Mag-log inTapi, Sharlyn yang tahu maksudnya hanya memegang kaki kanan Sagara dan menggeleng pelan. "Kamu mau meninggalkan Mommy? Kamu sudah tidak sayang sama Mommy?"
"Maafkan Mommy, jika Mommy punya salah. Tapi tolong... jangan tinggalkan Mommy." Suaranya serak, lemah, dan bercampur dengan air mata yang perlahan menetes kembali. Sagara menatap lurus ke depan, tangannya di bawah sana terkepal kuat. "Lepaskan kaki Abang, Mom. Ini demi kebaikan Mommy sendiri." "Tidak... ini tidak baik. Mommy akan hancur jika kamu—" "Aku tidak peduli. Jika hidup dengan Mommy akan membawa sengsara, lebih baik aku ikut mereka!" Suaranya dingin, datar, tanpa empati sekalipun. "Sudah cepat, kita tidak punya banyak waktu! Tendang saja wanita itu," ketus Dani pada keponakannya. "Kemasi barangmu malam ini juga, karena besok pagi... rumah ini akan dimusnahkan," ucap Dani sebelum melangkah keluar dari rumah itu, diikuti oleh yang lainnya. Mereka pergi tanpa menoleh lagi. Bahkan putranya sekalipun pergi dengan langkah yang tampak sangat ringan. Sunyi. Kini, di rumah sebesar itu hanya ada Sharlyn seorang diri. Tatapan Sharlyn kosong ke arah pintu yang tertutup itu. "Aaaarghh!" Raungnya kencang sekali, menggema di udara. Ia terus menjerit, meluapkan emosinya. "Why me, Tuhan... kenapa semuanya harus terjadi dalam satu hentakkan?" imbuhnya. Tak ada rumah. Tak ada suami. Tak ada anak. Namun di malam yang kelam itu, Sharlyn akhirnya mengerti. Ia telah kehilangan segalanya – bahkan putranya sendiri pun meninggalkannya. Tak ada lagi yang bisa mereka rampas darinya. ▪︎ ▪︎ ▪︎ Pagi-pagi sekali, tanpa beristirahat, Sharlyn sudah berdiri di depan rumahnya, menatap bangunan kokoh nan megah itu untuk terakhir kalinya. Wajahnya pucat pucat, dengan pakaian yang sudah diganti dan tas ransel yang dijinjingnya. Ia bergumam pelan: "Semuanya sudah berakhir...." Setelah mengatakan itu, ia pergi melangkah, meninggalkan kenangan pahit yang selama ini membelenggunya. Membuang nafasnya dengan berat. "Aku harus memulainya dari awal lagi, demi Ross yang sudah berkorban untukku." Ia terus berjalan tanpa tujuan, tidak tahu harus pergi kemana. Tapi ia sudah memiliki rencana, sebuah rencana untuk mencari tempat tinggal baru dengan sedikit uang yang dimilikinya. Karena ia tak diizinkan untuk membawa harta sepersen pun dari rumah suaminya itu. "Astaga, bagaimana ini?" "Ya Tuhan, lampunya sudah hijau, cepat tangkap roda bayinya...." teriakan dari seorang wanita tua menyadarkan lamunan Sharlyn. Sharlyn yang sedang berjalan di tepi jalan yang lumayan ramai itu, langsung melirik ke arah wanita tua yang panik dengan tangan gemetarnya tertuju pada jalanan. Mata Sharlyn membelalak saat melihat bayi kecil di atas roda bayi tengah berada di tengah jalan, dengan suara klakson truk yang terus berbunyi dari arah barat. "Astaga, anak itu akan mati...." "Cepat selamatkan dia...." "Bagaimana ini?" Tangisan bayi dan kebisingan orang-orang di sekitarnya membuat Sharlyn tanpa pikir panjang langsung berlari ke tengah kerumunan kendaraan yang ramai dengan bunyi klakson. Roda bayi terus bergerak ke tengah jalan. Truk besar melaju kencang. Tiiid.... Hingga.... Ckiit.... "Aaaa....." ▪︎ ▪︎ ▪︎ "Dia kehilangan banyak darah...." seruan itu memecahkan keheningan di depan ruang UGD. "Golongan darahnya O, sedangkan stok di sini tidak ada." Seorang wanita tua dengan bayi di gendongannya melirik cemas ke arah dokter yang berdiri di depannya. "Lalu bagaimana? Dia sudah menyelamatkan cicitku, dia harus hidup. Usahakanlah, masalah pembayaran biarkan kami yang urus." Dokter itu menggeleng kecil. "Bukan masalah uangnya, Nyonya. Tapi memang stoknya tidak ada." "Ambil