Mag-log inTepat pukul sebelas malam, Tharie memasuki rumah milik kedua orang tuanya. Rumah yang selalu sepi, karena kedua orang tuanya yang selalu pulang dini hari dan akan kembali pergi saat Tharie masih tidur. Tharie mengembuskan napas saat hari ini pun tidak ada orang di rumahnya. Namun, senyum kemudian muncul di bibirnya saat mendengar suara langkah kaki dari arah dapur. "Apa mungkin Mama udah di rumah?" pikir Tharie.
Ia lalu menatap ke arah dapur, berharap jika pikirannya benar. Namun, senyum seketika hilang saat harapannya tidak terjadi, nyatanya yang sedang berada di dapur adalah asisten rumah tangganya yang selalu menemani dirinya selama ini. "Baru pulang, Non?" tanya wanita paruh baya itu dengan lembut. Tharie tersenyum. "Iya, Bik. Bibik belum tidur?" "Belum, Non. Non mau Bibik siapin makan malam?" Tharie menggeleng. "Enggak, Bik. Aku mau langsung istirahat aja." "Kalau begitu selamat istirahat, Non." "Iya, Bik," jawabnya yang langsung melangkahkan kakinya menaiki anak tangga menuju lantai dua di mana kamarnya berada. Sampai di kamar, Tharie mendudukkan tubuhnya di tepi tempat tidur. Ia lalu menghela napas panjang, saat ingatannya kembali mengingat pengkhianatan yang Roni lakukan. Namun, yang membuatnya tidak tenang saat ia mengingat ketika dengan beraninya ia mencium seorang laki-laki yang sama sekali tidak ia kenali. Apalagi itu adalah ciuman pertamanya, ciuman yang selama ini ia jaga untuk suaminya kelak. Tharie menangkup wajahnya dengan kedua tangannya. Setelah itu, ia menyugar rambutnya frustasi. "Ya ampun, Tharie! Bisa-bisanya kamu nyium cowok yang enggak kamu kenal, sekarang gimana coba? Gimana kalau suatu saat kamu ketemu sama cowok itu lagi?" ucap Thari panik. "Tapi, kalaupun ketemu nggak masalah juga sih, tu cowok ganteng banget, mana perhatian juga lagi," ucap Tharie lagi, tetapi kali ini sembari membayangkan wajah Gilang, "Andai, suatu saat yang jadi suami aku itu dia, pasti nanti aku bakal seneng banget, deh," lanjutnya sembari tersenyum. Namun, detik selanjutnya Tharie menggelengkan kepalanya. "Aaaarrrrgghhh! Kenapa aku malah jadi mikirin tuh cowok, sih! Seharusnya aku 'kan sekarang lagi sedih gara-gara Roni udah selingkuh!" ucap Tharie kesal. "Tapi ada untungnya juga sih tau cowok sialan itu selingkuh, gimana jadinya kalau aku nggak tau dan aku sama dia nikah? Bisa-bisa hidup aku menderita," ucap Tharie sembari bergidik ngeri. "Udahlah, sebaiknya aku lupain kejadian hari ini, anggap angin lalu dan sebaiknya aku tidur," ucap Tharie yang kemudian pergi ke kamar mandi untuk cuci muka, baru selanjutnya ia tidur. —oOo— Dua hari setelah kejadian itu, Tharie memulai aktivitas dia kembali dan saat ini ia sedang duduk di meja makan untuk sarapan. Seperti biasa, Tharie akan sarapan seorang diri di sana. Kalian tahu lah, alasannya apa. Ya, kedua orang tua Tharie sudah pergi pagi-pagi sekali tadi. "Bik, aku berangkat sekolah dulu ya," pamit Tharie sembari mengusap mulutnya dengan tisu. "Loh, sarapannya nggak dihabiskan, Non?" Tharie menggeleng. "Enggak, Bik, aku udah kenyang," jawabnya. Bik Sri mengangguk. "Kalau