MasukDengan terpaksa Angela Jackson menutup tutup kotak bekal miliknya.
Wanita cantik itu kemudian membawanya dan pergi untuk menemui mantan kekasihnya yang licik setelah memberi pesan pada sekretarisnya. Tapi, bukannya Ben Walter yang menunggunya di restoran itu, melainkan sekretaris pria itu. “Di mana Tuan Mudamu, North?” Angela bertanya dengan nada datar. North tersenyum penuh permohonan maaf, “Maaf, Nona Jackson. Tuan Muda Walter menerima panggilan mendadak dari Tuan Besar. Beliau … langsung bergegas kembali ke kantor karena ada rapat penting.” Ah, Angela malah tersenyum mendengarnya, justru merasa dia sangat beruntung karena hari itu dia batal bertemu dengan Ben. Sementara mengenai proyek rahasia yang disebutnya, Angela berpikir mungkin saja itu hanya akal-akalan Ben untuk bertemu dengannya. Karena hal itu, Angela pun berjanji akan jauh lebih waspada pada tipuan Ben. Pada saat yang bersamaan, Nathaniel Lee baru saja tiba kembali di area taman tempatnya bekerja. Dia bergegas pergi ke kamar mandi untuk kembali berganti pakaian dengan pakaian kerjanya. Akan tetapi, saat dia sedang mulai berganti baju, lampu di kamar mandi itu padam. Nathan langsung waspada. Saat dia hendak membuka pintu kamar mandi, pintu itu rupanya telah terkunci dari luar. Dia hendak mendobrak tapi ketika dia ingat sifat kepala pengelola taman itu yang galak, dia mengurungkan niatnya itu. Dia tak mau harus berurusan dengan pria botak itu. Tapi, dia mendengar beberapa langkah kaki mendekat sehingga dia langsung bersiap-siap untuk menyerang siapa saja yang mungkin masuk ke dalam kamar mandi itu untuk mengganggunya. Beberapa detik berlalu, tapi tak ada yang menyerangnya. Akan tetapi, tiba-tiba saja dia mencium bau asap aneh yang membuatnya menjadi begitu sangat pusing hingga dia pun akhirnya perlahan pingsan. Tak lama kemudian, seseorang membuka pintu kamar mandi itu dan menyeringai puas. “Apa yang harus kita lakukan setelah ini, Dean?” “Kita ikat dia dan bawa dia ke mobil,” sahut Virgo, temannya yang menjadi rekan kriminalnya. Dean dengan cepat mengikat Nathan yang tak sadarkan diri. Setelah dia yakin targetnya itu tak akan mampu melepaskan diri, dia pun bergegas untuk membawa Nathan ke mobil bersama dengan Virgo. Di dalam mobil, Dean menyuruh Virgo untuk menyalakan mesin mobil dan pergi. Sedangkan dia menghubungi orang yang telah memberi mereka pekerjaan. “Tuan Harry, saya sudah berhasil membawa target. Saat ini dia telah bersama kami dalam keadaan pingsan.” Di seberang sana Harry tersenyum lebar, “Bagus. Bunuh dia dan buang jasadnya ke laut.” “Baik, Tuan.” “Dan … pastikan tak ada CCTV yang merekam jejak kalian,” Harry memperingatkan. “Iya, Tuan.” Harry mengangguk puas. “Bayaran kalian akan dikirim setelah kalian membuang jasadnya. Jangan lupa fotonya!” Dean pun mengerti. Usai menutup panggilan telepon itu, Dean memberitahu temannya tentang perintah itu. Virgo sungguh begitu gembira. Setelah beberapa waktu dia menganggur karena tak ada klien, kini dia bisa mengisi akun bank miliknya dengan setumpuk uang. “Berapa lama dia tidak akan sadarkan diri?” Virgo bertanya ketika mereka telah hampir mencapai daerah laut. “Enam jam. Tapi … aku memberinya dosis yang lebih tadi, kemungkinan … dia akan tetap pingsan sampai sekitar 8 jam.” Virgo mengangguk puas, “Kalau begitu kita masih memiliki 4 jam.” Dean meneliti daerah sekitar tempat itu begitu mereka tiba di dermaga. Mereka luar biasa gembira karena pada saat itu area laut yang cukup sepi. Sebelum membuang Nathan ke