darah saya, golongan darah saya juga O." Suaranya datar, dingin, dan dominan sekali. Seorang pria yang berdiri tak jauh dari mereka menyaksikan perdebatan kecil itu. Ia mendekat dengan kaki panjangnya dan jubah hitam yang menjuntai ke bawah, melirik dingin ke arah mereka. Wanita tua itu melirik ke arah sumber suara, begitu juga dengan dokternya. Mata wanita itu membelalak lebar. "Kamu?" ▪︎ ▪︎ Sharlyn terbangun di sebuah ruangan yang serba putih, lalu tatapannya tertuju pada langit-langit dengan pandangan kosong. "Apa, aku sudah ada di surga?" gumamnya lirih. Lalu, ia melirik ke arah tangannya yang terdapat infusan. Ia terkekeh pelan. "Ternyata masih di dunia...." Tatapannya beralih ke arah samping, ia merasakan kerongkongannya yang kering. "Ha– haus sekali." Tepat ketika netranya tak sengaja melirik ke arah sofa panjang yang ada di pojok sana, ia dapat melihat ada sosok asing yang sedang sibuk dengan laptopnya, entah mengapa... auranya begitu dingin sekali, melebihi dingin AC di dalam ruangannya. "Si– siapa kamu?" tanya Sharlyn. Sosok pria bertubuh kekar itu diam. Tanpa menjawab, namun sorot matanya beralih, menatap Sharlyn dengan tajam. "A– aku mau pulang." Kembali Sharlyn berucap dan pria berjubah hitam itu masih diam. Sharlyn bangun dari tidurnya, ia duduk secara perlahan, niat hatinya ingin turun, menyentuh lantai tapi kenapa kakinya terasa kaku? Sharlyn berusaha dengan hati-hati, kepalanya berdenyut. Sakit sekali. Sharlyn yang sudah berhasil berdiri di tepi bangsal, tiba- tiba terhuyung saat tak bisa menyeimbangkan dirinya. Hingga.... Srettt "Ahhh...." "Stupidd...." umpat pria itu dingin. Pria yang sedari tadi memperhatikan Sharlyn dalam diamnya, dengan gerakan cepatnya, ia melempar kuat kasur lantai yang ada didepannya kearah Sharlyn. Hingga wanita lemah itu terjatuh diatas kasur lantai. Sharlyn yang mendengar hinaan itu, mencabik kesal. "Dasar pria dingin." Sharlyn berusaha bangun, dengan tangan yang bertumpu pada sisi bangsal. Sekuat tenaga tapi.... Ckelek! Pintu ruangan terbuka dari luar, menampilkan sosok tua dengan dress putih elegantnya. Wanita tua itu terpaku di ambang pintu dengan mulut yang menganga. "Astaga...." pekik wanita tua, kala melihat pasien yang terjatuh di atas kasur lantai yang tipis itu. Tatapan tajam wanita tua itu arahkan pada cucunya yang duduk saja di pojokan. "Pria macam apa kau, Kaivan? Ada yang butuh pertolongan, kamu hanya diam saja? Apa ini yang aku ajarkan padamu?" bentaknya. "Dia tidak minta." Tiga kata itu pria yang bernama Kaivan sahuti, nadanya datar dan tatapannya kembali fokus pada layar laptopnya. "Astaga, peka dong." Wanita tua yang diketahui bernama Nyonya Wang itu mendekat kearah Sharlyn. Membantunya untuk bangkit, lalu diarahkannya ke tepi ranjang, hingga Sharlyn bisa duduk di sana. "Te– terimakasih," kata Sharlyn lirih. Nenek Wang mengangguk kecil. "Kamu butuh apa? Biar Nenek panggilkan dokter ya?" tawarnya. Sharlyn menggeleng. "Ti–tidak perlu Nyonya, saya—" "Nenek Wang. Panggil aku dengan sebutan itu," potong Nenek Wang. Sharlyn mengangguk ragu. "Ba– baik, saya hanya ingin pulang...." lanjut Sharlyn. Sharlyn sadar dengan dirinya yang sekarang, dia tak punya uang untuk membiayai perawatan di sini, dilihat dari fasilitas yang ada di ruangan ini, Sharlyn dapat menebaknya, jika ruangan ini vvip apalagi ruangan ini begitu luas hanya untuk satu pasien. "Dengan keadaanmu yang seperti ini?" tanya Nenek. "Iya... aku akan pulang." "Nenek tidak akan ijinkan. Kamu istirahat lagi yah, soal biaya rumah sakit jangan kau hiraukan." Nenek beranjak dari sana lalu tangannya terulur kearah tombol yang menempel di dinding. Menekannya