LOGINEmpat tahun lalu, Nadine menyelamatkan Rama dari kebakaran yang merenggut nyawa kedua orang tua Nadine dan ayah Rama. Pengorbanan itu membuatnya lumpuh. Rama kemudian menikahinya, dan Nadine percaya pernikahan mereka dilandasi cinta. Namun, setelah memergoki suaminya berselingkuh, ia mengetahui kenyataan pahit: Rama menikahinya karena rasa bersalah dan utang budi. Hancur, Nadine mengajukan cerai. Barulah setelah kehilangan istri yang mencintainya dengan tulus, Rama menyadari bahwa hidup tanpa Nadine hanyalah kehampaan. “Nadine, kembalilah! Aku mengaku salah, aku tidak bisa hidup tanpamu karena aku sudah mati saat kebakaran itu kalau bukan karena kamu!”
View More"Gak usah, Ram. Aku bisa sendiri."
Telapak tangan Nadine terangkat, bertahan di udara.
Nadine sedikit mendorong tubuh Rama, hingga langkah Rama yang sudah setengah jongkok di depan kursi roda itu langsung tertahan di tempat. Tangan Rama yang biasa sigap menyusup di bawah lutut dan punggung Nadine, kini kaku di tengah jalan.
Nadine menatap Rama dengan tatapan datar dan tanpa emosi.
“Nadine, kenapa? Ada apa? biar aku bantu, hm?” tanya Rama lembut.
Senyum tipis terbit di bibir Nadine. Ia menggeleng pelan. “Aku harus belajar melakukannya sendiri, aku tidak bisa terus-terusan bergantung padamu”
“Nadine….ini bukan kamu banget!” protes Rama “Tidak biasanya kamu kaya gini. Selama empat tahun, kamu selalu menungguku. Kenapa kamu menolak?. tanya Rama dengan kening berkerut tipis, alisnya bertaut.
Nadine menggigit bibir bawahnya keras-keras. Kedua tangannya mencengkeram kursi roda sampai buku-buku jarinya memutih. Ia mengerahkan semua tenaga di lengan atasnya. Satu tarikan nafas yang ia tahan sampai dadanya terasa sakit.
krek.
Tubuh bagian bawahnya yang mati rasa itu terseret,lalu terhempas pelan ke atas ranjang.Nafasnya ikut memburu, keringat dingin mengalir di pelipisnya.
Rama mendekat lagi. Sudah mengerucutkan bibirnya, hendak mengecup kening Nadine.
Namun dengan cepat Nadine memalingkan wajahnya dengan kasar.
"Kamu sengaja bikin aku ngerasa bersalah, ya?" Akhirnya Rama bersuara. Nada suaranya terdengar lelah, merasa tertuduh. "Aku gak pulang tiga hari karena perjalanan bisnis, Nad. Bukan main-main."
Nadine hanya menggeleng pelan.
"Apa aku pernah protes masalah perjalanan bisnismu?" bisiknya.
"Lalu apa?" Rama bertanya pelan. Ia duduk di tepi ranjang, kasurnya sampai berderit pelan. "Ngomong sama aku."
Air mata Nadine menetes.
"Keluar!" usirnya.
Rama memijat pangkal hidungnya. Terlihat frustasi.
"Nad... kamu kenapa sih? Kalau aku salah bilang dong... Okay, okay," Rama menghela napas, suaranya ia paksa merendah. "Belakangan aku emang kurang perhatian sama kamu. Maaf, okay? Maafin aku."
Kata ‘maaf’itu yang justru membuat ulu hati Nadine serasa ditusuk.
Dia tahu. Tuhan, dia tahu persis kenapa Rama kurang memperhatikannya belakangan ini.
Empat tahun. Empat tahun ia kira tatapan teduh itu adalah cinta.
Ternyata bukan.Itu adalah tatapan belas kasihan karena Rama seolah berhutang padanya.
Hutang nyawa karena di kebakaran empat tahun lalu — yang menewaskan kedua orang tua Nadine dan ayah Rama — tubuh lumpuh inilah yang mendorong Rama keluar dari reruntuhan kayu. Tubuh inilah yang hancur sebagai gantinya.
Rama menikahinya karena kasihan. Karena rasa bersalah. Bukan karena cinta.
Andai ia tahu dari awal, hari itu ia akan lebih memilih mati sekalian di kebakaran itu daripada harus hidup empat tahun dalam kebohongan yang manis.
Ingatan itu membuat dadanya dihimpit sesuatu yang tak kasat mata. Terasa sangat sesak.
"Keluar! Aku bilang keluar!" suaranya pecah, naik satu oktaf. Tangannya tanpa sadar memukul-mukul pahanya sendiri yang lumpuh itu. Namun pukulan nya terasa sia-sia karena ia tidak bisa merasakan apa-apa.
