FAZER LOGIN
DIKHIANATI MAS DOKTER, DINIKAHI PAK MAYOR
******* “Aghh, pelan-pelan, Mas. Sakit!” “Sakit ... atau enak?” Senyumku seketika lenyap setelah berdiri tepat di depan pintu ruangan praktik Mas Arland, seorang dokter pintar yang merupakan calon suamiku. Tanganku yang seharusnya mendorong gagang pintu justru tertahan di udara karena tiba-tiba gemetar oleh suara-suara itu. Tubuhku perlahan merapat untuk mengintip pada celah pintu yang ternyata tidak tertutup rapat. Mataku langsung membelalak melihat pemandangan di dalam sana. “Cepat, Mas. Nanti ada orang.” “Jam praktik sudah selesai. Klinik sepi. Santai aja, Sayang.” Lalu terdengar suara desahan yang membuat tubuhku seperti disiram air es. Aku menyentuh dada yang seperti dihantam palu godam berkali-kali. Jantungku berdetak kencang, bukan hanya karena kaget tapi juga marah. Di sana, di atas ranjang yang harusnya hanya dipakai untuk memeriksa pasien, Mas Arland justru tengah menindih tubuh Alana, adik sepupuku sendiri. Mereka bergumul di dalam sana, tanpa sehelai benang, sedangkan pernikahan kami hanya tinggal hitungan hari. Aku mundur satu langkah. Duniaku terasa runtuh seketika. Tubuhku hampir limbung, tapi tanganku yang gemetar berhasil menyentuh kusen pintu untuk bertahan. “Mas … kalau disuruh milih, kamu pilih aku atau Ezlyra?” tanya Alana di sela tawanya. “Aku pilih kamu, Sayang.” Dengan hati carut marut, aku meraih ponsel dari dalam tas. Kemudian mengarahkan kameranya di celah pintu. “Tapi aku tetap harus nikahin Ezlyra dulu.” “Karena warisan itu?” “Iya. Papa cuma bakal kasih semua hak warisku kalau aku nikah sama dia. Lagian Ezlyra gampang diatur,” lanjut Mas Arland santai. “Dia terlalu polos. Dia percaya banget sama aku.” Napasku tercekat. Selama dua tahun hubungan kami, aku selalu berusaha menjadi perempuan terbaik untuknya. Aku mendukung kariernya. Aku menemani saat dia jatuh. Aku mempercayainya tanpa syarat. Namun semua itu justru membuatku terlihat bodoh di matanya. “Aku bertahan dengan Ezlyra cuma demi uang,” kata Mas Arland lagi. Kalimat itu menghantamku telak. Tanpa ampun. “Kalau semuanya selesai, aku tinggal ceraikan dia. Gampang.” “Kasihan juga sebenarnya,” ucap Alana pelan. “Kasihan apanya? Dia cinta mati sama aku. Perempuan kayak dia gampang diatur dan dibohongi.” Cukup! Aku sudah merekam semuanya. Bukti perselingkuhan mereka sudah tersimpan. Aku mundur perlahan dengan kaki lemas. Mataku memanas dan bulir beningnya tidak dapat ditahan lagi. Wajahku basah oleh air mata saat melangkah meninggalkan tempat praktik itu. Hatiku rasanya seperti terhempas dari langit ke tujuh, jatuh tanpa aba-aba ke dasar tanah. Hancur berantakan. Tapi di satu sisi aku bersyukur, karena Tuhan akhirnya membuka siapa sebenarnya lelaki yang sudah bersamaku hampir dua tahun lamanya. Dia yang kubantu saat kondisi keuangannya sulit. Aku juga ikut mengurus pembelian tanah untuk membangun kliniknya nanti. Dan malam ini, aku baru sadar kalau semua pengorbananku hanya dianggap kebodohan oleh laki-laki itu. Tanganku mengepal di sisi tubuh. Aroma kaldu dari sup ayam favoritnya dalam paper bag yang kubawa bahkan masih tercium. Aku sengaja membawanya karena aku tahu, dokter berusia tiga puluh tiga tahun itu sering lupa makan saat jadwalnya padat. Aku rela bermacet-macetan agar