เข้าสู่ระบบAku terpaku cukup lama di dalam mobil. Sampai beberapa menit terlewati dan korban yang kutabrak tak menunjukkan gerakan.
“Ya Tuhan ... satu masalahku belum selesai, kenapa harus ditambah masalah baru?” gumamku panik. Akhirnya aku turun dari mobil dan mendekati seseorang yang masih terkapar di atas aspal. Pelan-pelan aku berjongkok. Tanganku terulur menyentuh lengannya yang dingin terkena angin malam. “Pak ...? Pak, bisa dengar saya?” Laki-laki itu mengerang pelan. Aku langsung bernapas lega. Sorot lampu mobil membuat wajahnya terlihat jelas. Rahangnya tegas, kulitnya gelap matang, dan ada luka sobek kecil di pelipisnya. Yang membuatku makin panik, dia tidak memakai helm. “Ya ampun ....” Tanganku gemetar saat mencoba membantu tubuhnya bangun. Namun tubuh laki-laki itu besar dan berat. “Aduh, Pak, bangun dulu, please. Jangan pingsan sekarang,” racauku frustrasi. Matanya terbuka sedikit. Tatapannya tampak kabur sebelum akhirnya menatapku lemah. “Kamu ... yang nabrak saya?” Suaranya serak. Aku langsung meringis bersalah. “Iya.” “Hm.” Dia malah memejam lagi. “Pak! Jangan tidur!” Aku buru-buru meraih ponselnya yang terlempar tak jauh dari motor. Layarnya retak, tapi masih menyala. Namun sebelum sempat melakukan apa pun, laki-laki itu kembali mengerang sambil memegang kepalanya. Panik, aku segera menopang tubuhnya. “Kita ke rumah sakit sekarang.” Untungnya jalanan malam itu cukup sepi. Dengan susah payah, aku membawa laki-laki itu masuk ke kursi belakang. Motor laki-laki itu kutepikan seadanya ke pinggir jalan sebelum akhirnya kembali masuk ke mobil dan melajukan kendaraan secepat mungkin menuju rumah sakit tempat Kak Elina berjaga malam ini. Sepanjang perjalanan, suasana di dalam mobil terasa menegangkan. Aku beberapa kali melirik spion tengah, mengawasi laki-laki itu yang tampak setengah sadar. “Kepala saya pusing,” gumamnya pelan. “Sebentar lagi sampai.” “Apa mobilmu memang suka nabrak orang?” Aku hanya mendengkus. Sedangkan dia malah terkekeh pelan sebelum meringis menahan sakit. Beberapa menit kemudian, mobilku akhirnya berhenti di depan IGD rumah sakit. Aku segera turun dan meminta bantuan perawat yang berjaga. “Pasien kecelakaan!” seruku panik. Dua perawat laki-laki langsung datang membawa brankar dan laki-laki itu segera dipindahkan. Aku ikut berjalan cepat di sampingnya dengan napas tidak beraturan. Baru saja masuk ke area IGD, langkahku mendadak terhenti saat melihat sosok perempuan berhijab yang baru keluar dari ruang tindakan. “Kak Elina?” “Lyra?” Wajah kakakku berubah kaget. “Kamu pulang malam ini?” Aku mengangguk gugup. “I—iya, Kak. Tapi, aku nabrak orang.” “Apa?” Kak Elina langsung mendekat ke arah brankar. “Bagian mana yang sakit?” tanyanya profesional pada laki-laki itu. “Kepala.” Kak Elina segera memeriksa luka di pelipisnya sebelum melirikku tajam dan akhirnya mendorong brankar itu masuk ke ruang IGD. Angin malam terasa makin menusuk. Arloji di pergelangan tanganku menunjukkan sudah jam sepuluh malam. Aku menunggu di depan pintu IGD sendirian. Menit-menit berlalu cukup lama bersama perasaanku yang makin kacau. Sampai akhirnya seorang perawat memberitahu kalau laki-laki yang kutabrak tadi sudah dipindahkan ke ruang rawat. Aku pun segera menyusul. Di dalam ruang rawat itu, Kak Elina sudah berdiri di samping ranjang pasien. "Kak, gimana?" tanyaku kemudian. "Benturannya gak terlalu parah,” jawab Kak Elina sambil melepas sarung tangan medisnya. “Cuma luka sobek