Masuk“Kak, jangan tinggalin aku…” Aku melihat diriku sendiri kecil, berseragam SD berjalan terseok menguntit di belakang Kak Hansen. “Ayo, jalan lebih cepat,” ucap Kak Hansen tanpa menoleh, sama sekali tak peduli. Menyebalkan. Selalu begitu. Tiba-tiba seorang pria bertubuh gendut berjongkok tepat di depanku. Wajahnya bulat, senyumnya lebar. Pipinya seperti Bapau isi daging yang penuh. “Ayo naik. Biar aku yang gendong.” Tanpa ragu aku memanjat punggungnya, melingkarkan tangan di lehernya. “Kok bukan kamu saja yang jadi kakakku?” tanyaku polos. Pria itu tertawa kecil. “Anggap saja aku juga kakakmu.” Aku menggeleng kuat. “Nggak. Aku mau kamu jadi suamiku saja.” Dia kembali tertawa. “Dasar bocah. Emangnya kamu tahu apa itu suami?” “Aku tahu,” jawabku yakin. “Orang yang nemenin sampai mati. Melindungi dan menjaga. Aku mau kamu yang lakuin itu buat aku.” Langkah pria itu terhenti sesaat. Lalu suaranya terdengar lebih pelan, lebih dalam. “Baik. Kalau begitu aku akan memant
Suara itu, suaraku membuat Andreas menoleh. Wajahnya langsung memucat. “Nadira?” katanya kaget. “Kenapa kamu di sini?” Aku mendekat dengan langkah gemetar. “Apa yang aku dengar barusan… Kak Hansen?” Andreas diam. Aku mencengkeram kerah kemejanya. “Katakan apa yang terjadi!” Dia tetap diam. Tanganku gemetar, lalu... Plak! Tamparan itu mendarat di pipinya. Dia tidak melawan. “Katakan, bajingan!” teriakku. Plak! Tamparan kedua. “Nadira, tenang,” katanya akhirnya, mencoba meraih tanganku. “Kamu lagi hamil...” “Tenang?” aku menjerit. “Kamu bilang Kak Hansen ke luar negeri! Sekarang dia kritis di rumah sakit?! Apa sebenarnya ini?!” Aku menepis tangannya. Air mataku jatuh tak terbendung. Perawat itu mendekat dengan wajah cemas. “Mohon maaf, jangan membuat keributan. Pasien butuh istirahat.” Aku terisak. Andreas akhirnya memelukku erat. “Baik,” katanya pelan di dekat telingaku. “Aku akan ceritakan semuanya. Tapi kamu harus tenang.” Ia membawaku duduk. Dan
Wajah Andreas seketika berubah pucat. Tidak ada lagi ketenangan, tidak ada lagi sikap dingin. Panik murni. “Aku panggil ambulans. Jangan bergerak,” ucapnya cepat sambil meraih ponsel. “Apa aku… pendarahan?” bisikku dengan suara nyaris tak terdengar. Ketakutan menjalar ke seluruh tubuhku, lebih menyakitkan dari kram itu sendiri. Andreas kembali ke sisiku, menggenggam tanganku erat. “Tatap aku. Kamu nggak kenapa-kenapa. Dengar? Aku di sini.” Namun di balik genggaman tangannya yang kuat, aku bisa merasakan hal yang sama seperti yang kurasakan... ketakutan yang luar biasa. Di dalam ambulans aku terus merintih kesakitan. Rasa nyerinya luar biasa, membuat tubuhku gemetar tak terkendali. Napasku tersengal, keringat dingin membasahi pelipisku. “Bertahanlah,” suara Andreas terdengar cemas, hampir bergetar. “Sakit… sakit banget…” Tanpa sadar kuku-kukuku menancap di punggung tangannya. Namun dia sama sekali tidak mengeluh, justru menggenggamku lebih erat. Pikiranku melayang pada
Saat kami melangkah keluar dari restoran, semua terjadi begitu cepat. Entah dari mana, Maudy tiba-tiba muncul dan langsung mendorongku. “Aa...!” Aku memekik kaget. Tubuhku hampir terjungkal kalau saja Andreas tidak sigap menangkapku dan menarikku ke dalam pelukannya. Tangannya refleks melindungi perutku. Napasku tersengal. Bayi ini… pikiranku langsung kacau. “Hey, Maudy! Kamu gila, ya?!” bentakku marah. Maudy menatapku dengan mata merah dan napas berbau alkohol. “Kamu yang gila! Kakak macam apa ninggalin aku begitu aja?!” “Dasar nggak tahu malu,” balasku tajam. Dia tertawa sinis. “Kebanyakan omong. Aku butuh uang.” Aku langsung menggeleng. “Mimpi.” Namun Andreas justru melangkah maju. Dari saku jasnya, ia mengeluarkan kartu hitam dan menyodorkannya ke arah Maudy. “Di dalamnya ada sepuluh juta. Ambil. Dan jangan ganggu Nadira lagi.” Aku menoleh cepat. “Andreas...” “Nggak apa-apa,” katanya singkat, tanpa menatapku. Maudy merebut kartu itu, lalu mencibir. “Cuma se
Aku sedang makan mi instan saat Andreas datang. Langkahnya terhenti begitu melihat mangkuk di hadapanku. Alisnya langsung berkerut. Tanpa aba-aba, dia mengambil mangkuk mi itu dari tanganku, lalu meletakkannya jauh. Sebagai gantinya, dia mendorong sepotong roti dan segelas susu ke hadapanku. “Kamu lagi hamil,” ucapnya tegas. Aku mendengus. “Aku baru makan dua suap.” “Lain kali satu suap pun nggak boleh,” balasnya dingin, tanpa nada bercanda. Aku memutar bola mata. “So perhatian banget.” Tiba-tiba Andreas menggeser kursiku hingga tubuhku menghadap langsung ke arahnya. Dia setengah berjongkok, wajahnya kini sejajar dengan wajahku. Jarak kami terlalu dekat. Tatapannya tajam, menusuk. “Aku beneran perhatian,” katanya rendah. Aku menelan ludah. Kata-kata itu membuatku kehilangan suara. Aku bahkan bisa merasakan hembusan napasnya yang hangat di kulitku. Aneh, padahal kami sudah tidur bersama, akan menikah, bahkan punya anak. Tapi setiap kali dia sedekat ini, jantungku tetap
Aku keluar dari kamar dan mendapati Andreas sedang bergelut dengan laptopnya. Jari-jarinya bergerak cepat di atas papan ketik, rahangnya mengeras, sorot matanya serius. Entah mengapa pria itu selalu terlihat sibuk, seolah beban dunia bertumpu di pundaknya seorang diri. Aku duduk di sebelahnya sambil mendengus pelan. “Ada apa?” tanyanya tanpa mengalihkan pandangan dari layar. “Aku mulai khawatir sama Kak Hansen,” ucapku akhirnya. Andreas berhenti mengetik. Ia menoleh, menyipitkan mata. “Kenapa tiba-tiba?” Aku menggeleng. “Aku nggak tahu. Cuma… pirasat. Rasanya nggak enak. Kayak ada sesuatu yang bahkan aku sendiri nggak paham.” Belum sempat Andreas menjawab, ponselnya berdering. Ia mengangkat panggilan itu. Aku tak bisa mendengar jelas suara di seberang, tapi cukup melihat perubahan di wajahnya tegang, lalu panik. Ia langsung bangkit, menyambar jaket, dan memasukkan ponsel ke saku celananya. “Aku pergi dulu,” katanya singkat. “Kemana?” tanyaku. “Ini sudah larut.” “Ad







