แชร์

2. Tawaran

ผู้เขียน: Sity Mariah
last update วันที่เผยแพร่: 2026-05-19 10:09:48

Aku terpaku cukup lama di dalam mobil. Sampai beberapa menit terlewati dan korban yang kutabrak tak menunjukkan gerakan.

“Ya Tuhan ... satu masalahku belum selesai, kenapa harus ditambah masalah baru?” gumamku panik.

Akhirnya aku turun dari mobil dan mendekati seseorang yang masih terkapar di atas aspal.

Pelan-pelan aku berjongkok. Tanganku terulur menyentuh lengannya yang dingin terkena angin malam.

“Pak ...? Pak, bisa dengar saya?”

Laki-laki itu mengerang pelan.

Aku langsung bernapas lega.

Sorot lampu mobil membuat wajahnya terlihat jelas. Rahangnya tegas, kulitnya gelap matang, dan ada luka sobek kecil di pelipisnya. Yang membuatku makin panik, dia tidak memakai helm.

“Ya ampun ....”

Tanganku gemetar saat mencoba membantu tubuhnya bangun. Namun tubuh laki-laki itu besar dan berat.

“Aduh, Pak, bangun dulu, please. Jangan pingsan sekarang,” racauku frustrasi.

Matanya terbuka sedikit.

Tatapannya tampak kabur sebelum akhirnya menatapku lemah.

“Kamu ... yang nabrak saya?” Suaranya serak.

Aku langsung meringis bersalah.

“Iya.”

“Hm.” Dia malah memejam lagi.

“Pak! Jangan tidur!”

Aku buru-buru meraih ponselnya yang terlempar tak jauh dari motor. Layarnya retak, tapi masih menyala. Namun sebelum sempat melakukan apa pun, laki-laki itu kembali mengerang sambil memegang kepalanya.

Panik, aku segera menopang tubuhnya.

“Kita ke rumah sakit sekarang.”

Untungnya jalanan malam itu cukup sepi. Dengan susah payah, aku membawa laki-laki itu masuk ke kursi belakang.

Motor laki-laki itu kutepikan seadanya ke pinggir jalan sebelum akhirnya kembali masuk ke mobil dan melajukan kendaraan secepat mungkin menuju rumah sakit tempat Kak Elina berjaga malam ini.

Sepanjang perjalanan, suasana di dalam mobil terasa menegangkan.

Aku beberapa kali melirik spion tengah, mengawasi laki-laki itu yang tampak setengah sadar.

“Kepala saya pusing,” gumamnya pelan.

“Sebentar lagi sampai.”

“Apa mobilmu memang suka nabrak orang?”

Aku hanya mendengkus. Sedangkan dia malah terkekeh pelan sebelum meringis menahan sakit.

Beberapa menit kemudian, mobilku akhirnya berhenti di depan IGD rumah sakit.

Aku segera turun dan meminta bantuan perawat yang berjaga.

“Pasien kecelakaan!” seruku panik.

Dua perawat laki-laki langsung datang membawa brankar dan laki-laki itu segera dipindahkan.

Aku ikut berjalan cepat di sampingnya dengan napas tidak beraturan.

Baru saja masuk ke area IGD, langkahku mendadak terhenti saat melihat sosok perempuan berhijab yang baru keluar dari ruang tindakan.

“Kak Elina?”

“Lyra?” Wajah kakakku berubah kaget.

“Kamu pulang malam ini?”

Aku mengangguk gugup. “I—iya, Kak. Tapi, aku nabrak orang.”

“Apa?” Kak Elina langsung mendekat ke arah brankar. “Bagian mana yang sakit?” tanyanya profesional pada laki-laki itu.

“Kepala.”

Kak Elina segera memeriksa luka di pelipisnya sebelum melirikku tajam dan akhirnya mendorong brankar itu masuk ke ruang IGD.

Angin malam terasa makin menusuk. Arloji di pergelangan tanganku menunjukkan sudah jam sepuluh malam.

Aku menunggu di depan pintu IGD sendirian. Menit-menit berlalu cukup lama bersama perasaanku yang makin kacau.

Sampai akhirnya seorang perawat memberitahu kalau laki-laki yang kutabrak tadi sudah dipindahkan ke ruang rawat.

Aku pun segera menyusul. Di dalam ruang rawat itu, Kak Elina sudah berdiri di samping ranjang pasien.

"Kak, gimana?" tanyaku kemudian.

"Benturannya gak terlalu parah,” jawab Kak Elina sambil melepas sarung tangan medisnya. “Cuma luka sobek di pelipis dan gegar ringan. Tapi tetap harus diobservasi sampai besok.”

Aku langsung mengembuskan napas lega panjang.

Sejak tadi rasa bersalahku terus menghantui.

Kalau sampai laki-laki itu kenapa-kenapa, mungkin hidupku benar-benar tamat malam ini.