di pelipis dan gegar ringan. Tapi tetap harus diobservasi sampai besok.” Aku langsung mengembuskan napas lega panjang. Sejak tadi rasa bersalahku terus menghantui. Kalau sampai laki-laki itu kenapa-kenapa, mungkin hidupku benar-benar tamat malam ini. “Kamu kenapa? Kok bisa sampai nabrak orang begini?" tanya Kak Elina tiba-tiba sambil menatapku curiga. Aku tidak segera menjawab. Bingung harus menceritakan seperti apa. "Kamu nyetir sambil nangis?" tanyanya yang membuatku menunduk dan diam. "Lyra ...?" Kak Elina menyentuh lenganku pelan, lalu mengarahkan wajahku hingga menatapnya. "Ada masalah apa?" tanyanya dengan tatapan lebih dalam. Ia kakak perempuanku satu-satunya, ia mengenal dan memahamiku dengan sangat baik. Aku berbohong pun, dia pasti akan tahu. "Kak ...?" Raut wajah Kak Elina seperti menunggu apa yang akan keluar dari mulutku. "Mas Arland ternyata selingkuh." Akhirnya aku berkata jujur. "Sama Alana, bahkan mereka main gila di ruangan praktik." Kedua mata Kak Elina tampak membulat. Ekspresinya kaget, tapi tidak berlebihan. Lalu terdengar hembusan napas berat darinya. "Jadi kamu udah tahu?" Kali ini, malah aku yang dibuat terkejut. "Maksud Kakak?" Perempuan berkerudung itu tampak menarik ujung jas putihnya. "Selama ini kakak udah curiga ada yang gak beres sama mereka. Tapi kakak gak punya bukti untuk ditunjukkan sama kamu. Kakak takut kalau bicara tanpa bukti, yang ada kamu gak percaya dan malah berpikir kalau kakak ingin merusak hubungan kalian." Aku terdiam. Kakakku bahkan bisa menaruh curiga, tapi aku tidak punya firasat apapun. “Curiga ... sejak kapan?” tanyaku pelan. “Kira-kira tiga bulan terakhir.” Kak Elina menatapku hati-hati. “Alana terlalu sering datang ke klinik Arland. Alasannya sakit, konsultasi kulit, atau sekadar nitip makanan.” Aku terkekeh pahit. Makanan lagi. Lucu sekali. Rupanya bukan hanya aku yang sibuk memperhatikan laki-laki itu. “Awalnya kakak pikir cuma perasaan kakak aja. Tapi beberapa kali mereka kelihatan terlalu dekat.” Aku menunduk. Tanganku perlahan mengepal di sisi tubuh. Kemungkinan, mereka sudah lebih dari tiga bulan berselingkuh di belakangku. "Pernikahan kalian tinggal hitungan hari. Semua persiapan sudah rampung. Mami sudah bayar lunas semuanya. Dia juga yang paling antusias dan bahagia atas pernikahan kalian," ujar Kak Elina. Aku menatapnya bingung. "Tapi aku gak sudi melanjutkan pernikahan ini, Kak. Mas Arland bahkan menjadikan pernikahan ini hanya sebagai alat untuk mendapatkan hak warisnya. Dia sudah menyusun rencana licik setelah pernikahan ini berlangsung, aku akan diceraikan dan dia pergi dengan Alana. Aku gak peduli sih, kalau mereka memang mau bersama. Tapi yang gak bisa aku terima, dia mempermainkan hidupku seperti ini.” Kak Elina langsung memelukku. Akhirnya tangisku pecah lagi di bahunya. “Udah ... udah,” bisiknya pelan sambil mengusap punggungku lembut. Aku melepaskan pelukan perlahan. “Undangan udah disebar. Vendor udah dibayar. Semua orang tahu aku mau nikah lima hari lagi.” Kak Elina tampak ikut pusing. “Mami pasti hancur.” “Aku juga gak mungkin pura-pura gak tahu dan tetap meneruskan pernikahan ini.” Aku mengusap air mata kasar. “Aku gak sanggup.” Ruangan terasa sunyi. Aku mengembuskan napas berat sambil memijat pelipis. Kepalaku rasanya penuh. “Kalau butuh mempelai pria ... saya bisa bantu.” Aku dan Kak Elina langsung menoleh bersamaan ke arah ranjang. Laki-laki yang kutabrak tadi ternyata sudah membuka mata. Meski