เข้าสู่ระบบ
“Jadi … kau mau memberikan nomor kontak siapa, heh?”
Nathan meremas tangannya, terlihat ragu-ragu. Sang petugas yang sudah tidak sabar menunggu jawaban Nathan pun mengetukkan penanya pada besi sel penjara. “Cepatlah!” “Kau pikir hanya kau saja yang harus aku urus?” Sebetulnya Nathan tidak ingin merepotkan siapapun, tapi dia terpaksa menjawab, “Istriku. Aku akan memberikan nomor telepon istriku.” Begitu Nathan memberikan nomor kontak istrinya, polisi yang bertugas menghubunginya dengan cepat. Hanya dalam kurang dari dua jam, Nathan pun dinyatakan bebas berkat jaminan dari sang istri. Pria berusia dua puluh sembilan tahun itu berjalan keluar dari kantor polisi dengan langkah cepat. Dia tersenyum lebar saat melihat Angela, istrinya yang sedang bersandar pada mobil sembari menatapnya dengan menampilkan ekspresi kesal di wajah cantiknya. “Angela.” Angela mendengus jengkel, “Masuk!” Wanita itu membuka pintu kemudi dan masuk ke dalam mobil merah. Nathan tidak berniat membantah dan langsung masuk ke dalam mobil lalu duduk di samping Angela. “Angela, Sayang. Maafkan aku.” Angela mengabaikannya dan hanya berfokus mengemudi. Nathan tidak menyerah, “Sayang, ini bukan salahku. Aku difitnah.” “Oh ya? Lalu mengapa kau bisa ditahan, hah?” Wanita itu tidak memberikan kesempatan Nathan untuk menjawab. “Nathan, apa kau tidak tahu kalau hari ini aku sedang ada rapat penting? Mengapa kau tidak berhenti membuat masalah untukku?” “Aku sungguh-sungguh tidak bersalah. Wanita itu memfitnahku.” “Jelaskan kalau begitu!” Angela memerintah tanpa menoleh ke arah suami yang dinikahinya dua tahun yang lalu itu. Nathan pun mulai bercerita, “Aku sedang membersihkan taman seperti biasa. Lalu, aku melihat ada seorang wanita yang terpeleset. Jadi aku-” “Kau tergoda, begitu? Apa wanita itu cantik? Lebih cantik dariku?” Angela memotong dengan tidak sabar. Nathan tersenyum, “Kamu cemburu ya?” “Sialan, Nathan. Kau ….” Nathan mengangkat tangan. “Baiklah, baiklah. Aku tidak akan bercanda lagi. Aku hanya membantunya untuk duduk di bangku taman dan memakaikan sepatu untuknya, tapi tiba-tiba ada seorang pria yang datang.” Nathan mengerutkan kening dan menceritakan semua yang terjadi tanpa ada sedikitpun kata yang dikurangi atau ditambah. “Singkirkan tangan kotormu itu dari kaki tunanganku!” Nathan sontak memutar kepala ke arah suara yang terdengar dingin dan penuh amarah itu. Pria yang baru saja datang itu berpenampilan sangat rapi dan elegan. Nathan langsung tahu bahwa lelaki itu pastilah berasal dari kalangan atas. Dia bergegas mendekati wanita yang tengah duduk di bangku taman. Dia melirik sekilas dengan ekspresi jijik ke arah Nathan yang telah berdiri sambil memegang sapu di tangan kanan. Dia dengan mudah bisa mengetahui profesi laki-laki berpakaian lusuh itu. “Hugo.” Sang wanita cantik memanggil dengan tatapan terkejut. “Maaf, Tuan. Saya tidak bermaksud-” “Apa yang terjadi denganmu, Amanda?” Pria bernama Hugo itu mengabaikan Nathan sepenuhnya dan menyentuh pundak wanita cantik itu. “Aku terpeleset dan pria ini ….” Amanda tidak melanjutkan perkataannya dan malah