“Kamu kenapa? Kok bisa sampai nabrak orang begini?" tanya Kak Elina tiba-tiba sambil menatapku curiga.

Aku tidak segera menjawab. Bingung harus menceritakan seperti apa.

"Kamu nyetir sambil nangis?" tanyanya yang membuatku menunduk dan diam.

"Lyra ...?"

Kak Elina menyentuh lenganku pelan, lalu mengarahkan wajahku hingga menatapnya.

"Ada masalah apa?" tanyanya dengan tatapan lebih dalam. Ia kakak perempuanku satu-satunya, ia mengenal dan memahamiku dengan sangat baik. Aku berbohong pun, dia pasti akan tahu.

"Kak ...?"

Raut wajah Kak Elina seperti menunggu apa yang akan keluar dari mulutku.

"Mas Arland ternyata selingkuh." Akhirnya aku berkata jujur. "Sama Alana, bahkan mereka main gila di ruangan praktik."

Kedua mata Kak Elina tampak membulat. Ekspresinya kaget, tapi tidak berlebihan. Lalu terdengar hembusan napas berat darinya.

"Jadi kamu udah tahu?"

Kali ini, malah aku yang dibuat terkejut. "Maksud Kakak?"

Perempuan berkerudung itu tampak menarik ujung jas putihnya. "Selama ini kakak udah curiga ada yang gak beres sama mereka. Tapi kakak gak punya bukti untuk ditunjukkan sama kamu. Kakak takut kalau bicara tanpa bukti, yang ada kamu gak percaya dan malah berpikir kalau kakak ingin merusak hubungan kalian."

Aku terdiam. Kakakku bahkan bisa menaruh curiga, tapi aku tidak punya firasat apapun.

“Curiga ... sejak kapan?” tanyaku pelan.

“Kira-kira tiga bulan terakhir.” Kak Elina menatapku hati-hati. “Alana terlalu sering datang ke klinik Arland. Alasannya sakit, konsultasi kulit, atau sekadar nitip makanan.”

Aku terkekeh pahit.

Makanan lagi.

Lucu sekali. Rupanya bukan hanya aku yang sibuk memperhatikan laki-laki itu.

“Awalnya kakak pikir cuma perasaan kakak aja. Tapi beberapa kali mereka kelihatan terlalu dekat.”

Aku menunduk. Tanganku perlahan mengepal di sisi tubuh. Kemungkinan, mereka sudah lebih dari tiga bulan berselingkuh di belakangku.

"Pernikahan kalian tinggal hitungan hari. Semua persiapan sudah rampung. Mami sudah bayar lunas semuanya. Dia juga yang paling antusias dan bahagia atas pernikahan kalian," ujar Kak Elina.

Aku menatapnya bingung. "Tapi aku gak sudi melanjutkan pernikahan ini, Kak. Mas Arland bahkan menjadikan pernikahan ini hanya sebagai alat untuk mendapatkan hak warisnya. Dia sudah menyusun rencana licik setelah pernikahan ini berlangsung, aku akan diceraikan dan dia pergi dengan Alana. Aku gak peduli sih, kalau mereka memang mau bersama. Tapi yang gak bisa aku terima, dia mempermainkan hidupku seperti ini.”

Kak Elina langsung memelukku.

Akhirnya tangisku pecah lagi di bahunya.

“Udah ... udah,” bisiknya pelan sambil mengusap punggungku lembut.

Aku melepaskan pelukan perlahan. “Undangan udah disebar. Vendor udah dibayar. Semua orang tahu aku mau nikah lima hari lagi.”

Kak Elina tampak ikut pusing. “Mami pasti hancur.”

“Aku juga gak mungkin pura-pura gak tahu dan tetap meneruskan pernikahan ini.” Aku mengusap air mata kasar. “Aku gak sanggup.”

Ruangan terasa sunyi.

Aku mengembuskan napas berat sambil memijat pelipis. Kepalaku rasanya penuh.

“Kalau butuh mempelai pria ... saya bisa bantu.”

Aku dan Kak Elina langsung menoleh bersamaan ke arah ranjang.

Laki-laki yang kutabrak tadi ternyata sudah membuka mata. Meski wajahnya masih pucat, sudut bibirnya tampak tertarik tipis.

Aku membelalak. “Apa?”

“Saya serius,” katanya tenang.

Kak Elina bahkan terlihat lebih syok dariku.

“Pak, Anda habis gegar otak ringan. Jangan ngomong aneh-aneh dulu.”

Laki-laki itu malah terkekeh pelan sebelum meringis karena pelipisnya sakit. “Saya masih sadar, Dok.”

Tatapannya kemudian beralih kepadaku. “Tadi saya sudah dengar semuanya."

Astaga.

Berarti dari tadi dia mendengar curhatanku?

