LOGINHarry tersenyum penuh kebanggaan diri, “Ya, Ayah. Aku punya sebuah rencana bagus.”
“Baiklah, kuserahkan ini kepadamu dan ingat … jangan sampai ada orang yang mengetahuinya.” John memperingatkan putranya dengan nada serius. “Ayah tak perlu cemas soal ini. Aku jamin … tidak ada yang akan tahu tentang ini,” Harry tersenyum licik. “Berhati-hatilah, Harry!” Lucy juga ikut memperingatkan kakak laki-lakinya. Esok paginya, Harry mulai menyusun rencana untuk menghilangkan nyawa Nathan. Sementara itu, di sebuah rumah yang bisa dibilang cukup mewah, Angela Jackson baru saja keluar dari rumah setelah menyantap makan paginya. Di halaman parkir, mobilnya telah siap. Tapi, tampilannya yang terlihat berkilau hingga membuat Angela menaikkan alisnya dan memanggil, “Nathan.” “Nathan.” Angela memanggil lagi dengan nada yang cukup keras. Nathan yang semula berada di dalam garasi mobil untuk membereskan beberapa hal bergegas keluar mendengar suara istrinya yang memanggilnya. “Ya, ada apa, Angela?” Angela berkacak pinggang dan menunjuk ke arah mobilnya, “Apa yang kau lakukan dengan mobilku?” “Aku mencucinya.” “Siapa yang menyuruhmu untuk mencucinya?” “Tidak ada. Aku hanya-” “Astaga, Nathan. Kapan kau berhenti melakukan semua ini? Aku bisa membawanya ke tempat cuci mobil. Untuk apa kau membuang-buang tenaga melakukannya?” Angela berdecak kesal. Nathan mendesah, “Sayang, aku tadi bangun lebih pagi dan karena aku sudah selesai memasak makanan untukmu, jadi aku pikir-” “Sialan, Nathan. Aku benar-benar tidak menyukainya.” Nathan terhenyak, bingung. “Daripada kau habiskan waktumu untuk melakukan hal-hal yang seharusnya tidak kau lakukan, mengapa kau tidak mencari pekerjaan saja? Kau … bukankah sudah berjanji akan melakukan sesuatu untukku?” Nathan menjawab dengan segera, “Angela, aku-” “Sudahlah, percuma berbicara denganmu. Kurasa kau tak akan pernah mengerti.” Setelah mengatakan hal itu, Angela meninggalkan Nathan yang hanya bisa terbengong-bengong menatap kepergian istrinya. Pria itu pun hanya bisa menggelengkan kepala. Nathan bergegas untuk membersihkan diri lalu berangkat ke taman untuk melakukan pekerjaannya seperti biasanya. Setiap kali dia melewati satu hari, Nathan akan menjadi jauh lebih bersemangat karena artinya hari di mana dia bisa menggunakan seluruh harta miliknya yang masih dibekukan oleh pihak istana akan segera tiba. Selain itu, dia juga bisa muncul ke publik tanpa mengkhawatirkan apapun. Memikirkan bagaimana Angela Jackson akhirnya mengetahui identitas aslinya membuat Nathan merasa sedikit agak lega. Setidaknya Angela akan tahu bahwa dirinya bukanlah seorang pecundang yang tak berguna yang tidak bisa dia andalkan. Akan tetapi, sebelum dia bisa melakukan semua itu, dia harus mencoba untuk bertahan menghadapi segala hinaan. Di area lain, tepatnya di Jackson Group, Angela dikejutkan dengan setumpuk dokumen yang harus diperiksa ketika dia tiba di ruangannya. “Bu, ada dua proposal yang harus Anda segera periksa.” Calys mengingatkan bosnya. Angela manggut-manggut dan segera memeriksa map yang berisi proposal tersebut. Baru saja dia tenggelam dalam tulisan-tulisan itu, Calys masuk lagi ke dalam ruangannya. “Ada apa lagi, Calys?” Angela bertanya tanpa