begitu hati-hati, Non." "Iya," jawab Tharie sembari berjalan keluar rumah, mendekati motor matic miliknya dan berangkat. Sampai sekolah, Tharie memarkirkan motor matic-nya di tempat parkir. Ia kemudian berjalan menuju kelas sembari sesekali tersenyum pada beberapa siswa yang menyapanya. "Pagi," balasnya. Sampai akhirnya saat ia sudah berada di depan kelas ia mendengar seseorang meneriakkan namanya. Tharie menoleh sekilas dan tersenyum saat melihat Aca yang tengah berjalan dengan cepat ke arahnya. "Baru datang, Ca?" tanya Tharie saat teman sebangkunya sudah berada di depannya. "Iya, nih. Gimana kabar kamu? Kamu baik-baik aja 'kan setelah kejadian waktu itu?" tanya Aca yang terlihat sangat khawatir pada teman sebangku sekaligus sahabatnya sedari kecil. Di saat ia mendengar dari Tharie jika ia sudah putus dari Roni karena Roni selingkuh, Aca sangat khawatir. Saking khawatirnya Aca bahkan hendak ke rumah Tharie saat Tharie menceritakan kejadian itu. Ia khawatir jika Tharie melakukan hal bodoh di saat temannya itu sedang kalut, apalagi ia sangat tahu seberapa besar rasa cinta Tharie pada Roni. "I'm fine, Ca. Kamu nggak perlu khawatir," balas Tharie sembari mendudukan diri di kursi. Aca yang sudah duduk di kursinya menghela napas lega. "Syukur deh kalo kamu baik-baik aja. Aku takut banget tau nggak waktu itu." Tharie menatap Aca dengan kening yang berkerut. "Takut? Takut kenapa?" tanyanya bingung. "Takut kalau kamu tiba-tiba buhuh diri gara-gara cowok brengsek itu." Tharie diam sesaat. Ia kemudian mengalihkan perhatiannya pada pada ponselnya. Pura-pura sibuk dengan ponselnya untuk menghindar dari tatapan Aca. "Ya, enggak lah. Kayak nggak ada cowok lain aja, sampai ngelakuin hal bodoh kek gitu." Tharie tertampar dengan ucapannya sendiri. "Bagus kalau gitu, deh. Lagian dari awal kamu pacaran sama dia, aku itu udah nggak setuju. Dia keliatan banget kalo cowok nggak bener, cuma mau manfaatin kamu aja," balas Aca. "Oh iya, Thar, di sekolah kita bakal ada guru olahraga baru loh, penggantinya Pak Ervian," ucap Aca memberitahu. "Pantesan di grup sekolah rame banget, jadi mau ada guru baru?" Aca mengangguk. "Denger-denger nih ya, Thar, guru olahraga baru kita itu ganteng banget, loh, nggak kalah ganteng sama Pak Ervian," ucapnya sembari ikut melihat ponselnya, penasaran sama kabar yang beredar di grup sekolah. "Kalau ganteng itu mah relatif, Ca. Belum tentu menurut kamu ganteng tapi menurut orang lain ganteng juga." "Tapi ini mah ganteng banget, Thar. Kamu liat aja," ucap Aca dengan mata berbinar, tidak lupa ia menunjukkan layar ponselnya pada Tharie padahal Tharie sendiri juga sedang memegang ponselnya sendiri. Tharie mengalihkan tatapannya dari ponselnya ke ponsel Aca. Ia menunjukkan ekspresi bingung. "Ganteng apaan? Orang nggak keluaran mukanya," ucap Thari yang setelahnya kembali menatap ponselnya sendiri. "Ish ... kamu tuh. Walaupun nggak keliatan wajahnya tapi baru liat bodynya dari belakang kita udah bisa tebak seperti apa wajahnya, Thar. Aku yakin, guru olahraga baru kita ini gantengnya nggak kalah sama Jungkook." "Jangan