Masuk“Aku yang memberinya izin, Paman.”
Semua orang langsung menoleh ke arah orang yang baru saja menjawab pertanyaan John itu. John menaikkan alis, tanda dia tidak menyukai pernyataan orang itu. Sementara Nathan malah menyunggingkan senyuman kepadanya, “Angela.” Angela Jackson mengabaikan panggilan dari suaminya dan berjalan ke arah pamannya dengan ekspresi wajahnya yang datar. Angela Jackson menjabat sebagai seorang direktur pemasaran di Jackson Group. Semua orang mengetahui latar belakang wanita cantik itu dan menyayangkan ketika wanita yang memiliki karir yang cemerlang seperti dirinya malah menikahi seorang pecundang yang asal-usulnya tidak jelas. Beberapa orang mencoba untuk menghancurkan rumah tangga Angela dan Nathan, tapi tak ada satupun yang berhasil melakukannya. John menggigit giginya, menahan rasa kesal, “Angela, aku sudah memberitahumu bahwa aku tidak menerima-” “Paman, aku masih menjabat sebagai direktur pemasaran dan memiliki saham di Jackson Group. Kau tahu dengan benar aku juga berhak menentukan siapa saja yang bisa hadir di pesta ini.” John mendengus, “Tapi, si pecundang ini-” “Nathan itu suamiku, Paman. Lagi pula pesta ini diadakan untuk merayakan kemenangan atas tender yang di dalamnya aku terlibat juga. Jadi, tidak ada yang salah dengan kehadiran Nathan di sini. Benar kan, Paman?” John menggertakkan giginya, luar biasa kesal terhadap pembelaan Angela pada suaminya. Dia melirik ke arah sekelilingnya yang jelas saat ini sedang menatapnya dengan tatapan penuh tanya. Sebagian di antara mereka seolah-olah mencemooh dirinya yang tak bisa berkutik di hadapan keponakannya. Tapi, Angela memang memiliki saham yang cukup besar di perusahaan yang dia pimpin saat ini sehingga dia tak bisa menghiraukan perkataan Angela. Terlebih lagi saat ini mereka sedang berada di depan banyak orang, jelas John harus menelan kekesalannya bulat-bulat. “Jadi … kapan pesta ini akan dimulai, Paman?” Angela kembali bertanya, mengabaikan wajah pamannya yang terlihat marah. John mencoba meredakan emosinya dan menjawab dengan nada normal, “Tidak lama lagi.” Angela membalasnya dengan sebuah anggukkan kecil. “Baiklah, kalau begitu kau … nikmati saja pesta ini dulu.” John berkata pelan tapi sebelum dia meninggalkan area itu, dia menyempatkan diri untuk berbisik di telinga keponakannya, “Angela, tidak seharusnya kau masih bersama dengan pria pecundang ini. Sebaiknya kau pertimbangkan Ben.” Angela mengerutkan kening dan menatap ke arah pamannya dengan tatapan bingung. “Dia ….” John menyeringai, “Aku mengundangnya malam ini, tapi … entahlah dia akan datang atau tidak.” “Seharusnya kau tidak mengundangnya, Paman. Aku dan Ben sudah tidak memiliki hubungan apapun,” kata Angela dengan nada serendah mungkin. John mendengus, “Tapi … dia masih sangat menyukaimu dan sebaiknya kau pikirkan lagi baik-baik atau kau akan menyesal karena lebih memilih pria pecundang itu.” “Nathan suamiku, Paman. Kakek … tidak mungkin menjodohkan aku dengan pria yang buruk,” balas Angela. John mendecakkan lidah, “Kau akan menyesal kalau tidak mendengarkan saranku.” John membuang napas dengan kasar dan meninggalkan keponakannya itu, diikuti oleh Lucy dan Harry yang hanya bisa melemparkan tatapan kesal mereka pada Angela. Kerumunan yang sempat ada di sekeliling wanita cantik itu dan suaminya akhirnya mulai bubar. Angela memejamkan matanya. Apa yang sebenarnya sedang dia lakukan? Dia telah menyalakan api permusuhan dengan keluarganya sendiri demi membela Nathan. Mengapa dia melakukannya? Angela hanya bisa menghela napas. “Angela, terima kasih.” Angela mendengus, “Tak adakah selain ucapan terima kasihmu yang tak berguna itu, Nathan?” “Angela, bersabarlah sebentar!” “Bersabar untuk apa? Kau memang mau melakukan apa? Ayolah, Nathan! Aku … bukan berharap kau tiba-tiba berubah menjadi seorang miliarder.” Angela mendesah pelan dan melanjutkan, “aku hanya ingin setidaknya kau memiliki pekerjaan yang tidak membuatku malu.” Nathan tersenyum pada wanita cantik yang meskipun selalu bersikap galak kepadanya tapi tak pernah sekalipun menamparnya atau bahkan menghinanya. “Tenang saja! Tidak akan lama lagi, Angela.” Angela mendengus, “Apanya yang tidak akan lama lagi?” “Kau … bisa mengangkat dagumu saat bersamaku,” kata Nathan yang membuat Angela menjadi jengah. Dia