Share

Di Antara Hidup dan Mati

Penulis: Senjaaaaa
last update Terakhir Diperbarui: 2025-10-06 17:33:42

Suasana ruang tunggu rumah sakit malam itu menegang. Lampu putih pucat menyinari dinding, dan aroma obat-obatan menusuk hidung, bercampur dengan kecemasan yang menggantung di udara.

Hansen mondar-mandir di depan pintu ruang gawat darurat dengan wajah tegang, telapak tangannya berkeringat dingin.

“Ya Tuhan, Nana...” bisiknya pelan. “Kenapa harus kau yang mengalami ini?”

Sudah lebih dari satu jam ia menunggu tanpa kabar. Hatinya seperti digantung di tepi jurang—antara harapan dan kehilangan.

Pintu ruang tunggu terbuka perlahan. Maudy melangkah masuk dengan langkah anggun namun penuh pura-pura. Wajahnya tampak cemas, tapi mata itu... mata yang terlalu tenang untuk seseorang yang sedang khawatir.

“Kak Hansen...” suaranya lembut tapi datar. “Bagaimana keadaan Kak Nana? Aku dengar... dia kecelakaan?”

Hansen berhenti melangkah. Tatapan dinginnya menusuk Maudy seolah bisa menembus topeng kepura-puraan di wajah gadis itu.

“Kenapa kau baru datang?” suaranya pelan, tapi mengandung amarah yang tertahan.

“Bukankah kau yang paling bahagia kalau dia celaka?”

Maudy tersentak, tapi cepat menunduk menutupi ekspresinya.

“Kak... kenapa bicara seperti itu? Aku ini adik Kak Nana juga. Aku khawatir, sungguh.”

“Khawatir?” Hansen mendekat satu langkah, tatapannya tajam. “Jangan pura-pura suci di depanku, Maudy. Aku tahu siapa kau sebenarnya.”

“Kau itu ular, menunggu waktu untuk mematuk.”

“Kak Hansen!” suara Maudy meninggi. “Jaga ucapanmu! Aku—”

Namun kalimatnya terputus ketika pintu IGD terbuka. Seorang dokter berjas putih keluar dengan wajah lelah.

“Keluarga Nona Nadira Seraphine?”

Hansen segera menghampiri. “Saya kakaknya, Dok. Bagaimana kondisi adik saya?”

Dokter itu menarik napas panjang sebelum menjawab.

“Kami sudah berusaha sebaik mungkin... tapi kondisinya sangat kritis. Nona Nadira mengalami koma.”

Hansen terdiam, tubuhnya kaku.

“Koma?” suaranya serak. “Apa... dia bisa sadar, Dok?”

“Kami belum bisa memastikan. Dua tulang rusuknya patah, satu kakinya retak parah, dan ada pendarahan di kepala. Jika ia sadar nanti, kemungkinan besar akan kesulitan berjalan.”

Kata-kata itu menusuk dada Hansen seperti bilah pisau. Ia menunduk, menutup wajahnya dengan kedua tangan.

“Tidak... Nana pasti bisa bertahan. Dia kuat... dia selalu kuat.”

Sementara itu, Maudy hanya berdiri diam di sudut, menggigit bibirnya. Wajahnya tampak sendu, tapi dalam hatinya... amarahnya mendidih.

“Sial... kenapa dia nggak mati saja? Kalau dia sadar, semuanya akan hancur!”

Matanya menatap kosong ke lantai, tapi pikirannya kembali ke masa beberapa hari lalu.

Flashback

Sebuah gudang tua di pinggiran kota. Maudy berdiri di depan seorang pria kekar dengan tato di lengannya, suaranya datar tapi menusuk.

“Aku mau semuanya terlihat seperti kecelakaan.”

“Tenang saja, Nona,” jawab pria itu dengan nada santai. “Semua akan seperti kecekakaan biasa. Tak akan ada yang tahu.”

Maudy menyerahkan amplop tebal.

“Pastikan dia tidak selamat. Aku tak mau ada saksi yang bisa menghancurkan rencanaku.”

Senyum sinis muncul di wajah pria itu. “Anggap saja sudah selesai.”

Kembali ke masa kini.

Maudy mengepalkan tangan di balik tubuhnya. “Tidak cukup. Kalau dia hidup, aku yang akan mati. Aku harus pastikan dia tak pernah bangun.”

Ia menatap pintu IGD yang baru saja tertutup kembali, matanya dingin seperti batu.

“Aku akan pastikan kau tak pernah membuka mata lagi, Kak Nana...” bisiknya nyaris tanpa suara.

Tak lama kemudian, langkah-langkah tergesa terdengar di lorong. Dikta muncul bersama kedua orang tuanya. Wajahnya pucat, tapi bukan karena duka—melainkan rasa bersalah yang ia sembunyikan di balik ekspresi memelasnya.

