Partager

Tugas Negara

Auteur: Sity Mariah
last update Date de publication: 2026-06-17 19:01:48

Beberapa saat berlalu, aku belum benar-benar tidur. Namun deru napas Ravyan di belakangku justru terdengar lebih teratur diikuti dengkuran halus. Tidak ada gerakan darinya, menunjukkan jika kali ini ia benar-benar sudah tertidur.

Pelan-pelan, aku mengeluarkan tangan dari selimut. Kemudian secara sadar menyentuh tangan Ravyan di atas perutku. Bukan untuk menyingkirkannya, melainkan untuk aku genggam.

Satu detik.

Dua detik.

Hingga lima detik, tidak ada tanda-
Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application
Chapitre verrouillé
Commentaires (2)
goodnovel comment avatar
Haruki Matsuda
deg degan ya..bakal ketemu camer
goodnovel comment avatar
Mimin Rosmini
lyra....apa kamu pernah memikirkan perasaan Ravyan?.oke peka sedikit ya ..kebutuhan seorang lelaki spek Ravyan.oke..?
VOIR TOUS LES COMMENTAIRES

Dernier chapitre

  • Dikhianati Mas Dokter Dinikahi Pak Mayor   Lyra yang Dulu

    Aku memilih menaruh ponsel di atas mini bar. "Enggak, Kak. Aku gak mau ganggu Ravyan. Aku gak mau nambah beban pikirannya. Kalau aku laporan, pasti Ravyan gak akan fokus kerja."Kak Elina tampak menghela napasnya. "Ya udah, terserah kamu kalau gitu. Tapi kalau nanti Ravyan udah benar-benar senggang, kamu harus tetap kasih tahu dia, lho. Kalau beban pikirannya bertambah, ya itu resiko dia sebagai suami kamu. Kalau bukan dia yang mikirin kamu, siapa lagi 'kan?"Aku menatap kakak perempuanku yang masih sibuk dengan masakannya itu. Apa yang dia katakan memang ada benarnya, tapi aku tidak sepenuhnya setuju. Ravyan memang suamiku. Memang dia yang seharusnya memikirkanku. Tapi untuk persoalan Mas Arland, aku rasa itu bukan hal penting untuk kulaporkan juga. Aku bisa menghadapinya sendiri."Kak, aku masih bisa urus sendiri. Aku rasa gak perlu laporan sama Ravyan," ujarku kemudian.Kak Elina mengembus napas kasar. Melepas kain celemek di depan tubuhnya lalu cuci tangan. "Ya udah kalau kamu mau

  • Dikhianati Mas Dokter Dinikahi Pak Mayor   Waspada

    "Astaga ... orang kok ngeyel banget." Aku menggerutu sendirian.Papperbag yang ditinggalkan Mas Arland masih di tangan. Dengan darah yang rasanya tersirap sampai ubun-ubun seraya meremas ujung paperbag-nya, aku melangkah turun dari teras ruko. Berjalan cepat menuju bak sampah di sebrang ruko dan hendak membuangnya. Namun gerakanku terhenti saat di sebrang jalan sana, seorang pemulung justru sedang mengorek dari bak sampah dari ruko lain.Pandanganku tak beralih dari pemulung itu hingga ia terlihat menemukan satu bungkus roti yang entah masih layak atau tidak. Namun wajah pemulung itu tampak berbinar, ia kembali membungkuk dan mengorek lagi bak sampahnya. Hingga menemukan beberapa bungkus roti lagi.Setelah itu, ia menjauh dari bak sampah. Mencari tempat yang lebih teduh hingga duduk di bawah pohon palm. Ia mulai membuka plastik roti yang ditemukannya.Aku batal membuang paperbag dari Mas Arland. Kakiku melangkah cepat menyebrangi jalan dan menemui

  • Dikhianati Mas Dokter Dinikahi Pak Mayor   Sepi yang Mencekik

    Pukul lima pagi, mobil dinas sudah menjemput. Sepuluh menit kemudian, Ravyan benar-benar telah meninggalkan rumah.Mobil itu kian menjauh dari pandangan mata. Ditelan langit yang bahkan masih gelap.Aku hanya bisa memeluk diri sendiri saat menyadari bahwa tinggallah aku seorang diri di rumah ini. Masih berdiri di halaman, memandang jalanan komplek yang begitu sunyi.Nyaris hanya helaan napasku yang terdengar saat akhirnya harus menutup pintu pagar lalu kembali masuk ke dalam rumah.Begitu pintu utama ditutup, hening bercampur hampa seketika memelukku begitu erat.Aku mengedarkan pandangan pada tiap sudut ruangan dalam rumah ini. Dan belum satu jam dari kepergian Ravyan, rasa sepi benar-benar nyata menghampiri."Belum satu hari, tapi rasa sepi sudah terasa mencekik leher," keluhku sambil mengembus napas berat. "Dan masih ada tujuh hari yang harus aku jalani."Aku gegas melangkah menuju dapur.Di atas meja makan,

  • Dikhianati Mas Dokter Dinikahi Pak Mayor   Mayor Mesum!