tak butuh janji-janji manis, tapi saat ini hanya itu yang bisa diberikan oleh Nathan. Tidak lama setelah itu, pesta perayaan kemenangan tersebut pun dimulai. Seperti biasa, Angela langsung bergabung dengan seluruh anggota pemegang saham, sementara Nathan berdiri di bagian paling belakang. Dia sudah terbiasa dengan kondisi seperti itu. Dia memang menantu yang tak pernah dianggap di keluarga itu, tapi Nathan tidak pernah mengeluh. Setidaknya keluarga ini telah membuatnya hidup berbaur dengan orang biasa. Tak ada yang mengetahui identitas aslinya dan hal itulah yang membuatnya bertahan di keluarga itu. “Tinggal 39 hari. Tidak akan lama lagi,” kata Nathan sembari menatap istrinya yang saat ini sedang memberikan pidato singkat. Di tengah-tengah pesta, Nathan memilih untuk berdiri di pinggir sembari mengamati apa saja yang terjadi di pesta itu. Tak ada yang aneh sampai kemudian ada beberapa orang yang masuk ke dalam area ruang tamu utama dengan membawa sebuah buket besar. Hal itu langsung menarik perhatian semua tamu di tempat itu. Hampir semua tamu telah mendekati buket yang berukuran lebih dari satu meter itu. Buket itu bukan berisi bunga indah, tapi melainkan sesuatu yang begitu menyilaukan mata. “Wah! Siapakah yang bermurah hati memberikan hadiah semewah itu?” “Tapi … omong-omong untuk siapa buket itu?” Dua orang kurir masih menata buket tersebut. Begitu mereka selesai, mereka pun segera menghampiri tuan rumah untuk menyampaikan pesan si pengirim. “Tuan, ini ada surat dari Tuan Muda Walter untuk … Nona Angela.” Semua orang langsung memekik kaget. Nathan sontak menoleh ke arah istrinya yang kini berdiri di samping pamannya. Dia lagi? Kapan dia akan menyerah mengganggu Angela? Nathan membatin sambil mengepalkan tangannya kuat-kuat. John tersenyum, “Lihatlah, Angela! Dia … memang tidak datang tapi dia mengirim hadiah mewah ini untukmu.” Angela tak menanggapinya dan hanya menatap buket yang berkilauan itu dengan tatapan datar. “Sudah aku duga. Siapa lagi yang bisa mengirimkan buket yang berisi berlian seperti ini selain Ben Walter yang pemurah itu?” “Tidak ada yang begitu kaya tapi juga begitu pemurah seperti Tuan Muda Walter yang juga tampan.” Seorang wanita paruh baya bahkan berkomentar, “Astaga, Ben Walter sepertinya memang tidak bisa pindah hati. Dia masih mencintai Angela Jackson.” “Oh, Angela memang sangat cantik. Siapa yang bisa melupakan wajah cantiknya?” “Benar, kau benar. Angela seharusnya menceraikan suaminya yang pecundang itu dan mempertimbangkan untuk kembali pada Ben Walter. Wanita secantik dan memiliki karir yang brilian seperti dia, seharusnya mendapatkan suami yang sama hebatnya seperti dia.” Semua komentar itu membuat Nathan mengepalkan tangannya. Dia bisa memberikan sesuatu yang lebih mahal dari yang diberikan oleh Ben pada istrinya. Tapi, semua itu tidak bisa dia lakukan sekarang karena dia masih belum bisa mengakses secara bebas semua akun bank miliknya. Dia masih harus menunggu selama satu bulan lebih lagi sebelum bisa menggunakan semuanya. “Angela, kau benar-benar sangat beruntung. Ben sepertinya masih tergila-gila kepadamu,” kata Harry yang menatap penuh rasa kagum ke arah buket itu. Lucy tertawa kecil, “Kalau aku jadi kau, aku pasti akan langsung menceraikan Nathan dan kembali pada Ben. Menjadi nyonya Walter tentu saja tidak akan membuatku rugi.” John tersenyum puas dan kini benar-benar yakin bahwa keponakannya itu pasti mulai ragu-ragu untuk melanjutkan hubungannya dengan Nathan. Akan tetapi, dia malah mendengar Angela berkata, “Paman, aku tak bisa menerima ini. Tolong, kau kirimkan kembali ke Tuan Muda Walter.”Dengan terpaksa Angela Jackson menutup tutup kotak bekal miliknya. Wanita cantik itu kemudian membawanya dan pergi untuk menemui mantan kekasihnya yang licik setelah memberi pesan pada sekretarisnya. Tapi, bukannya Ben Walter yang menunggunya di restoran itu, melainkan sekretaris pria itu. “Di mana Tuan Mudamu, North?” Angela bertanya dengan nada datar. North tersenyum penuh permohonan maaf, “Maaf, Nona Jackson. Tuan Muda Walter menerima panggilan mendadak dari Tuan Besar. Beliau … langsung bergegas kembali ke kantor karena ada rapat penting.” Ah, Angela malah tersenyum mendengarnya, justru merasa dia sangat beruntung karena hari itu dia batal bertemu dengan Ben. Sementara mengenai proyek rahasia yang disebutnya, Angela berpikir mungkin saja itu hanya akal-akalan Ben untuk bertemu dengannya. Karena hal itu, Angela pun berjanji akan jauh lebih waspada pada tipuan Ben. Pada saat yang bersamaan, Nathaniel Lee baru saja tiba kembali di area taman tempatnya bekerja. Dia bergega
