LOGINSatu Minggu di Pulau Dewata dengan agenda bulan madu terasa begitu cepat. Satu Minggu yang penuh kenangan serta kebersamaan romantis dengan Ravyan nyatanya telah selesai.
Satu Minggu yang tanpa satu malam berlalu dengan sia-sia. Satu Minggu yang setiap malamnya selalu memiliki cerita.Agenda itu kini selesai.Aku dan Ravyan sudah kembali pada rutinitas masing-masing. Ravyan sibuk di markas bersama para anak buahnya, dan aku kembali sibuk dengan jasa konsultasi yangAku langsung menutup majalah di tangan. "Tugas di luar pulau? Satu Minggu?" tanyaku kaget.Ravyan mengangguk. "Kamu mau ikut?"Aku terdiam. Tidak tahu harus menjawab apa. Bisa saja aku ikut, tapi bagaimana dengan jasa konsultasi yang sedang kubangun dan mulai mendapat tempat di hati klien ini?Tapi kalau aku tidak ikut, artinya kami harus menjalani LDR kembali.Aku menatap Ravyan cukup lama.Lelaki itu tidak mendesakku untuk menjawab. Dia hanya bersandar di sofa sambil menungguku berpikir."Kalau aku ikut, artinya aku harus meninggalkan studio selama seminggu."Ravyan tak menyela. Masih hanya menatapku."Klienku sedang banyak. Tapu kalau aku nggak ikut ...." Aku menghela napas. "Kita bakal LDR lagi."Ravyan tersenyum tipis. "Memangnya kamu takut?"Aku langsung menggeleng. "Bukan takut.""Lalu?""Aku nggak suka."Ravyan tertawa kecil.Aku memelototinya. "Apan
Satu Minggu di Pulau Dewata dengan agenda bulan madu terasa begitu cepat. Satu Minggu yang penuh kenangan serta kebersamaan romantis dengan Ravyan nyatanya telah selesai.Satu Minggu yang tanpa satu malam berlalu dengan sia-sia. Satu Minggu yang setiap malamnya selalu memiliki cerita.Agenda itu kini selesai.Aku dan Ravyan sudah kembali pada rutinitas masing-masing. Ravyan sibuk di markas bersama para anak buahnya, dan aku kembali sibuk dengan jasa konsultasi yang makin ramai.Hampir beberapa hari setelah cutinya selesai dan kembali bekerja, Ravyan selalu pulang malam. Kami hanya bertemu dan berbincang sebentar di meja makan lalu setelah itu tidur. Kemudian pagi hari, kami kembali menjalani rutinitas masing-masing.Meski begitu, semuanya tetap kujalani.Aku sadar dengan kewajiban pada pekerjaan yang harus kami tunaikan.Seperti biasa, aku meninggalkan studio setiap pukul empat sore.Aku pulang ke rumah, members
Motor terus melaju meninggalkan kawasan yang semakin ramai.Jalan yang kami lewati perlahan berubah menjadi lebih sepi.Pepohonan tumbuh semakin rapat di kanan dan kiri jalan.Udara pun terasa berbeda. Lebih dingin dan segar.Aku yang sejak tadi memeluk pinggang Ravyan akhirnya mengangkat kepala."Pak Mayor.""Hm?""Kita sebenarnya mau ke mana?""Sebentar lagi sampai."Aku terkekeh. "Jawabanmu dari tadi itu terus.""Karena memang sebentar lagi."Aku memilih diam.Beberapa menit kemudian, Ravyan akhirnya memperlambat laju motor.Di depan kami terbentang kawasan hutan pinus.Pohon-pohon tinggi menjulang dengan batang lurus dan kokoh.Cahaya matahari menembus sela-sela dahan, menciptakan garis-garis cahaya di antara pepohonan.Aku langsung terpukau. "Wah ...."Ravyan menoleh sebentar. "Suka?"Aku mengangguk cepat. "Suka banget."Dia tersenyum lalu membawa motor menuju area yang lebih lapang.Setelah memarkir motor, kami turun.Aku melepas helm dan menghirup udara dalam-dalam.Aroma khas
