Setelah Aku Pergi, Baru Dia, Tahu Rasa.

Setelah Aku Pergi, Baru Dia, Tahu Rasa.

last updateLast Updated : 2026-10-23
By:  KarianaOngoing
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel18goodnovel
Not enough ratings
6Chapters
23views
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

Empat tahun lalu, Nadine menyelamatkan Rama dari kebakaran yang merenggut nyawa kedua orang tua Nadine dan ayah Rama. Pengorbanan itu membuatnya lumpuh. Rama kemudian menikahinya, dan Nadine percaya pernikahan mereka dilandasi cinta. Namun, setelah memergoki suaminya berselingkuh, ia mengetahui kenyataan pahit: Rama menikahinya karena rasa bersalah dan utang budi. Hancur, Nadine mengajukan cerai. Barulah setelah kehilangan istri yang mencintainya dengan tulus, Rama menyadari bahwa hidup tanpa Nadine hanyalah kehampaan. “Nadine, kembalilah! Aku mengaku salah, aku tidak bisa hidup tanpamu karena aku sudah mati saat kebakaran itu kalau bukan karena kamu!”

View More

Chapter 1

Bab 1

"Gak usah, Ram. Aku bisa sendiri."

Telapak tangan Nadine terangkat, bertahan di udara. 

Nadine sedikit mendorong tubuh Rama, hingga langkah Rama yang sudah setengah jongkok di depan kursi roda itu langsung tertahan di tempat. Tangan Rama yang biasa sigap menyusup di bawah lutut dan punggung Nadine, kini kaku di tengah jalan.

Nadine menatap Rama dengan tatapan datar dan tanpa emosi.

“Nadine, kenapa? Ada apa? biar aku bantu, hm?” tanya Rama lembut. 

Senyum tipis terbit di bibir Nadine. Ia menggeleng pelan. “Aku harus belajar melakukannya sendiri, aku tidak bisa terus-terusan bergantung padamu”

“Nadine….ini bukan kamu banget!” protes Rama “Tidak biasanya kamu kaya gini. Selama empat tahun, kamu selalu menungguku. Kenapa kamu menolak?. tanya Rama dengan kening berkerut tipis, alisnya bertaut.

Nadine menggigit bibir bawahnya keras-keras. Kedua tangannya mencengkeram kursi roda sampai buku-buku jarinya memutih. Ia mengerahkan semua tenaga di lengan atasnya. Satu tarikan nafas yang ia tahan sampai dadanya terasa sakit.

krek.

Tubuh bagian bawahnya yang mati rasa itu terseret,lalu terhempas pelan ke atas ranjang.Nafasnya ikut memburu, keringat dingin mengalir di pelipisnya.

Rama mendekat lagi. Sudah mengerucutkan bibirnya, hendak mengecup kening Nadine. 

Namun dengan cepat Nadine memalingkan wajahnya dengan kasar. 

"Kamu sengaja bikin aku ngerasa bersalah, ya?" Akhirnya Rama bersuara. Nada suaranya terdengar lelah, merasa tertuduh. "Aku gak pulang tiga hari karena perjalanan bisnis, Nad. Bukan main-main."

Nadine hanya menggeleng pelan. 

"Apa aku pernah protes masalah perjalanan bisnismu?" bisiknya. 

"Lalu apa?" Rama bertanya pelan. Ia duduk di tepi ranjang, kasurnya sampai berderit pelan. "Ngomong sama aku."

Air mata Nadine menetes. 

"Keluar!" usirnya.

Rama memijat pangkal hidungnya. Terlihat frustasi. 

"Nad... kamu kenapa sih? Kalau aku salah bilang dong... Okay, okay," Rama menghela napas, suaranya ia paksa merendah. "Belakangan aku emang kurang perhatian sama kamu. Maaf, okay? Maafin aku."

Kata ‘maaf’itu yang justru membuat ulu hati Nadine serasa ditusuk. 

Dia tahu. Tuhan, dia tahu persis kenapa Rama kurang memperhatikannya belakangan ini. 

Empat tahun. Empat tahun ia kira tatapan teduh itu adalah cinta.

Ternyata bukan.Itu adalah tatapan belas kasihan karena Rama seolah berhutang padanya. 

Hutang nyawa karena di kebakaran empat tahun lalu — yang menewaskan kedua orang tua Nadine dan ayah Rama — tubuh lumpuh inilah yang mendorong Rama keluar dari reruntuhan kayu. Tubuh inilah yang hancur sebagai gantinya.

Rama menikahinya karena kasihan. Karena rasa bersalah. Bukan karena cinta.

Andai ia tahu dari awal, hari itu ia akan lebih memilih mati sekalian di kebakaran itu daripada harus hidup empat tahun dalam kebohongan yang manis.

