MasukLoh! ibuk sudah datang, mana berkatnya?" todong Sinta pas melihat ibuknya duduk di ruang tamu sambil ngedumel padahal ia baru datang pengajian katanya.
"Kamu itu Sin, makanan meluluk yang di pikirin nggak ada lain apa selain itu." omel bu Yatik sama anak putrinya. "Lah, ibuk di semprot setan dari mana sih, biasanya juga begitu kalau datang dari yasinan dapat berkat." batin Sinta curiga ibuknya habis Ketemu setan di jalan. "Assalamu'alaikum, salam dari luar ternyata ilham Putra sulung bu Yatik baru pulang kerja jam sembilan anak itu makin hari makin rajin saja. "Waalaikumsalam, kamu baru pulang Ham, lembur lagi?" sahut ibuk Yatik. "Iya buk, ibuk habis dari mana? Kok wajahnya di tekuk gitu!" kata ilham yang sebenarnya tidak heran sama raut sang ibuk yang memang jarang damai itu. "Dari pengajian di rumah Sohilah, tapi ibuk kessel," desis bu Yatik. "Lah, kenapa, pulang pengajian kok kessel bukannya tambah adem hatinya?" balas ilham. "Ya jelas ibuk kessal Ham, apa lagi sama tuh anak kere yang sekarang sok kaya itu, sok-sok'an mau bergabung sama ibuk-ibuk yang sosialitanya tinggi, huh!" kata bu Yatik dengan nada jelas sekali kalau di masih jengkel hatinya. "Memangnya siapa bu yang sok kaya, mungkin saja memang dia punya." sambung ilham lagi. "Kaya apanya Ham, orang rumahnya saja kecil dan mau riyot suaminya juga tukang supir, nggak ada pentes-pantesnya dia jadi orang kaya cuma gayanya saja sok punya suami pengusaha." cela bu Yatik sama seseorang yang tidak tahu siapa yang di maksud ibuknya. "Memangnya siapa orang yang ibuk maksdu sok kaya itu?" "Ya siapa lagi kalau bukan anak bu juminten itu, sok kecantikan." "Anaknya bu juminten? Maksudnya ibuk juminten, yang sudah meninggal itu, bu?" "Iya ham, emang siapa lagi nama Bu juminten di kampung kita ini?" "Jadi yang ibuk sebut perempuan sok kaya itu Bella?" tebak ilham, perasaannya mulai tak enak karna tadi sang ibuk bilang dia punya suami. "Iya Ham, dia itu sudah menikah sekarang dan suaminya itu seorang supir, apa aku bilang dulu, beruntung kamu tidak jadi nikah sama dia kalau nggak nasib kamu bakal malang juga kayak dia." "Bu, jangan bilang begitu Bella bukan perempuan pembawa sial, lagian kenapa ibuk bilang Bella sok kaya? Jangan-jangan dia memang sudah kaya beneran!" "Kamu nggak percaya sama ibuk, kalau memang dia kaya benerna kenapa masih tinggal di rumha kecil itu tidak beli rumah besar dan juga tinggal di kota, dia itu kembali ke sini karna sudah di usir sama orang kota gara-gara banyak hutangnya." ibuk Yatik mengarang cerita padahal ia belum tahu apa-apa tentang Bella yang sekarang. "Udah, ibuk mau tidur ngantuk dan kamu Ham, mulai cari calon istri entar di kira belum menikah karna masih nunggu Bella, dan satu pesan ibuk cari perempuan yang kaya dan pintar jangan cari kayak Bella itu lagi, malu-malu'in saja." bu Yatik beranjak dari ruang tamu pergi ke kamarnya sedangkan Sinta sudah dari tadi pergi ia hanya berniat mengambil berkat bukan mendengarkan ocehan sang ibuk yang tidak jelas. _______ Sementara itu malam terus bertambah gela menyelimuti hati yang gamang di atasnya banyak bintang yang berkelip indah tapi sayangnya tak seindah hati seorang ilham saat ini. Ilham yang baru tahu kalau pujaan hatinya ternyata sudah kembali ke kampung halamannya sesuatu yang sangat di tunggu oleh ilham tapi kedatangan Bella bukannya membawa obat tapi luka yang mendalam, sebab Bella datang tidak sendirian tetapi bersama suaminya pupus sudah harapan ilham. Sering kali sang ibuk memintanya untuk segera menikah namun ilham beralasan belum mendapatkan perempuan seperti yang ibuknya mua, tajir, pinter dan mau patuh sama ilham. Lagian ibuknya itu tidak mikir mana ada perempuan jaman sekarang kaya dan cerdas mau berada di bawah kuasa laki-laki, kecuali kalau perempuan bodoh dan tak berpendidikan. Keesokan