แชร์

Desahan di kamarku+++

ผู้เขียน: Orangsukses
last update วันที่เผยแพร่: 2026-03-23 20:11:02

Sharlyn pulang ke rumahnya lagi, membuka pintu utama dengan tangan yang sudah lemas. Pakaiannya basah terguyur hujan saat di pemakaman tadi.

Ia masuk, langkahnya gontai. Suasana di dalam sana tampak hening sekali, bahkan pencahayaannya sangat minim – hanya di lantai atas yang masih terlihat terang. Mungkin... suaminya juga masih berkabung.

Apa mereka sudah beristirahat lagi? Apa kematian Luna hanya sebatas angin lalu bagi mereka?

Sharlyn terus berjalan, menatap kosong ke arah lantai dua, di mana kamarnya dan sang suami berada. Ada perasaan enggan untuk naik kesana, tapi entah mengapa kakinya terus berjalan, menaiki tangga satu per satu dengan tangan yang bertumpu pada sisi tangga.

Samar-samar Sharlyn mendengar seseorang mendesah.

"Ughh... Sayang...." lenguh Mahestwari.

"Sshhh... lebih dalam lagi, Mas."

Suara decakan basah dari ciuman mereka memecah kesunyian kamar. Suara napas berat dan desahan memenuhi kamar. Mahes menggendong sang kekasih dengan penuh kenikmatan, melupakan kesedihan yang singgah beberapa jam lalu.

Dibalik dinding kamar, sepasang mata menyaksikan semuanya.

Sharlyn berdiri mematung. Tatapannya kosong, nyaris tak berkedip. Kakinya melangkah mundur pelan, tubuhnya gemetar, kepalanya menggeleng cepat seolah menolak percaya apa yang ia lihat barusan. Bahkan saat pandangannya masih menangkap jelas gerakan tangan suaminya yang kini bermain di atas tubuh wanita itu.

Semuanya runtuh seketika; harapan semu yang mengira suaminya berkabung pun musnah....

Sharlyn menutup mulutnya dengan satu tangan. Air matanya jatuh tanpa suara. Dadanya kembali sesak, berharap semua ini hanyalah mimpi buruk. Tapi semua tampak terlalu nyata, bahkan ketika ia melihat wajah Marry yang pasrah, tak mampu melawan saat suaminya melucuti bajunya dan melahap buah dada yang terpampang jelas itu.

Sharlyn yang tidak kuat lagi membalikkan badannya, bersiap untuk turun ke lantai bawah.

"Mommy harus kuat...."

Suara Luna kembali terngiang di kepalanya. Mata yang awalnya sendu mendadak menggelap kala teringat kematian tragis putrinya itu. Nafasnya seketika memburu, menatap jijik pada pemandangan di depannya.

"Kamu tidak usah takut, Sharlyn...." katanya menguatkan diri.

Sharlyn tiba-tiba mendobrak pintu itu dengan sekuat tenaga. Sebenarnya pintu itu sudah terbuka sedikit, jadi memudahkannya untuk mendobraknya dengan tubuh yang lemas. Ia menyaksikan dua orang dewasa yang sedang bercumbu dengan tubuh mereka saling menyatu.

Sementara itu, melihat pintu terbuka, mereka berhenti sejenak dan menatap ke arah Sharlyn secara bersamaan.

Bibir Sharlyn bergetar hebat melihat semua itu, dan tangannya semakin terkepal kuat. Dengan berani dia menatap tajam ke arah suaminya dan wanita simpanannya yang tengah bermain di kamarnya.

"Keluar kalian dari sini!" Suaranya meninggi dengan sorot mata yang memerah, menahan marah.

Mendengar itu, bukannya marah, Mahestwari justru tersenyum tipis, senyum yang nyaris tidak bisa dilihat oleh Sharlyn. Sementara wanita yang berada di bawah Mahes, tanpa tahu malu, malah menggeram. Di saat kenikmatannya hampir saja datang, Sharlyn malah mengganggu kegiatan mereka.

Marry menatap Sharlyn dengan tidak kalah menajam, dari atas sampai bawah dia memandangnya.

"Ck! Cuma mengganggu saja! Mas, cepat usir dia," ketus Marry dengan suara manja pada Mahes, tanpa peduli dengan keadaannya yang masih berada di bawahnya.

Namun, bukannya mengiyakan, Mahes justru menyuruh wanita itu bangkit dari atas tubuhnya. "Menyingkirlah!" titah Mahes dingin.

Marry segera turun dari sana, berpikir bahwa sang kekasih pasti akan mengusir Sharlyn dari kamar ini. Tetapi perkiraannya salah, Mahes justru mengenakan celananya kembali. "Pulanglah, nanti aku hubungi lagi."