“Ingatan saya juga masih bagus,” lanjutnya santai. “Nama mantan calon suamimu Dokter Arland. Selanjutnya ... Alana si sepupu ular.”

Aku spontan melotot.

Kak Elina sampai menahan tawa.

“Pak!” protesku malu sekaligus kesal.

“Mayor Ravyan.” Dia mengulurkan tangan pelan.

.

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Dikhianati Mas Dokter Dinikahi Pak Mayor   Memburuk

    Aku masih di tempatku. Menatap Lyra yang akhirnya tenang meski di bawah pengaruh obat. Menit demi menit berlalu dan aku masih hanya bisa menatapnya. Tanpa mampu menyentuhnya sedikit saja. Padahal aku amat sangat merindukannya. Tujuh hari jauh darinya, rinduku sesak memenuhi dada. Dan kenyataannya, rindu ini tidak dapat berlabuh seperti yang kubayangkan."Sayang ...." Aku mencoba memanggilnya. Masih berharap Lyra akan bersuara. Namun harapanku lagi-lagi harus pupus, karena Lyra hanya mengedipkan mata dan bulir bening kembali jatuh dari sudut matanya.Aku menghela napas lalu mengusap wajah kasar.Aku tidak boleh memaksanya atau Lyra akan mengamuk.Aku pun harus menahan diri dan berhenti bertanya, meski ribuan pertanyaan yang memenuhi kepalaku tak satupun mendapatkan jawaban.Lewat tengah malam, perlahan-lahan Lyra pun memejamkan kedua matanya. Deru napasnya tampak makin tenang. Lyra tertidur di bawah pengaruh obat. Dan kuharap efeknya akan lama. Karena aku sendiri tidak sanggup kalau ha

  • Dikhianati Mas Dokter Dinikahi Pak Mayor   Trauma Berat

    Aku pun gamang.Tapi tidak ada jalan lain. Lyra harus diperiksa dan aku harus tahu apa yang terjadi dengannya. Aku harus tahu kondisinya.Akhirnya aku setuju.Dokter menyiapkan suntikan berisi obat. Kemudian memintaku memegangi kedua kaki dan satu tangan Lyra.Tentu saja Lyra berontak dan berteriak. Tenaganya pun besar sehingga aku harus mengerahkan tenagaku juga untuk menahannya.Lyra terus berteriak. Kaki serta tangannya terus meronta. Sampai dokter berhasil menyuntik lengannya. Karena dosisnya rendah, Lyra masih terus berteriak dan histeris. Dia mengamuk di atas tempat tidur. Melempar apa yang ada di dekatnya hingga kasur itu berantakan.Lima belas menit berselang, tubuh Lyra perlahan melemah. Dia berbaring tanpa teriakan dan gerakan lagi. Tatapan matanya kembali kosong dan saat itu, dokter pun melakukan pemeriksaan dengan telaten.Dokter melepas stetoskop di daun telinganya lalu menghela napas."Mayor, istri

  • Dikhianati Mas Dokter Dinikahi Pak Mayor   Obat Penenang

    Hatiku berdebar hebat sekaligus nyeri. Ribuan ton batu seolah ditimpakan tanpa ampun. "Bau ini ...." Aku bergumam. Tanganku meremas selimut tersebut hingga urat-urat tampak menonjol. Sebagai lelaki, aku sangat hafal bau khas yang tertinggal di atas selimutnya. Itu ... bau sperma dari seorang lelaki. Aku lalu menatap Lyra yang terbaring lemah dan masih terpejam. "Apa yang sudah terjadi?" tanyaku dengan gemeletuk gigi yang terdengar. Setelah mencium aroma sperma yang tertinggal, pikiranku kacau. Hatiku marah. Darahku tersirap naik sampai ubun-ubun. Aku tidak bisa berpikir positif. "Siapa yang berani Lyra bawa ke kamar ini?" gumamku dengan rasa sakit yang makin mengoyak hati. Tapi satu sisi hatiku pun bertanya, kalau memang Lyra mengkhianatiku, kenapa kondisinya justru seperti ini? "Enggak mungkin...?" Air mataku tumpah ruah. Ah, terlalu

  • Dikhianati Mas Dokter Dinikahi Pak Mayor   Jejak Lembab

    Aku berjalan lunglai menuju kamar mandi. Mendorong daun pintu yang tidak tertutup sepenuhnya. Begitu masuk, aku langsung mendengar suara gemericik air.Dan Lyra ada di sana.Di bawah kran shower yang mengalir deras.Lyra menangis.Pelan, lalu histeris.Tangannya tak diam saja. Setelah meremas rambut, kemudian ia memukul-mukul pahanya lalu mencakarnya juga."Lyra ...." Suaraku lirih memanggilnya. Namun ia seperti tidak mendengarku.Ia terus saja menangis.Tergugu sambil memeluk lututnya. Berselang detik, ia kemudian berteriak. Dan hal itu terus berulang.Aku ingin mendekat, tapi tadi saja Lyra tak bisa didekati.Akhirnya aku keluar dari kamar mandi. Kemudian menghubungi Mami meski jam di layar ponsel menunjukkan sudah setengah sebelas malam.Panggilan terhubung cukup lama sampai Mami menerimanya."Halo ...?" Suara Mami terdengar parau di ujung telpon."Mi, maaf saya me

