Share

Bab 3

Penulis: Liora Z
Aku membungkuk dan ambil kantong pakaian yang basah itu. Perlahan, aku buka ritsletingnya. Di dalamnya ada sebuah gaun merah.

Nggak, itu bukan gaun. Itu kostum pelayan murahan. Jenis yang biasanya dijual di toko dewasa. Belahannya begitu rendah hingga hampir sentuh pusar, dan roknya nyaris nggak lebih besar dari perangko. Bahan poliester kasar itu terasa seperti amplas di kulitku yang dingin.

Toni menyeringai, suaranya penuh kesombongan.

"Bos bilang ini kesempatan terakhirmu. Pakai ini dan datang ke pesta penutupan Greta untuk acara peragaan busana di Penida malam ini dan sajikan minuman. Kalau kamu kerja dengan baik, mungkin besok rekeningmu dibuka lagi. Bahkan, dia akan siapkan kursi untukmu di pernikahan, supaya kamu bisa nonton dari bangku penonton."

Toni berhenti sejenak, kilatan kejam terlihat di matanya.

"Ini kehormatan besar, Nona Olivia. Banyak wanita lain yang rela lakukan apapun demi kesempatan seperti ini."

Hujan badai menghantam wajahku, perih seperti ribuan jarum kecil. Tubuhku gemetar karena dingin, tapi punggungku tetap tegak.

Suaraku tajam, membelah angin.

"Kasih tahu Marcel, pergi ke neraka sana!"

Wajah Toni langsung berubah muram.

"Dasar jalang nggak tahu terima kasih!"

Toni kibaskan tangannya. Dua pengawal bertubuh besar keluar dari mobil.

"Kamu mau cara kasar? Oke."

Mereka tangkap lenganku, memelintirnya ke belakang

"Lepaskan aku!"

Aku melawan, tapi setelah dua jam diterpa hujan badai, tubuhku terlalu lemah.

Toni sumpalkan kostum pelayan kotor itu ke tanganku.

"Perintah Marcel. Kamu harus pakai ini dengan cara apa pun."

Dengan kasar dia dorong aku ke arah mobil.

"Masuk!"

Aku dipaksa masuk ke kursi belakang. Pintunya tertutup keras seperti penutup peti mati.

Escalade itu melaju menembus hujan badai. Pengemudi nyalakan AC dingin maksimal, ubah mobil itu menjadi seperti lemari es. Tubuhku basah kuyup hingga ke tulang. Gigiku gemetar begitu keras sampai rahangku terasa nyeri. Bibirku membiru.

Toni duduk di kursi depan, sesekali melirik ke belakang dengan wajah puas.

"Kenapa harus cari masalah, Nona Olivia? Seorang wanita cuma perlu sedikit patuh di tempat tidur, jadi dia bisa dapatkan apa saja. Kalau kamu lawan bos, yang menderita yah kamu sendiri."

Aku pejamkan mata, tolak tanggapi sampah seperti dia. Hanya satu pikiran yang bergema di benakku, ‘Marcel, kamu akan dapat balasan atas semua ini.’

Setengah jam kemudian, mobil berhenti di belakang sebuah hotel kasino mewah. Pintunya dibuka kasar.

"Keluar!"

Aku didorong keluar, hampir terjatuh.

Melalui kaca pintu belakang, aku bisa lihat pesta gemerlap di dalam. Di aula utama, Marcel berdiri bersama Greta, tertawa bersama para elite kota.

Greta mengenakan gaun Chanel yang nggak ternilai harganya, dan cincin “Pusat Hati” milikku yang berkilau di jarinya di bawah cahaya lampu.

Dia bergelayut di lengan Marcel, bersinar seperti bunga yang sedang mekar. Marcel mengenakan setelan Armani khusus, tampan dan penuh pesona.

Mereka terlihat begitu sempurna bersama. Begitu bahagia. Seolah aku nggak pernah ada.

Marcel lihat aku diseret masuk. Dia pun pamit dari kerumunan dan jalan ke arahku. Tatapannya jatuh pada kostum pelayan kotor di tanganku. Dia mengernyit.