wajahnya masih pucat, sudut bibirnya tampak tertarik tipis. Aku membelalak. “Apa?” “Saya serius,” katanya tenang. Kak Elina bahkan terlihat lebih syok dariku. “Pak, Anda habis gegar otak ringan. Jangan ngomong aneh-aneh dulu.” Laki-laki itu malah terkekeh pelan sebelum meringis karena pelipisnya sakit. “Saya masih sadar, Dok.” Tatapannya kemudian beralih kepadaku. “Tadi saya sudah dengar semuanya." Astaga. Berarti dari tadi dia mendengar curhatanku? “Ingatan saya juga masih bagus,” lanjutnya santai. “Nama mantan calon suamimu Dokter Arland. Selanjutnya ... Alana si sepupu ular.” Aku spontan melotot. Kak Elina sampai menahan tawa. “Pak!” protesku malu sekaligus kesal. “Mayor Ravyan.” Dia mengulurkan tangan pelan. .Aku menggelar sajadah itu.Debunya masih menempel di lantai beton, tapi wangi sajadah itu mengingatkanku pada wangi lemari kayu di rumah orang tuaku dulu. Wangi yang selalu ada setiap subuh Ayah membangunkanku.Takbirku pecah di tengah.Baru satu ayat Al-Fatihah kubaca, air mata itu sudah tidak bisa kutahan lagi. Bahuku bergetar hebat. Suara isakku memenuhi sel ini, memantul, tidak ada yang bisa mendengar kecuali tembok.Aku bukan menangis karena pangkatku terancam. Bukan karena namaku yang besok mungkin ada di berita dengan judul "Oknum".Aku menangis karena aku rindu pada Lyra.Selesai sholat, aku tidak langsung beranjak. Aku duduk lama dengan tasbih kayu di tangan terus kuputar.Jam dinding di luar koridor berdentang. Jam 1 siang.Waktu terasa sangat panjang.Sampai hari berganti malam dan hatiku masih berharap-harap cemas.Tiba-tiba langkah sepatu PDL terdengar lagi. Bukan satu, tapi d
Waktu tidak berjalan. Ia merangkak.Setiap menit di ruangan ini terasa seperti seribu jam yang dipaksa kulalui sendirian.Arloji yang masih melingkar di pergelangan menunjukkan pukul 11.30. Aku bahkan tidak ingat kapan terakhir kali aku berhenti mondar-mandir. Dari pintu besi ke dinding beton, dari dinding kembali ke pintu. Empat langkah. Balik lagi. Empat langkah lagi.Pengap.Yang ada di kepalaku cuma Lyra. Aku khawatir setengah mati, tapi di sisi lain aku terus memaksa diriku percaya bahwa Mami pasti menjaganya. Mami memang keras, tapi kalau soal Lyra, dia tidak akan tinggal diam.Dan Kak Elina ....Aku berharap dia sudah bergerak. Semoga warung itu, atau rumah tetangga mana pun itu, masih menyimpan rekaman hari itu. Waktuku tinggal 38 jam lagi. Kalau tidak ada bukti itu, pangkatku, namaku, semuanya selesai.Hembusan napasku sendiri terdengar terlalu keras di ruangan 2x3 meter ini. Memantul di dinding beton yang dingi
Pukul 07.40. Aku belum dibawa ke Staltah.Aku masih ditahan di sel sementara Provost Makorem, di belakang gedung. Ruangan 2x3 meter, cat hijau pudar. Di sinilah perwira yang bermasalah biasanya menunggu mobil tahanan Pomdam datang.Sebelum ponselku disita, Danpom memberiku satu kesempatan terakhir."Satu panggilan, Ravyan. 3 menit. Gunakan baik-baik. Jangan drama."Tanganku gemetar membuka kontak. Nama Mami masih ada 17 panggilan tak terjawab. Kak Elina 8.Tapi bingung siapa yang harus aku hubungi sekarang.Aku pun berpikir cepat dan akhirnya memutuskan menghubungi Kak Elina, satu-satunya orang yang bisa aku ajak bicara dan kerjasama .Baru dua dering, langsung diangkat. Suaranya panik."RAVVYAN! YA ALLAH KAMU DIMANA? MAMI HISTERIS LIHAT VIDEO KAMU! KENAPA KAMU SEMBUNYIKAN KONDISI LYRA DARI KAMI?""Kak, dengarkan saya. Waktu saya cuma 2 menit," potongku cepat. Suaraku kutahan agar tidak pecah.