menundukkan kepala. Hugo mengerutkan kening, mulai curiga. Sementara Nathan yang merasa aneh buru-buru menjelaskan, “Tuan, saya hanya membantu nona ini untuk duduk dan membantunya memakai sepatu.” “Bo-bohong! Dia bohong, Sayang!” Amanda berkata dengan terbata-bata. Tanpa menatap Nathan, Amanda memegang tangan Hugo, “Dia mencoba melecehkan aku, Sayang. Dia menyentuh kakiku dan ….” “Tidak, Tuan. Itu tidak benar. Saya tidak melakukan hal itu. Saya hanya-” “BRENGSEK!” Hugo menggeram marah. Hugo pun menarik kerah baju Nathan dan hendak memukulnya. Tapi, seorang pria yang baru saja datang mencegahnya dengan cepat, “Tuan Muda, jangan!” “Bernard, kau tidak tahu apa yang baru saja dilakukan oleh si tukang bersih-bersih ini?” “Sa-saya … maafkan saya, Tuan Muda. Apapun itu, lebih baik kita laporkan saja dia pada polisi. Bagaimana, Tuan Muda?” saran Bernard. Hugo mengernyitkan dahi, tampak ragu. Bernard pun berbisik pelan, “Ingatlah bahwa Tuan Besar sedang mengawasi Anda, Tuan Muda. Polisi … pasti akan bisa menangani masalah ini dengan baik.” Ekspresi Hugo pun mendadak berubah. “Baiklah, kalau begitu … kau urus dia. Pastikan dia dihukum dengan berat.” “Baik, Tuan Muda.” Bernard mendesah lega. “Amanda, ayo pergi!” Hugo memegang tangan kekasihnya. Setelah sepasang kekasih itu pergi, Bernard lalu memerintah beberapa pengawal untuk menyeret Nathan ke kantor polisi. Dia ditahan atas tuduhan pelecehan terhadap pengunjung taman. Usai mendengar cerita itu, Angela memukul kemudi mobil untuk melampiaskan kekesalannya. “Itulah kenapa aku ingin memiliki suami yang memiliki status tinggi.” “Angela, aku-” “Gara-gara kau berasal dari kaum kelas bawah, kau jadi mudah ditindas. Mengapa dulu kakek menyuruhku menikah denganmu?” gerutu Angela. Nathan mendesah pelan. Dia tidak bisa menyalahkan wanita cantik itu. Bagaimanapun juga, pernikahannya dengan Angela memang tidak didasari oleh rasa cinta sedikitpun. Dia menikahi Angela sebagai kesepakatan dengan Ian Jackson, kakek Angela setelah Ian menyelamatkan nyawanya hampir tiga tahun yang lalu. Ian mengetahui identitas asli Nathan, tapi dia berjanji untuk tidak membicarakan hal itu pada orang-orang. Namun, sebagai balasan, Ian meminta Nathan untuk menikahi cucu perempuannya. Nathan memejamkan mata, mencoba untuk tidak memikirkan masa lalunya yang sangat rumit. Tapi tiba-tiba saja dahi Nathan mengerut ketika dia baru tersadar bahwa Angela mengambil jalur kiri. “Angela, kau salah jalur.” “Kita harus ke rumah Paman John.” Mendengar nama dari pemimpin keluarga istrinya itu disebut, Nathan membatu di tempat duduknya. “Ada jamuan makan malam.” Nathan semakin tidak suka mendengarnya. Jelas ada beribu-ribu alasan mengapa dia tidak ingin bertemu dengan seluruh anggota keluarga istrinya, terlebih lagi setelah Ian Jackson meninggal sejak dua tahun yang lalu. Nathan melihat Angela berbelok ke pom bensin. “Mandi dan ganti bajulah!” Angela menunjuk ke kursi belakang. Ada sebuah tas besar di sana. Nathan langsung mengambil tas itu tanpa banyak bertanya dan bergegas masuk ke dalam kamar mandi umum di pom bensin itu. Sekitar tiga puluh