paginya seperti biasa ibuk-ibuk desa sumber asih sedang belanja di tukang sayur keliling di sana banyak ibuk-ibuk yang mengantri dan sibuk memilih sayur segar dan ikan. Sedangkan Bella memang sengaja tidak belanja pagi ini selain setoknya masih banyak ia tidak di perbolehkan masak sama suaminya karna Rendi mau berangkat pagi hari ini. "Sayang, Mas berangkat dulu ya. Ohya paling nanti motor metic mu datang tadi orang deler sudah ngubungin mas mau di anter hari ini." ucap Rendi sama sang istri Bella. "Mas kok cepet banget beli’in aku motor, padahal aku nggak papa nanti-nanti saja masih belum ada rencana mau keluar mas, aku masih ingin menata rumah dan lahan di belakang itu rencananya mau saya tanemin buah apa sayur-sayuran gitu." "Kamu nggak usah repot-repot nanti malah capek biar nanti mas panggil tukang kebun, kamu tidak perlu melakukannya masak seorang CEO mau ngebun!" "Hehe... Nggak papa donk mas biar berkeringat, itu malah sehat loh!" "Kamu itu bisa saja, emang istri yang cerdas. Sudah Mas berangkat ya. Hati-hati di rumah kalau ada apa-apa langsung kabari Mas." kata Rendi seraya mencium tangan istrinya dengan mesra dan Bella juga mencium tangan suaminya hormat. Kembali ke tukang sayur di lorong jalan,"Benar kan kalau sih Bella itu belanja banyak kemaren hanya buat setok dan berlagak kaya biar kita tidak nyinyirin." celetuk bu Yatik. "Iya, kok dia nggak belanja lagi ya." sahut ibuk yang lain. "Apa aku bilang ibuk-ibuk kalau Bella itu gayanya saja, tapi nyatanya dia itu susah." "Apa karna dia tidak ingin seperti almarhun ibuknya ya, pura-pura kaya biar tidak di hina?" "Iya, mungkin saja.""Bun, Riska mau ayam kentaci itu," tunjuk anak kecil yang berumur empat tahun menunjuk mengarah pedagang kichen di pinggir jalan."Riska pengen ya, nak?" tanya Salma bundanya. Mereka baru saja dari ambil baju di penjahit atas perintah sang nenek.Salma menghela napasnya berat, terasa tercekat tenggorokannya saat dengar putrinya Riska pengen kentaci, padahal tadi dirumahnya lagi masak itu tapi sayang Riska dan Salma tidak kebagian, jatah lauk mereka hanya tempe dan tahu saja setiap hari padahal yang masak Salma tapi tak bisa menikmati hasil masakannya sendiri karna sang mertua selalu menghitung jumlah ikan dan lauk yang ada jika saja kurang satu dia pasti marah-marah dan pastinya juga Salma dan Riska anaknya yang di omelin tidak ada habis-habisnya."Sayang, Riska belinya nanti saja ya kalau Bunda sudah ada uanganya," ucap Salma teriris sebab ia tidak tahu kapan bakal punya uang."Ya Bunda, padahal Riska sudah pengen banget lagian kalau di rumah ada lauk enak kita juga tidak kebagian,"
"jangan seudzon Bu Mirna, mungkin Bella masih punya banyak stok makanan, jadi nggak belanja hari ini." ucap ibu-ibu yang tahu kemaren Bella belanja banyak."Dia bukan karena punya stok Bi, memangnya di rumah ada kulkas? tahu sendiri Bu juminten selama ini gimana hidupnya?" Ungkir Bu Mirna soal hidup almarhum Bu juminten.Tin tin."Loh, jeng Mirna mau kemana pagi-pagi sudah cantik?" tiba-tiba bu Mirna lewat dengan pakaian rapinya kayak orang mau senam."Biasa jeng Yatik aku mau ikut senam dulu biar tubuh tetep sexi lagian di rumah aku juga nggak sibuk, biasalah ada asisten yaang siaga," balas bu Mirna pertanyaan sholidnya itu."Enak banget jadi kamu ya Mir, bebas di rumah tidak ngapa-ngapain tapi rumah bisa bersih dan kinclong.""Ya ialah Mir, rugi donk punya menantu kalau tidak di andalkan." katanya dengan nada santainya."Kalau aku jadi menantunya Bu Mirna nggak bakal mau hanya di jadi'in pembantu saja, padahal di sana juga yang kerja suaminya Erik." bisik ibuk yang belanja yang jug