tiga kali. Setelah beberapa detik kemudian, dengan ruangan yang kembali hening itu, beberapa perawat medis datang berkunjung. "Selamat siang, Nyonya Wang, selamat siang Tuan Kaivandra...." tatapan Dokter pria berjas putih itu tertuju pada Sharlyn yang duduk di tepi bangsal. "Selamat siang Nyonya Sharlyn, bagaimana kabarmu? Apakah masih terasa pusing?" Sharlyn mengerutkan alisnya. Seingatnya di sini tak ada kerabatnya, bahkan ia belum pernah mengatakan namanya, tapi mengapa seakan mereka tahu semuanya? Dengan ragu, Sharlyn mengangguk kecil. "Baik." Dokter mendekat ke arah Sharlyn. "Berbaringlah, izinkan kami untuk mengecek keadaan anda." Dengan dibantu oleh suster, Sharlyn berbaring kembali. "Selama koma tujuh hari, apa tidak ada yang dirasa?" Dahi Sharlyn mengerut. "Koma?" tanyanya pada suster yang berceletuk tadi. Tbc~Plak!!Suasana di ruangan Zyaru mendadak hening. Kepala Kaivan tertoleh ke samping, dengan sedikit robekan di sudut bibirnya setelah ia mendapatkan tamparan keras dari Sharlyn. Tidak ada seorangpun yang berani menyentuhnya. Bahkan tidak seorang pun yang berani berbuat kasar padanya, sekalipun itu Neneknya sendiri. Tapi kini, di hadapannya. Seorang wanita berpakaian lusuh berani menamparnya di depan umum? Sulit dipercaya. Harga diri Kaivan sangat tercoreng dibuatnya. Ia sangat marah sampai tangannya mengepal kuat dibawah sana. Tatapannya kembali pada Sharlyn yang masih menatapnya dengan sangat berani. "Kau... berani sekali padaku?!" gertakan kecil terdengar sampai urat leher Kaivan menegang. Nenek tercengang dibuatnya. Ia sempat membuka mulutnya lebar-lebar melihat keberanian Sharlyn yang menampar cucunya. Atmosfer ketegangan semakin terasa. "Ya, saya berani. Kenapa? Sakit?" t
"Gak boleh! Kamu itu hanya wanita rendahan yang gak berhak menyentuh putraku," hardik Kaivan pada Sharlyn. "Boleh, Sharlyn!" Keduanya berseru secara bersamaaan. Nenek yang mengijinkan tapi Kaivan malah melarangnya."Bahasamu terlalu kasar Kaivan!" bentak Nenek. "Berikan dia pada Sharlyn, apa kamu tega membiarkan dia terus menangis?" sambung Nenek dengan ketus melirik tajam kearah cucunya."Tapi, Nek. Dia hanya wanita asing, mana bisa menghentikan tangisan Zyaru? Biarkan Joy yang mengambil susu formulanya saja," sahut Kaivan yang sungguh tak merelakan putranya harus disusui oleh Sharlyn."Terserah kamu lah, sudah tua masih aja keras kepala...," sindir Nenek. "Berikan Zyaru pada Sharlyn atau Nenek gak akan bantu rawat Zyaru untuk kedepannya.""Nenek mengancamku?" Sungguh Kaivan tidak mempercayainya, jika wanita tua itu berani mengancamnya hanya karena Sharlyn."Hmm.. jangan egois, Zyaru membutuhkannya, kamu tega membiarkan dia menangis sehisteris itu?" hardik Nenek dengan suara rend
Dahi Sharlyn mengerut. "Koma?" tanyanya pada suster yang berceletuk tadi. "Ya, pasca kecelakaan yang menimpa anda pada hari itu, anda sempat kritis dan berakhir koma, tapi... aneh sekali setelah bangun dari koma tidak memiliki gejala lain," gumamnya. "Apa anda yakin tidak ada yang sakit?" tanya Dokter ber nametage 'Hensax' itu. "Hanya sedikit pusing dan kaki yang terasa kaku sekali," ungkap Sharlyn jujur. Dokter Hensax mengangguk kecil. "Baik, kami akan meresepkan obat, nanti diminum setelah makan siang ya...." Sharlyn yang mendengar akan dikasih makan langsung menggeleng secara spontans. "No– maksud saya, saya tidak mau makan, langsung dikasih obatnya saja." "Why? Kenapa tidak mau makan?" tanya Nenek Wang yang duduk di sofa sana. "Itu ... saya tidak menyukai makanan rumah sakit." Mendengar pengakuan itu, semua orang yang di sana hanya tersenyum geli, jangankan Sharlyn, sepertinya hampir semua pasien tidak menyukai makanan hambar itu. "Biar Nenek akan menyuruh Kaivan un