Setelah sarapan selesai, aku kembali dibuat penasaran oleh Ravyan.Namun lelaki itu tetap tidak mau memberitahuku ke mana kami akan pergi.Bahkan ketika kami kembali ke kamar untuk mengambil barang, dia masih bungkam."Pak Mayor.""Hm?""Serius gak mau kasih tahu?""Enggak.""Sedikit aja.""Enggak.""Ayo, dong."Ravyan malah tertawa.Sedangkan aku mendengkus kesal. "Suami macam apa ini? Istrinya dibuat penasaran.""Memangnya kenapa kalau penasaran?""Enggak enak. Dan kamu berdosa tahu!"Ravyan malah terkekeh.Aku hanya bisa menggeleng.Beberapa menit kemudian, kami turun kembali ke lobi.Aku sempat mengira Ravyan akan mengajakku naik mobil hotel.Ternyata tidak.Begitu keluar dari pintu utama, aku melihat sebuah motor sudah terparkir di area depan hotel.Aku langsung menatap Ravyan. "Jangan bilang ...."Ravyan tersenyum. "Betul.""Kita naik motor?""Iya."Aku langsung tertawa. "Ini kejutannya?""Bagian dari kejutan."Aku memperhatikan motor itu. Tidak terlalu besar, tetapi terlihat ny
Jam digital hotel di meja nakas menunjuk pada angka tujuh pagi hari dan aku sudah duduk di meja rias, sibuk mengoles foundation di sekitar leher.Bagaimana tidak?Leherku penuh bercak kemerahan karena perbuatan Ravyan semalam.Sedangkan lelaki itu, justru terlihat sedang duduk santai di ujung tempat tidur sambil menikmati kopinya.Udara di dalam kamar terasa sejuk karena pendingin ruangan masih menyala.Sinar matahari sudah menyusup melalui celah tirai jendela yang terbuka sempurna.Kasur empuk, bantal yang lembut, aroma khas kamar hotel yang bersih, serta suara deburan ombak yang samar-samar terdengar dari kejauhan membuat suasana pagi ini terasa begitu nyaman.Namun, tetap saja secuil rasa kesal menggelayut di dadaku.Bruk.Aku menaruh kasar botol foundation di atas meja rias."Foundation-ku bisa cepet abis kalau begini!" Aku menggerutu sambil menyisir rambut lalu menguncirnya.Dari pantulan cermin rias, aku bisa melihat Ravyan yang juga tengah menatap ke arah cermin."Ini namanya b
Kami akhirnya kembali ke hotel setelah makan malam.Begitu pintu kamar tertutup, aku langsung mengembuskan napas panjang."Capek?"Aku mengangguk. "Lumayan."Ravyan tersenyum. "Padahal tadi kamu yang paling banyak tertawa.""Itu karena kamu lucu.""Saya?""Iya.""Sejak kapan saya jadi lucu?""Sejak kamu hampir menginjak kaki aku waktu dansa."Ravyan menggeleng sambil terkekeh.Kami kemudian membersihkan diri dan berganti pakaian yang lebih nyaman.Tidak ada lagi pakaian formal.Tidak ada lagi suasana restoran mewah.Aku mengenakan pakaian tidur sederhana, sementara Ravyan juga sudah berganti dengan kaus dan celana santai.Setelah itu, kami keluar menuju balkon.Udara malam pulau Dewata terasa sejuk.Aku berjalan ke pagar balkon lalu menyandarkan kedua tangan di sana.Di hadapan kami, lautan terbentang gelap.Hanya suara ombak yang terdengar sesekali.Langit malam begitu luas.Bintang-bintang bertaburan di antara awan tipis.Aku mendongak. "Indah banget."Ravyan berdiri di sampingku. "
Aku refleks berhenti.Jantungku yang masih tak karuan, kini makin berulah.Pelan aku menoleh.Ravyan berdiri sangat dekat di belakangku sekarang. Jemarinya masih menggenggam pergelangan tanganku hangat.“Kenapa buru-buru kabur?” tanyanya santai.“Aku g
"Papa gak bisa lakukan itu!” Suara Mas Arland meninggi. “Aku anak Papa!”Om Mahesa berhenti melangkah.Pria paruh baya itu menoleh perlahan dengan tatapan yang terasa jauh lebih dingin dari sebelumnya.“Anak papa seharusnya tahu bagaimana cara menjaga harga diri dan kehormatan keluarganya!”Mas Arl
"Kalian sudah tahu akan tinggal di mana setelah menikah?" tanya Mami. Pembicaraan di meja makan ini rupanya terus berlanjut."Kebetulan saya sudah ada rumah, Mi. Tidak terlalu besar seperti rumah ini. Tapi, cukup untuk kami berdua memulai hidup baru," jawab Ravyan dengan cepat.
DIKHIANATI MAS DOKTER, DINIKAHI PAK MAYOR ******* “Aghh, pelan-pelan, Mas. Sakit!” “Sakit ... atau enak?” Senyumku seketika lenyap setelah berdiri tepat di depan pintu ruangan praktik Mas Arland, seorang dokter pintar yang merupakan calon suamiku. Tanganku yang seharusnya mendorong gagang