“Hansen!” serunya, mendekat. “Bagaimana keadaan Nana? Aku... aku khawatir sekali.”

Hansen memutar tubuhnya dan tanpa peringatan, menarik kerah baju Dikta dengan kasar.

“Khawatir?” raungnya. “Kau yang seharusnya menjaganya, Bajingan! Di mana kau saat dia hampir mati?!”

“Hansen, hentikan!” Ratih, ibu Dikta, menahan Hansen. “Ini bukan salah Dikta, Nak! Itu kecelakaan!”

“Benar,” sambung ayahnya, Cahyo. “Dikta juga terpukul, Hansen. Tolong mengertilah—”

“Cukup!” bentak Hansen, matanya memerah. “Jangan bela dia di depanku! Kalian semua sama saja... semuanya munafik!”

Maudy, yang sedari tadi diam, berpura-pura menenangkan.

“Kak Hansen... sudahlah, jangan marah terus. Kita semua sedih...”

“Diam, Maudy!” Hansen menepis tangannya kasar. “Aku muak dengan kepura-puraanmu!”

“Tapi aku juga keluarga ini!” teriak Maudy, air mata mulai mengalir.

Hansen menatapnya dengan jijik.

“Keluarga? Kau cuma noda yang menempel di nama keluarga ini. Anak haram yang hidupnya cuma bawa sial!”

Ucapan itu menghantam Maudy seperti cambuk. Ruangan mendadak hening. Ratih dan Cahyo hanya memalingkan wajah, seolah mengiyakan.

Maudy menoleh ke arah Dikta dengan pandangan penuh luka.

“Kak Dikta... bilang sesuatu... bela aku...”

Dikta menatapnya singkat, lalu berucap dingin.

“Aku nggak mau ikut campur, Maudy. Jangan drama di sini.”

Hati Maudy remuk. Air matanya jatuh tanpa suara. Ia berbalik dan berlari keluar ruang tunggu, meninggalkan semua hinaan di belakangnya.

Namun dalam hatinya, lahirlah sesuatu yang jauh lebih gelap dari rasa sakit—dendam.

“Baik. Kalian semua akan kubuat berlutut. Satu per satu.”

Beberapa jam kemudian, seorang perawat menghampiri Hansen.

“Pak Hansen, dokter Bram ingin berbicara dengan Anda di ruangannya.”

Hansen mengangguk lemah dan mengikuti perawat itu. Di dalam ruang dokter, aroma antiseptik terasa menusuk. Dr. Bram menatapnya dengan ekspresi serius.

“Silakan duduk, Pak Hansen.”

Ia menyalakan layar monitor, menampilkan hasil rontgen tubuh Nana.

“Tulang rusuk patah di dua tempat, kaki kanan retak, dan...” ia berhenti sejenak, menatap Hansen penuh empati. “Cedera otak yang cukup berat. Ada pendarahan kecil di otak bagian kiri.”

Hansen menelan ludah, tangannya mengepal.

“Apa dia akan... kehilangan ingatan, Dok?”

“Kemungkinannya ada. Tapi kami belum bisa memastikan sebelum pembengkakan di otaknya mereda.”

“Kalau dia sampai lupa segalanya...” Hansen menunduk, suaranya bergetar. “Apa dia masih bisa hidup seperti dulu?”

“Kami akan berusaha semampu kami, Pak. Tapi... keajaiban mungkin satu-satunya yang bisa kita harapkan sekarang.”

Hansen menatap layar itu lama, sebelum akhirnya berbisik lirih, suaranya nyaris patah.

“Kuatlah, Nana... .”

***

Ruang tunggu rumah sakit kembali diselimuti keheningan. Suara detik jam di dinding terasa begitu lambat dan menyiksa. Bau antiseptik menusuk hidung, mencampur dengan udara dingin dari pendingin ruangan.

Hansen duduk di bangku panjang, kedua sikunya bertumpu pada lutut, wajahnya tertunduk lesu. Di depan matanya, seolah masih tergambar jelas tubuh adiknya yang penuh luka, terbaring tak sadarkan diri di ruang ICU.

Langkah kaki seseorang terdengar mendekat. Dikta muncul dari arah koridor, wajahnya dibuat seolah-olah muram dan terkejut. Dengan langkah cepat, ia menghampiri Hansen.

“Hansen… gimana keadaan Nana?” suaranya serak, dibuat seolah menahan tangis.

Hansen perlahan menegakkan tubuhnya. Tatapan matanya dingin—bukan hanya karena duka, tapi juga karena amarah yang telah menumpuk terlalu lama.