menit kemudian, mereka telah tiba di rumah keluarga besar Jackson. Nathan melihat ada banyak mobil yang terparkir di halaman rumah mewah itu. “Jamuan makan malam apa sebenarnya? Mengapa banyak tamu yang diundang?” “Kalaupun aku memberitahumu, kau juga tidak akan mengerti.” Angela berkata dengan ketus dan berjalan terlebih dulu, meninggalkan Nathan yang hanya bisa mendesah pasrah. Lelaki itu telah terbiasa dengan sikap ketus dan dingin Angela sejak mereka bertemu. Akan tetapi, Nathan tidak pernah sedikitpun memprotesnya. Meskipun Angela terpaksa menikahinya dan selalu bersikap kasar, wanita itu tidak pernah sekalipun mengkhianatinya. Begitu Nathan memasuki area bagian dalam rumah itu, dia mendapati setidaknya ada lebih dari sepuluh orang yang tidak dia kenal ada di dalam ruang tamu. Ketika dia hendak menyusul istrinya yang tengah berbicara dengan seorang kepala pelayan, dia mendengar seorang pria berbicara, “Wah! Kukira kau tidak ikut datang, Nathan.” “Aku kira kau masih harus lembur membersihkan sampah-sampah di taman,” sahut seorang wanita yang berdiri di dekat pria itu. Mereka adalah Lucy dan Harry yang merupakan anak-anak John Jackson, paman istrinya. “Waktu kerjaku telah selesai.” Nathan membalas singkat. Pria itu memutar kepala dan ingin mendekati istrinya, tapi lagi-lagi dia mendengar Lucy berkata, “Eh, tunggu dulu! Mengapa aku mencium bau tidak sedap ya?” “Kamu benar, Lucy.” Harry mengusap-usap hidungnya, “Nathan, kamu … belum mandi ya?” Suaranya sengaja dikeraskan agar orang-orang di ruangan itu mendengarkan mereka. Dari arah kiri Nathan seorang wanita berujar pelan pada temannya, “Eh, apakah itu … menantu laki-laki keluarga Jackson yang berprofesi sebagai tukang bersih-bersih di taman itu?” “Sepertinya iya. Astaga, di sini jadi sangat bau,” sahut temannya. Nathan mengepalkan tangan, menatap tajam ke arah dua sepupu istrinya yang sedang tersenyum mengejek ke arahnya Ketika mereka mulai sibuk membicarakan soal bau yang menyengat itu, John Jackson yang baru memasuki area ruang tamu utama itu menatap Nathan dengan alis terangkat, “Siapa yang mengizinkan kau berdiri di sana, Nathan?”Ekstra Part 10Seolah tak ingin membiarkan Josh Grey lolos begitu saja dari pembicaraan itu, Nathan kembali berkata, “Seorang raja yang bijak dan dicintai rakyat seharusnya tetap dipertahankan.”“Kau tidak tahu apa-apa dan sebaiknya kau diam saja!” balas Josh tajam.Nathan ingin membalas lagi tetapi Josh jauh lebih cepat daripada dirinya, “Tujuan utamamu masuk ke kerajaanku untuk mencari Aresh Vian. Aku … akan membantumu untuk menemukan orang itu hari ini juga.”Usai mengatakannya pria itu tak berbicara apapun lagi sampai mereka tiba di sebuah kediaman di dalam istana.Kediaman itu merupakan kediaman yang diperuntukkan untuk para tamu dari kerajaan lain.“Selamat beristirahat! Aku akan segera memberitahumu jika anak buahku telah menemukan jejak dokter ajaib yang sangat ingin kau temukan itu,” kata Josh dingin.Nathan hanya menjawab, “Terima kasih.”Josh tidak membalasnya dan hanya meninggalkannya begitu saja.Setelah pria itu pergi bersama dengan anak buahnya, Dilion yang sedari tadi