Harry tersenyum penuh kebanggaan diri, “Ya, Ayah. Aku punya sebuah rencana bagus.” “Baiklah, kuserahkan ini kepadamu dan ingat … jangan sampai ada orang yang mengetahuinya.” John memperingatkan putranya dengan nada serius. “Ayah tak perlu cemas soal ini. Aku jamin … tidak ada yang akan tahu tentang ini,” Harry tersenyum licik. “Berhati-hatilah, Harry!” Lucy juga ikut memperingatkan kakak laki-lakinya. Esok paginya, Harry mulai menyusun rencana untuk menghilangkan nyawa Nathan. Sementara itu, di sebuah rumah yang bisa dibilang cukup mewah, Angela Jackson baru saja keluar dari rumah setelah menyantap makan paginya. Di halaman parkir, mobilnya telah siap. Tapi, tampilannya yang terlihat berkilau hingga membuat Angela menaikkan alisnya dan memanggil, “Nathan.” “Nathan.” Angela memanggil lagi dengan nada yang cukup keras. Nathan yang semula berada di dalam garasi mobil untuk membereskan beberapa hal bergegas keluar mendengar suara istrinya yang memanggilnya. “Ya, ada apa, Angel
“Apa katamu? Kau … menyuruhku untuk mengembalikannya?” John melongo, hampir tak percaya atas apa yang dia dengar.“Angela, kau sudah gila ya!” Lucy menatap Angela seakan sepupunya itu sudah gila. Sementara Harry mengedipkan mata dan kembali menoleh ke arah buket yang berisi berlian yang bernilai tinggi itu, “Kau mau mengembalikan berlian seharga jutaan dollar? Kau … serius, Angela?”Bukan hanya anggota keluarga Jackson yang terkejut mendengar perkataan Angela, tapi hampir seluruh tamu, termasuk Nathan, suaminya sendiri pun juga tak menyangka Angela melakukan hal itu.Tetapi, Angela dengan ekspresi tenang di wajahnya berujar, “Paman, aku sudah memiliki seorang suami. Menerima hadiah dari laki-laki yang merupakan mantan kekasihku … itu terasa tidak pantas.”Beberapa tamu mulai memahami keputusan Angela, tapi sebagian besar di antara mereka masih berpikir bahwa Angela Jackson begitu sangat bodoh telah menolak seorang konglomerat seperti Ben Walter.Ben Walter adalah salah seorang bujang
“Aku yang memberinya izin, Paman.” Semua orang langsung menoleh ke arah orang yang baru saja menjawab pertanyaan John itu. John menaikkan alis, tanda dia tidak menyukai pernyataan orang itu. Sementara Nathan malah menyunggingkan senyuman kepadanya, “Angela.” Angela Jackson mengabaikan panggilan dari suaminya dan berjalan ke arah pamannya dengan ekspresi wajahnya yang datar. Angela Jackson menjabat sebagai seorang direktur pemasaran di Jackson Group. Semua orang mengetahui latar belakang wanita cantik itu dan menyayangkan ketika wanita yang memiliki karir yang cemerlang seperti dirinya malah menikahi seorang pecundang yang asal-usulnya tidak jelas. Beberapa orang mencoba untuk menghancurkan rumah tangga Angela dan Nathan, tapi tak ada satupun yang berhasil melakukannya. John menggigit giginya, menahan rasa kesal, “Angela, aku sudah memberitahumu bahwa aku tidak menerima-” “Paman, aku masih menjabat sebagai direktur pemasaran dan memiliki saham di Jackson Group. Kau tahu deng
“Jadi … kau mau memberikan nomor kontak siapa, heh?” Nathan meremas tangannya, terlihat ragu-ragu. Sang petugas yang sudah tidak sabar menunggu jawaban Nathan pun mengetukkan penanya pada besi sel penjara. “Cepatlah!” “Kau pikir hanya kau saja yang harus aku urus?” Sebetulnya Nathan tidak ingin merepotkan siapapun, tapi dia terpaksa menjawab, “Istriku. Aku akan memberikan nomor telepon istriku.” Begitu Nathan memberikan nomor kontak istrinya, polisi yang bertugas menghubunginya dengan cepat. Hanya dalam kurang dari dua jam, Nathan pun dinyatakan bebas berkat jaminan dari sang istri. Pria berusia dua puluh sembilan tahun itu berjalan keluar dari kantor polisi dengan langkah cepat. Dia tersenyum lebar saat melihat Angela, istrinya yang sedang bersandar pada mobil sembari menatapnya dengan menampilkan ekspresi kesal di wajah cantiknya. “Angela.” Angela mendengus jengkel, “Masuk!” Wanita itu membuka pintu kemudi dan masuk ke dalam mobil merah. Nathan tidak berniat membantah