Tapi, Sharlyn yang tahu maksudnya hanya memegang kaki kanan Sagara dan menggeleng pelan. "Kamu mau meninggalkan Mommy? Kamu sudah tidak sayang sama Mommy?" "Maafkan Mommy, jika Mommy punya salah. Tapi tolong... jangan tinggalkan Mommy." Suaranya serak, lemah, dan bercampur dengan air mata yang perlahan menetes kembali. Sagara menatap lurus ke depan, tangannya di bawah sana terkepal kuat. "Lepaskan kaki Abang, Mom. Ini demi kebaikan Mommy sendiri." "Tidak... ini tidak baik. Mommy akan hancur jika kamu—" "Aku tidak peduli. Jika hidup dengan Mommy akan membawa sengsara, lebih baik aku ikut mereka!" Suaranya dingin, datar, tanpa empati sekalipun. "Sudah cepat, kita tidak punya banyak waktu! Tendang saja wanita itu," ketus Dani pada keponakannya. "Kemasi barangmu malam ini juga, karena besok pagi... rumah ini akan dimusnahkan," ucap Dani sebelum melangkah keluar dari rumah itu, diikuti oleh yang lainnya. Mereka pergi tanpa menoleh lagi. Bahkan putranya sekalipun pergi dengan
"Siapa yang membantumu?" tanya Sharlyn pada Sagara."Seorang Paman berjas hitam...."Sharlyn mengerutkan alisnya. Dia tidak memiliki kerabat bahkan dengan keluarga suaminya juga tak seakrab itu, lalu siapa paman yang dijumpai putranya itu."Apa kamu tahu atau bentukkan pisiknya...."Gaga menggeleng. "Tidak, Mom ... wajahnya tertutup, hanya saja...." putra sulungnya itu mengeluarkan sebuah id card dari saku celananya. "Beliau memberikan ini."Sharlyn menerimanya. Tapi tak langsung membacanya, karena tiba-tiba sekali matanya yang tak sengaja melirik ke arah kaca jendela yang ada di kamarnya. Ia melihat ada satu mobil yang sangat familiar terparkir di depan rumahnya."Itu... ada paman Dani, Ga." Sharlyn berusaha bangun dengan dinding yang menjadi penyanggahnya. "Ayok kita keluar."▪︎▪︎▪︎"Gimana rasanya?" tanya wanita yang memakai gaun merah terang itu pada Sharlyn.Malam yang semakin larut, dengan Sharlyn yang belum mengganti pakaiannya setelah pulang dari pemakaman putrinya. Kini, ia
Sharlyn pulang ke rumahnya lagi, membuka pintu utama dengan tangan yang sudah lemas. Pakaiannya basah terguyur hujan saat di pemakaman tadi. Ia masuk, langkahnya gontai. Suasana di dalam sana tampak hening sekali, bahkan pencahayaannya sangat minim – hanya di lantai atas yang masih terlihat terang. Mungkin... suaminya juga masih berkabung. Apa mereka sudah beristirahat lagi? Apa kematian Luna hanya sebatas angin lalu bagi mereka? Sharlyn terus berjalan, menatap kosong ke arah lantai dua, di mana kamarnya dan sang suami berada. Ada perasaan enggan untuk naik kesana, tapi entah mengapa kakinya terus berjalan, menaiki tangga satu per satu dengan tangan yang bertumpu pada sisi tangga. Samar-samar Sharlyn mendengar seseorang mendesah. "Ughh... Sayang...." lenguh Mahestwari. "Sshhh... lebih dalam lagi, Mas." Suara decakan basah dari ciuman mereka memecah kesunyian kamar. Suara napas berat dan desahan memenuhi kamar. Mahes menggendong sang kekasih dengan penuh kenikmatan, melupa
"Saya mendengar, dia hamil anakmu, apa itu benar?!" kata Sharlyn dingin."Ya. Aku mengakuinya, tapi... tidak dengan sengaja!"Sharlyn yang mendengarnya, tertawa keras, namun... sangat hambar. "Hahaha... tidak sengaja sampai membubuhkan sepermamu kedalam rahimnya!""Karena aku emang tidak sengaja!!"
Suasana di sebuah bangunan bernuansa merah marun dengan cahaya temerang, di tengah kediaman Mahestwari. Seorang gadis kecil yang memakai bandana merah dan selalu tampil ceria dan gembira, kini kembali murung. Sorot matanya menjadi sendu. Saat dia melihat sosok Ayah yang selalu dia banggakan, sedan