Ingatan itu membuat dadanya dihimpit sesuatu yang tak kasat mata. Terasa sangat sesak. 

"Keluar! Aku bilang keluar!" suaranya pecah, naik satu oktaf. Tangannya tanpa sadar memukul-mukul pahanya sendiri yang lumpuh itu. Namun pukulan nya terasa sia-sia karena ia tidak bisa merasakan apa-apa.

Rama bergeming. Ia menatap istrinya dengan alis bertaut, bingung.

"Kamu kenapa sebenarnya?" Ia mencoba meraih tangannya, namun Nadine menepisnya dengan kasar.

"Keluar! Aku mohon!"

"Nadine... please jangan kayak gini," Rama tetap maju, suaranya mulai memohon. "Kalau ada apa-apa kita bisa bicarakan baik-baik. Jangan buat aku bingung kayak gini."

Nadine terisak pelan. Tubuh bagian atasnya berguncang. Ia meremas ujung selimutnya kuat-kuat sampai kukunya ikut memutih, berusaha menguatkan dirinya sendiri. Ia tidak mau terlihat lemah dengan posisinya saat ini, namun nyatanya ia memang semengenaskan itu.

"Memangnya siapa yang mau mencintai wanita lumpuh ini dengan tulus?"

Kalimat itu meluncur begitu saja,nyaris tak terdengar. 

Nadine memberanikan diri mendongak. Matanya yang sembab dan merah menatap lurus ke mata Rama. Suami yang ia cintai. Tempat ia percaya. Tempat ia berbagi hidup. Yang ternyata tidak pernah tulus mencintainya. Semua perhatian dan sikap manisnya hanyalah kebohongan yang dibungkus rasa bersalah.

“Kamu ngomong apa, sih?” tanya Rama mendengar gumaman pelan Nadine.

Dan lagi-lagi yang Rama dapatkan hanya gelengan pelan. “Nggak..lupakan, nggak papa”

Rama mengerjap. Wajahnya melembut. "Maafkan aku, hm? Aku janji setelah ini aku akan lebih perhatian sama kamu!," balasnya cepat.

Dengan perlahan ia bergerak, membawa tubuh ringkih Nadine ke dalam pelukan. Mengusap punggungnya dengan pelan,usapan yang selalu berhasil menidurkan Nadine selama empat tahun ini. 

Nadine mendorong dada Rama pelan agar menjauh darinya.

Rama mengernyit, heran. "Nad? Masih marah?"

Nadine harus mengatakannya. Ia harus mengatakan apa yang ia dengar tempo hari. Tapi kenapa bibir ini terasa begitu sulit? Setiap kali ia akan membuka mulut, hatinya ikut perih. 

"Aku butuh waktu sendiri," ucapnya pelan, akhirnya. Ia memaksakan tubuhnya berbaring, memunggungi Rama. Dengan punggung yang bergetar hebat karena isak yang ia tahan.

"Tapi Nad, kita harus bicara. Kamu kenapa?"

Nadine tidak menjawab. Ia menarik selimut sampai menutupi seluruh tubuhnya, sampai ke kepala. Ia tidak mau mendengar suara Rama lagi. Suara yang membuat hatinya semakin sakit.

"Jangan lama-lama marahnya ya, nanti aku kangen," bisik Rama lembut. Rama akan bersikap seperti ini, terus membujuk saat dia merasa bersalah.

Kemudian dari balik selimut, ia mendengar langkahnya menjauh ke arah kamar mandi. Pintu terdengar tertutup lalu disusul suara gemercik air dari shower. 

Di balik selimutnya, Nadine menggigit selimutnya kuat-kuat agar isaknya tidak terdengar. Ia ingin menjerit. Ingin berteriak bahwa dirinya sangat kecewa. Tapi nyatanya ia hanya bisa terdiam dan menangis, meratapi nasibnya yang lumpuh ini. 

Lima menit kemudian, shower mati.

Rama keluar dengan handuk melilit di pinggang, uap air masih mengepul dari tubuhnya. Rambutnya terlihat basah. Ia meraih ponselnya yang bergetar di atas nakas.

Sementara dari celah selimut yang sedikit terbuka, Nadine melihatnya.

Rama melirik nama di layar ponselnya. Seketika, bibirnya yang tadi tertekuk lelah, sedikit terangkat.

Rama tersenyum samar. 

"Halo?" jawabnya pelan. Ia melirik sekilas ke arah gumpalan selimut tempat Nadine bersembunyi.

Lalu, dengan senyum itu masih menggantung di wajahnya, Rama berbalik dan berlalu keluar dari kamar. Meninggalkan Nadine sendirian. 

Meninggalkan satu pertanyaan yang memenuhi kepala Nadine saat itu juga. 

“Siapa yang menelepon Rama selarut ini? “

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

No Comments
6 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status