  • Dikhianati Mas Dokter Dinikahi Pak Mayor   POV RAVYAN

    POV RAVYAN ~Langit malam begitu pekat saat aku turun dari mobil dinas lalu berdiri di depan pagar rumah.Arloji di pergelangan tanganku menunjukkan sudah pukul sepuluh malam. Aku terlambat satu jam karena jalanan yang macet.Kuhembus napas lega karena akhirnya bisa kembali pulang setelah menyelesaikan tugas dan berjauhan satu Minggu lamanya dengan istriku.Tanpa sadar aku tersenyum melihat gerbang pagar yang tertutup rapat. Lampu teras serta halaman yang menyala hangat.Kugeret koper dan kemudian masuk.Halaman rumah tampak sedikit berantakan dari biasanya. Kemungkinan karena Lyra menginap di rumah Mami sehingga tidak mengurusnya, tapi itu bukan masalah. Besok pagi halaman ini masih bisa dibersihkan.Hatiku makin lega saat akhirnya menginjak teras rumah.Aku tidak segera masuk, melainkan menatap pintu rumah dengan penuh harap.Entah kenapa, setelah satu Minggu berjauhan dan kini akan ber

  • Dikhianati Mas Dokter Dinikahi Pak Mayor   Lelaki Bajingan

    Saat sedang asyik bercermin degan memandangi penampilanku sendiri, lampu kamar utama ini tiba-tiba saja mati. Hingga ruangan menjadi gelap gulita membuatku susah melihat.Tanganku meraba-raba hingga berhasil menemukan ponsel dan menyalakan senternya.Aku menatap keadaan ruangan yang gelap lalu mengarahkan ponsel pada pintu dan keluar."Ya ampun ... jangan-jangan tokennya habis karena aku tinggal menginap," gumamku sendirian saat mengetahui seluruh ruangan dalam rumah ini dalam keadaan gelap.Sebelum meninggalkan rumah dan menginap di rumah Mami, aku benar-benar tidak mengecek token listrik hingga inilah akibatnya.Aku pun keluar dari kamar berbekal cahaya senter dari ponsel.Kemudian mulai mengisi daya token melalui aplikasi dari ponsel. Setelah nomor yang diperlukan muncul, aku pun bergegas keluar.Teras serta halaman pun gelap. Tapi rumah di depan menyala cukup terang.Aku menggeser kursi rotan di teras lalu m

  • Dikhianati Mas Dokter Dinikahi Pak Mayor   Tidak Puas Sepenuhnya

    "Papa gak bisa lakukan itu!” Suara Mas Arland meninggi. “Aku anak Papa!”Om Mahesa berhenti melangkah.Pria paruh baya itu menoleh perlahan dengan tatapan yang terasa jauh lebih dingin dari sebelumnya.“Anak papa seharusnya tahu bagaimana cara menjaga harga diri dan kehormatan keluarganya!”Mas Arl

  • Dikhianati Mas Dokter Dinikahi Pak Mayor   Keputusan Telak

    Kekacauan itu belum selesai.“ARLAND!”Suara berat penuh tekanan mendadak menggema dari deretan kursi keluarga.Seorang pria paruh baya berjas hitam berdiri dengan wajah merah padam. Rahangnya mengeras menahan malu.Mahesa Maheswara, Papa Mas Arland.Tatapannya langsung menusuk pada putranya sendir

  • Dikhianati Mas Dokter Dinikahi Pak Mayor   Setimpal

    Ballroom megah itu berubah kacau hanya dalam hitungan detik.Suara bisik-bisik tamu mulai bercampur dengan seruan kaget dan tatapan jijik yang mengarah pada Mas Arland.Beberapa orang tua bahkan buru-buru menutupi mata anak mereka. Namun video itu terus berjalan tanpa ada yang bisa menghentikan.Wa

  • Dikhianati Mas Dokter Dinikahi Pak Mayor   5. Surprise!

    “Kita pikirkan hal lainnya nanti. Sekarang kita fokus saja pada hari H yang semakin dekat,” ucap Ravyan tenang. Aku hanya bisa menatapnya dengan jantung yang berdetak aneh. Sedangkan laki-laki itu hanya tersenyum kecil sebelum kembali menyeruput minumannya seolah pembicaraan tentang pernikahan da

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status