“Kau masih punya muka buat nanya?” suaranya datar tapi tajam. “Nana sekarang di ruang ICU, antara hidup dan mati. Tulang rusuknya patah, kakinya remuk, dan kepalanya cedera parah.”

Dikta memejamkan matanya, mencoba menampilkan ekspresi sedih yang meyakinkan. Ia menjatuhkan diri di kursi seberang Hansen, kedua tangannya menutup wajah.

“Ya Tuhan… kenapa bisa begini…” gumamnya pelan, pura-pura sesenggukan. “Aku sayang sama Nana, Hansen. Aku bener-bener hancur dengar ini…”

Hansen mendengus pelan, sudut bibirnya menegang menahan emosi. “Cukup, Dikta. Kau nggak perlu main drama di depanku. Aku muak lihat kepura-puraanmu.”

Dikta mengangkat kepalanya, matanya merah dibuat-buat. “Aku nggak pura-pura! Aku dan Nana saling mencintai, kau tahu itu!” serunya, nada suaranya meninggi seolah benar-benar tersakiti.

Hansen terdiam lama, menatap pria itu seperti sedang menatap makhluk menjijikkan.

Di dalam hatinya, suara lirih bergema—suara yang ia benci karena begitu menyedihkan.

“Nana… kau memang terlalu mencintai pria bodoh ini. Kau buta karena cinta, sampai tak bisa melihat betapa busuknya dia.”

Ia menatap Dikta sekali lagi, kali ini dengan pandangan penuh iba sekaligus benci.

“Cinta?” ujarnya pelan, namun nadanya dingin menusuk. “Kalau itu cinta, maka aku tak mau tahu bagaimana rupa kebencian.”

Dikta hanya terdiam, berpura-pura menunduk dalam duka, sementara di balik ekspresi palsunya, ia justru menyeringai dalam hati.

Bagi Hansen, semuanya jelas—Dikta hanyalah aktor murahan dalam tragedi yang mencabik hidup adiknya.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Dikhianati Suami Payah, Dicintai Pria Berkuasa   Satu Bathtub Dengan Andreas

    Aku baru sampai dari kantor. Tubuhku lengket oleh keringat dan kelelahan. Andreas tidak menjemput. Kesalku menumpuk. Kalau saja tahu dia akan seenaknya begini, lebih baik tadi aku bawa mobil sendiri. Aku menurunkan tubuh ke dalam bathtub. Air hangat merendamku. Aroma terapi memenuhi udara, perlahan meredakan penat. Aku memejamkan mata, mencoba tenang. Lalu aku merasakan sentuhan hangat di wajahku. Aku membuka mata. Andreas duduk di sisi bathtub, menatapku. Refleks aku menutupi tubuhku dengan tangan, meski air dan busa sudah menutupinya. “Hei! Kamu ngapain?” tanyaku panik. Andreas berdiri dan melangkah ke belakangku. Kehadirannya terasa dekat. Terlalu dekat. “Bagaimana kalau aku bantu kamu mandi?” ucapnya singkat. “Dasar cabul,” balasku cepat. Ia tidak membantah. Hanya menatapku sejenak tatapan yan

  • Dikhianati Suami Payah, Dicintai Pria Berkuasa   Jalur yang Salah

    “Enggak ngapa-ngapain?” “Iya,” jawab Andreas datar. “Tentu saja. Aku bukan orang yang suka memanfaatkan orang yang nggak sadar.” Ia melangkah satu langkah mendekat. “Aku lebih suka kalau kamu memberikannya dengan sadar.” Tubuh Andreas condong ke arahku. Wajahnya semakin dekat. Aku bisa merasakan hangat napasnya menyentuh kulitku. Aku segera mendorong dadanya dengan ujung telunjuk. “Apasih?” kataku gugup. “Lagian aku lagi hamil muda, tahu. Nggak boleh gituan.” Andreas terkekeh pelan. “Gituan apa?” Ia mencondongkan wajahnya sedikit. “Gini?” Bibirnya menyentuh bibirku singkat. Sialnya, aku tidak menolak. Aku justru memejamkan mata dan membalas ciumannya. Kepalaku kosong. Semua nasihat dokter, semua rasa takut, mendadak menguap. Saat ciuman itu mulai kehila

