LOGIN"Jadi benar kalau tanahnya memang sudah dijual."
Mas Arland menunduk. "Aku sebenarnya mau menjelaskan.""Sejak kapan?"Ia tidak menjawab."Sejak kapan tanah itu dijual?""Gak lama setelah aku dan Alana menikah."Aku menghela napas, mengurai kesal dalam dada. Dia tahu tanah itu sudah bukan miliknya, tetapi masih datang kepadaku membawa cerita tentang rumah yang akan dibangun di atas tanah tersebut."Dan kamu masih meminta aku membuLangit telah berubah gelap saat akhirnya kami meninggalkan pantai. Namun sebelum kembali ke hotel, Ravyan lebih dulu membawaku menuju restoran bintang lima untuk dinner romantis.Sebuah lagu mengalun lembut diiringi gesekan biola di atas panggung restoran. Lilin-lilin kecil menyala temaram di atas meja.Aku menatap sekeliling.Restoran itu benar-benar indah.Lampu-lampu kekuningan menggantung rendah, menciptakan suasana hangat dan romantis. Beberapa meja berada tidak jauh dari jendela besar yang memperlihatkan lautan gelap dengan pantulan cahaya bulan.Aku kemudian menatap Ravyan. "Pak Mayor, kamu yang pilih tempat ini?""Iya."Aku menggeleng pelan."Kenapa?""Kayaknya terlalu mewah."Ravyan justru tersenyum. "Memangnya salah?""Bukan salah. Aku rasa kita cuma mau makan malam, bukan menghadiri pesta kenegaraan."Dia tertawa kecil. "Saya ingin memberikan sesuatu yang berkesan untuk kamu."Aku terdiam sebentar. "Kenapa?""Karena ini bulan madu kita.""Tapi aku gak minta yang mewah.""Sa
* Hari keberangkatan akhirnya tiba. Aku masih berdiri di depan koper sambil memeriksa barang-barang untuk kesekian kalinya. "Pakaian? Sudah." "Skincare? Sudah." "Charger? Sudah." Aku memasukkan satu pouch terakhir ke dalam koper, lalu menutup resletingnya. Seketika terdengar suara Ravyan dari ambang pintu. "Bu Arsitek." Aku menoleh. Ravyan berdiri sambil menyandarkan bahu pada kusen pintu. "Kenapa?" "Sudah selesai?" "Sudah." Dia berjalan mendekat. Matanya melirik dua koper yang sudah berada di dekat pintu. "Laptop?" Aku langsung diam. Ravyan mengangkat satu alis. Aku pura-pura sibuk merapikan pakaian. "Lyra." "Enggak bawa." "Yakin?" "Yakin." "Bagus." Aku menoleh kepadanya. "Memangnya kamu kira aku gak bisa hidup seminggu tanpa laptop?" "Saya tidak tahu." "Pak Mayor!" Dia tertawa. "Ayo." Kami akhirnya berangkat menuju bandara. Sepanjang perjalanan, aku lebih banyak memandangi pemandangan dari balik jendela. Ada perasaan aneh yang sulit dijelaskan. Aku s
-Hening.Aku langsung menyambung sebelum Ravyan salah paham. "Aku gak bisa nahan diri lagi, tanganku langsung menampar dia."Terdengar helaan napas dari seberang. "Sayang ....""Maaf.""Saya bukan mau memarahimu.""Lalu?""Saya sedang berusaha membayangkan wajahmu saat menamparnya."Aku terdiam beberapa saat. Kemudian tanpa sadar tertawa kecil. "Pak Mayor!""Saya serius.""Jangan malah bercanda.""Saya tidak bercanda."Aku bisa membayangkan ekspresi Ravyan yang sedang menahan senyum."Tamparannya keras?""Banget.""Bagus."Aku tertawa lagi. "Kenapa bagus?""Supaya dia tahu batas."Aku menyandarkan tubuh ke kursi dan akhirnya napasku terasa lebih ringan. Namun, masih ada satu hal yang mengganjal."Pak Mayor?""Hm?""Dia bilang ini bukan pertemuan terakhir.""Dia mengatakan itu?" Nada suar
-Aku menatap layar laptop yang masih menyala.Desain rumah itu masih terpampang di sana.Ruang keluarga yang sengaja kubuat luas. Jendela-jendela besar agar cahaya matahari bisa masuk dengan leluasa. Dapur semi-terbuka yang kupikirkan berdasarkan kebiasaan pasangan yang akan tinggal di dalamnya. Bahkan taman kecil di belakang rumah pun sudah kubuat sedemikian rupa.Semuanya terlihat begitu nyata.Padahal tanahnya saja tidak ada.Aku memejamkan mata.Entah kenapa, fakta itu kembali membuat dadaku terasa sesak.Bukan karena aku kehilangan proyek.Bukan pula karena Mas Arland tidak jadi membayar seluruh pekerjaanku.Aku marah karena merasa dibodohi.Selama berhari-hari aku duduk di ruangan ini, memikirkan proyek tersebut dengan serius. Aku bahkan sempat membayangkan seperti apa rumah itu setelah selesai dibangun.Dan ternyata, sejak awal, fondasinya hanyalah sebuah kebohongan.