laut, Dean dengan kejam memotong urat nadi milik Nathan. Virgo yang telah memeriksa bawa kemungkinan besar Nathan akan mati dalam beberapa jam karena kehabisan darah segera mendorong jasad Nathan yang terikat ke laut setelah memotret Nathan. “Ah, sebenarnya aku cukup kasihan dengan pria ini.” Dean mendengus, “Untuk apa kau kasihan terhadap targetmu, heh?” “Yah, dia tidak bersalah. Tapi … orang-orang kaya itu yang serakah.” Dean menggelengkan kepala, “Bukan orang kaya kalau tidak serakah. Sudahlah, biarkan saja. Lagipula, setelah kita menerima bayaran, urusan kita dengan mereka selesai.” Virgo mengangkat bahu cuek, “Kau benar.” Setelah yakin bahwa air laut menggulung tubuh Nathan, kedua pria itu pun pergi dari tempat itu. Mereka pun mendapatkan bayaran yang jauh lebih besar daripada kesepakatan yang mereka buat. Harry yang telah mendapatkan foto Nathan menyeringai lebar dan langsung memberitahu ayahnya. John Jackson bertepuk tangan untuk keberhasilan putranya, “Bagus. Kali ini … Angela tidak akan mungkin bisa menolak untuk menikah dengan Ben dan saham miliknya akan jatuh ke tangan kita.” Harry langsung bersulang untuk ayahnya yang memiliki rencana bagus untuk menyingkirkan sepupunya. Pada malam hari, Angela mengerutkan kening ketika tiba di rumahnya yang masih gelap. Biasanya, suaminya selalu menyalakan semua lampu saat dia pulang. “Apa dia belum pulang? Apa … jangan-jangan dia lembur?” Merasa kesal karena suaminya masih saja menghabiskan waktunya untuk pekerjaan dengan jumlah gaji yang tak seberapa, Angela masuk ke dalam rumah itu dengan wajah tertekuk. Dia menyalakan semua lampu dan membersihkan diri tanpa peduli pada suaminya. Namun, beberapa jam berlalu Nathan tak kunjung menampakkan diri. Hal ini pada akhirnya membuat Angela menjadi agak gelisah. "Tak biasanya dia begini. " Wanita cantik itu menggigit jarinya. Dia pun semakin tidak tenang setelah tiga puluh menit berlalu, Nathan masih juga tak kelihatan batang hidungnya. “Sudah lebih dari jam sepuluh malam, kenapa dia masih belum pulang juga?”Dengan terpaksa Angela Jackson menutup tutup kotak bekal miliknya. Wanita cantik itu kemudian membawanya dan pergi untuk menemui mantan kekasihnya yang licik setelah memberi pesan pada sekretarisnya. Tapi, bukannya Ben Walter yang menunggunya di restoran itu, melainkan sekretaris pria itu. “Di mana Tuan Mudamu, North?” Angela bertanya dengan nada datar. North tersenyum penuh permohonan maaf, “Maaf, Nona Jackson. Tuan Muda Walter menerima panggilan mendadak dari Tuan Besar. Beliau … langsung bergegas kembali ke kantor karena ada rapat penting.” Ah, Angela malah tersenyum mendengarnya, justru merasa dia sangat beruntung karena hari itu dia batal bertemu dengan Ben. Sementara mengenai proyek rahasia yang disebutnya, Angela berpikir mungkin saja itu hanya akal-akalan Ben untuk bertemu dengannya. Karena hal itu, Angela pun berjanji akan jauh lebih waspada pada tipuan Ben. Pada saat yang bersamaan, Nathaniel Lee baru saja tiba kembali di area taman tempatnya bekerja. Dia bergega
