MasukCahaya matahari pagi menerobos lembut melalui celah tirai, menyinari wajah Nana yang masih terlelap di ranjang luas berseprai putih. Hangatnya sinar mentari memaksa kelopak matanya terbuka perlahan.
Sesaat, pandangannya kosong. Langit-langit kamar asing itu tak memberinya rasa nyaman sedikit pun. Aroma maskulin samar menyelimuti udara, membuatnya semakin bingung. ‘Di mana aku?’ batinnya panik. Lalu, kilasan demi kilasan semalam menyerbu kepalanya. Musik keras, tawa, gelas-gelas beradu... dan seorang pria asing yang tatapannya membuatnya kehilangan kendali atas dirinya sendiri. Ciuman panas, sentuhan yang tak seharusnya, dan... semuanya kembali jelas di kepalanya. Nana memejamkan mata, jantungnya berdebar keras. Rasa malu dan penyesalan bercampur jadi satu. “Ya Tuhan... apa yang sudah kulakukan?” bisiknya serak. “Bagaimana kalau orang tahu aku—” Ia menutup mulutnya sendiri, menahan sesal. Ia menoleh pelan ke samping. Di sana, seorang pria tengah terlelap, tubuhnya setengah tertutup selimut putih. Bahunya bidang, wajahnya teduh namun berwibawa—dan bahkan saat tertidur pun, auranya seperti mendominasi seluruh ruangan. Nana terpaku. “Astaga…” gumamnya lirih, hampir tanpa suara. “Dia… tampan sekali.” Ia menelan ludah, menelusuri wajah pria itu dari rahang tegas hingga bibir tipis yang sedikit terbuka. Tapi kemudian, ia menggeleng cepat. “Stop, Nana! Kamu seharusnya menyesal, bukan malah kagum!” Namun rasa itu sulit dibendung. Ada sesuatu pada pria itu—bukan hanya ketampanan, tapi wibawa yang membuatnya seolah tak bisa berpaling. “Aku harus pergi,” bisiknya mantap. “Sebelum aku benar-benar kehilangan akal.” Dengan hati-hati, Nana melepaskan pelukan tangan pria itu yang melingkar di pinggangnya. Gerakannya lembut, nyaris tanpa suara. Setiap kali tubuhnya bergeser, aroma tubuh pria itu menyeruak lagi, membuat pikirannya kacau. Begitu berhasil bangkit, Nana merasakan tubuhnya pegal luar biasa. Ia meringis, berusaha menenangkan napasnya. Cepat-cepat ia memungut pakaiannya yang berserakan di lantai, lalu memakainya dengan gugup. Sebelum pergi, ia menatap sosok di ranjang itu sekali lagi. “Maaf ya, Ganteng,” gumamnya lirih. “Kau mungkin pria asing yang tak akan pernah kuingat... tapi malam itu—aku tak akan lupa.” Ia menarik napas panjang, lalu menyelinap keluar dengan langkah ringan namun tergesa. Di luar, udara pagi menampar lembut wajahnya. Dingin, tapi menenangkan. Nana berjalan cepat ke arah mobilnya yang terparkir tak jauh dari bar itu. Begitu duduk di kursi kemudi, ia menyalakan laptop kecilnya dan mulai mengetik dengan cepat. Jari-jarinya menari di atas keyboard, menembus sistem keamanan bar dengan kecepatan luar biasa. “Oke, Nana... fokus. Hapus semua jejak, seperti biasa.” Satu per satu rekaman CCTV muncul di layar. Ia melihat bayangan dirinya—mabuk, tersenyum bodoh, menggandeng pria asing itu. Nana mengerutkan kening, menatap versi dirinya di layar dengan rasa muak. “Delete…” ujarnya pelan, menekan tombol dengan tegas. “Kau tidak pernah ada, Nana yang bodoh.” Setelah semua rekaman hilang, ia menutup laptop dan bersandar. Sebuah senyum miring terlukis di