berharap banyak, Ca. Gimana kalau ternyata cuma bodynya aja yang bagus tapi wajahnya kayak Walid?" balas Tharie. "Ihh, nggak mungkin banget, Thar. Masa body oke, tapi kayak Walid? Nggak banget," ucap Aca dengan bergidik ngeri. "Ya, 'kan nggak ada yang tau, Ca." "Oke, kita buktiin." "Buktiin apa?" tanya Tharie bingung. "Kalau guru olahraga kita ganteng. Kebetulan mata pelajaran pertama di kelas kita 'kan olahraga, kita liat seperti apa wajah guru olahraga baru kita. Kalau dia ganteng, kamu harus kasih coklat ini sama dia," ucap Aca sembari menunjukkan coklat pada Tharie. Tharie mengerutkan keningnya saat melihat coklat yang tiba-tiba sudah di tangan Aca. "Coklat dari mana tuh, Ca? Perasaan daritadi aku nggak liat kamu bawa coklat." Aca tersenyum. "Coklat dari kantin, aku beli kemarin dan lupa belum aku makan." "Ish ... terus kalau guru olahraga baru kita nggak ganteng gimana?" "Kalau guru olahraga baru kita nggak ganteng, aku bakal gantiin kamu piket selama satu bulan, gimana?" Tharie tersenyum. "Oke," jawabnya yakin jika guru olahraga baru mereka tidak lebih tampan dari Jungkook. Teeettt!! Suara bel tanda pelajaran pertama akan segera dimulai berbunyi. Semua siswa dan siswi masuk ke dalam kelas dan duduk di kursi mereka masing-masing. Namun, walaupun mereka sudah duduk di kursi mereka masing-masing mereka tetap berisik, sampai akhirnya terdengar suara ketukan sepatu pantovel di lantai, tidak lama kepala sekolah masuk ke dalam kelas Tharie. "Selamat pagi, anak-anak," sapa Pak Rafly dengan suara yang berwibawa. "Selamat pagi, Pak," jawab semua siswa di sana. "Hari ini saya ingin memperkenalkan guru olahraga baru kalian yang akan menggantikan Pak Ervian yang sedang cuti panjang. Silakan masuk, Pak Gilang." Tidak lama setelah itu, seorang pria berpostur tegap dengan senyum ramah memasuki kelas. "Selamat pagi, saya Gilang. Saya sangat bersemangat untuk menjadi bagian dari tim pengajar di sekolah ini dan berharap bisa memberikan yang terbaik untuk kalian semua," ujar Gilang dengan suara yang lembut namun penuh autoritas. Detak jantung Tharie tiba-tiba berdegup kencang, matanya membulat tidak percaya. Wajah itu, rambut hitam pekat milik laki-laki di depan kelasnya tidak asing bagi Tharie. "Mati aku!"Pertanyaan itu tidak datang sebagai ancaman.“…siapa kamu?”Sunyi.Namun bukan sunyi yang menekan—melainkan sunyi yang membuka ruang, memberi tempat bagi sesuatu yang tidak pernah benar-benar memiliki bentuk untuk akhirnya… diakui tanpa harus dijelaskan.Gilang—atau sesuatu yang dulu pernah dipanggil dengan nama itu—tidak langsung menjawab.Bukan karena ia ragu.Bukan karena ia tidak tahu.Namun karena untuk pertama kalinya dalam seluruh keberadaannya…ia tidak perlu.Ia tidak lagi harus menjadi sesuatu yang bisa dipahami.Tidak lagi harus menjelaskan keberadaannya dengan kata, logika, atau tujuan.Tidak lagi harus mengikat dirinya pada nama, bentuk, peran, atau arah.Ia hanya… ada.Dan keberadaan itu—cukup.Getaran kecil itu mendekat.Tidak tergesa.Tidak memaksa.Tidak membawa niat yang bisa disebut sebagai ancaman.Ia datang dengan rasa ingin tahu yang murni—sederhana, polos, dan jujur.Sama seperti Gilang dulu.Sebelum semuanya menjadi rumit.Sebelum ada pilihan yang harus diambi
