis. “Kadang kebenaran

  • Dikhianati Mantan, Jatuh Pada Duda Tampan   Bab 98

    Pagi itu, halaman sekolah terasa berbeda.Biasanya suara tawa siswa memenuhi udara, bercampur dengan derap langkah yang terburu menuju kelas. Namun hari ini, bisikan lebih dominan daripada tawa. Tatapan lebih tajam daripada sapaan.Tharie merasakan semuanya.Begitu ia turun dari mobil, beberapa pasang mata langsung tertuju padanya. Ada yang pura-pura tidak melihat. Ada yang terang-terangan menatap dengan rasa ingin tahu berlebihan.“Eh itu dia…”“Katanya mau nikah sama Pak Gilang…”“Seriusan? Gila…”Bisikan itu seperti jarum kecil yang menusuk satu per satu.Tharie menunduk, mencoba menguatkan langkahnya. Ia sudah berjanji pada dirinya sendiri—ia tidak akan lari.Di sisi lain halaman, Gilang berdiri di depan ruang guru. Wajahnya tenang seperti biasa, tapi sorot matanya menunjukkan kewaspadaan.Beberapa guru berbisik saat ia lewat.“Ini sudah keterlaluan.”“Walaupun belum terbu

  • Dikhianati Mantan, Jatuh Pada Duda Tampan   Bab 97

    Rumah sakit itu terasa lebih dingin dari biasanya.Bau antiseptik menusuk hidung, lampu-lampu putih menyilaukan mata, dan suara langkah tergesa di lorong panjang membuat jantung siapa pun ikut berdegup tak karuan.Tharie hampir berlari menyusuri koridor, Gilang di sampingnya, Papa Elham dan Mama Ami sedikit tertinggal di belakang. Di ujung lorong, papan bertuliskan ICU berdiri seperti gerbang yang memisahkan harapan dan kehilangan.“Bagaimana kondisi Ayah saya?” tanya Papa Elham pada dokter yang baru keluar.Dokter itu menghela napas pelan. “Tekanan darah beliau turun drastis. Kami sudah melakukan tindakan stabilisasi. Untuk sementara, kondisinya kritis, tapi masih bisa dipantau.”Tharie merasa lututnya melemas.“Kakek sadar?” suaranya bergetar.“Beberapa kali membuka mata. Tapi tidak lama.”Mama Ami memeluk putrinya, namun Tharie hampir tidak merasakan pelukan itu. Dunia di sekitarnya seperti teredam, hanya menyisakan satu pikiran: waktu.Waktu yang mungkin benar-benar menipis.Setel

  • Dikhianati Mantan, Jatuh Pada Duda Tampan   Bab 96

    Langit sore itu menggantung rendah di atas rumah besar keluarga Elham, seperti ikut menahan napas bersama seorang gadis yang duduk terdiam di tepi ranjangnya. Tharie menatap lurus ke luar jendela. Halaman rumahnya yang biasanya terasa luas dan nyaman kini seperti berubah menjadi penjara tanpa jeruji. Angin berembus pelan, menggoyangkan tirai putih yang menjuntai hingga lantai. Ia memeluk kedua lututnya, pikirannya berputar-putar pada satu kalimat yang terus terngiang sejak kemarin malam. “Kamu harus menikah dengan Gilang secepatnya.” Kalimat itu tak hanya mengejutkannya. Kalimat itu meruntuhkan dunianya. Pintu kamar diketuk pelan. “Tharie, boleh Mama masuk?” suara Mama Ami terdengar lembut, tapi ada ketegangan samar di dalamnya. Tharie tidak menjawab. Namun pintu tetap terbuka perlahan. Mama Ami masuk dengan langkah hati-hati. Ia duduk di tepi ranjang, menatap putrinya yang tampak lebih pucat dari biasanya. “Kamu belum makan dari tadi siang,” ucapnya pelan. “Aku tidak lapar, M

  • Dikhianati Mantan, Jatuh Pada Duda Tampan   Bab 95

    Setelah pertemuan dengan Hanum, Aditya, dan Intan, hidup Tharie terasa… lebih sunyi.Bukan karena tekanan berkurang sepenuhnya.Justru karena semuanya menjadi terlalu tenang.Tidak ada lagi desakan langsung dari Papa. Tidak ada pembicaraan tentang tanggal. Tidak ada tatapan menghakimi dari keluarga Gilang. Bahkan di sekolah, rumor mulai mereda karena fokus siswa teralihkan oleh ujian akhir.Namun ketenangan itu membuat pikirannya bekerja lebih keras.Ia mulai memikirkan hal-hal yang sebelumnya tidak sempat ia pikirkan.Tentang Queen.Tentang masa lalu Gilang.Tentang bagaimana rasanya menjadi perempuan kedua dalam hidup seorang laki-laki yang pernah mencintai begitu dalam.---Suatu sore, setelah les tambahan, Tharie tidak langsung pulang. Ia duduk sendirian di bangku taman belakang sekolah—tempat yang sama di mana ia pernah mengatakan, “mari coba.”Langit berwarna jingga. Angin s

  • Dikhianati Mantan, Jatuh Pada Duda Tampan   Bab 94

    Ketenangan itu kembali terusik ketika Papa Elham menerima tamu tak terduga di rumah.Tharie baru tahu ketika Mama memanggilnya turun dengan wajah yang tak bisa ia baca—antara tegang dan gugup.“Tharie, ada tamu.”Ia menuruni tangga perlahan. Dari balik pegangan kayu, ia melihat tiga sosok duduk di ruang tamu.Dan napasnya tercekat.Gilang tidak datang.Yang datang adalah keluarganya.Seorang wanita paruh baya dengan raut wajah tegas namun anggun duduk paling depan. Sorot matanya tajam, tetapi tidak dingin. Di sampingnya, seorang pria berusia sekitar tiga puluhan dengan pembawaan tenang dan dewasa. Dan di sebelah pria itu, seorang wanita yang wajahnya lembut, namun menyimpan kedalaman yang sulit dijelaskan.Tharie mengenali mereka dari cerita yang pernah Gilang sampaikan.Hanum.Ayah angkatnya.Aditya, kakak angkatnya.Dan Intan—istri Aditya—yang tidak lain adalah orang tua dar

続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status