Harry tersenyum penuh kebanggaan diri, “Ya, Ayah. Aku punya sebuah rencana bagus.” “Baiklah, kuserahkan ini kepadamu dan ingat … jangan sampai ada orang yang mengetahuinya.” John memperingatkan putranya dengan nada serius. “Ayah tak perlu cemas soal ini. Aku jamin … tidak ada yang akan tahu tentang ini,” Harry tersenyum licik. “Berhati-hatilah, Harry!” Lucy juga ikut memperingatkan kakak laki-lakinya. Esok paginya, Harry mulai menyusun rencana untuk menghilangkan nyawa Nathan. Sementara itu, di sebuah rumah yang bisa dibilang cukup mewah, Angela Jackson baru saja keluar dari rumah setelah menyantap makan paginya. Di halaman parkir, mobilnya telah siap. Tapi, tampilannya yang terlihat berkilau hingga membuat Angela menaikkan alisnya dan memanggil, “Nathan.” “Nathan.” Angela memanggil lagi dengan nada yang cukup keras. Nathan yang semula berada di dalam garasi mobil untuk membereskan beberapa hal bergegas keluar mendengar suara istrinya yang memanggilnya. “Ya, ada apa, Angel
“Apa katamu? Kau … menyuruhku untuk mengembalikannya?” John melongo, hampir tak percaya atas apa yang dia dengar.“Angela, kau sudah gila ya!” Lucy menatap Angela seakan sepupunya itu sudah gila. Sementara Harry mengedipkan mata dan kembali menoleh ke arah buket yang berisi berlian yang bernilai tinggi itu, “Kau mau mengembalikan berlian seharga jutaan dollar? Kau … serius, Angela?”Bukan hanya anggota keluarga Jackson yang terkejut mendengar perkataan Angela, tapi hampir seluruh tamu, termasuk Nathan, suaminya sendiri pun juga tak menyangka Angela melakukan hal itu.Tetapi, Angela dengan ekspresi tenang di wajahnya berujar, “Paman, aku sudah memiliki seorang suami. Menerima hadiah dari laki-laki yang merupakan mantan kekasihku … itu terasa tidak pantas.”Beberapa tamu mulai memahami keputusan Angela, tapi sebagian besar di antara mereka masih berpikir bahwa Angela Jackson begitu sangat bodoh telah menolak seorang konglomerat seperti Ben Walter.Ben Walter adalah salah seorang bujang
“Aku yang memberinya izin, Paman.” Semua orang langsung menoleh ke arah orang yang baru saja menjawab pertanyaan John itu. John menaikkan alis, tanda dia tidak menyukai pernyataan orang itu. Sementara Nathan malah menyunggingkan senyuman kepadanya, “Angela.” Angela Jackson mengabaikan panggilan dari suaminya dan berjalan ke arah pamannya dengan ekspresi wajahnya yang datar. Angela Jackson menjabat sebagai seorang direktur pemasaran di Jackson Group. Semua orang mengetahui latar belakang wanita cantik itu dan menyayangkan ketika wanita yang memiliki karir yang cemerlang seperti dirinya malah menikahi seorang pecundang yang asal-usulnya tidak jelas. Beberapa orang mencoba untuk menghancurkan rumah tangga Angela dan Nathan, tapi tak ada satupun yang berhasil melakukannya. John menggigit giginya, menahan rasa kesal, “Angela, aku sudah memberitahumu bahwa aku tidak menerima-” “Paman, aku masih menjabat sebagai direktur pemasaran dan memiliki saham di Jackson Group. Kau tahu deng
“Jadi … kau mau memberikan nomor kontak siapa, heh?” Nathan meremas tangannya, terlihat ragu-ragu. Sang petugas yang sudah tidak sabar menunggu jawaban Nathan pun mengetukkan penanya pada besi sel penjara. “Cepatlah!” “Kau pikir hanya kau saja yang harus aku urus?” Sebetulnya Nathan tidak ingin merepotkan siapapun, tapi dia terpaksa menjawab, “Istriku. Aku akan memberikan nomor telepon istriku.” Begitu Nathan memberikan nomor kontak istrinya, polisi yang bertugas menghubunginya dengan cepat. Hanya dalam kurang dari dua jam, Nathan pun dinyatakan bebas berkat jaminan dari sang istri. Pria berusia dua puluh sembilan tahun itu berjalan keluar dari kantor polisi dengan langkah cepat. Dia tersenyum lebar saat melihat Angela, istrinya yang sedang bersandar pada mobil sembari menatapnya dengan menampilkan ekspresi kesal di wajah cantiknya. “Angela.” Angela mendengus jengkel, “Masuk!” Wanita itu membuka pintu kemudi dan masuk ke dalam mobil merah. Nathan tidak berniat membantah