  • Dikhianati Suami Payah, Dicintai Pria Berkuasa   Antara Marah dan Malu

    Itu adalah rasa takut Anda sendiri.” Ruangan hening. “Apakah saya gila, Dok?” tanyaku akhirnya. Dr. Melita menggeleng. “Tidak. Anda hanya kelelahan secara mental. Dan Anda butuh waktu untuk memisahkan mimpi dari kenyataan.” Ia tersenyum tipis. “Dan satu hal penting selama Anda masih bisa mempertanyakan mimpi itu, Anda masih sepenuhnya waras.” Tanganku mengepal perlahan. Namun entah kenapa… rasa takut itu belum sepenuhnya pergi. Dr. Melita kembali membuka catatannya. “Nadira, ada beberapa hal yang bisa Anda lakukan untuk menghadapi mimpi-mimpi itu,” katanya tenang. Ia menggeser kursinya sedikit lebih dekat. “Pertama, jangan melawan mimpi itu.” Aku mengernyit. “Maksudnya?” “Semakin Anda takut dan berusaha menghindarinya, otak justru menganggap mimpi itu sebagai ancaman nyata,” jelasnya. “Akhirnya mimpi itu terus berulang, bahkan semakin detail.” Aku mengangguk pelan. “Kedua,” lanjutnya, “Anda perlu membedakan waktu sadar dan waktu tidur. Sebelum tidur, laku

  • Dikhianati Suami Payah, Dicintai Pria Berkuasa   Bertemu Psikiater

    Ya, kenapa aku bisa nggak kepikiran sampai sana? Semua itu cuma mimpi. Kenapa aku harus setakut ini? Catalina menatapku lalu mendengus kecil. “Aku kira kamu harus ke dokter jiwa, deh,” katanya sambil meledek. Aku hampir membalas ketika pintu kamar terbuka. Andreas masuk membawa keranjang buah. Wajahnya tetap datar seperti biasa. Catalina melirikku, lalu berdiri. “Aku pulang dulu, ya.” Ia mendekat dan berbisik di telingaku sambil melirik Andreas yang sedang menaruh buah di nakas. “Kamu belum cerita soal dia.” Aku hanya menatapnya kesal. Catalina lalu sedikit membungkuk ke arah Andreas. “Tuan Andreas, aku permisi dulu.” Andreas hanya mengangguk singkat. Tidak ada senyum. Tidak ada basa-basi. Setelah Catalina pergi, Andreas duduk di sisi ranjang. “Kamu mau makan buah?” tanyanya. “Mau,” jawabku. “Kamu mau apa?” “Apel.” Ia bangkit, mengambil satu apel, lalu mengupasnya dengan tenang. Setelah selesai, apel itu diserahkan padaku tanpa kata-kata tambahan. Tak lam

  • Dikhianati Suami Payah, Dicintai Pria Berkuasa   Mulai Sadar

    Aku membuka mata. Aroma obat-obatan langsung menyusup ke hidungku. Tenggorokanku terasa kering, kepalaku masih berat. Samar-samar, aku mendengar percakapan dua orang yang suaranya sangat kukenal. “Sumpah, aku nggak tahu,” suara Catalina terdengar panik. “Aku datang, aku bicara, dia bengong lalu natap aku aneh, kayak ketakutan. Habis itu dia pingsan.” “Apa yang kamu katakan?” suara Andreas terdengar datar, tapi ada tekanan di sana. “Aku cuma nanya apa dia serius mau menikah sama Dikta. Itu pertanyaan biasa. Sebelumnya aku juga sering nanya hal yang sama.” Aku memejamkan mata lagi. Jelas aku yang berlebihan. Terlalu larut dalam mimpi. Terlalu takut pada sesuatu yang bahkan belum tentu nyata. Tak lama kemudian, suara pintu terbuka. Langkah kaki yang kukenal mendekat. Aku tidak membuka mata, pura-pura masih tertidur. Aroma itu. Aku tahu. Andreas. Ia duduk di samping ranjang. Tangannya menggenggam tanganku, hangat. Lalu bibirnya menyentuh punggung tanganku dengan lemb

  • Dikhianati Suami Payah, Dicintai Pria Berkuasa   Bertemu Catalina

    Aku baru saja menyelesaikan rapat ketika Bayu masuk dengan wajah ragu. “Bu Nadira, ada tamu.” “Siapa?” tanyaku tanpa menoleh. “Keluarga Dikta,” ucap Bayu pelan, seperti takut salah bicara. Tanganku langsung menggebrak meja. Suaranya keras, membuat Bayu terperangah dan refleks menegakkan badan. “Di mana mereka?” tanyaku dingin. “Menunggu di lobi.” Aku berdiri dan langsung melangkah keluar. Bayu mengikutiku dari belakang. Begitu sampai di lobi, dua manusia tua itu sudah berdiri dengan dagu terangkat, seolah merekalah yang punya kuasa di gedung ini. “Nadira,” kata perempuan tua itu sinis. “Mentang-mentang sudah jadi CEO, kamu memperlakukan keluarga calon suamimu begini?” Aku menatap mereka tanpa ekspresi. Ayah Dikta ikut bicara. “

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status