bibirnya. “Selesai. Tak ada bukti, tak ada masalah.” Mobil melaju di bawah sinar matahari yang mulai meninggi. Radio memutar lagu lama, tapi pikiran Nana melayang jauh. Ia mencoba menenangkan diri, meski dadanya masih sesak. “Dikta...” suaranya pelan, nyaris seperti gumaman. “Kau mengkhianatiku, membuatku hancur... dan aku malah menghancurkan diriku sendiri, semua karena kamu!” Air matanya menetes tanpa sadar. Namun segera, ia menghapusnya dengan kasar. “Tidak lagi. Aku tidak akan menangis lagi.” Ia menarik napas panjang, mencoba menenangkan diri. Tapi takdir tampaknya belum selesai bermain. Dari arah berlawanan, sebuah truk melaju dengan kecepatan tinggi. Klakson panjang menggema keras. Nana menoleh — terlambat. “Astaga—!” BRAAAKK!!! Suara benturan keras mengguncang jalanan. Mobil Nana terbalik beberapa kali sebelum berhenti di sisi jalan, ringsek tak berbentuk. Asap tipis keluar dari kap mobil, kaca pecah berserakan di mana-mana. Tubuh Nana terkulai, darah menetes dari pelipisnya. Napasnya tersengal, dunia mulai gelap di matanya. Beberapa meter dari tempat kejadian, sebuah mobil hitam berhenti tenang di balik bayangan pepohonan. Di dalamnya, seorang wanita berwajah cantik tapi dingin menatap pemandangan itu tanpa emosi. Ia menurunkan sedikit kaca jendela, membiarkan udara bercampur bau bensin dan logam terbakar masuk. Senyum tipis terukir di bibir merahnya. “Akhirnya... selesai juga.” Tatapannya menajam, penuh kebencian yang membeku. “Selamat tinggal, Nadira Seraphine.” Ia menaikkan kembali kaca mobil, menyalakan mesin, dan melaju pergi tanpa menoleh sedikit pun. Hanya bayangan mobil hitamnya yang tersisa, menelan sunyi di jalanan itu. *** Asap hitam mulai membubung dari kap mobil yang ringsek. Bau bensin menyengat menusuk hidung, bercampur dengan aroma darah dan debu. Nana membuka matanya perlahan. Pandangannya buram, bercampur warna merah dan abu. Tubuhnya nyaris tak bisa digerakkan, tapi naluri bertahan hidup memaksanya untuk tetap sadar. “Agh...” desahnya lirih. “Sakit... Tuhan...” Ia mencoba menarik napas, tapi paru-parunya seperti diremas. Di sudut bibirnya, darah menetes, mengalir pelan di dagu. Kilasan wajah Dikta muncul di benaknya — senyum palsu, janji manis, dan pengkhianatan yang menghancurkan segalanya. Lalu wajah adiknya... wajah yang dulu ia percayai, kini penuh pengkhianatan yang sama kejamnya. “Aku... nggak mau mati di sini...” suaranya pecah, nyaris tak terdengar. “Aku masih... punya dendam...” Air matanya bercampur darah di pipi. Ia menggenggam sabuk pengaman dengan gemetar, mencoba melepaskannya. Suara logam berdecit saat sabuk itu akhirnya terlepas. “Dikta...” desisnya lemah. “Kau belum... bayar semuanya...” Tangannya gemetar, berusaha meraih gagang pintu. Setiap gerakan membuat rasa sakit menembus tulang, tapi Nana tetap memaksa. “Dan kau juga... adikku...” gumamnya getir. “Kau tikam aku... dengan cara paling kejam...” Dengan sisa tenaga, ia menendang pintu mobil dari dalam. Sekali, dua kali — tak berhasil. Tapi pada tendangan ketiga, pintu terbuka sedikit. Asap semakin pekat, api mulai menjilat bagian depan mobil. “Ayolah, Nana... kamu nggak