Ah, Dilion merasa sedikit agak menyesal karena telah menceritakan masalah mengenai Josh Grey pada Nathaniel Lee.Jenderal perangnya itu memang tidak akan pernah bisa melihat ketidakadilan terjadi di depan matanya.Terlebih lagi, masalah itu berkaitan dengan hal yang pernah juga dirasakan olehnya sehingga menurut Dilion, Nathan kemungkinan besar merasa terpanggil untuk membantu jenderal perang dari Kerajaan Ashwin itu.Maka, mau tidak mau Dilion harus menyetujui untuk membantu sang jenderal agar bisa bertemu dengan orang itu secepatnya sehingga mereka bisa kembali memusatkan tujuan utama mereka dalam pencarian Aresh Vian.“Baik, Jenderal. Saya akan segera mencari cara,” kata Dilion.Setelahnya Nathan mempelajari beberapa dokumen tentang kerajaan itu dan semakin yakin bahwa dia harus segera bertemu dengan Josh Grey.Sang co-pilot memberi tanda bahwa mereka akan segera mendarat sehingga Nathan pun mulai bersiap-siap.Mereka berlima memang menggunakan pakaian tempur tapi ketika mereka tur
Ekstra Part 8Dilion pun menjelaskan, “Di Kerajaan Ashwin sedang terjadi sebuah masalah, Jenderal.”Nathan mengangkat alisnya dan langsung balik bertanya, “Masalah? Soal apa?”Ah, Nathan merasa agak sedikit kesal pada dirinya sendiri karena dia tidak mencari informasi yang cukup mengenai Kerajaan Ashwin.Padahal dia akan pergi ke sebuah kerajaan yang sebelumnya belum pernah dia datangi yang seharusnya membuatnya lebih berhati-hati. Walaupun dia tahu kerajaan itu bukan kerajaan yang besar seperti Kerajaan Veldera, tetap saja dia berpikir hanya telah ceroboh. “Ini … mereka sedang memiliki masalah internal. Jadi … Raja Kerajaan Veldera sedang berseteru dengan perdana menteri. Menurut kabar yang beredar Perdana Menteri menghendaki raja untuk turun tahta karena dinilai dia tidak bisa membuat status kerajaan mereka menjadi lebih berkembang.”Nathan menatap anak buahnya itu dengan tatapan keheranan serta raut wajah penasaran. “Dan raja tidak mau turun tahta?”Dilion menggelengkan kepalanya
Ekstra Part 7“Lalu, apa yang akan kau lakukan, Nathan?” Jefry bertanya dengan dahi mengerut yang tergambar jelas di wajahnya.Nathan mendesah pelan, “Tentu saja aku harus menemukan dia sebelum yang lain menemukannya.”“Kau akan berangkat mencarinya?”Nathan mengangguk dan memanggil salah satu anak buahnya. Dia memberikan beberapa perintah pada si anak buah dan menyuruhnya segera pergi melaksanakannya. Jefry yang masih terlalu terkejut dengan keputusan Nathan pun bertanya lagi, “Kau yakin kau akan pergi? Bukankah-”“Aku tidak bisa menunggu kabar di sini, Jeff. Aku akan pergi selama satu minggu. Jika memang aku tidak bisa menemukannya dalam satu minggu, aku akan langsung pulang,” potong Nathan tanpa terdengar ragu.Jefry Milton ingin sekali mencegah temannya itu untuk pergi. Akan tetapi, dia tahu temannya itu bukan orang yang akan berubah pikiran dengan mudah. Dia pun mengurungkan niatnya itu dan beralih mendukungnya.“Kalau begitu, jangan lupa memberiku kabar kapanpun kau menemukan s
