Share

Siapa dia?

Penulis: Orangsukses
last update Tanggal publikasi: 2026-03-23 19:12:54

"Saya mendengar, dia hamil anakmu, apa itu benar?!" kata Sharlyn dingin.

"Ya. Aku mengakuinya, tapi... tidak dengan sengaja!"

Sharlyn yang mendengarnya, tertawa keras, namun... sangat hambar. "Hahaha... tidak sengaja sampai membubuhkan sepermamu kedalam rahimnya!"

"Karena aku emang tidak sengaja!!" bentak Mahestwari. "Khilaf...."

Sharlyn bertepuk tangan, sangat kencang dan penuh paksaan. "Bohong!! Saya menerima pesan dari simpananmu itu, jika Marry nyaris dibunuh kalau tidak membantumu untuk menuntaskan hasrat bejatmu itu."

Mereka terus bertengkar, tidak menyadari jika sosok kecil penyuka bandana merah itu masih di ruangan yang sama. Berdiri dengan tubuh gemetar, menyaksikan pertengkaran hebat orang tuanya.

Si kecil tidak menangis, matanya menajam. Namun suaranya bergetar. "Daddy jahat... daddy jahat... "

"K–kenapa, daddy jahat? Kenapa Mommy nangis?" Ucapan menyakitkan dengan polosnya ia lontarkan.

"L–una juga jadi ikut sakit lihatnya...."

Hingga, pertengkaran yang terus berlanjut, dengan kobarannya yang semakin meninggi.

"Saya minta cerai kamu tidak mau! Kenapa, jika kamu sudah tidak menginginkan saya, ceraikan dan nikahi Marry!!"

"Aaaargh!!" Mahestwari terlihat frustasi dan kesal. "Aku tidak akan pernah menceraikan kamu, apapun yang terjadi."

"Munafikk! Rendahan, pengecut, bodoh!!!" hina Sharlyn dengan sinisnya.

"Kamu berani hina aku, Sharlyn?!!" Bentakan itu kembali terdengar. Dengan sorot mata yang lebih menakutkan dan menghunus. Menembus inti hati Sharlyn.

Sedangkan yang ditatap itu kembali berseru, menghinanya kembali. "Iya, Mahestwari yang selalu dipuja-puja. Diagungkan, ternyata sosok yang sangat menjijikan, berani bermesraan dengan seorang jalang didepan mata anak-anaknya—" Sharlyn menjeda ucapannya.

"Pria brengsek yang egois, gila selangkangan sampai membubuhkan janin yang tidak bersalah dirahim haramnya si jalang Marry—"

Mahestwari yang sudah kehilangan kendali meraih belati kecil di atas meja panjang itu.  Dengan emosi membara, ia melemparkannya ke arah Sharlyn.

Namun saat itu juga Luna berlari ke tengah-tengah mereka.

Suara Sharlyn terhenti dikerongkongan. Langkahnya mundur setapak, tubuhnya bergetar hebat. Dengan mata melotot, nyaris keluar bola matanya itu. 

Di depan matanya sendiri, ia melihat tubuh putrinya terkapar lemah dengan noda merah yang mengotori lantai, dengan satu belati yang menusuk tajam, dalam, sampai menembus ulu atinya.

Dunianya seketika berhenti. Wanita cantik itu jatuh bersandar di sisi putrinya.

Rasa sakit kala melihat putrinya tak berdaya seperti ini juga terasa kuat di dadanya. Sakitnya seperti ditusuk ribuan jarum, dadanya terasa nyeri sekali. Sesak dirasa, suaranya tercekat. Kala dilihat tangan kecil yang berlumuran darah masih memegang belati itu.

"S–sakit yah?" lirihnya pelan. "Ma– maafkan Mommy, Nak...."

Luna menggeleng. "N–no, no, jangan nangis, oke?"

Luna tersenyum. Senyuman yang selalu lembut diperlihatkan pada ibu kesayangannya. "Ma— kasih Mom, su– sudah mau jadi ibu yang baik untuk Ross... Ross izin tutup mata, ya? Capek, Ross hanya ingin lihat Mom bahagia, ta– tapi daddy selalu jahat, ya?" suaranya terbata-bata.

