Compartilhar

bab 28

Autor: Zahra Zayra
last update Data de publicação: 2026-10-27 22:29:48

"Sayang, kamu pesan itu untuk apa?" tanya Rendi saat Bella membuka barang cod yang baru datang.

"Oh ini Mas, jebakan tikus mau Aku taruk di kebun soalnya di kebun banyak tiksunya kalau malam."

"Hah, masak sih sayang? Kan sudah di rawat oleh Mang Marto?"

"Iya kalau siang Mas, kalau malam kan Mang Marto nggak di kebun."

"Iya juga sih, terus kapan yang mau kamu taruk?"

"Ya sekarang, kan udah datang ini barang."

"Kamu sendiri yang mau naruk, nggak nunggu Mang Marto?"

"Nggak Mas, Aku bisa kok kalau
Continue a ler este livro gratuitamente
Escaneie o código para baixar o App
Capítulo bloqueado

Último capítulo

  • Dikira Masih Miskin    bab 32

    Sesampainya di rumah, Sinta langsung membanting tas kecilnya ke atas meja ruang tamu dengan wajah cemberut. Bibirnya mengerucut sebal, matanya menyiratkan rasa kesal bercampur penasaran yang amat sangat. Ia masih tidak habis pikir dan merasa tidak terima dengan kenyataan yang baru saja ia lihat di jalan tadi pagi.​"Ih, bener-bener nyebelin banget!" gerutu Sinta sambil melangkah menghentak-hentakkan kakinya menuju sofa, lalu menjatuhkan tubuhnya dengan kasar.​Bu Yatik yang baru saja melepas mukena usai salat duha langsung menghampiri anaknya dengan kening berkerut heran. "Kamu ini kenapa pagi-pagi udah ngedumel enggak jelas? Ada apa sih, Sin?" tanya Bu Yatik penasaran.​Sinta menoleh dengan wajah ditekuk masam. "Aku masih kepikiran sama kejadian tadi pagi, Bu. Masa ya, Bella mantan iparnya Mas Ilham itu punya suami setampan dan sekeren itu? Padahal dulu waktu dia masih di sini, biasa aja!"​Bu Yatik mendengus pelan, lalu ikut duduk di samping anaknya. Ia mengibaskan tangannya seolah

  • Dikira Masih Miskin    bab 31

    Pagi itu, kabut tipis masih tampak bergelayut malas di atas pucuk-pohon kelapa yang berbaris rapi di sepanjang jalan desa. Udara dingin khas pedesaan menyapa kulit siapa saja yang melangkah keluar rumah pagi-pagi sekali. Di jalan setapak yang dikelilingi hamparan sawah menghijau, Bella dan suaminya, Rendi, melangkah berdampingan dengan santai. Keduanya mengenakan pakaian olahraga kasir, menikmati kesegaran udara pagi sambil melunturkan penat setelah seminggu penuh disibukkan dengan urusan bisnis.​"Segar banget ya udaranya, Mas," ucap sambil menarik napas dalam-dalam, menikmati aroma tanah basah dan dedaunan yang menenangkan. "Jauh banget bedanya sama suasana kota yang isinya polusi mulu."​Rendi menoleh ke samping, tersenyum hangat melihat istrinya yang tampak begitu menikmati pagi itu. "Iya, Sayang. Makanya sesekali pulang kampung begini tuh asyik. Bikin pikiran rileks."​"Oh iya, Mas. Nanti pas kita lewat dekat lapak jajanan pasar di ujung jalan, kita mampir sebentar ya. Aku pen

  • Dikira Masih Miskin    bab 30

    Satu minggu lebih telah berlalu sejak hari pertama Salma menginjakkan kaki dan mulai bekerja di toko roti milik sahabatnya. Suasana di dalam ruangan pribadi Bella yang bernuansa hangat dan elegan sore itu tampak begitu tenang. Di atas meja kerjanya, sebuah amplop putih agak tebal tergeletak rapi di samping laptop. Bella tersenyum ramah, lalu memanggil Salma yang baru saja selesai membereskan area kasir.​"Sal, masuk ke ruangan sebentar ya," panggil Bella lembut lewat interkom meja.​Tak lama kemudian, pintu ruangan terbuka pelan. Salma melangkah masuk dengan balutan seragam toko roti yang tampak pas dan bersih di tubuhnya. Wajahnya terlihat jauh lebih segar dan bercahaya dibandingkan minggu-minggu lalu saat ia masih tertekan di bawah cengkeraman mertuanya.​"Ada apa, Bell? Ada laporan kasir yang kurang pas ya?" tanya Salma agak cemas, langsung berdiri di depan meja Bella.​Bella terkekeh pelan. Ia meraih amplop putih di atas meja, lalu menggesernya perlahan ke hadapan sahabatnya itu.

