Short
Rumah Di Seberang Negeri, Tiga Ribu Mil Jauhnya

Rumah Di Seberang Negeri, Tiga Ribu Mil Jauhnya

Por:  EternityCompleto
Idioma: Bahasa_indonesia
goodnovel4goodnovel
10Capítulos
204visualizações
Ler
Adicionar à biblioteca

Compartilhar:  

Denunciar
Visão geral
Catálogo
ESCANEIE O CÓDIGO PARA LER NO APP

Ketika orang tuaku bercerai, pengacara mereka menyusun perjanjian hak asuh. Aku dan adikku akan tinggal bersama orang tua yang berbeda, lalu berpindah rumah setiap awal tahun ajaran baru. Pergantian itu dilakukan setiap bulan Agustus di La Serata, restoran milik Keluarga Madani. Setiap tahun, orang tuaku bertengkar soal siapa yang mendapat lebih banyak waktu bersama Sofia. "Ikut aku ke Bartis saat Hari Pengucapan Syukur," bujuk ibuku. Wajah ayahku menegang. "Tahun ini Sofia bersamaku. Dia bakal menghabiskan liburan bersamaku." Ibuku membuka kalendernya. "Tahun lalu kamu menitipkan dia kepadaku selama 19 hari lebih lama. Aku berhak mendapatkan hari-hari itu kembali. Semuanya." "Dua hari di antaranya adalah menginap saat hari sekolah. Itu nggak dihitung." Sofia menopang dagunya dengan satu tangan dan memberi mereka senyum tak berdaya seperti seorang putri yang terbebani oleh terlalu banyak perhatian. "Andai saja aku ada dua." Setengah jam kemudian, orang tuaku berkompromi dengan memesan perjalanan bersama. Barulah Sofia melirik ke arahku. "Gimana dengan Emilia?" Ayahku mengambil gelas airnya, pandangannya melewatiku. "Tahun ini dia bukan tanggung jawabku." Ibuku akhirnya menatap mataku. "Bulan depan, grup hotel akan menyelesaikan akuisisi. Aku nggak punya waktu untuk mengurus ini. Sekolah Gabriel masih memiliki kamar di asrama senior. Kamu bakal tinggal di sana." Mereka baru saja menghitung setiap jam yang dihabiskan selama Sofia jauh dari mereka. Namun, ketika menyangkut diriku, mereka bisa menyerahkan satu tahun penuh begitu saja tanpa ragu sedikit pun. Di bawah meja, aku merapikan serbet yang tadi kuremas erat dalam genggaman. Ponselku menyala. Ada pesan masuk dari Bu Helen. [ Nilai dan rekam jejakmu membuatmu berpeluang masuk ke beberapa universitas terbaik di East Coast. Beasiswa penelitian di Institut Bandar juga sangat cocok untukmu. Mana yang menjadi pilihan pertamamu? ] Aku melihat California di sisi lain peta, lalu mengetik jawabanku. [ Bandar. ] Jarak tiga ribu mil seharusnya cukup jauh untuk meninggalkan keluargaku untuk selamanya.

Ver mais

Capítulo 1

Bab 1

Bu Helen langsung membalas.

[ Apa hal ini sudah kamu bicarakan dengan orang tuamu? Bandar cukup jauh dari New Jersey, dan beasiswa penelitian penuh itu membutuhkan wawancara khusus. ]

[ Belum. Tapi aku sudah 18 tahun. Aku bisa mengambil keputusan ini sendiri. ]

"Emilia kelihatannya nggak senang harus tinggal di asrama."

Suara Sofia membuat seluruh orang di meja makan terdiam sejenak. Dia duduk di antara orang tua kami, sementara ibuku memotongkan steik untuknya. Ekspresi khawatir yang dibuat-buat itu mungkin akan menipu siapa pun yang tidak tumbuh besar bersamanya.

Tentu saja aku tidak ingin tinggal di asrama. Ibuku memiliki sebuah rumah hanya 15 menit dari sekolah. Dia lebih memilih untuk membiarkannya kosong daripada mengizinkanku tinggal di sana.

"Kamu nggak bisa sedikit mengalah pada orang dewasa untuk sekali saja?" Ibuku mengerutkan kening.

"Akuisisi ini akan menentukan arah Hotel Darjana selama lima tahun ke depan. Kalau aku membiarkanmu tinggal bersamaku lalu melewatkan salah satu krisis emosimu, kamu bakal menuduh bahwa aku nggak peduli."

Ayahku meletakkan gelas anggurnya. "Memang begitu yang dia lakukan. Tahun lalu aku melewatkan satu pertemuan orang tua dan guru, terus dia hampir nggak bicara denganku selama seminggu. Seolah-olah aku hidup dari uangnya."