"Tapi—"

"Tuli?" potong Mahes.

Marry merasa terperangah, tapi tak berdaya. Ia menyambar pakaiannya dengan kasar dan memakainya di depan mereka. "Baik."

Marry menatap sinis. Untuk pertama kalinya dia diperlakukan seperti ini oleh Mahes, hanya karena wanita itu.

Kini, di kamar itu hanya tinggal Mahes dan Sharlyn.

"Ceraikan saya...."

Dua kata itu memecahkan keheningan dan ketegangan di kamar itu.

"Sampai kapanpun aku—"

"Ya atau tidak, saya akan mengirim surat perceraiannya!" potong Sharlyn dengan suara lirih.

Wanita itu hendak membalikkan badannya, namun....

Sret...

"Ukhh!"

Sharlyn tersentak kala rahangnya dicengkram kuat oleh Mahes.

"Hari ini kamu terus membangkang. Kamu harus ingat, Sharlyn jika kematian Luna itu salahmu, jadi... jangan buat masalah lagi," tekannya pada setiap kalimat yang dilontarkan.

Kedua tangan Sharlyn berusaha payah melepaskan pergelangan tangan pria itu, tapi tenaganya kalah telak saat Mahes mencengkram kuat leher Sharlyn, sampai tangan wanita itu lemas seketika.

"Ka– kamu sakit jiwa, Mahes...." seru Sharlyn dingin di sela nafasnya yang tersendat.

Mahes tidak menggubris. Matanya semakin menggelap, membuat tubuh Sharlyn menegang dan gemetar. Keberaniannya seketika lenyap.

"Luna mat—"

Suara mobil berhenti di halaman depan terdengar samar. Tak lama kemudian, mereka juga mendengar suara langkah kaki yang menggema saat naik ke lantai dua.

Drap... drap... drap....

Suara itu semakin dekat dengan kecepatan yang cukup tinggi, seolah mereka sedang dalam keadaan darurat. Tak butuh waktu lama, Mahes melihat sekelompok orang bergerak masuk ke lorong, dua orang petugas keamanan dengan jas hitam, diikuti oleh lima pria berseragam biru muda yang jelas merupakan anggota kepolisian. Mereka berhenti tepat di depan pintu kamar yang terbuka lebar.

"Tuan Mahestwari, angkat tangan Anda sekarang juga!" suara salah satu polisi terdengar dominan dan tegas, memecah keheningan yang sebelumnya penuh ketegangan.

Beberapa dari mereka langsung masuk ke kamar, membentuk lingkaran di sekitar pasangan suami istri itu dengan posisi siap siaga. Tanpa berpikir dua kali, Mahes secara refleks melepaskan cengkramannya dari leher Sharlyn.

Wanita itu langsung jongkok sedikit, tubuhnya membungkuk ke depan sambil terus terbatuk dan menarik napas dalam-dalam untuk mengisi paru-parunya dengan udara.

Segera, salah satu polisi mendekatinya dengan langkah hati-hati, memeriksa kondisinya dan memberikan sedikit bantuan agar dia bisa duduk dengan lebih nyaman.

"Anda sekarang kami tahan atas kasus pembunuhan yang sedang diselidiki oleh pihak kepolisian," kata petugas kepolisian yang memimpin kelompok itu sambil menunjukkan surat perintah penahanan. Matanya tetap fokus pada Mahes yang kini berdiri dengan wajah penuh kaget dan tidak percaya.

"Apa-apaan ini? Sharlyn, apakah kamu yang melaporkan suamimu, hah?" sentak Mahes pada Sharlyn yang berlindung di balik tubuh tegap salah satu polisi di depannya. "Sialan! Dasar wanita murahan, aku akan menceraikan kamu, Jalang!"

"Jangan banyak bicara lagi, cepat borgol kedua tangannya."

▪︎

▪︎

Setelah Mahes dibawa oleh para petugas kepolisian, kini hanya ada Sharlyn yang masih terpaku di kamarnya seorang diri. Duduk di pojokan dengan bersandar pada kaki ranjang, pikirannya kacau sekali. Beberapa kejutan di hari yang sama membuat tubuh dan perasaannya terkuras hebat.

Pikirannya terus bertanya-tanya: Siapa yang melaporkannya? Tidak mungkin Marry, lalu siapa? Apa putranya? Tapi mustahil – putranya belum bisa mengoperasikan alat digital.

Rasa sedihnya terganti dengan rasa penasaran yang menggebu. Sejak siang ia hanya terus menangis hingga tak berpikir logis untuk melaporkan suaminya ke pihak berwajib.