mengangkat wajahnya dari map yang sedang dia baca dengan serius. “I-ini, Bu. Ada kiriman buket bunga untuk Anda.” Angela langsung mengangkat kepala dan melirik ke arah sebuah buket bunga besar yang berisi rangkaian bunga yang indah. “Taruh saja!” “Tapi ini … ada pesan khusus yang harus segera saya sampaikan kepada Anda, Bu.” Angela menggertakan gigi dan kemudian meletakkan penanya lalu menatap Calys yang hanya bisa meringis. “Ini … surat dari pengirimnya,” Calys menyerahkan sebuah amplop berwarna merah muda kepada Angela. Tanpa perlu membuka amplop itu untuk tahu siapa pengirim bunga indah itu. Hanya dari pemilihan jenis bunganya saja, Angela langsung tahu jika pengirimnya adalah Ben Walter. Hanya pria itu saja yang mengetahui jenis bunga kesukaannya. Suaminya, Nathan bahkan tidak tahu dan tidak pernah bertanya tentang hal itu kepadanya sehingga dia seratus persen yakin bahwa bunga itu berasal dari Ben Walter. “Baiklah, pergilah. Jangan ganggu aku lagi sampai jam makan siang nanti!” Calys mengangguk paham. Angela tidak berniat untuk membuka amplop berisi surat itu dan memilih untuk melanjutkan pekerjaannya. Ada begitu banyak dokumen yang harus dia periksa, teliti, serta tandatangani. Dia tidak memiliki waktu untuk berurusan dengan Ben Walter. Akan tetapi, tepat di saat 30 menit sebelum jam makan siang dimulai, telepon di ruangannya berdering. Dengan agak kesal Angela menjawab panggilan itu, “Ada apa, Calys? Bukankah kau sudah tahu kalau aku tidak ingin diganggu?” “Er … ini, Bu. Pak Nathan-” Mendengar nama suaminya itu disebut rasa kesal Angela perlahan memudar, “Kalau begitu antarkan dia masuk.” “Eh, Bu. Beliau sudah pergi.” “Apa?” “Itu, Bu … Pak Nathan tadi ke sini untuk mengantarkan makan siang Ibu. Setelah itu beliau langsung pergi. Beliau mengatakan kalau tidak ingin mengganggu Ibu.” Hati Angela seketika menghangat. Suaminya itu memang tidak memiliki karir yang bagus yang bisa dia banggakan. Tapi untuk masalah perhatian, belum ada yang bisa mengalahkan suaminya. Pria itu memang tidak memberinya barang-barang mewah seperti yang dilakukan oleh kebanyakan pria, tapi dia selalu memberikan perhatian-perhatian kecil yang membuat dirinya merasa dipedulikan. Dia menggigit bibir, teringat akan perhatian kecil Nathan yang dia tunjukkan lewat hal kecil seperti mencuci mobil. Ah, dia tahu maksud Nathan memang baik, tapi dia sangat kesal karena hal semacam itu seharusnya hanya dilakukan oleh orang yang memang memiliki profesi khusus itu. “Ya sudah, bawa bekal makanan dari suami saya itu ke ruangan saya.” “Baik, Bu.” Angela menutup panggilan itu dan melanjutkan pekerjaannya yang hampir selesai. Calys mengetuk pintu sebelum diizinkan masuk dan segera meletakkan bekal makanan yang dibawakan oleh Nathan ke atas meja yang biasa menjadi tempat istirahat Angela. Setelah Calys pergi, Angela langsung mulai membuka bekal itu dan tersenyum senang. Suaminya memang selalu tahu apa yang dia suka. Mungkin hal itu juga yang membuatnya masih mempertahankan pernikahannya dengan Nathan. Sesaat sebelum dia menyantap makan siangnya, ponselnya berbunyi. Ketika dia melirik ke arah ponselnya dan melihat bahwa si penelepon adalah sekretaris mantan kekasihnya, Angela