Sharlyn menggeleng. "Nanti kalau tutup mata, Ross ninggalin Mom yah?" tanyanya dengan sendu dan menyakitkan.

Air mata Sharlyn semakin deras. Tangisannya sangat pilu, kencang dan itu mampu menyadarkan sosok pria yang masih berdiri dibelakang Sharlyn.

"Lu– luna...!" Suara Mahestwari ikut bergetar, bahkan tangannya gemetar. Dia ingin mendekat.

Sharlyn membalikkan badannya. Mendelik tajam kearah Mahestwari. "Jangan dekati putriku."

"A– aku tidak sengaja. Ayok, kita bawa Luna ke rumah sakit—"

Hiks... hiks...

Sharlyn terus menangis pilu. "Terlambat! Kenapa gak dari dulu? Putriku sakitnya dari dulu... sekarang, putriku Ross mau istirahat. Dia selalu tersakiti oleh tingkah iblismu, dia terus menangis saat kau bersama Marry."

Sharlyn sudah banyak menyaksikan penderitaan putrinya, ketika ia sibuk mengurus almarhum ibu mertuanya. Luna yang selalu mendapatkan kekerasan dari tangan iblis Mahestwari, menyaksikan perselingkuhan Ayahnya sendiri.

Luna tak banyak cerita, tapi Sharlyn tahu semua nya dari maid yang selalu mengawasi putrinya itu. Kini, putrinya tidak akan merasakan sakit lagi, tidak akan merasakan sesak lagi. Selamanya....

Sharlyn kembali membalikkan tubuhnya menghadap sang putri yang masih tersenyum lebar, dengan air mata yang menetes di sana. "Mm–makasih ya... sudah menemani Ross selama ini...."

"Bolehkan Ross istirahat, Mom?"

Sharlyn mengangguk pelan. "Kalau Ross istirahat, Mommy sama siapa, hmm? Tapi... jika Ross mau istirahat, boleh, yang tenang bobonya yah, jangan mikirin Mommy lagi, tunggu Mommy disana yah...." bisiknya pelan sekali, suaranya pun serak, menahan genangan air mata yang akan kembali pecah.

"M–mommy bahagia terus ya, demi Ross...." bibir Luna sudah pucat pasi.

"Iya... mommy akan bahagia." Sharlyn tersenyum tipis.

Ross membalas senyuman itu dengan senyum sayunya. "Se– selamat t– tingg—"

Sharlyn menahan suara Luna dengan jari telunjuknya. "Tunggu... Ross boleh cium Mommy untuk yang terakhir kalinya?"

Permintaaan yang menyesakkan. Bahkan Sharlyn mendekatkan pipinya.

Cup!

Susah payah si kecil lakukan dan Sharlyn tidak menyia-nyiakan, dia juga langsung membalasnya dengan mencium bibir putrinya yang sudah dingin. Dan pucat pasi itu.

"Putri kecil Mommy, mutiaranya Mom, yang tenang di sana—"

Kluk!!

"Ross!!" Teriakan yang menyayat hati itu kembali menggema di tengah isak tangisnya.

Dia menyaksikan kematian putrinya sebelum menyelesaikan ucapannya sendiri, putri yang sedekat nadinya, kini telah pergi....

Untuk selama-lamanya.

Mahestwari benar-banar terdiam. Pandangannya kosong kedepan, tubuhnya yang selalu berwibawa pun kini terpaku di tempat. Menyaksikan kematian putrinya.

Dengan tangannya sendiri, dia melenyapkan putrinya.

"Sayang, Luna sudah meninggal, sebaiknya kita bawa ketempat yang lebih layak, untuk...."

"Untuk apa? Jawab?" bentak Sharlyn purau.

"Sekarang puas kan, kamu? Sudah merenggut nyawa putriku, senang kan? Tidak ada lagi si pemberani yang mengahalangi perbuatan bejatmu itu." Suara Sharlyn bergetar dengan mata yang kian memerah.