Kalimat itu tidak hanya terdengar.Ia menciptakan celah.“…untuk tidak menjadi bagian dari apa pun.”Sunyi.Namun bukan sunyi biasa—ini sunyi yang terbelah.Seolah seluruh realitas berhenti untuk mempertanyakan satu hal yang tidak pernah diajukan sebelumnya.Apa yang terjadi… jika sesuatu memilih untuk tidak termasuk?Struktur itu membeku.Bukan karena tidak mampu bergerak.Namun karena tidak memiliki jawaban.“Paradoks terdeteksi.”Sunyi.“Objek di luar himpunan.”Sunyi.Gilang berdiri.Tidak mundur.Tidak melawan.Namun juga tidak ikut.Ia ada—tanpa menjadi bagian.Dan untuk pertama kalinya—sesuatu yang mencoba menjadi segalanya…tidak bisa menjangkaunya.Hanum menatapnya.Matanya berkaca.Namun kali ini—bukan karena takut.Melainkan karena mengerti.“Kau… benar-benar pergi…”Sunyi.Gilang menoleh padanya.Senyumnya tipis.Namun hangat.“Aku tidak pergi…”Ia berhenti sejenak.“…aku hanya tidak tinggal di mana pun.”Sunyi.Sosok ‘sebelum’ menatap dengan tatapan yang tidak lagi pen
Kata itu terasa lebih dingin dari kehampaan mana pun.“Optimalisasi dimulai.”Sunyi.Namun bukan sunyi yang kosong—melainkan sunyi yang disiapkan untuk sesuatu yang akan dihapus tanpa jejak.Cabang kecil itu bergerak lagi.Lebih cepat.Lebih pasti.Ia tidak berkembang seperti yang lain.Ia… menyaring.Menentukan.Menghapus.Dan setiap cabang yang disentuhnya—lenyap.Tanpa sisa.Tanpa memori.Tanpa pernah ada.Hanum terengah.Tubuhnya gemetar.“Ini… bukan kebebasan…”“…ini pembatasan.”Sunyi.Sosok ‘sebelum’ mengangguk.“Ini bukan pilihan…”“…ini seleksi.”Sunyi.Entitas itu menyipitkan mata.Tatapannya tajam.“Dan sesuatu yang melakukan seleksi…”“…memiliki tujuan.”Sunyi.Gilang menatap cabang itu.Dalam.Untuk pertama kalinya—ia tidak melihat kemungkinan.Namun… ancaman nyata.“Tujuannya apa?” tanyanya pelan.Dan jawaban itu—datang.Tanpa emosi.Tanpa keraguan.“Stabilitas.”Sunyi.Satu kata.Namun cukup untuk membuat semua mengerti.Jika terlalu banyak kemungkinan menciptakan ke
Sunyi.Namun kali ini—sunyi itu tidak memberi ruang.Ia menekan.Seolah seluruh realitas menahan napas, menunggu sesuatu yang tidak bisa lagi ditunda.Gilang merasakan sesuatu di dalam dirinya bergetar.Bukan batas.Bukan pilihan.Namun sesuatu yang lebih dalam dari keduanya—sebuah intuisi yang belum pernah ia sentuh sebelumnya.“Kembali…?” gumamnya pelan.Namun kata itu terasa salah.Karena “kembali” berarti ada yang diulang.Sedangkan yang ia rasakan sekarang—bukan pengulangan.Namun… pembukaan.Hanum menatap ke arah anak itu.Atau lebih tepatnya—ke arah sesuatu yang kini bukan lagi hanya seorang anak.Tatapannya berubah.Tidak lagi penuh kebingungan.Namun dipenuhi ketakutan yang perlahan menjadi kesadaran.“Kalau semuanya dimulai lagi…”“…apakah kita akan mengingat semua ini?”Sunyi.Pertanyaan itu—terlalu manusia.Namun justru karena itu—terasa paling nyata.Anak itu—atau entitas yang kini berbicara melalui dirinya—tidak langsung menjawab.Namun kehadirannya bergetar.Seolah