boleh mati sekarang...” katanya lirih, memotivasi dirinya sendiri. Ia menyeret tubuhnya keluar perlahan, setengah merangkak di aspal yang panas. Kulit lengannya tergores, darah mengalir di mana-mana. Setiap inci gerakannya adalah penderitaan. Dari kejauhan, beberapa warga yang mendengar suara tabrakan mulai berlari mendekat. “Astaga! Ada kecelakaan!” “Cepat, bawa air! Mobilnya bisa meledak!” Seorang pria muda berlari lebih dulu, menutupi wajahnya dari asap. Ia melihat sosok Nana yang berlumuran darah, masih berusaha merangkak menjauh dari mobil. “Nona! Tahan! Jangan gerak dulu!” teriaknya. “Tolong... jangan... biarkan aku mati di sini...” bisik Nana, matanya hampir terpejam. Pria itu segera menunduk, menarik tubuh Nana dengan hati-hati. Beberapa warga lain datang membawa kain basah dan mencoba memadamkan api kecil di dekat mobil. “Cepat! Tarik dia menjauh!” “Bensinnya bocor, bisa meledak!” Tubuh Nana terangkat perlahan. Darahnya menetes di jalanan, meninggalkan jejak panjang. Ia sempat menatap ke langit — samar, seperti bayangan di balik kabut. “Aku... belum selesai...” suaranya lemah, nyaris seperti desahan terakhir. “Aku... masih ingin... hidup.” Begitu kalimat itu meluncur dari bibirnya, suara ledakan keras memecah udara. BROOMMM!!! Mobil itu meledak dalam kobaran api besar, menggetarkan tanah di sekitarnya. Suhu panas menyapu wajah orang-orang yang menolongnya. “Ya Tuhan! Mobilnya meledak!” “Cepat bawa dia ke rumah sakit!” Asap tebal menutupi langit. Beberapa warga menutupi wajah mereka, sementara dua pria mengangkat tubuh Nana ke dalam mobil bak terbuka. Nana sempat membuka matanya sedikit — pandangannya kabur, tapi ada senyum samar di bibirnya. “Aku... masih hidup... kan?” tanyanya lirih. Pria di sebelahnya menjawab dengan panik. “Iya, Nona! Tenang, sebentar lagi sampai rumah sakit! Bertahan, ya!” Namun sebelum suara itu sepenuhnya sampai ke telinganya, dunia mulai memudar. Suara jeritan, deru mesin, dan bau asap perlahan menghilang. Yang tersisa hanyalah gelap, dan suara hatinya sendiri yang berbisik lemah— “Aku tidak akan mati... sebelum mereka membayar semuanya...” *** Sementara itu cahaya pagi menyusup pelan lewat tirai tebal kamar Bar Pulse. Andreas Leonard Vaughan membuka mata dengan enggan; kepalanya berdenyut, rasa alkohol semalam masih menempel seperti aroma parfum yang tak mau hilang. Ia mengepalkan bibir, mencoba merangkai potongan-potongan malam yang samar di benaknya. Kilasan pesta, lampu yang berputar, tawa yang menggema—dan seorang wanita yang bergerak seperti badai, penuh tantangan. Andreas tersenyum tipis, napasnya mengepul dingin. Di sampingnya, ranjang kosong; jejak tubuh itu sudah lenyap. “Ada yang berani kabur setelah menikmati malamku?” gumamnya dengan nada sinis, setengah mengejek diri sendiri. Ia duduk, menyibak selimut, lalu meluruskan punggungnya dengan gaya penguasa yang tak pernah tergesa. “Anda sudah jadi milikku semalam, nona manis,” ucapnya pelan, suaranya datar tapi sarat janji. “Cepat atau lambat, aku akan menemukanmu.” Kata-kata itu bukan ancaman kosong—itu adalah kepastian. Ponsel di meja sampingnya bergetar. Andreas meraih