Share

BAB 6

Penulis: Zahra Zayra
last update Tanggal publikasi: 2026-07-22 19:46:16

"jangan seudzon Bu Mirna, mungkin Bella masih punya banyak stok makanan, jadi nggak belanja hari ini." ucap ibu-ibu yang tahu kemaren Bella belanja banyak.

"Dia bukan karena punya stok Bi, memangnya di rumah ada kulkas? tahu sendiri Bu juminten selama ini gimana hidupnya?" Ungkir Bu Mirna soal hidup almarhum Bu juminten.

Tin

tin.

"Loh, jeng Mirna mau kemana pagi-pagi sudah cantik?" tiba-tiba bu Mirna lewat dengan pakaian rapinya kayak orang mau senam.

"Biasa jeng Yatik aku mau ikut senam dulu biar tubuh tetep sexi lagian di rumah aku juga nggak sibuk, biasalah ada asisten yaang siaga," balas bu Mirna pertanyaan sholidnya itu.

"Enak banget jadi kamu ya Mir, bebas di rumah tidak ngapa-ngapain tapi rumah bisa bersih dan kinclong."

"Ya ialah Mir, rugi donk punya menantu kalau tidak di andalkan." katanya dengan nada santainya.

"Kalau aku jadi menantunya Bu Mirna nggak bakal mau hanya di jadi'in pembantu saja, padahal di sana juga yang kerja suaminya Erik." bisik ibuk yang belanja yang juga di sambut sama yang lain.

"Eh ibuk-ibuk kalian jangan sok tahu ya sama Keluarga saya, lagian wajar saja jika Salma itu jadi pembantu di rumah saya to' dia dapat makan gratis, masih untung anak saya mau menikahinya padahal di luar sana banyak perempuan cantik dan kaya yang mau sama dia, jadi ibuk-ibuk jangan ikut campur, urus hidup kallian sendiri yang belum bener itu." cerocos bu Mirna yang tak sukak di julidin para ibuk-ibuk, lalu pergi menyalakan setater motornya ngegas, menurutnya Salma pantas jika di jadikan pembantu.

"Idih... Punya mertua kok kayak gitu, sih Salma kok bettah banget kalau aku sudah minggat cari laki lain."

"Mungkin Salma masih mikir secara kan dia punya anak yang masih kecil dan dia juga tidak kerja."

"Tapi yang kelewtana itu Erik, masak ia tidak tahu sih kalau istrinya itu di perlakukan buruk sama mertuanya."

"Iya ibuk-ibuk betul kata jeng Mirna lagian Salma itu miskin dan tidak punya siapa-siapa yang wajarlah kalau bekerja di rumah mertuanya daripada jadi pembantu di rumah orang." jelas saja Yatik bela Mirna orang sholid.

"Tapi Salma itu istrinya Bu, tidak seharusnya dia jadi babu di rumah suaminya sendiri, emang ibu mau kalau anak perempuan ibu nantinya di perlakukan seperti itu sama mertuanya." lanjut ibu Tina, selama ini perempuan itu cukup prihatin sama Salma.

"Eh Ibu Tina! Jangan sembarangan kalau ngomong ya, kamu do'ain putri saya begitu? Enak saja, putri saya itu jelas beda nasib ya dengan dia, karena tahu kenapa? Anak saya itu cantik dan pintar, bukan barang rongsokan kayak dia." cetus Bu Mirna tidak terima.

"Saya tidak asal bicara ibu, hanya bicara fakta karena hidup di dunia ini roda akan terus berputar, saya heran sama Salma, bodoh sekali mau di perbudak mertuanya sendiri, kalau anak saya sudah saya seret pulang sekalian saya nikahkan sama laki-laki lain."

Namun Ibu Mirna hanya tertawa sinis dengar ocehan ibu Tina.

"Ibu Tina nggak salah bicara, Salma suruh nikah lagi? Siapa yang mau Bu, begron sampan gitu, masih untung anak saya tidak ngusir dia, mau jadi apa kalau bukan gelandangan."

Tina dan ibu yang lain mengehala napas pelan padahal Bu Mirna punya menantu yang namanya Salma anaknya baik dan penurut tapi nasib dia sama seperti Bella tidak punya orang tua dan saudara, dulu sama saja bu Mirna tidak sudi punya menantu miskin seperti Salma karna menurutnya rugi kalau punya menantu miskin.