"Kenapa penampilanmu kok bisa berantakan seperti ini?"

Dia lepas jas kasmirnya, coba selimutkan itu di pundakku, suaranya dipenuhi kepedulian palsu.

"Olivia, kamu keras kepala banget! Kalau saja kamu mau nurut, aku nggak akan biarkan kamu menderita seperti ini."

Rasa mual naik ke tenggorokanku. Aku noleh, menjauh dari sentuhannya.

"Nggak usah sentuh aku."

Wajah Marcel berubah muram. Dia melirik sekitar pastikan nggak ada yang perhatikan, lalu pojokkan aku.

"Cukup, Olivia."

Marcel cengkeram daguku begitu kuat hingga aku hampir nggak bisa napas.

"Ganti pakaian. Sekarang! Jadi pelayan Greta. Ini kesempatan terakhirmu."

Aku meronta, tapi cengkeramannya seperti besi.

"Aku nggak akan layani siapa pun. Apalagi jadi pelayan pelacurmu."

Kilatan berbahaya melintas di mata Marcel. Dia rogoh saku jasnya dan keluarkan sesuatu. Jantungku seakan berhenti. Sebuah kalung salib emas. Terukir lambang keluargaku. Satu-satunya benda yang pernah dikasih ibuku.

"Masih ingat barang ini?" Marcel gantungkan kalung itu di depan wajahku, seperti umpan untuk binatang dalam kurungan.

"Ibumu yang kasih ini, kan? Tepat sebelum dia meninggal. Kamu nggak pernah lepaskan itu, sampai aku bilang itu terlihat murahan."

Marcel tersenyum sinis, jarinya menelusuri salib itu.

"Marcel! Kembalikan!"

Aku menerjang coba raih kalung salib itu. Tapi Marcel angkat itu tinggi-tinggi, matanya dingin tanpa ampun.

"Kalau kamu mau jadi pelayan, aku akan balikin ke kamu. Kalau nggak aku lelehkan sekarang juga."

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Dikhianati di Pelaminan, Kunikahi Musuhnya   Bab 11

    Marcel tunggu di sana selama tiga hari tiga malam, tanpa makanan, tanpa air.Dia bahkan nggak tahu apa yang harus dia lakukan. Marcel cuma tahu dia harus lihat Olivia sekali lagi. Sekali saja. Bahkan jika itu berarti berlutut dan jilat debu dari sepatunya.Akhirnya, pada malam hari keempat, sebuah Rolls-Royce Phantom hitam, dikawal beberapa Cadillac, perlahan keluar dari gerbang.Marcel lihat kesempatannya. Dengan sisa tenaga terakhir, Marcel jatuhkan diri ke depan mobil.BUK!Dia mendarat keras di lutut di atas aspal. Suara tulang menghantam jalan terdengar mengerikan. Marcel berlutut di lumpur kotor, lalu mulai benturkan kepalanya ke tanah.Buk! Buk! Buk!Dahinya pecah. Darah bercampur dengan lumpur, warnai jalan jadi merah."Olivia! Tolong lihat aku sekali lagi!""Aku tahu aku salah! Aku benar-benar tahu! Aku nggak minta kamu maafkan aku, aku cuma mau hidup! Aku sekarat!"Marcel telah jatuh lebih rendah dari debu. Jendela mobil turun sedikit. Rasa hangat di dalam sana terasa dari lu