Tidak lama, seorang anak laki-laki menghampirinya membawa segelas air putih.

"Mom...." panggilnya.

Sharlyn mendongak. Ia melihat Gaga – putra sulungnya tengah melangkah mendekat. "Apa kamu yang melaporkan Daddymu?"

Gaga menunduk takut. "Maaf, aku bertindak gegabah."

"Siapa yang membantumu?"

Tbc~

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Dikhianati suami, Dimiliki CEO   menyusui dalam pegawasan++

    Plak!!Suasana di ruangan Zyaru mendadak hening. Kepala Kaivan tertoleh ke samping, dengan sedikit robekan di sudut bibirnya setelah ia mendapatkan tamparan keras dari Sharlyn. Tidak ada seorangpun yang berani menyentuhnya. Bahkan tidak seorang pun yang berani berbuat kasar padanya, sekalipun itu Neneknya sendiri. Tapi kini, di hadapannya. Seorang wanita berpakaian lusuh berani menamparnya di depan umum? Sulit dipercaya. Harga diri Kaivan sangat tercoreng dibuatnya. Ia sangat marah sampai tangannya mengepal kuat dibawah sana. Tatapannya kembali pada Sharlyn yang masih menatapnya dengan sangat berani. "Kau... berani sekali padaku?!" gertakan kecil terdengar sampai urat leher Kaivan menegang. Nenek tercengang dibuatnya. Ia sempat membuka mulutnya lebar-lebar melihat keberanian Sharlyn yang menampar cucunya. Atmosfer ketegangan semakin terasa. "Ya, saya berani. Kenapa? Sakit?" t

  • Dikhianati suami, Dimiliki CEO   keputusan yang tepat

    "Gak boleh! Kamu itu hanya wanita rendahan yang gak berhak menyentuh putraku," hardik Kaivan pada Sharlyn. "Boleh, Sharlyn!" Keduanya berseru secara bersamaaan. Nenek yang mengijinkan tapi Kaivan malah melarangnya."Bahasamu terlalu kasar Kaivan!" bentak Nenek. "Berikan dia pada Sharlyn, apa kamu tega membiarkan dia terus menangis?" sambung Nenek dengan ketus melirik tajam kearah cucunya."Tapi, Nek. Dia hanya wanita asing, mana bisa menghentikan tangisan Zyaru? Biarkan Joy yang mengambil susu formulanya saja," sahut Kaivan yang sungguh tak merelakan putranya harus disusui oleh Sharlyn."Terserah kamu lah, sudah tua masih aja keras kepala...," sindir Nenek. "Berikan Zyaru pada Sharlyn atau Nenek gak akan bantu rawat Zyaru untuk kedepannya.""Nenek mengancamku?" Sungguh Kaivan tidak mempercayainya, jika wanita tua itu berani mengancamnya hanya karena Sharlyn."Hmm.. jangan egois, Zyaru membutuhkannya, kamu tega membiarkan dia menangis sehisteris itu?" hardik Nenek dengan suara rend

  • Dikhianati suami, Dimiliki CEO   Mau jadi istri Kaivan?++

    Dahi Sharlyn mengerut. "Koma?" tanyanya pada suster yang berceletuk tadi. "Ya, pasca kecelakaan yang menimpa anda pada hari itu, anda sempat kritis dan berakhir koma, tapi... aneh sekali setelah bangun dari koma tidak memiliki gejala lain," gumamnya. "Apa anda yakin tidak ada yang sakit?" tanya Dokter ber nametage 'Hensax' itu. "Hanya sedikit pusing dan kaki yang terasa kaku sekali," ungkap Sharlyn jujur. Dokter Hensax mengangguk kecil. "Baik, kami akan meresepkan obat, nanti diminum setelah makan siang ya...." Sharlyn yang mendengar akan dikasih makan langsung menggeleng secara spontans. "No– maksud saya, saya tidak mau makan, langsung dikasih obatnya saja." "Why? Kenapa tidak mau makan?" tanya Nenek Wang yang duduk di sofa sana. "Itu ... saya tidak menyukai makanan rumah sakit." Mendengar pengakuan itu, semua orang yang di sana hanya tersenyum geli, jangankan Sharlyn, sepertinya hampir semua pasien tidak menyukai makanan hambar itu. "Biar Nenek akan menyuruh Kaivan un