    Aku langsung menutup majalah di tangan. "Tugas di luar pulau? Satu Minggu?" tanyaku kaget.Ravyan mengangguk. "Kamu mau ikut?"Aku terdiam. Tidak tahu harus menjawab apa. Bisa saja aku ikut, tapi bagaimana dengan jasa konsultasi yang sedang kubangun dan mulai mendapat tempat di hati klien ini?Tapi kalau aku tidak ikut, artinya kami harus menjalani LDR kembali.Aku menatap Ravyan cukup lama.Lelaki itu tidak mendesakku untuk menjawab. Dia hanya bersandar di sofa sambil menungguku berpikir."Kalau aku ikut, artinya aku harus meninggalkan studio selama seminggu."Ravyan tak menyela. Masih hanya menatapku."Klienku sedang banyak. Tapu kalau aku nggak ikut ...." Aku menghela napas. "Kita bakal LDR lagi."Ravyan tersenyum tipis. "Memangnya kamu takut?"Aku langsung menggeleng. "Bukan takut.""Lalu?""Aku nggak suka."Ravyan tertawa kecil.Aku memelototinya. "Apan

  • Dikhianati Mas Dokter Dinikahi Pak Mayor   Tugas Dinas

    Satu Minggu di Pulau Dewata dengan agenda bulan madu terasa begitu cepat. Satu Minggu yang penuh kenangan serta kebersamaan romantis dengan Ravyan nyatanya telah selesai.Satu Minggu yang tanpa satu malam berlalu dengan sia-sia. Satu Minggu yang setiap malamnya selalu memiliki cerita.Agenda itu kini selesai.Aku dan Ravyan sudah kembali pada rutinitas masing-masing. Ravyan sibuk di markas bersama para anak buahnya, dan aku kembali sibuk dengan jasa konsultasi yang makin ramai.Hampir beberapa hari setelah cutinya selesai dan kembali bekerja, Ravyan selalu pulang malam. Kami hanya bertemu dan berbincang sebentar di meja makan lalu setelah itu tidur. Kemudian pagi hari, kami kembali menjalani rutinitas masing-masing.Meski begitu, semuanya tetap kujalani.Aku sadar dengan kewajiban pada pekerjaan yang harus kami tunaikan.Seperti biasa, aku meninggalkan studio setiap pukul empat sore.Aku pulang ke rumah, members

  • Dikhianati Mas Dokter Dinikahi Pak Mayor   Kenangan yang Ingin Kusimpan

    Motor terus melaju meninggalkan kawasan yang semakin ramai.Jalan yang kami lewati perlahan berubah menjadi lebih sepi.Pepohonan tumbuh semakin rapat di kanan dan kiri jalan.Udara pun terasa berbeda. Lebih dingin dan segar.Aku yang sejak tadi memeluk pinggang Ravyan akhirnya mengangkat kepala."Pak Mayor.""Hm?""Kita sebenarnya mau ke mana?""Sebentar lagi sampai."Aku terkekeh. "Jawabanmu dari tadi itu terus.""Karena memang sebentar lagi."Aku memilih diam.Beberapa menit kemudian, Ravyan akhirnya memperlambat laju motor.Di depan kami terbentang kawasan hutan pinus.Pohon-pohon tinggi menjulang dengan batang lurus dan kokoh.Cahaya matahari menembus sela-sela dahan, menciptakan garis-garis cahaya di antara pepohonan.Aku langsung terpukau. "Wah ...."Ravyan menoleh sebentar. "Suka?"Aku mengangguk cepat. "Suka banget."Dia tersenyum lalu membawa motor menuju area yang lebih lapang.Setelah memarkir motor, kami turun.Aku melepas helm dan menghirup udara dalam-dalam.Aroma khas

  • Dikhianati Mas Dokter Dinikahi Pak Mayor   Setimpal

    Ballroom megah itu berubah kacau hanya dalam hitungan detik.Suara bisik-bisik tamu mulai bercampur dengan seruan kaget dan tatapan jijik yang mengarah pada Mas Arland.Beberapa orang tua bahkan buru-buru menutupi mata anak mereka. Namun video itu terus berjalan tanpa ada yang bisa menghentikan.Wa

  • Dikhianati Mas Dokter Dinikahi Pak Mayor   5. Surprise!

    “Kita pikirkan hal lainnya nanti. Sekarang kita fokus saja pada hari H yang semakin dekat,” ucap Ravyan tenang. Aku hanya bisa menatapnya dengan jantung yang berdetak aneh. Sedangkan laki-laki itu hanya tersenyum kecil sebelum kembali menyeruput minumannya seolah pembicaraan tentang pernikahan da

  • Dikhianati Mas Dokter Dinikahi Pak Mayor   Tidak Puas Sepenuhnya

    "Papa gak bisa lakukan itu!” Suara Mas Arland meninggi. “Aku anak Papa!”Om Mahesa berhenti melangkah.Pria paruh baya itu menoleh perlahan dengan tatapan yang terasa jauh lebih dingin dari sebelumnya.“Anak papa seharusnya tahu bagaimana cara menjaga harga diri dan kehormatan keluarganya!”Mas Arl

  • Dikhianati Mas Dokter Dinikahi Pak Mayor   Keputusan Telak

    Kekacauan itu belum selesai.“ARLAND!”Suara berat penuh tekanan mendadak menggema dari deretan kursi keluarga.Seorang pria paruh baya berjas hitam berdiri dengan wajah merah padam. Rahangnya mengeras menahan malu.Mahesa Maheswara, Papa Mas Arland.Tatapannya langsung menusuk pada putranya sendir

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status