Sedih, marah, kecewa, hampa, frustasi, semua rasanya dijadikan satu, oleh air mata yang terus mengalir.

Mahestwari yang tidak terima disalahkan atas kematian putrinya itu. Seketika raga yang awalnya terpaku, kini kembali naik pitam, tatapannya membalas tatapan sang istri dengan gelap. "Semua ini salah kamu, andai kamu tidak memancing emosiku, aku tidak akan kelepasan."

"Cih! Dasar bajingan." Sharlyn membuang mukanya dengan tatapan yang penuh kebencian pada sang suami.

Sagara yang menyaksikan kembali pertikaian itu menggeram. "Cukup! Kita harus urus pemakaman Luna."

Sharlyn melirik kearah putra sulungnya, yang berdiri tak jauh dari suaminya. "A– apa abang tidak sedih?" tanyanya dengan sendu.

Gaga menahan emosinya keras-keras. Wajahnya tetap dingin. "Dia sudah meninggal. Kita harus urus pemakamannya."

"Aku membunuh putriku dengan tangannku sendiri, hikkks... daddy nyesel sekali, Nak...."

Penyesalan yang tidak berarti.

"Itu juga bukan salah Daddy sepenuh—"

Sharlyn bangkit, menatap garang pada kedua pria didepannya. "Semua ini salah Daddymu. Dasar brengsek!" Sharlyn langsung membopong tubuh putrinya.

"Biar Ross menjadi urusanku."

▪︎

▪︎

▪︎

Usai pemakaman, Sharlyn tak beranjak dari kuburan berukuran kecil itu.  Ia menatap kosong nisan bertuliskan nama putrinya.  Air matanya juga sudah menetes kembali, padahal matanya sudah bengkak sekali.

"Maaf...." Tangis Sharlyn tergugu sendu. "Maafkan Mommy yang tidak bisa menjagamu sampai akhir...."

Dari kejauhan Mahestwari bersama Marry berdiri diarea parkiran mobil, tepatnya Marry yang mengantar Mahestwari dan Gaga untuk pulang, karena hari sudah semakin petang.

"Sudah Mas, ikhlaskan... agar Luna tenang disana," bisiknya lembut sekali ditelinga Mahestwari. "Kita pulang yah, kasihan Gaga, sudah kelelahan."

"Tapi—"

"Masih ada putri kita dalam kandunganku yang membutuhkan Ayah... dia akan menjadi penggantinya," potong Marry dengan terus memijat penuh sensual bahu Mahestwari.

"Dia mati sama tanganku sendiri, Mar... semua ini salahku," kata Mahestwari penuh penyesalan.

Marry menggeleng kecil. "Tidak, semua ini bukan salahmu... kamu tidak salah sepenuhnya, wanita itulah yang salah, karena berani memancing emosimu...."

"Sungguh?" tanya Mahestwari purau.

"Iya...."

"Yasudah, kita pulang sekarang yah? Biar aku yang nyetir, bagaimana Mas?" bujuk Marry.

Mahestwari mengangguk kecil.

Semuanya telah pergi, di TPU itu, hanya ada Sharlyn. Cuaca yang emang sudah mendung dari siang tadi selepas pemakaman Luna selesai, kini hujan itu mulai turun. Seakan langit ikut bersedih atas kepulangan si kecil Luna.

"Sampai kapan kamu akan menangis? Sedangkan si pelaku pergi dengan kekasih gelapnya...."

Suara serak nan berat itu terdengar sayup di telinga Sharlyn. Ia mencelinguhkan, mencari asal sumbernya.

Matanya menyipit, ketika melihat sosok bayangan hitam yang berdiri tak jauh darinya. "Siapa dia?"

Tbc~

Gimana?