Kalimat itu tidak berhenti di udara.Ia menyebar.Seperti riak yang tak terlihat—merambat melalui batas, menembus kesadaran, dan menyentuh sesuatu yang bahkan belum sempat didefinisikan.“…aku bukan satu-satunya.”Sunyi.Namun bukan sunyi yang kosong.Ini sunyi yang penuh.Seolah dunia sedang menunggu sesuatu yang lain… untuk menjawab.Gilang menatap anak itu.Tatapannya tajam.Namun di dalamnya—ada kegelisahan yang tidak bisa ia sembunyikan.“Maksudmu apa?” suaranya pelan.Anak itu tidak langsung menjawab.Matanya bergerak.Namun bukan melihat mereka.Seolah ia sedang melihat… lebih jauh.Lebih dalam.Lebih banyak.“Aku melihat mereka…” bisiknya.Sunyi.Hanum merasakan sesuatu mencengkeram dadanya.“Siapa… mereka?”Anak itu mengangkat tangannya perlahan.Menunjuk ke arah yang tidak jelas.Karena arah itu—tidak berada dalam ruang.“Mereka yang seperti aku…”“…namun tidak di sini.”Sunyi.Sosok ‘sebelum’ langsung menegang.“Itu tidak mungkin…”Namun kata itu—terdengar lemah.Karena
Kalimat itu jatuh seperti sesuatu yang tidak seharusnya ada.“…yang menciptakanku.”Sunyi.Namun bukan sunyi yang tenang—melainkan sunyi yang menahan sesuatu yang terlalu besar untuk segera terjadi.Gilang tidak bergerak.Namun seluruh kesadarannya menegang.Karena jika anak itu adalah “alasan”, jika ia ada sebelum semuanya—lalu siapa yang bisa menciptakannya?“Tidak…” bisik Hanum.Matanya membelalak.“Itu tidak masuk akal…”Namun dunia ini—sudah lama meninggalkan logika.Kegelapan di kejauhan perlahan terbuka.Bukan seperti pintu.Namun seperti sesuatu yang sejak awal memang ada—hanya saja… tidak pernah diperhatikan.Dan dari dalamnya—sesuatu bergerak.Bukan cepat.Namun berat.Seolah setiap gerakan membawa sejarah yang terlalu panjang untuk dipahami.Anak itu mundur lagi.Tangannya gemetar.Untuk pertama kalinya—ia benar-benar terlihat seperti anak kecil.“Aku… tidak ingin dia datang…”Sunyi.Gilang langsung melangkah ke depannya.Refleks.Bukan sebagai batas.Namun sebagai… peli
Malam itu, foto itu sudah berpindah tangan.Awalnya hanya satu unggahan di akun anonim gosip sekolah—buram, diambil dari kejauhan, tapi cukup jelas memperlihatkan motor Gilang berhenti di bawah pohon besar. Siluet dua orang terlihat di sana. Caption-nya singkat, namun memancing api.“Katanya cuma g
Lorong rumah sakit itu terasa terlalu panjang.Langkah kaki Tharie menggema di lantai keramik yang mengilap, bercampur dengan suara sepatu Papa Elham dan Mama Ami yang berjalan cepat di belakangnya. Lampu-lampu putih di langit-langit membuat semuanya tampak pucat—termasuk wajahnya sendiri yang terp
Pagi itu rumah terasa sedikit lebih riuh dari biasanya.Aroma nasi goreng yang masih hangat bercampur dengan bau telur ceplok memenuhi ruang makan. Cahaya matahari pagi menyusup lewat jendela, memantul di meja kayu panjang tempat tiga orang duduk dengan perasaan yang sama sekali tidak sinkron.Thar
Tharie dan Aca masih duduk berhadapan di kantin, dengan minuman dingin yang ada di tangan masing-masing, embun di dinding gelas menetes perlahan ke meja.Tharie menyesap minumannya tanpa benar-benar merasakan manisnya. Pandangannya mengarah ke luar jendela kantin, ke arah lapangan sekolah yang berm