Rama bergeming. Ia menatap istrinya dengan alis bertaut, bingung.
"Kamu kenapa sebenarnya?" Ia mencoba meraih tangannya, namun Nadine menepisnya dengan kasar.
"Keluar! Aku mohon!"
"Nadine... please jangan kayak gini," Rama tetap maju, suaranya mulai memohon. "Kalau ada apa-apa kita bisa bicarakan baik-baik. Jangan buat aku bingung kayak gini."
Nadine terisak pelan. Tubuh bagian atasnya berguncang. Ia meremas ujung selimutnya kuat-kuat sampai kukunya ikut memutih, berusaha menguatkan dirinya sendiri. Ia tidak mau terlihat lemah dengan posisinya saat ini, namun nyatanya ia memang semengenaskan itu.
"Memangnya siapa yang mau mencintai wanita lumpuh ini dengan tulus?"
Kalimat itu meluncur begitu saja,nyaris tak terdengar.
Nadine memberanikan diri mendongak. Matanya yang sembab dan merah menatap lurus ke mata Rama. Suami yang ia cintai. Tempat ia percaya. Tempat ia berbagi hidup. Yang ternyata tidak pernah tulus mencintainya. Semua perhatian dan sikap manisnya hanyalah kebohongan yang dibungkus rasa bersalah.
“Kamu ngomong apa, sih?” tanya Rama mendengar gumaman pelan Nadine.
Dan lagi-lagi yang Rama dapatkan hanya gelengan pelan. “Nggak..lupakan, nggak papa”
Rama mengerjap. Wajahnya melembut. "Maafkan aku, hm? Aku janji setelah ini aku akan lebih perhatian sama kamu!," balasnya cepat.
Dengan perlahan ia bergerak, membawa tubuh ringkih Nadine ke dalam pelukan. Mengusap punggungnya dengan pelan,usapan yang selalu berhasil menidurkan Nadine selama empat tahun ini.
Nadine mendorong dada Rama pelan agar menjauh darinya.
Rama mengernyit, heran. "Nad? Masih marah?"
Nadine harus mengatakannya. Ia harus mengatakan apa yang ia dengar tempo hari. Tapi kenapa bibir ini terasa begitu sulit? Setiap kali ia akan membuka mulut, hatinya ikut perih.
"Aku butuh waktu sendiri," ucapnya pelan, akhirnya. Ia memaksakan tubuhnya berbaring, memunggungi Rama. Dengan punggung yang bergetar hebat karena isak yang ia tahan.
"Tapi Nad, kita harus bicara. Kamu kenapa?"
Nadine tidak menjawab. Ia menarik selimut sampai menutupi seluruh tubuhnya, sampai ke kepala. Ia tidak mau mendengar suara Rama lagi. Suara yang membuat hatinya semakin sakit.
"Jangan lama-lama marahnya ya, nanti aku kangen," bisik Rama lembut. Rama akan bersikap seperti ini, terus membujuk saat dia merasa bersalah.
Kemudian dari balik selimut, ia mendengar langkahnya menjauh ke arah kamar mandi. Pintu terdengar tertutup lalu disusul suara gemercik air dari shower.
Di balik selimutnya, Nadine menggigit selimutnya kuat-kuat agar isaknya tidak terdengar. Ia ingin menjerit. Ingin berteriak bahwa dirinya sangat kecewa. Tapi nyatanya ia hanya bisa terdiam dan menangis, meratapi nasibnya yang lumpuh ini.
Lima menit kemudian, shower mati.
Rama keluar dengan handuk melilit di pinggang, uap air masih mengepul dari tubuhnya. Rambutnya terlihat basah. Ia meraih ponselnya yang bergetar di atas nakas.
Sementara dari celah selimut yang sedikit terbuka, Nadine melihatnya.
Rama melirik nama di layar ponselnya. Seketika, bibirnya yang tadi tertekuk lelah, sedikit terangkat.
Rama tersenyum samar.
"Halo?" jawabnya pelan. Ia melirik sekilas ke arah gumpalan selimut tempat Nadine bersembunyi.
Lalu, dengan senyum itu masih menggantung di wajahnya, Rama berbalik dan berlalu keluar dari kamar. Meninggalkan Nadine sendirian.
Meninggalkan satu pertanyaan yang memenuhi kepala Nadine saat itu juga.