Tapi karna anaknya Erik yang sudah cinta mati sama Salma akhirnya Bu Mirna harus mengalah demi sang putra tidak pergi dari rumah, kekayaan Bu Mirna sebenarnya tidak seberapa hanya saja di punya tanah yang di buat orang bikin bata dan dari sanalah dia mendapatkan penghasilan dan juga ada tanah kosong yang dia sewakan.

Bu Mirna punya anak dua satu laki-laki dan perempuan, anak perempuannya sudah di pinang orang kota yang kaya tapi Bu Mirna sendiri sampai sekarang tidak tahu bagaimana putrinya itu karna setiap Bu Mirna tanya Melliy bilang baik-baik saja dan bahagia.

"Sudahlah, saya mah berangkat senam bicara dengan kalian hanya buang waktu saya saja, jeng Yatik saya duluan Ya, daa, awas jangan lama-lama sama hama lingkungan." katanya dengan sombongnya mengenakan motor meticnya.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Dikira Masih Miskin    Bab 7

    "Bun, Riska mau ayam kentaci itu," tunjuk anak kecil yang berumur empat tahun menunjuk mengarah pedagang kichen di pinggir jalan."Riska pengen ya, nak?" tanya Salma bundanya. Mereka baru saja dari ambil baju di penjahit atas perintah sang nenek.Salma menghela napasnya berat, terasa tercekat tenggorokannya saat dengar putrinya Riska pengen kentaci, padahal tadi dirumahnya lagi masak itu tapi sayang Riska dan Salma tidak kebagian, jatah lauk mereka hanya tempe dan tahu saja setiap hari padahal yang masak Salma tapi tak bisa menikmati hasil masakannya sendiri karna sang mertua selalu menghitung jumlah ikan dan lauk yang ada jika saja kurang satu dia pasti marah-marah dan pastinya juga Salma dan Riska anaknya yang di omelin tidak ada habis-habisnya."Sayang, Riska belinya nanti saja ya kalau Bunda sudah ada uanganya," ucap Salma teriris sebab ia tidak tahu kapan bakal punya uang."Ya Bunda, padahal Riska sudah pengen banget lagian kalau di rumah ada lauk enak kita juga tidak kebagian,"

  • Dikira Masih Miskin    BAB 6

    "jangan seudzon Bu Mirna, mungkin Bella masih punya banyak stok makanan, jadi nggak belanja hari ini." ucap ibu-ibu yang tahu kemaren Bella belanja banyak."Dia bukan karena punya stok Bi, memangnya di rumah ada kulkas? tahu sendiri Bu juminten selama ini gimana hidupnya?" Ungkir Bu Mirna soal hidup almarhum Bu juminten.Tin tin."Loh, jeng Mirna mau kemana pagi-pagi sudah cantik?" tiba-tiba bu Mirna lewat dengan pakaian rapinya kayak orang mau senam."Biasa jeng Yatik aku mau ikut senam dulu biar tubuh tetep sexi lagian di rumah aku juga nggak sibuk, biasalah ada asisten yaang siaga," balas bu Mirna pertanyaan sholidnya itu."Enak banget jadi kamu ya Mir, bebas di rumah tidak ngapa-ngapain tapi rumah bisa bersih dan kinclong.""Ya ialah Mir, rugi donk punya menantu kalau tidak di andalkan." katanya dengan nada santainya."Kalau aku jadi menantunya Bu Mirna nggak bakal mau hanya di jadi'in pembantu saja, padahal di sana juga yang kerja suaminya Erik." bisik ibuk yang belanja yang jug

  • Dikira Masih Miskin    BAB 5

    Loh! ibuk sudah datang, mana berkatnya?" todong Sinta pas melihat ibuknya duduk di ruang tamu sambil ngedumel padahal ia baru datang pengajian katanya."Kamu itu Sin, makanan meluluk yang di pikirin nggak ada lain apa selain itu." omel bu Yatik sama anak putrinya."Lah, ibuk di semprot setan dari mana sih, biasanya juga begitu kalau datang dari yasinan dapat berkat." batin Sinta curiga ibuknya habis Ketemu setan di jalan."Assalamu'alaikum, salam dari luar ternyata ilham Putra sulung bu Yatik baru pulang kerja jam sembilan anak itu makin hari makin rajin saja."Waalaikumsalam, kamu baru pulang Ham, lembur lagi?" sahut ibuk Yatik."Iya buk, ibuk habis dari mana? Kok wajahnya di tekuk gitu!" kata ilham yang sebenarnya tidak heran sama raut sang ibuk yang memang jarang damai itu."Dari pengajian di rumah Sohilah, tapi ibuk kessel," desis bu Yatik."Lah, kenapa, pulang pengajian kok kessel bukannya tambah adem hatinya?" balas ilham."Ya jelas ibuk kessal Ham, apa lagi sama tuh anak kere y