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Dikhianati suami, Dimiliki CEO   keputusan yang tepat

    "Gak boleh! Kamu itu hanya wanita rendahan yang gak berhak menyentuh putraku," hardik Kaivan pada Sharlyn. "Boleh, Sharlyn!" Keduanya berseru secara bersamaaan. Nenek yang mengijinkan tapi Kaivan malah melarangnya."Bahasamu terlalu kasar Kaivan!" bentak Nenek. "Berikan dia pada Sharlyn, apa kamu tega membiarkan dia terus menangis?" sambung Nenek dengan ketus melirik tajam kearah cucunya."Tapi, Nek. Dia hanya wanita asing, mana bisa menghentikan tangisan Zyaru? Biarkan Joy yang mengambil susu formulanya saja," sahut Kaivan yang sungguh tak merelakan putranya harus disusui oleh Sharlyn."Terserah kamu lah, sudah tua masih aja keras kepala...," sindir Nenek. "Berikan Zyaru pada Sharlyn atau Nenek gak akan bantu rawat Zyaru untuk kedepannya.""Nenek mengancamku?" Sungguh Kaivan tidak mempercayainya, jika wanita tua itu berani mengancamnya hanya karena Sharlyn."Hmm.. jangan egois, Zyaru membutuhkannya, kamu tega membiarkan dia menangis sehisteris itu?" hardik Nenek dengan suara rend

  • Dikhianati suami, Dimiliki CEO   Mau jadi istri Kaivan?++

    Dahi Sharlyn mengerut. "Koma?" tanyanya pada suster yang berceletuk tadi. "Ya, pasca kecelakaan yang menimpa anda pada hari itu, anda sempat kritis dan berakhir koma, tapi... aneh sekali setelah bangun dari koma tidak memiliki gejala lain," gumamnya. "Apa anda yakin tidak ada yang sakit?" tanya Dokter ber nametage 'Hensax' itu. "Hanya sedikit pusing dan kaki yang terasa kaku sekali," ungkap Sharlyn jujur. Dokter Hensax mengangguk kecil. "Baik, kami akan meresepkan obat, nanti diminum setelah makan siang ya...." Sharlyn yang mendengar akan dikasih makan langsung menggeleng secara spontans. "No– maksud saya, saya tidak mau makan, langsung dikasih obatnya saja." "Why? Kenapa tidak mau makan?" tanya Nenek Wang yang duduk di sofa sana. "Itu ... saya tidak menyukai makanan rumah sakit." Mendengar pengakuan itu, semua orang yang di sana hanya tersenyum geli, jangankan Sharlyn, sepertinya hampir semua pasien tidak menyukai makanan hambar itu. "Biar Nenek akan menyuruh Kaivan un

  • Dikhianati suami, Dimiliki CEO   menolong bayi++

    Tapi, Sharlyn yang tahu maksudnya hanya memegang kaki kanan Sagara dan menggeleng pelan. "Kamu mau meninggalkan Mommy? Kamu sudah tidak sayang sama Mommy?" "Maafkan Mommy, jika Mommy punya salah. Tapi tolong... jangan tinggalkan Mommy." Suaranya serak, lemah, dan bercampur dengan air mata yang perlahan menetes kembali. Sagara menatap lurus ke depan, tangannya di bawah sana terkepal kuat. "Lepaskan kaki Abang, Mom. Ini demi kebaikan Mommy sendiri." "Tidak... ini tidak baik. Mommy akan hancur jika kamu—" "Aku tidak peduli. Jika hidup dengan Mommy akan membawa sengsara, lebih baik aku ikut mereka!" Suaranya dingin, datar, tanpa empati sekalipun. "Sudah cepat, kita tidak punya banyak waktu! Tendang saja wanita itu," ketus Dani pada keponakannya. "Kemasi barangmu malam ini juga, karena besok pagi... rumah ini akan dimusnahkan," ucap Dani sebelum melangkah keluar dari rumah itu, diikuti oleh yang lainnya. Mereka pergi tanpa menoleh lagi. Bahkan putranya sekalipun pergi dengan