“Siapa yang menelepon Rama selarut ini? “
Rama mencoba tersenyum, akan tetapi matanya tidak dapat berbohong. Pupilnya tiba-tiba melebar, menyisakan lingkar gelap yang kosong.“Maksud kamu siapa? Dia—tentu dia tidak marah”“Dia.” Potong Nadine singkat dan padat. “Nadine…kamu salah paham! Maksudku, vendor… mereka tidak akan marah. Mereka mengerti “Bohong lagi, benar-benar melelahkan. Nadine mendengus kasar. “Rama…aku yakin…kamu tau maksud ucapanku” Ucap Nadine misterius.Kalimat itu membuat Laras menatap Rama penuh bingung. Pria itu masih memaksakan senyuman diwajahnya, matanya memutar-mutar mencari sasaran, enggan menatap mata Nadine, dan berlagak seolah tidak mendengar ucapannya. Matanya melirik ke arah Laras seperkian detik, tatapan seolah mencari bantuan. Namun wanita itu malah bersedekap dada, dan masih menautkan alis menatapnya. “Nadine! Kamu kenapa sih? Ada apa denganmu? Tiba-tiba saja ingin tinggal sendiri, tiba-tiba saja bertanya tentang dia! Dia siapa? Aku nggak ngerti! “ Suara Rama naik satu oktaf, terdengar ti
“Aku tidak salah lihat…” gumamnya pelan sambil meremas dadanya yang terasa nyeri.Sekali ini saja Nadine ingin mencoba, apakah Rama jujur atau tidak. Dia menelpon Rama, karena Nadine yakin sekali, pria tinggi dengan kemeja biru langit itu adalah Rama. Karena dia selama ini yang menyiapkan pakaian Rama.Hanya terdengar nada dering satu kali sebelum akhirnya Rama mengangkat panggilannya.“Kenapa kamu tutup panggilanku?” tanya Rama.Nadine menarik napas panjang sebelum akhirnya menjawab “Maaf kepencet. Rama…kamu sekarang di mana?” Rama tak langsung menjawab, terdengar suara klakson, suara keramaian dan pastinya suara manja seorang perempuan yang sepertinya dibungkam secara paksa.“Aku sedang di jalan, ada meeting bersama vendor di sebuah cafe. Kenapa?”“Oooh,,,tidak apa. Aku tadi berpikir ingin bertemu karena kamu bilang mau jemput aku…jadi..ya udah nggak papa. Bye Rama”“Sayang…maafkan aku…besok aku ambil libur dan aku akan membawamu jalan-jalan, bagaimana? kemanapun kamu mau, aku akan
“Ah…ya…terima kasih” suara Nadine cepat bersamaan dengan pergerakan kursi rodanya.Nadine akhirnya bisa masuk ke dalam lift dengan bantuan nya. Pelan-pelan ia menolehkan kepalanya melihat. Pria itu berusia sekitar awal tiga puluhan.Tubuhnya menjulang tinggi,mungkin hampir 180 cm.Badannya tegap,dan atletis.Bahunya terlihat lebar hanya memakai kaos oblong berwarna abu-abu, celana hitam selutut, memakai sandal rumahan.Rambutnya dipotong pendek cepak terlihat agak berantakan.Wajahnya tidak setampan Rama,namun terlihat bersih.Rahangnya tegas,dan dialis kirinya ada bekas jahitan kecil, dengan sorot mata yang hangat dan tenang.Di tangan kirinya ia menenteng kantong plastik berisi sayur dan telur. Namun hal yang menjadi perhatian Nadine adalah…mata pria itu tenang, bahkan tidak menatap kursi rodanya lama-lama seperti orang lain yang menatapnya penuh kasihan. "Terima kasih," ucap Nadine lagi “Maaf merepotkan” Tambahnya.Pria itu mengangguk, lalu ikut masuk ke dalam lift yang sempit itu.
“Nggak ada..aku nggak ada ngomong apa-apa..” Nadine menggeleng, seutas senyum palsu menutupi lukanya merekah lagi.‘Aku harus bisa bertahan sampai nanti benar-benar siap mengatakan itu padanya’ batin Nadine.Percakapan malam itu ditutup dengan Nadine yang memilih tidur terlebih dahulu, sementara Rama,suaminya itu keluar dari kamar mereka pergi entah kemana. Keesokan paginya, Nadine sudah terlihat rapi sejak pukul tujuh. Ia duduk sendirian di meja makan, sementara Mama mertuanya Laras, sedang sibuk di dapur. Seperti pagi-pagi sebelumnya akhir-akhir ini Rama selalu berangkat lebih awal tanpa menunggunya bangun terlebih dahulu. “Rama tadi berangkat pagi-pagi, katanya ada rapat penting dan nggak mau bangunin kamu!” ucap Laras lembut.Nadine mengangguk pelan, “Iya, Ma!”Laras memutar tubuhnya menatap Nadine yang sedang sibuk dengan tablet di pangkuannya.“Nadine..kalau kamu merasa kesepian, bilang sama Mama, hm? Mama akan ajak kamu jalan-jalan. Mama tahu, belakangan ini Rama sangat sibu












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.