alat itu tanpa mau kehilangan ritme, lalu menekan nomor yang sudah familiar. “Dirga,” suaranya tegas ketika sambungan terhubung. Tidak ada basa-basi, tidak ada kelembutan—hanya perintah yang dibungkus sopan. Dari seberang, suara Dirga, ringan tapi sigap, menjawab, “Ada, Bos. Mau saya atur apa hari ini?” “Batalkan semua jadwalku. Ada urusan penting,” perintah Andreas singkat. Ia menaruh ponsel sekejap di bibirnya, menatap ke arah jendela yang menghadap kota. Cahaya kota tampak tak berdaya di hadapannya. “Dan cari tahu siapa gadis semalam. Semua data—nama, alamat, koneksi—aku mau semuanya dalam waktu sesingkat-singkatnya.” Nada suaranya menandakan ia tak memberi ruang untuk kegagalan. “Baik, Bos. Akan saya urus,” balas Dirga, nada profesional yang tak pernah melepas sentuhan setia. Andreas meletakkan ponsel, tersenyum tipis—bukan karena ramah, melainkan karena permainan dimulai. Di matanya, kota itu kini menjadi papan catur, dan dia, tentu saja, sudah tahu langkah pertama yang harus diambil.Aku baru sampai dari kantor. Tubuhku lengket oleh keringat dan kelelahan. Andreas tidak menjemput. Kesalku menumpuk. Kalau saja tahu dia akan seenaknya begini, lebih baik tadi aku bawa mobil sendiri. Aku menurunkan tubuh ke dalam bathtub. Air hangat merendamku. Aroma terapi memenuhi udara, perlahan meredakan penat. Aku memejamkan mata, mencoba tenang. Lalu aku merasakan sentuhan hangat di wajahku. Aku membuka mata. Andreas duduk di sisi bathtub, menatapku. Refleks aku menutupi tubuhku dengan tangan, meski air dan busa sudah menutupinya. “Hei! Kamu ngapain?” tanyaku panik. Andreas berdiri dan melangkah ke belakangku. Kehadirannya terasa dekat. Terlalu dekat. “Bagaimana kalau aku bantu kamu mandi?” ucapnya singkat. “Dasar cabul,” balasku cepat. Ia tidak membantah. Hanya menatapku sejenak tatapan yan
“Enggak ngapa-ngapain?” “Iya,” jawab Andreas datar. “Tentu saja. Aku bukan orang yang suka memanfaatkan orang yang nggak sadar.” Ia melangkah satu langkah mendekat. “Aku lebih suka kalau kamu memberikannya dengan sadar.” Tubuh Andreas condong ke arahku. Wajahnya semakin dekat. Aku bisa merasakan hangat napasnya menyentuh kulitku. Aku segera mendorong dadanya dengan ujung telunjuk. “Apasih?” kataku gugup. “Lagian aku lagi hamil muda, tahu. Nggak boleh gituan.” Andreas terkekeh pelan. “Gituan apa?” Ia mencondongkan wajahnya sedikit. “Gini?” Bibirnya menyentuh bibirku singkat. Sialnya, aku tidak menolak. Aku justru memejamkan mata dan membalas ciumannya. Kepalaku kosong. Semua nasihat dokter, semua rasa takut, mendadak menguap. Saat ciuman itu mulai kehila
Itu adalah rasa takut Anda sendiri.” Ruangan hening. “Apakah saya gila, Dok?” tanyaku akhirnya. Dr. Melita menggeleng. “Tidak. Anda hanya kelelahan secara mental. Dan Anda butuh waktu untuk memisahkan mimpi dari kenyataan.” Ia tersenyum tipis. “Dan satu hal penting selama Anda masih bisa mempertanyakan mimpi itu, Anda masih sepenuhnya waras.” Tanganku mengepal perlahan. Namun entah kenapa… rasa takut itu belum sepenuhnya pergi. Dr. Melita kembali membuka catatannya. “Nadira, ada beberapa hal yang bisa Anda lakukan untuk menghadapi mimpi-mimpi itu,” katanya tenang. Ia menggeser kursinya sedikit lebih dekat. “Pertama, jangan melawan mimpi itu.” Aku mengernyit. “Maksudnya?” “Semakin Anda takut dan berusaha menghindarinya, otak justru menganggap mimpi itu sebagai ancaman nyata,” jelasnya. “Akhirnya mimpi itu terus berulang, bahkan semakin detail.” Aku mengangguk pelan. “Kedua,” lanjutnya, “Anda perlu membedakan waktu sadar dan waktu tidur. Sebelum tidur, laku