Pukul 06.55 mobil makin mendekati komplek Makorem.Ponselku bergetar dalam saku celana, dan saat aku mengecek, nama Mami terpampang di layar sebagai pemanggil.Panggilan tak berhenti, Mami terus menelpon tanpa sekalipun kuangkat.Sampai kemudian nama Kak Elina yang kini memanggil. Namun, aku masih tidak menerimanya. Aku senyapkan ponsel dan memasukkan kembali ke dalam saku. Mengembus napas kasar seraya menatap kaca mobil di mana udara sekitar masih berkabut.Di depan gerbang, dua wartawan dengan kamera langsung mengangkat lensanya ke arah mobil dinasku. Randy yang menyetir langsung tancap gas masuk ke dalam."Jangan turun dulu, Komandan," bisiknya.Aku mengangguk. Kaca kubuka sedikit. Di parkiran dalam, sudah ada dua mobil Provost. Artinya ini bukan panggilan biasa.Gedung utama Makorem masih sepi, tapi di lantai dua, lampu ruang Danrem sudah menyala.Aku rapikan PDL, memastikan sangkur dan baret terpasang sempu
"Brengsek!" umpatku seraya menarik kerah lehernya kembali. Mengangkat tubuh Arland yang terasa ringan tanpa perlawanan. Lalu melayangkan lagi empat bogem mentah di wajahnya. Hingga jejak lebam tercetak jelas pada pipinya itu. Aku sadar aku sudah gegabah, tapi demi apapun kesabaranku sudah benar-benar habis. Aku tidak peduli apa yang terjadi setelah ini, setidaknya tanganku bisa memberinya pelajaran walau tak seberapa."Ayo, pukul lagi," ucapnya meledek tapi tatapan matanya masih saja menantang. "Pukul sampai kamu puas. Dan besok, kamu tahu apa yang akan terjadi."Aku mendecih. "Saya gak peduli. Pukulan saja gak cukup, orang seperti kamu pantasnya mati!"Setelah aku berkata demikian, barulah si brengsek itu bangkit. Wajahnya babak belur, tapi sorot matanya menunjukkan ia tidak pernah kalah.Ia menyeka sudut bibirnya dengan punggung tangan. "Kamu hanya seorang perwira. Bukan malaikat maut. Dan aku gak akan menyerahkan nyawaku sama kamu!"Aku menatapnya dengan kemarahan yang membakar se
Bau asap tembakau bercampur nikotin seketika menerpa indera penciuman saat aku menepikan motor di halaman rusun tiga lantai. Pohon mangga tumbuh besar tinggi menjulang di samping bangunannya membuat tempat itu dikenal dengan sebutan rusun Mangga.Aku masih di atas motor. Menyapu pandangan pada setiap teras pintu di lantai bawah.Sampai aku menemukan sosok yang kucari berada di teras bangunan paling ujung.Itu Arland, berkumpul dengan tiga orang lelaki yang sedang merokok dan bermain karambol.Mereka tertawa terbahak-bahak di sana. Tapi tawa itu seperti bensin yang membakar hebat hati ini.Aku segera turun dari motor lalu melangkah cepat menuju teras rusun."Arland!" Aku berteriak hingga semua lelaki yang berada di teras itu menoleh.Tanganku bergerak lebih cepat dibanding otak, hingga aku menarik kerah kemeja Arland membuat lelaki itu bangkit.Bugh!Bugh!Bugh!Aku menghantam wajahnya dengan bogem mentah di pipinya. Namun rasanya tidak cukup, aku menendang perutnya dengan lutut dan me
"Papa gak bisa lakukan itu!” Suara Mas Arland meninggi. “Aku anak Papa!”Om Mahesa berhenti melangkah.Pria paruh baya itu menoleh perlahan dengan tatapan yang terasa jauh lebih dingin dari sebelumnya.“Anak papa seharusnya tahu bagaimana cara menjaga harga diri dan kehormatan keluarganya!”Mas Arl
Pagi hari sekali, aku keluar dari dari gedung rumah sakit dan segera masuk ke dalam mobil. Mayor Ravyan diperbolehkan pulang dua jam lagi, sedangkan Kak Elina sudah pulang lebih dulu. Sebelum matahari terbit, ponselku tidak berhenti berbunyi dan memunculkan nama Mas Arland di layarnya. Namun, tida
Aku masih menatap laki-laki di atas ranjang itu dengan perasaan campur aduk. Namun lelaki yang mengaku sebagai seorang mayor itu justru terlihat tenang meski perban melingkar di kepalanya dan pelipisnya masih kemerahan akibat benturan tadi. Sedangkan aku? Belum selesai mencerna pengkhianatan Mas
DIKHIANATI MAS DOKTER, DINIKAHI PAK MAYOR ******* “Aghh, pelan-pelan, Mas. Sakit!” “Sakit ... atau enak?” Senyumku seketika lenyap setelah berdiri tepat di depan pintu ruangan praktik Mas Arland, seorang dokter pintar yang merupakan calon suamiku. Tanganku yang seharusnya mendorong gagang