bisa langsung meluncur ke klinik itu tanpa pulang ke rumah lebih dulu. Setelah dua Minggu di luar kota mengurus pembelian tanah untuk kliniknya nanti, aku pulang dengan segenap kerinduan padanya. Tapi di sini, dia justru sedang meniduri perempuan lain. Dan sekarang aku bahkan baru tahu, kalau pernikahannya denganku hanya sekedar jembatan agar dia mendapatkan hak atas warisannya. Akhirnya aku sampai di samping mobil yang sebelumnya memang sengaja kuparkirkan jauh dari kliniknya. Aku ingin memberi kejutan untuknya, tapi ternyata, dia justru sedang menghina harga diriku di depan selingkuhannya. Aku masuk ke dalam mobil. Duduk di balik setir kemudi dengan dada terasa terhimpit. Paper bag berisi sup kaldu kulempar ke jok samping, hingga airnya tumpah. Hatiku meradang. Tenggorokanku rasanya panas. Kejadian di dalam klinik tadi terus berputar dalam kepalaku. Tanganku mencengkram setir kemudi kuat-kuat, hingga tampak memutih. Bisa saja tadi aku melabrak keduanya. Menjambak Alana, menampar Mas Arland dan menghancurkan semua barang yang ada di dalam sana. Tapi, aku tidak akan membuang energiku untuk melawan dua manusia sampah seperti mereka. Aku seorang arsitek senior, aku terbiasa menggunakan otak dalam bekerja dan menyelesaikan masalah, bukan tenaga. Begitu juga untuk menghancurkan mereka berdua. "Kalau kamu mengira aku hanya perempuan bodoh, kamu salah besar, Dokter Arland Maheswara. Aku pastikan, papamu sendirian yang akan mencoret namamu dari daftar penerima warisan itu." "Kamu cocok dengan Alana. Pengkhianat!" Aku langsung melajukan mobil keluar dari area ruko tanpa menoleh lagi ke belakang. Aku tertawa pendek. Tawa yang terdengar menyedihkan. Setelah semua yang kulakukan untuknya, ternyata penilaiannya begitu rendah padaku. Semuanya tidak berarti di matanya. Lampu-lampu jalan mulai tampak buram karena air mata yang terus menggenang di pelupuk mata. Namun aku terlalu marah untuk berhenti. Tiba-tiba ponselku bergetar, menunjukkan satu pesan masuk dari Mas Arland. "Sayang, kamu masih sibuk?" Aku mendecih. Setelah berselingkuh dan tidur dengan perempuan lain, masih sempatnya dia berbohong serta bersikap manis. Dadaku naik turun menahan emosi. Kuinjak pedal gas lebih dalam. Mobil pun melaju semakin cepat membelah jalanan malam yang mulai lengang. Di kepalaku, semua kejadian tadi terus berputar seperti rekaman rusak. Rasanya aku benar-benar muak. “Brengsek!” Tanganku menghantam setir keras. TINNN! Suara klakson memekakkan telinga. Namun isi kepalaku jauh lebih bising daripada itu. Aku mencengkeram setir makin kuat. Selama ini aku pikir hubungan kami dibangun karena cinta dan perjuangan bersama. Aku dengan sukarela mendesain rancangan klinik impiannya. Aku juga yang bolak-balik mengurus pembeliannya, karena ia harus praktik setiap hari. Tapi ternyata di matanya, aku hanya perempuan bodoh yang bisa dimanfaatkan. Kesetiaan dan pengorbananku dalam hubungan ini, malah membuatnya menganggap kalau aku hanyalah perempuan yang mudah diatur dan dibohongi. Air mataku kembali berjatuhan. Sudah kuusap agar tidak membasahi wajah. Namun pandanganku telanjur kabur. Sampai tiba-tiba, sorot lampu dari arah depan muncul begitu cepat. Mataku langsung membelalak. Sebuah motor melaju dari tikungan sempit tepat di depanku. “Ya Tuhan!” Refleks kakiku