  • Dikhianati di Pelaminan, Kunikahi Musuhnya   Bab 10

    Olivia, sambil angkat sedikit gaunnya, melangkah perlahan ke tepi anak tangga altar."Marcel," ucapnya, bibir merahnya nyaris nggak gerak."Aku nggak korek sampah untuk ambil kembali sesuatu yang sudah aku buang."Rudi maju selangkah dan tarik Olivia ke dalam pelukan. Jari-jarinya yang kuat dan anggun remukkan gelas wiski yang dia pegang.Suara kaca pecah itu adalah suara harapan terakhir Marcel yang hancur."Lempar dia ke selokan di Sungai Cellini," kata Rudi tenang, seolah menutup nasib Marcel."Dan sebarkan perintah ke seluruh dunia mafia untuk bunuh dia. Siapa pun yang kasih dia makan sepotong roti, akan jadi musuh Keluarga Ahmad."Saat Marcel diseret keluar dengan rambutnya, teriakannya menggema di seluruh gereja, pintu perlahan menutup.Di detik terakhir sebelum tertutup sepenuhnya, mata merahnya lihat Rudi membungkuk dan cium bibir Olivia dengan penuh kepemilikan.Lalu dunia Marcel jadi gelap. Hidup Marcel nggak cuma sekadar mimpi buruk. Ini jauh lebih buruk dari itu. Mimpi buru

  • Dikhianati di Pelaminan, Kunikahi Musuhnya   Bab 9

    Seluruh jalan ditutup. Deretan mobil mewah membentang sejauh mata memandang.Anak buah Rudi berjaga setiap beberapa langkah, bentuk dinding manusia yang mustahil ditembus di sekitar gereja katedral.Marcel tegakkan punggungnya, berusaha kumpulkan kembali wibawa seorang Ketua Mafia Gamar yang dulu dia miliki, lalu melangkah menuju pintu masuk."Minggir sana! Aku mau ketemu Olivia!" teriaknya ke para penjaga.Dua pria itu menatapnya tanpa ekspresi. Salah satunya bahkan nggak repot-repot lihat ke arahnya."Kalau nggak ada undangan, kamu mati. Sesederhana itu."Marcel terisak, lalu ambruk di anak tangga.Dinding besar bernama status dan kekuasaan itu nyata adanya. Di tempat ini, Marcel Gamar bukan siapa-siapa.Dia berlutut di tangga yang dingin. Air mata pahit bercampur dengan hujan mengalir di mulutnya.Marcel meronta, teriak ke arah pintu, "Biarkan aku masuk! Olivia itu wanitaku! Kalian semua anjing! Suruh Rudi keluar ke sini!"Para bos keluarga yang dulu jilat Marcel sekarang jaga jarak

  • Dikhianati di Pelaminan, Kunikahi Musuhnya   Bab 8

    Kring … Kring … Kring .…Olivia angkat panggilan itu pada dering ketiga."Marcel." Suara Olivia begitu tenang tapi menakutkan, nggak ada emosi."Olivia!" Marcel langsung nangis."Tolong, selamatkan aku! Aku salah, aku benar-benar salah! Aku akan singkirkan Greta! Aku akan lakukan apa pun yang kamu mau! Tolong, Olivia! Aku nggak mau masuk penjara!"Air mata dan ingus bercampur di wajahnya.Hening. Lalu terdengar tawa dingin dari seberang."Manusia nggak akan marah kalau digigit anjing liar, tapi manusia marah ke diri sendiri karena cukup bodoh percaya ke anjing itu, " katanya datar."Olivia, aku cinta kamu! Aku selalu cinta kamu!" Marcel teriak histeris."Cinta?" Olivia terkekeh pelan."Kamu cuma cinta kekuasaan dan uang yang aku kasih ke kamu. Dan sekarang, kamu akan diburu sampai mati oleh Komisi dan musuh-musuhmu karena pengkhianatanmu.""Nggak! Olivia, jangan lakukan ini!"Klik. Sambungan terputus.Marcel menatap HP itu, dunianya runtuh jadi keputusasaan total.Tiga hari kemudian, M