  • Dikhianati suami, Dimiliki CEO   menolong bayi++

    Tapi, Sharlyn yang tahu maksudnya hanya memegang kaki kanan Sagara dan menggeleng pelan. "Kamu mau meninggalkan Mommy? Kamu sudah tidak sayang sama Mommy?" "Maafkan Mommy, jika Mommy punya salah. Tapi tolong... jangan tinggalkan Mommy." Suaranya serak, lemah, dan bercampur dengan air mata yang perlahan menetes kembali. Sagara menatap lurus ke depan, tangannya di bawah sana terkepal kuat. "Lepaskan kaki Abang, Mom. Ini demi kebaikan Mommy sendiri." "Tidak... ini tidak baik. Mommy akan hancur jika kamu—" "Aku tidak peduli. Jika hidup dengan Mommy akan membawa sengsara, lebih baik aku ikut mereka!" Suaranya dingin, datar, tanpa empati sekalipun. "Sudah cepat, kita tidak punya banyak waktu! Tendang saja wanita itu," ketus Dani pada keponakannya. "Kemasi barangmu malam ini juga, karena besok pagi... rumah ini akan dimusnahkan," ucap Dani sebelum melangkah keluar dari rumah itu, diikuti oleh yang lainnya. Mereka pergi tanpa menoleh lagi. Bahkan putranya sekalipun pergi dengan

  • Dikhianati suami, Dimiliki CEO   Kehilangan anakku lagi?++

    "Siapa yang membantumu?" tanya Sharlyn pada Sagara."Seorang Paman berjas hitam...."Sharlyn mengerutkan alisnya. Dia tidak memiliki kerabat bahkan dengan keluarga suaminya juga tak seakrab itu, lalu siapa paman yang dijumpai putranya itu."Apa kamu tahu atau bentukkan pisiknya...."Gaga menggeleng. "Tidak, Mom ... wajahnya tertutup, hanya saja...." putra sulungnya itu mengeluarkan sebuah id card dari saku celananya. "Beliau memberikan ini."Sharlyn menerimanya. Tapi tak langsung membacanya, karena tiba-tiba sekali matanya yang tak sengaja melirik ke arah kaca jendela yang ada di kamarnya. Ia melihat ada satu mobil yang sangat familiar terparkir di depan rumahnya."Itu... ada paman Dani, Ga." Sharlyn berusaha bangun dengan dinding yang menjadi penyanggahnya. "Ayok kita keluar."▪︎▪︎▪︎"Gimana rasanya?" tanya wanita yang memakai gaun merah terang itu pada Sharlyn.Malam yang semakin larut, dengan Sharlyn yang belum mengganti pakaiannya setelah pulang dari pemakaman putrinya. Kini, ia

  • Dikhianati suami, Dimiliki CEO   Desahan di kamarku+++

    Sharlyn pulang ke rumahnya lagi, membuka pintu utama dengan tangan yang sudah lemas. Pakaiannya basah terguyur hujan saat di pemakaman tadi. Ia masuk, langkahnya gontai. Suasana di dalam sana tampak hening sekali, bahkan pencahayaannya sangat minim – hanya di lantai atas yang masih terlihat terang. Mungkin... suaminya juga masih berkabung. Apa mereka sudah beristirahat lagi? Apa kematian Luna hanya sebatas angin lalu bagi mereka? Sharlyn terus berjalan, menatap kosong ke arah lantai dua, di mana kamarnya dan sang suami berada. Ada perasaan enggan untuk naik kesana, tapi entah mengapa kakinya terus berjalan, menaiki tangga satu per satu dengan tangan yang bertumpu pada sisi tangga. Samar-samar Sharlyn mendengar seseorang mendesah. "Ughh... Sayang...." lenguh Mahestwari. "Sshhh... lebih dalam lagi, Mas." Suara decakan basah dari ciuman mereka memecah kesunyian kamar. Suara napas berat dan desahan memenuhi kamar. Mahes menggendong sang kekasih dengan penuh kenikmatan, melupa

  • Dikhianati suami, Dimiliki CEO   Siapa dia?

    "Saya mendengar, dia hamil anakmu, apa itu benar?!" kata Sharlyn dingin."Ya. Aku mengakuinya, tapi... tidak dengan sengaja!"Sharlyn yang mendengarnya, tertawa keras, namun... sangat hambar. "Hahaha... tidak sengaja sampai membubuhkan sepermamu kedalam rahimnya!""Karena aku emang tidak sengaja!!"

  • Dikhianati suami, Dimiliki CEO   berselingkuh depan istri++++

    Suasana di sebuah bangunan bernuansa merah marun dengan cahaya temerang, di tengah kediaman Mahestwari. Seorang gadis kecil yang memakai bandana merah dan selalu tampil ceria dan gembira, kini kembali murung. Sorot matanya menjadi sendu. Saat dia melihat sosok Ayah yang selalu dia banggakan, sedan

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status