  • Dikira Masih Miskin    BAB 4

    Ya kalau ibuk-ibuk mau menganggap seperti itu ya nggak papa saya nggak masalah apapun pekerjaan suami saya yang penting halal dan bisa membahagiakan istri." jawab Bella santai."Bagus memang itu yang terpenting Bu, ya sudah labih baik kita mulai acara yasinannya bila ada yang ingin di bahas kita lanjut nanti lagi pas selesai kocokan arisan." ucap Bu RT melerai keadaan agar tetep kondusif."Alah, jadi istri supir saja sok romantis pakeh ngomomg bisa ngebahagiakan istri di buat sensara iya." batin bu Yatik siriknya tidak bertempat.Yasinan pun selesai dan di tutup dengan do'a lalu di lanjut kembali kocokan untuk arisan selanjutnya dan ternyata di rumah bu Selamet."Selamat ya, Bu selamet pengajian dan arisan selanjutnya di rumah sampean." kata bu Nindi bagian megang keuangan.Dan acarapun di lanjut ramah tamah yang sambil di selingin obrolan dan sering sesama ibuk kampung sumber asih."Mbak Bela mungkin mau ikut arisan RW lumayan loh mbak dapat banyak, dan disana juga ada arisan emasnya

  • Dikira Masih Miskin    BAB 3

    Sorry Ye! [ enak saja mau ngalahin saya ] Setelah sholat mangrib Bella baru selesai siap-siap yang mau berangkat pengajian di rumah ibuk sholihah, di luar suara ibuk-ibuk sudah berteriak memanggil nama Bella hingga membuatnya gopoh.Beruntung Bella sudah dandan tinggal ambil tas saja namun saat ia keluar kamar, Bella malah lupa mau makai perhiasan gelangnya namun suara gelegar ibuk-ibuk terdengar nyaring terpaksa Bella urungkan niatnya yang mau mengambil gelang alhasil ia berangkat dengan lengan kosong."Iya ibuk sebentar." sahut Bella perasaan masih baru mangrib kenapa pada kesusuk.Bella keluar yang sudah siap dengan setelan gamis syar'i nya yang baru ia beli kala mau kembali ke desa dan itu syar'i keluar terbaru rancangan desainer kelas atas limeted edicion itu keliatan dari banget dari kain dan bandrolnya."Bel, kamu lama banget keburu sudah di tinggal ibuk-ibuk dari tadi." ucap bu Nining yang nyamperin Bella."Iya bu, maaf baru selesai sholat bukankah waktunya masih kurang sete

  • Dikira Masih Miskin    BAB 2

    Sementara itu Bella baru sampek depan rumahnya dan masuk,"Assalamu'alaikum."salam Bella. Ia mendapati sang suami baru saja selesai mandi dan tersenyum manis pada Bella."Waalaikumsalam sayang, udah selesai belanjanya? Kenapa tadi tidak nunggu Mas biar ku anter ke supermarket saja."jawab suaminya Bella, Rendi." Nggak papa Mas, lagian dekat kok tadi sayur dan ikannya juga segar-segar."sahut Bella, ia memang lebih memilih belanja di mang sayur selain dekat ia bisa bersedekah sama pedagang kecil."Ya sudah terserah kamu, yang penting kamu jangan capek-capek. Masak seadanyan dulu sebelum nanti kita pindah ke rumah baru kita dan dapat asisten ART." ucap Randi tak mau sang istri terlihat kecape'an."Iya, Mas tenang saja. Terimakasih banyak ya Mas, sudah mau tinggal di kampung ku sesuai keinginan almarhum ibukku." ucap Bella senang, karna almarhum ibuknya ingin jika Bella sukses tetep tinggal di kampungnya dan bisa berbagi sama tetangganya sendiri.Randi sudah menyiapkan rumah untuk Bella ya

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status