  • Dikhianati di Pelaminan, Kunikahi Musuhnya   Bab 7

    "Apa maksudmu dibekukan?" Suara Marcel bergetar.Wajah Guntur pucat pasi, keringat menetes dari dagunya."Sumber utama dana bisnis ilegal keluarga terputus jam tiga pagi. Garis kredit delapan triliun hilang. Komisi minta penjelasan kenapa pendanaan kita lenyap. Semua bisnis legal kita telah disita. Pelabuhan ditutup. Bahkan para buruh pelabuhan nggak tahu lagi harus terima perintah dari siapa."Marcel menatap layar itu. Satu per satu, setiap rekening tunjukkan angka nol. Angka-angka yang dulu jadi kebanggaannya, kini lenyap tanpa jejak."Ini nggak mungkin!" raungnya."Itu uangku! Itu semua bisnisku!""Ketua Marcel .…" Guntur gemetar."Aku sudah periksa semuanya. Semua sumber dana, semua bisnis itu, berujung pada satu pemilik utama.""Siapa? Kasih tahu aku siapa yang berani sentuh uangku?!" Mata Marcel memerah.Guntur buka sebuah berkas.Jaringan rumit perusahaan cangkang dan aliran dana muncul di layar. Namun di ujung setiap garis, setiap panah menunjuk pada satu nama kode.Guntur bisi

  • Dikhianati di Pelaminan, Kunikahi Musuhnya   Bab 6

    Danau Mosa.Benteng pribadi Rudi, sebuah kastil di pulau terpencil yang dikelilingi air hitam pekat. Tempat paling aman di seluruh Cellini.Aku duduk di sofa kulit Italia, kini telah berganti pakaian hangat dan kering. Kalung ibuku kembali melingkar di leherku.Dokter baru saja selesaikan perawatan lututku, lalu pamit dengan tenang. Rudi datang bawa segelas bourbon dan selipkan itu ke tanganku. Dia duduk di sampingku, tarik aku bersama selimut yang selimuti tubuhku ke dalam pelukannya."Tim hukumku sudah siaga penuh," ujar Rudi pelan, dagunya bertumpu di atas kepalaku.Aku genggam gelas hangat itu. Mataku jernih, dingin, tajam, seperti seorang ratu yang siap berperang."Hubungkan mereka."Rudi mengangguk dan tekan tombol merah di meja. Sebuah layar besar turun perlahan, lalu terbelah jadi puluhan jendela.Nestan. La Luna. Mesto. Verona. Lumnia. Zembar. Kepulauan Cote.Jaringan global operator keuanganku, masing-masing raksasa di bidangnya, muncul satu per satu. Semua tunggu perintahku.

  • Dikhianati di Pelaminan, Kunikahi Musuhnya   Bab 2

    Aku dorong pintu itu sampai terbuka dan seketika hembusan angin dingin menghantam tubuhku. Belum sempat aku melangkah lebih jauh, dua pengawal Marcel sudah tangkap aku, masing-masing cengkeram lenganku."Bos bilang kamu perlu tenangkan diri."Mereka ambil jaket dan tas tanganku. Semua isinya mereka

  • Dikhianati di Pelaminan, Kunikahi Musuhnya   Bab 1

    Udara seakan membeku. Marcel Gamar berbalik perlahan, matanya menyipit tipis di balik kacamata berbingkai emas, menatapku dengan dingin, nggak ada emosi sedikit pun."Kamu bilang apa?" Suaranya berat, menekan, seolah penuhi seluruh ruangan.Lampu kristal di atas kepala rasanya begitu menyilaukan. Ak

  • Dikhianati di Pelaminan, Kunikahi Musuhnya   Bab 4

    Kalung salib milik ibuku adalah satu-satunya bagian dari dirinya yang masih aku miliki di dunia ini. Jari-jari Marcel mengencang di bagian rantainya. Dia hanya perlu lepaskan dan kalung itu akan jatuh ke dalam tungku api di dekat kami."Aku hitung sampai tiga," kata Marcel sambil berdiri menjulang d

  • Dikhianati di Pelaminan, Kunikahi Musuhnya   Bab 5

    Aku tutup telepon, genggam erat HP hitam itu. Air hujan yang mengalir di wajahku nggak mampu padamkan api di mataku.Hiruk-pikuk pesta terasa begitu jauh, seolah berasal dari dunia lain. Marcel dan Greta sedang nikmati puncak kejayaan mereka.Detik demi detik berlalu. Menit ke dua belas.ROARRR!Sua

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status