Loh! ibuk sudah datang, mana berkatnya?" todong Sinta pas melihat ibuknya duduk di ruang tamu sambil ngedumel padahal ia baru datang pengajian katanya."Kamu itu Sin, makanan meluluk yang di pikirin nggak ada lain apa selain itu." omel bu Yatik sama anak putrinya."Lah, ibuk di semprot setan dari mana sih, biasanya juga begitu kalau datang dari yasinan dapat berkat." batin Sinta curiga ibuknya habis Ketemu setan di jalan."Assalamu'alaikum, salam dari luar ternyata ilham Putra sulung bu Yatik baru pulang kerja jam sembilan anak itu makin hari makin rajin saja."Waalaikumsalam, kamu baru pulang Ham, lembur lagi?" sahut ibuk Yatik."Iya buk, ibuk habis dari mana? Kok wajahnya di tekuk gitu!" kata ilham yang sebenarnya tidak heran sama raut sang ibuk yang memang jarang damai itu."Dari pengajian di rumah Sohilah, tapi ibuk kessel," desis bu Yatik."Lah, kenapa, pulang pengajian kok kessel bukannya tambah adem hatinya?" balas ilham."Ya jelas ibuk kessal Ham, apa lagi sama tuh anak kere y
Ya kalau ibuk-ibuk mau menganggap seperti itu ya nggak papa saya nggak masalah apapun pekerjaan suami saya yang penting halal dan bisa membahagiakan istri." jawab Bella santai."Bagus memang itu yang terpenting Bu, ya sudah labih baik kita mulai acara yasinannya bila ada yang ingin di bahas kita lanjut nanti lagi pas selesai kocokan arisan." ucap Bu RT melerai keadaan agar tetep kondusif."Alah, jadi istri supir saja sok romantis pakeh ngomomg bisa ngebahagiakan istri di buat sensara iya." batin bu Yatik siriknya tidak bertempat.Yasinan pun selesai dan di tutup dengan do'a lalu di lanjut kembali kocokan untuk arisan selanjutnya dan ternyata di rumah bu Selamet."Selamat ya, Bu selamet pengajian dan arisan selanjutnya di rumah sampean." kata bu Nindi bagian megang keuangan.Dan acarapun di lanjut ramah tamah yang sambil di selingin obrolan dan sering sesama ibuk kampung sumber asih."Mbak Bela mungkin mau ikut arisan RW lumayan loh mbak dapat banyak, dan disana juga ada arisan emasnya
Sorry Ye! [ enak saja mau ngalahin saya ] Setelah sholat mangrib Bella baru selesai siap-siap yang mau berangkat pengajian di rumah ibuk sholihah, di luar suara ibuk-ibuk sudah berteriak memanggil nama Bella hingga membuatnya gopoh.Beruntung Bella sudah dandan tinggal ambil tas saja namun saat ia keluar kamar, Bella malah lupa mau makai perhiasan gelangnya namun suara gelegar ibuk-ibuk terdengar nyaring terpaksa Bella urungkan niatnya yang mau mengambil gelang alhasil ia berangkat dengan lengan kosong."Iya ibuk sebentar." sahut Bella perasaan masih baru mangrib kenapa pada kesusuk.Bella keluar yang sudah siap dengan setelan gamis syar'i nya yang baru ia beli kala mau kembali ke desa dan itu syar'i keluar terbaru rancangan desainer kelas atas limeted edicion itu keliatan dari banget dari kain dan bandrolnya."Bel, kamu lama banget keburu sudah di tinggal ibuk-ibuk dari tadi." ucap bu Nining yang nyamperin Bella."Iya bu, maaf baru selesai sholat bukankah waktunya masih kurang sete
Sementara itu Bella baru sampek depan rumahnya dan masuk,"Assalamu'alaikum."salam Bella. Ia mendapati sang suami baru saja selesai mandi dan tersenyum manis pada Bella."Waalaikumsalam sayang, udah selesai belanjanya? Kenapa tadi tidak nunggu Mas biar ku anter ke supermarket saja."jawab suaminya Bella, Rendi." Nggak papa Mas, lagian dekat kok tadi sayur dan ikannya juga segar-segar."sahut Bella, ia memang lebih memilih belanja di mang sayur selain dekat ia bisa bersedekah sama pedagang kecil."Ya sudah terserah kamu, yang penting kamu jangan capek-capek. Masak seadanyan dulu sebelum nanti kita pindah ke rumah baru kita dan dapat asisten ART." ucap Randi tak mau sang istri terlihat kecape'an."Iya, Mas tenang saja. Terimakasih banyak ya Mas, sudah mau tinggal di kampung ku sesuai keinginan almarhum ibukku." ucap Bella senang, karna almarhum ibuknya ingin jika Bella sukses tetep tinggal di kampungnya dan bisa berbagi sama tetangganya sendiri.Randi sudah menyiapkan rumah untuk Bella ya