Ibuku memberiku tatapan kecewa yang sudah sangat kukenal. "Sofia baru masuk kelas 11. Ini masa yang penting untuk mempersiapkan kuliah. Kenapa ayahmu nggak boleh ketemu konselornya terlebih dahulu?"

"Kalau kelas 11 begitu penting, kenapa kalian berdua nggak datang ketika aku SMA?"

Ibuku terdiam sejenak. "Saat itu Sofia baru naik kelas 10. Kami perlu memastikan dia bisa menyesuaikan diri."

"Orientasinya nggak bersamaan dengan pertemuan orang tua di sekolahku. Kalian nggak punya acara lain. Kalian melupakannya."

Untuk kali ini, aku tidak buru-buru mencari alasan untuk membela mereka.

Ayahku langsung lepas tangan. "Tahun itu kamu bersama ibumu. Kalau ada yang harus meminta maaf kepadamu, itu bukan aku."

Sofia mengetukkan garpunya ke piring. "Sudahlah, Em. Ini satu-satunya makan malam dalam setahun yang kita jalani bersama. Kenapa mengungkit masa lalu hanya karena satu pertemuan bodoh?"

Satu pertemuan?

Aku teringat kursi-kursi kosong selama sepuluh tahun terakhir.

Aku teringat formulir ulang tahun yang dikembalikan tanpa tanda tangan dan kunjungan sekolah yang nyaris kulewatkan karena masing-masing orang tua bersikeras bahwa dokumennya ada pada pihak yang lain.

Aku menolak memalsukan tanda tangan siapa pun, jadi aku duduk di luar kantor sampai seorang staf sekolah berhasil menghubungi salah satu asisten mereka. Bahkan setelah itu, jawabannya biasanya tetap sama. "Ini bukan tahun kami. Hubungi pihak keluarga yang lain."

Pada hari masuk asrama, orang tua siswa lain membawakan kotak-kotak barang mereka ke atas, sementara aku mengangkut dua tas besar menaiki empat lantai sendirian.

Saat pameran sains kelas delapan, seorang juri bertanya di mana keluargaku. Sambil berdiri di samping proyekku yang memenangkan penghargaan, aku berbohong bahwa penerbangan ayahku tertunda dan ibuku sedang demam.

Padahal, mereka hanya berjarak dua blok, sedang menonton Sofia mengikuti pertunjukan berkuda anak-anak yang bahkan tidak memberikan peringkat.

Saat kelas sepuluh, direktur bantuan keuangan memanggilku ke ruangannya.

"Emilia, aku harap kamu nggak salah mengartikan ini. Wali-walimu sudah bertahun-tahun nggak menghadiri acara sekolah ataupun membalas email konfirmasi dari kami. Apakah kamu diasuh orang lain, terasing dari mereka, atau sedang mengalami kesulitan keuangan?"

Kebaikannya justru membuat rasa malu itu semakin menyakitkan.

"Aku nggak diasuh orang lain. Kedua orang tuaku tinggal di kota ini, dan mereka tidak punya masalah keuangan."

Setelah terdiam cukup lama, dia berkata, "Kalau kamu membutuhkan bantuan, kapan pun itu, pintuku selalu terbuka."

Tahun lalu, aku mengingatkan ayahku tentang pertemuan orang tua dan guru sebulan sebelumnya. Dia berjanji akan datang.

Sore itu, aku melihatnya memasuki gedung dan berdiri untuk menyambutnya. Kemudian, Sofia menelepon. Ayahku langsung berbalik dan menyeberangi kampus karena Sofia ingin dibantu mengganti mata pelajaran pilihannya.

Aku kembali duduk di samping kursinya yang kosong dan menunggu sampai pertemuan itu berakhir.

Kini, sepuluh tahun menunggu hanya menjadi satu contoh lagi bahwa akulah yang dianggap merepotkan.

Aku menatap Institut Bandar di ponselku. Rasa sakit terakhir di dadaku perlahan menghilang.

Ada cinta yang tidak bisa didapatkan, sekeras apa pun kamu berusaha mendapatkannya.

Untungnya, aku sudah selesai menunggu.

Expandir
Próximo capítulo
Baixar

Último capítulo

Mais capítulos

Para os leitores

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

Sem comentários
10 Capítulos
Explore e leia bons romances gratuitamente
Acesso gratuito a um vasto número de bons romances no app GoodNovel. Baixe os livros que você gosta e leia em qualquer lugar e a qualquer hora.
Leia livros gratuitamente no app
ESCANEIE O CÓDIGO PARA LER NO APP
DMCA.com Protection Status