  • Dikira Masih Miskin    Bab 29

    Akhirnya malam ini rasa sakit di telapak kaki Pak Rahman benar-benar luar biasa. Setelah diobati seadanya dengan kain kasa dan obat merah oleh Bu Nining, pria paruh baya itu hanya bisa berbaring di atas ranjang kamar sambil meringis kesakitan. Setiap kali jempol kakinya bergerak sedikit saja, rasa perih langsung menjalar hingga ke tulang.​"Aduh... Sakit banget, Bu... Aduh, Gusti..." rintih Pak Rahman dengan wajah pucat dan keringat dingin bercucuran di dahinya.​Bu Nining yang duduk di tepi ranjang bukannya merasa iba, ia justru melipat kedua tangannya di dada dengan wajah ditekuk masam. Alih-alih menyesali perbuatannya menyuruh sang suami mencuri, ia malah merasa kesal setengah mati karena rencananya gagal total.​"Duh, Bapak ini gimana sih! Makanya kalau jalan itu pakai mata, jangan asal melangkah!" omel Bu Nining ketus, menyalahkan suaminya sendiri.​Pak Rahman menoleh dengan mata melotot menahan amarah dan sakit. "Pakai mata gimana, Bu?! Gelap gulita begitu! Lagian siapa yang t

  • Dikira Masih Miskin    bab 28

    "Sayang, kamu pesan itu untuk apa?" tanya Rendi saat Bella membuka barang cod yang baru datang."Oh ini Mas, jebakan tikus mau Aku taruk di kebun soalnya di kebun banyak tiksunya kalau malam.""Hah, masak sih sayang? Kan sudah di rawat oleh Mang Marto?""Iya kalau siang Mas, kalau malam kan Mang Marto nggak di kebun.""Iya juga sih, terus kapan yang mau kamu taruk?""Ya sekarang, kan udah datang ini barang.""Kamu sendiri yang mau naruk, nggak nunggu Mang Marto?""Nggak Mas, Aku bisa kok kalau hanya masang ini, gampang!" seru Bella dengan senyum bahagia, dengan begini tidak akan ada maling lagi yang berani masuk ke kebunnya baik itu tikus asli atau tulus jadi-jadian."Udah dech, sekarang tinggal Aku taruk, Mas aku ke kebun dulu ya," ucap Bella pamitan pada suaminya."Sayang, kamu yakin mau ke belakang sendiri?""Iya donk, lagian kan ini kasih siang Mas, malam juga Aku nggak takut."Rendi tersenyum tipis, isterinya memang ajaib.Walau Bella sekarang sudah menjadi perempuan hebat tapi k

  • Dikira Masih Miskin    bab 27 Niat lagi

    Wajah Bu Mirna, Bu Yatik, dan Bu Nining seketika pias bagai mayat hidup. Mereka bertiga berdiri mematung di pinggir jalan desa, menatap nanar ke arah mobil pikap hitam yang perlahan berjalan mundur menuju halaman rumah Bella. Suara deru mesin motor PCX putih baru yang diturunkan dari atas bak mobil terdengar bagaikan petir di siang bolong bagi telinga mereka.​"B–beli motor PCX cash? Tanpa cicilan?!" bisik Bu Mirna dengan suara bergetar hebat, matanya melotot tak percaya menatap Bella dan suaminya yang menyambut motor itu di teras rumah.​Bu Yatik mengepalkan kedua tangannya erat-erat di samping tubuhnya. Wajahnya yang tadi sempat sombong kini berubah merah padam menahan rasa malu yang teramat sangat. "Sebernaya siapa sih dia! sekarang beli motor matic terbaru secara tunai! Sebenarnya mereka itu kerja apa sih sampai uangnya kayak tidak ada habisnya?!" gerutunya penuh dengki.​"Sudahlah, ayo kita pulang! Bikin panas mata saja lihatnya!" dengus Bu Nining dengan nada sewot luar biasa.

Mais capítulos
Explore e leia bons romances gratuitamente
Acesso gratuito a um vasto número de bons romances no app GoodNovel. Baixe os livros que você gosta e leia em qualquer lugar e a qualquer hora.
Leia livros gratuitamente no app
ESCANEIE O CÓDIGO PARA LER NO APP
DMCA.com Protection Status