menginjak rem sekuat tenaga. Cekiiiittt! Ban mobil berdecit nyaring. Tubuhku terhempas ke depan saat mobil kehilangan kendali. Namun semuanya sudah terlambat. Bruaaakkk! Mobilku menghantam sesuatu dengan keras. Tubuhku terlonjak, dan kepala menyentuh setir. Beberapa detik aku hanya bisa diam, lalu pelan-pelan barulah menegakkan tubuh seraya meredakan pening yang menjalar di kepala. Tanganku membeku di atas setir, sampai akhirnya pandanganku turun ke arah depan mobil. Di bawah sorot lampu mobilku, seseorang terkapar tak bergerak di atas aspal. .Aku menggelar sajadah itu.Debunya masih menempel di lantai beton, tapi wangi sajadah itu mengingatkanku pada wangi lemari kayu di rumah orang tuaku dulu. Wangi yang selalu ada setiap subuh Ayah membangunkanku.Takbirku pecah di tengah.Baru satu ayat Al-Fatihah kubaca, air mata itu sudah tidak bisa kutahan lagi. Bahuku bergetar hebat. Suara isakku memenuhi sel ini, memantul, tidak ada yang bisa mendengar kecuali tembok.Aku bukan menangis karena pangkatku terancam. Bukan karena namaku yang besok mungkin ada di berita dengan judul "Oknum".Aku menangis karena aku rindu pada Lyra.Selesai sholat, aku tidak langsung beranjak. Aku duduk lama dengan tasbih kayu di tangan terus kuputar.Jam dinding di luar koridor berdentang. Jam 1 siang.Waktu terasa sangat panjang.Sampai hari berganti malam dan hatiku masih berharap-harap cemas.Tiba-tiba langkah sepatu PDL terdengar lagi. Bukan satu, tapi d
Waktu tidak berjalan. Ia merangkak.Setiap menit di ruangan ini terasa seperti seribu jam yang dipaksa kulalui sendirian.Arloji yang masih melingkar di pergelangan menunjukkan pukul 11.30. Aku bahkan tidak ingat kapan terakhir kali aku berhenti mondar-mandir. Dari pintu besi ke dinding beton, dari dinding kembali ke pintu. Empat langkah. Balik lagi. Empat langkah lagi.Pengap.Yang ada di kepalaku cuma Lyra. Aku khawatir setengah mati, tapi di sisi lain aku terus memaksa diriku percaya bahwa Mami pasti menjaganya. Mami memang keras, tapi kalau soal Lyra, dia tidak akan tinggal diam.Dan Kak Elina ....Aku berharap dia sudah bergerak. Semoga warung itu, atau rumah tetangga mana pun itu, masih menyimpan rekaman hari itu. Waktuku tinggal 38 jam lagi. Kalau tidak ada bukti itu, pangkatku, namaku, semuanya selesai.Hembusan napasku sendiri terdengar terlalu keras di ruangan 2x3 meter ini. Memantul di dinding beton yang dingi
Pukul 07.40. Aku belum dibawa ke Staltah.Aku masih ditahan di sel sementara Provost Makorem, di belakang gedung. Ruangan 2x3 meter, cat hijau pudar. Di sinilah perwira yang bermasalah biasanya menunggu mobil tahanan Pomdam datang.Sebelum ponselku disita, Danpom memberiku satu kesempatan terakhir."Satu panggilan, Ravyan. 3 menit. Gunakan baik-baik. Jangan drama."Tanganku gemetar membuka kontak. Nama Mami masih ada 17 panggilan tak terjawab. Kak Elina 8.Tapi bingung siapa yang harus aku hubungi sekarang.Aku pun berpikir cepat dan akhirnya memutuskan menghubungi Kak Elina, satu-satunya orang yang bisa aku ajak bicara dan kerjasama .Baru dua dering, langsung diangkat. Suaranya panik."RAVVYAN! YA ALLAH KAMU DIMANA? MAMI HISTERIS LIHAT VIDEO KAMU! KENAPA KAMU SEMBUNYIKAN KONDISI LYRA DARI KAMI?""Kak, dengarkan saya. Waktu saya cuma 2 menit," potongku cepat. Suaraku kutahan agar tidak pecah.