Ya, kenapa aku bisa nggak kepikiran sampai sana? Semua itu cuma mimpi. Kenapa aku harus setakut ini? Catalina menatapku lalu mendengus kecil. “Aku kira kamu harus ke dokter jiwa, deh,” katanya sambil meledek. Aku hampir membalas ketika pintu kamar terbuka. Andreas masuk membawa keranjang buah. Wajahnya tetap datar seperti biasa. Catalina melirikku, lalu berdiri. “Aku pulang dulu, ya.” Ia mendekat dan berbisik di telingaku sambil melirik Andreas yang sedang menaruh buah di nakas. “Kamu belum cerita soal dia.” Aku hanya menatapnya kesal. Catalina lalu sedikit membungkuk ke arah Andreas. “Tuan Andreas, aku permisi dulu.” Andreas hanya mengangguk singkat. Tidak ada senyum. Tidak ada basa-basi. Setelah Catalina pergi, Andreas duduk di sisi ranjang. “Kamu mau makan buah?” tanyanya. “Mau,” jawabku. “Kamu mau apa?” “Apel.” Ia bangkit, mengambil satu apel, lalu mengupasnya dengan tenang. Setelah selesai, apel itu diserahkan padaku tanpa kata-kata tambahan. Tak lam
Aku membuka mata. Aroma obat-obatan langsung menyusup ke hidungku. Tenggorokanku terasa kering, kepalaku masih berat. Samar-samar, aku mendengar percakapan dua orang yang suaranya sangat kukenal. “Sumpah, aku nggak tahu,” suara Catalina terdengar panik. “Aku datang, aku bicara, dia bengong lalu natap aku aneh, kayak ketakutan. Habis itu dia pingsan.” “Apa yang kamu katakan?” suara Andreas terdengar datar, tapi ada tekanan di sana. “Aku cuma nanya apa dia serius mau menikah sama Dikta. Itu pertanyaan biasa. Sebelumnya aku juga sering nanya hal yang sama.” Aku memejamkan mata lagi. Jelas aku yang berlebihan. Terlalu larut dalam mimpi. Terlalu takut pada sesuatu yang bahkan belum tentu nyata. Tak lama kemudian, suara pintu terbuka. Langkah kaki yang kukenal mendekat. Aku tidak membuka mata, pura-pura masih tertidur. Aroma itu. Aku tahu. Andreas. Ia duduk di samping ranjang. Tangannya menggenggam tanganku, hangat. Lalu bibirnya menyentuh punggung tanganku dengan lemb
Aku baru saja menyelesaikan rapat ketika Bayu masuk dengan wajah ragu. “Bu Nadira, ada tamu.” “Siapa?” tanyaku tanpa menoleh. “Keluarga Dikta,” ucap Bayu pelan, seperti takut salah bicara. Tanganku langsung menggebrak meja. Suaranya keras, membuat Bayu terperangah dan refleks menegakkan badan. “Di mana mereka?” tanyaku dingin. “Menunggu di lobi.” Aku berdiri dan langsung melangkah keluar. Bayu mengikutiku dari belakang. Begitu sampai di lobi, dua manusia tua itu sudah berdiri dengan dagu terangkat, seolah merekalah yang punya kuasa di gedung ini. “Nadira,” kata perempuan tua itu sinis. “Mentang-mentang sudah jadi CEO, kamu memperlakukan keluarga calon suamimu begini?” Aku menatap mereka tanpa ekspresi. Ayah Dikta ikut bicara. “