  • Dikhianati suami, Dimiliki CEO   Kehilangan anakku lagi?++

    "Siapa yang membantumu?" tanya Sharlyn pada Sagara."Seorang Paman berjas hitam...."Sharlyn mengerutkan alisnya. Dia tidak memiliki kerabat bahkan dengan keluarga suaminya juga tak seakrab itu, lalu siapa paman yang dijumpai putranya itu."Apa kamu tahu atau bentukkan pisiknya...."Gaga menggeleng. "Tidak, Mom ... wajahnya tertutup, hanya saja...." putra sulungnya itu mengeluarkan sebuah id card dari saku celananya. "Beliau memberikan ini."Sharlyn menerimanya. Tapi tak langsung membacanya, karena tiba-tiba sekali matanya yang tak sengaja melirik ke arah kaca jendela yang ada di kamarnya. Ia melihat ada satu mobil yang sangat familiar terparkir di depan rumahnya."Itu... ada paman Dani, Ga." Sharlyn berusaha bangun dengan dinding yang menjadi penyanggahnya. "Ayok kita keluar."▪︎▪︎▪︎"Gimana rasanya?" tanya wanita yang memakai gaun merah terang itu pada Sharlyn.Malam yang semakin larut, dengan Sharlyn yang belum mengganti pakaiannya setelah pulang dari pemakaman putrinya. Kini, ia

  • Dikhianati suami, Dimiliki CEO   Desahan di kamarku+++

    Sharlyn pulang ke rumahnya lagi, membuka pintu utama dengan tangan yang sudah lemas. Pakaiannya basah terguyur hujan saat di pemakaman tadi.Ia masuk, langkahnya gontai. Suasana di dalam sana tampak hening sekali, bahkan pencahayaannya sangat minim – hanya di lantai atas yang masih terlihat terang. Mungkin... suaminya juga masih berkabung.Apa mereka sudah beristirahat lagi? Apa kematian Luna hanya sebatas angin lalu bagi mereka?Sharlyn terus berjalan, menatap kosong ke arah lantai dua, di mana kamarnya dan sang suami berada. Ada perasaan enggan untuk naik kesana, tapi entah mengapa kakinya terus berjalan, menaiki tangga satu per satu dengan tangan yang bertumpu pada sisi tangga.Samar-samar Sharlyn mendengar seseorang mendesah."Ughh... Sayang...." lenguh Mahestwari."Sshhh... lebih dalam lagi, Mas."Suara decakan basah dari ciuman mereka memecah kesunyian kamar. Suara napas berat dan desahan memenuhi kamar. Mahes menggendong sang kekasih dengan penuh kenikmatan, melupakan kesedihan

  • Dikhianati suami, Dimiliki CEO   Siapa dia?

    "Saya mendengar, dia hamil anakmu, apa itu benar?!" kata Sharlyn dingin."Ya. Aku mengakuinya, tapi... tidak dengan sengaja!"Sharlyn yang mendengarnya, tertawa keras, namun... sangat hambar. "Hahaha... tidak sengaja sampai membubuhkan sepermamu kedalam rahimnya!""Karena aku emang tidak sengaja!!" bentak Mahestwari. "Khilaf...."Sharlyn bertepuk tangan, sangat kencang dan penuh paksaan. "Bohong!! Saya menerima pesan dari simpananmu itu, jika Marry nyaris dibunuh kalau tidak membantumu untuk menuntaskan hasrat bejatmu itu."Mereka terus bertengkar, tidak menyadari jika sosok kecil penyuka bandana merah itu masih di ruangan yang sama. Berdiri dengan tubuh gemetar, menyaksikan pertengkaran hebat orang tuanya.Si kecil tidak menangis, matanya menajam. Namun suaranya bergetar. "Daddy jahat... daddy jahat... ""K–kenapa, daddy jahat? Kenapa Mommy nangis?" Ucapan menyakitkan dengan polosnya ia lontarkan."L–una juga jadi ikut sakit lihatnya...."Hingga, pertengkaran yang terus berlanjut, de

  • Dikhianati suami, Dimiliki CEO   berselingkuh depan istri++++

    Suasana di sebuah bangunan bernuansa merah marun dengan cahaya temerang, di tengah kediaman Mahestwari. Seorang gadis kecil yang memakai bandana merah dan selalu tampil ceria dan gembira, kini kembali murung. Sorot matanya menjadi sendu. Saat dia melihat sosok Ayah yang selalu dia banggakan, sedan

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status