Ekstra Part 6Perintah itu masih terngiang di telinga Nathan bahkan setelah dirinya dan Jefry meninggalkan ruang kerja Aldric.Mereka berjalan menyusuri koridor istana yang panjang tanpa banyak bicara. Baru ketika mereka tiba di halaman depan istana, Jefry menoleh ke arahnya."Jadi?"Nathan menghela napas panjang, "Aku belum menjawab.""Tapi kau pasti akan menerimanya."Nathan melirik sahabat lamanya itu, "Sekarang aku punya istri dan anak yang baru berusia beberapa bulan.""Dan kau juga punya seorang raja yang sedang memohon bantuanmu, Nathan. Apa yang akan kau lakukan?" tanya Jefry.Nathan masih diam saja. Jefry hanya mendesah pelan.Malam harinya, Nathan menceritakan semuanya kepada Angela. Saat itu mereka sedang berada di kamar mereka. George, bayi mungil mereka sudah tertidur pulas di dalam buaian.Nathan duduk di tepi tempat tidur sementara Angela mendengarkan dengan tenang."Jadi raja ingin menemukan dokter itu untuk Pangeran Liam?" tanya Angela.Nathan mengangguk, "Namanya Ares
Ekstra Part 5"Saya serius, Yang Mulia.""Tapi dia ... sudah membuatmu ...."Ruangan itu kembali hening.Sinar matahari sore masuk melalui jendela ruang kerja, membuat suasana terasa semakin tenang. Nathan menatap kedua orang di hadapannya sebelum melanjutkan."Saya tidak melupakan apa yang pernah terjadi, tapi dia tetap berhak mendapatkan kewarasannya kembali."Tatapannya sedikit menunduk.Aldric dan Jefry hanya mendengarkan.Kata-kata itu langsung membuat Aldric terdiam.Melihat ekspresi sang raja, Nathan tersenyum tipis, "Dan saya tidak ingin melihat Anda memikul penyesalan jika membiarkan kondisi mental Pangeran Liam tetap seperti itu."Untuk beberapa saat, tidak ada seorang pun yang berbicara.Kemudian Aldric akhirnya mengangguk pelan, "Terima kasih, Jenderal."Nathan hanya membalas dengan senyum kecil.Tiga hari kemudian, sebuah perintah rahasia mulai dijalankan. Atas instruksi Aldric, Jefry mengirim surat ke berbagai kerajaan di seluruh benua.Surat-surat itu dikirim kepada dok
Zach Drey memiringkan kepala dan menatap rival abadinya itu dengan senyuman lebar. Steven Breece mendengus jengkel tapi kemudian dia menarik orang yang masih tidur itu untuk duduk dengan tegak. “Cepat jelaskan padaku!” desak Steven.Zach yang wajahnya masih terlihat cerah itu pun berkata, “Aku …
Rupanya bukan hanya Henry Corwell saja yang kebingungan dengan sikap tak biasa yang ditunjukkan oleh Arnold Reed.Bahkan, Nathaniel Lee yang sedang mengawasi percakapan keduanya itu di rumah kecilnya pun juga terlihat terkejut dengan perubahan sikap Arnold.Justin dan juga Freddy pun mengerutkan ke
Nathan pun sebenarnya juga tadi melihat dua orang dari pihak Arnold Reed yang menyelinap masuk ke dalam kediaman Henry.Tapi jelas dia pun juga bisa melihat apa saja yang mereka lakukan di dalamnya. Mereka hanya mencari-cari sesuatu tapi tak mengambil apapun. Mereka pun juga tidak meletakkan alat
Nathaniel Lee tersenyum kembali sebelum kemudian dia menjawab, “Sayang, aku rasa peraturannya sudah berubah.”Angela yang tidak mengerti pun mengerutkan kening, “Berbeda? Apa maksudnya?”Nathaniel Lee tidak ragu untuk menjelaskan, “Angela, beberapa kerajaan yang masih menyembunyikan beberapa identi