Pukul 06.55 mobil makin mendekati komplek Makorem.Ponselku bergetar dalam saku celana, dan saat aku mengecek, nama Mami terpampang di layar sebagai pemanggil.Panggilan tak berhenti, Mami terus menelpon tanpa sekalipun kuangkat.Sampai kemudian nama Kak Elina yang kini memanggil. Namun, aku masih tidak menerimanya. Aku senyapkan ponsel dan memasukkan kembali ke dalam saku. Mengembus napas kasar seraya menatap kaca mobil di mana udara sekitar masih berkabut.Di depan gerbang, dua wartawan dengan kamera langsung mengangkat lensanya ke arah mobil dinasku. Randy yang menyetir langsung tancap gas masuk ke dalam."Jangan turun dulu, Komandan," bisiknya.Aku mengangguk. Kaca kubuka sedikit. Di parkiran dalam, sudah ada dua mobil Provost. Artinya ini bukan panggilan biasa.Gedung utama Makorem masih sepi, tapi di lantai dua, lampu ruang Danrem sudah menyala.Aku rapikan PDL, memastikan sangkur dan baret terpasang sempu
"Brengsek!" umpatku seraya menarik kerah lehernya kembali. Mengangkat tubuh Arland yang terasa ringan tanpa perlawanan. Lalu melayangkan lagi empat bogem mentah di wajahnya. Hingga jejak lebam tercetak jelas pada pipinya itu. Aku sadar aku sudah gegabah, tapi demi apapun kesabaranku sudah benar-benar habis. Aku tidak peduli apa yang terjadi setelah ini, setidaknya tanganku bisa memberinya pelajaran walau tak seberapa."Ayo, pukul lagi," ucapnya meledek tapi tatapan matanya masih saja menantang. "Pukul sampai kamu puas. Dan besok, kamu tahu apa yang akan terjadi."Aku mendecih. "Saya gak peduli. Pukulan saja gak cukup, orang seperti kamu pantasnya mati!"Setelah aku berkata demikian, barulah si brengsek itu bangkit. Wajahnya babak belur, tapi sorot matanya menunjukkan ia tidak pernah kalah.Ia menyeka sudut bibirnya dengan punggung tangan. "Kamu hanya seorang perwira. Bukan malaikat maut. Dan aku gak akan menyerahkan nyawaku sama kamu!"Aku menatapnya dengan kemarahan yang membakar se
Bau asap tembakau bercampur nikotin seketika menerpa indera penciuman saat aku menepikan motor di halaman rusun tiga lantai. Pohon mangga tumbuh besar tinggi menjulang di samping bangunannya membuat tempat itu dikenal dengan sebutan rusun Mangga.Aku masih di atas motor. Menyapu pandangan pada setiap teras pintu di lantai bawah.Sampai aku menemukan sosok yang kucari berada di teras bangunan paling ujung.Itu Arland, berkumpul dengan tiga orang lelaki yang sedang merokok dan bermain karambol.Mereka tertawa terbahak-bahak di sana. Tapi tawa itu seperti bensin yang membakar hebat hati ini.Aku segera turun dari motor lalu melangkah cepat menuju teras rusun."Arland!" Aku berteriak hingga semua lelaki yang berada di teras itu menoleh.Tanganku bergerak lebih cepat dibanding otak, hingga aku menarik kerah kemeja Arland membuat lelaki itu bangkit.Bugh!Bugh!Bugh!Aku menghantam wajahnya dengan bogem mentah di pipinya. Namun rasanya tidak cukup, aku menendang perutnya dengan lutut dan me
"Papa gak bisa lakukan itu!” Suara Mas Arland meninggi. “Aku anak Papa!”Om Mahesa berhenti melangkah.Pria paruh baya itu menoleh perlahan dengan tatapan yang terasa jauh lebih dingin dari sebelumnya.“Anak papa seharusnya tahu bagaimana cara menjaga harga diri dan kehormatan keluarganya!”Mas Arl
Kekacauan itu belum selesai.“ARLAND!”Suara berat penuh tekanan mendadak menggema dari deretan kursi keluarga.Seorang pria paruh baya berjas hitam berdiri dengan wajah merah padam. Rahangnya mengeras menahan malu.Mahesa Maheswara, Papa Mas Arland.Tatapannya langsung menusuk pada putranya sendir
Ballroom megah itu berubah kacau hanya dalam hitungan detik.Suara bisik-bisik tamu mulai bercampur dengan seruan kaget dan tatapan jijik yang mengarah pada Mas Arland.Beberapa orang tua bahkan buru-buru menutupi mata anak mereka. Namun video itu terus berjalan tanpa ada yang bisa menghentikan.Wa
“Kita pikirkan hal lainnya nanti. Sekarang kita fokus saja pada hari H yang semakin dekat,” ucap Ravyan tenang. Aku hanya bisa menatapnya dengan jantung yang berdetak aneh. Sedangkan laki-laki itu hanya tersenyum kecil sebelum kembali menyeruput minumannya seolah pembicaraan tentang pernikahan da