"Jadi benar kalau tanahnya memang sudah dijual."Mas Arland menunduk. "Aku sebenarnya mau menjelaskan.""Sejak kapan?"Ia tidak menjawab."Sejak kapan tanah itu dijual?""Gak lama setelah aku dan Alana menikah."Aku menghela napas, mengurai kesal dalam dada. Dia tahu tanah itu sudah bukan miliknya, tetapi masih datang kepadaku membawa cerita tentang rumah yang akan dibangun di atas tanah tersebut."Dan kamu masih meminta aku membuat desain rumah untuk tanah yang sudah bukan milikmu?""Aku punya rencana lain."Aku langsung mengangkat tangan."Jangan."Ia terdiam."Jangan mulai membuat alasan baru."Aku menatapnya lurus. "Kalau memang sejak awal kamu sudah menjual tanah itu, kenapa kamu bilang tanah itu masih ada?""Aku ....""Kenapa?!"Mas Arland mengusap wajahnya. "Aku takut kamu menolak menjadi konsultan."Aku mengernyit. "Kenapa a
-Mas Arland menatapku dengan kening mengernyit. "Informasi yang kamu dapat? Informasi apa? Kamu ... Sewa mata-mata?"Aku mendecih pelan. Pertanyaannya terlalu konyol. "Sekarang cukup kamu jawab apa proyek ini masih akan dilanjutkan atau ... batal?"Terdengar ia mendecak. "Batal apa sih, maksudnya? Desainnya bahkan sudah selesai kamu buat. Dan kalau aku deal, artinya rancangan itu akan segera berubah wujud menjadi bangunan. Kenapa kamu malah berpikir proyek kerjasama kita ini akan batal?"Dia bertanya dengan enteng. Seolah-olah apa yang dia katakan adalah memang kenyataan. Padahal jelas-jelas dia hanya sedang bersandiwara.Aku menatapnya beberapa detik. "Karena aku mendapat informasi kalau tanah yang kamu maksud sudah dijual."Senyum di wajah Mas Arland langsung menghilang.Aku tidak mengalihkan pandangan sedikit pun. "Dan informasi itu bukan dari orang yang aku bayar untuk menguntitmu."Ia tampak menelan ludah
"Kalian sudah tahu akan tinggal di mana setelah menikah?" tanya Mami. Pembicaraan di meja makan ini rupanya terus berlanjut."Kebetulan saya sudah ada rumah, Mi. Tidak terlalu besar seperti rumah ini. Tapi, cukup untuk kami berdua memulai hidup baru," jawab Ravyan dengan cepat.
Aku refleks berhenti.Jantungku yang masih tak karuan, kini makin berulah.Pelan aku menoleh.Ravyan berdiri sangat dekat di belakangku sekarang. Jemarinya masih menggenggam pergelangan tanganku hangat.“Kenapa buru-buru kabur?” tanyanya santai.“Aku g
"Papa gak bisa lakukan itu!” Suara Mas Arland meninggi. “Aku anak Papa!”Om Mahesa berhenti melangkah.Pria paruh baya itu menoleh perlahan dengan tatapan yang terasa jauh lebih dingin dari sebelumnya.“Anak papa seharusnya tahu bagaimana cara menjaga harga diri dan kehormatan keluarganya!”Mas Arl
Kekacauan itu belum selesai.“ARLAND!”Suara berat penuh tekanan mendadak menggema dari deretan kursi keluarga.Seorang pria paruh baya berjas hitam berdiri dengan wajah merah padam. Rahangnya mengeras menahan malu.Mahesa Maheswara, Papa Mas Arland.Tatapannya langsung menusuk pada putranya sendir