mengabaikan hal itu sepenuhnya. Tapi, ponsel itu terus berdering hingga membuatnya begitu kesal sampai akhirnya dia pun dengan sangat terpaksa mengangkatnya. “Halo.” “Halo, Nona Jackson. Ini saya … North.” “Ya. Aku tahu. Ada apa?” North meringis mendengar nada ketus dari wanita cantik yang masih menjadi wanita impian bosnya itu. Dengan hati-hati dia bertanya, “Nona, apa Anda … belum membaca pesan yang dikirimkan oleh Tuan Muda Walter?” Angela seketika teringat akan buket bunga indah yang juga terdapat pesan yang disampaikan oleh Calys. “Aku belum membukanya. Memangnya ada apa?” “Oh, itu, Nona. Begini … di surat itu tertera bahwa Tuan Muda Walter berniat untuk mengundang Anda untuk makan siang.” Angela mendesah pelan, “Aku tidak bisa.” “Hm, tapi … Tuan Muda Walter mengatakan jika ini begitu sangat penting, Nona.” “Maaf, aku tetap tidak bisa. Lagipula, sekarang ini aku sedang makan siang.” Angela tidak berbohong karena dia memang baru saja akan menyantap makan siangnya jika dia tidak diganggu oleh telepon itu. North membasahi bibir dan kembali berkata, “Nona, saya minta maaf harus mengatakan hal ini. Tapi Tuan Muda Walter mengatakan jika Anda … tidak mau menerima undangannya maka … kerjasama proyek rahasia dengan perusahaan Anda bisa dibatalkan.” Angela membeku. “Proyek rahasia? Proyek apa? Aku tidak pernah merasa memiliki sebuah proyek dengan Walter Company.” “Soal itu … Anda bisa bertanya langsung pada Tuan Muda Walter.” Angela menggigit bibir, terlihat begitu bimbang. Seolah tahu bahwa Angela sedang bingung, North dengan sengaja berkata, “Anda akan ditunggu di D’Break Restaurant pukul dua siang, Nona.” Angela memejamkan mata, merasa jengkel.Ekstra Part 10Seolah tak ingin membiarkan Josh Grey lolos begitu saja dari pembicaraan itu, Nathan kembali berkata, “Seorang raja yang bijak dan dicintai rakyat seharusnya tetap dipertahankan.”“Kau tidak tahu apa-apa dan sebaiknya kau diam saja!” balas Josh tajam.Nathan ingin membalas lagi tetapi Josh jauh lebih cepat daripada dirinya, “Tujuan utamamu masuk ke kerajaanku untuk mencari Aresh Vian. Aku … akan membantumu untuk menemukan orang itu hari ini juga.”Usai mengatakannya pria itu tak berbicara apapun lagi sampai mereka tiba di sebuah kediaman di dalam istana.Kediaman itu merupakan kediaman yang diperuntukkan untuk para tamu dari kerajaan lain.“Selamat beristirahat! Aku akan segera memberitahumu jika anak buahku telah menemukan jejak dokter ajaib yang sangat ingin kau temukan itu,” kata Josh dingin.Nathan hanya menjawab, “Terima kasih.”Josh tidak membalasnya dan hanya meninggalkannya begitu saja.Setelah pria itu pergi bersama dengan anak buahnya, Dilion yang sedari tadi
Ah, Dilion merasa sedikit agak menyesal karena telah menceritakan masalah mengenai Josh Grey pada Nathaniel Lee.Jenderal perangnya itu memang tidak akan pernah bisa melihat ketidakadilan terjadi di depan matanya.Terlebih lagi, masalah itu berkaitan dengan hal yang pernah juga dirasakan olehnya sehingga menurut Dilion, Nathan kemungkinan besar merasa terpanggil untuk membantu jenderal perang dari Kerajaan Ashwin itu.Maka, mau tidak mau Dilion harus menyetujui untuk membantu sang jenderal agar bisa bertemu dengan orang itu secepatnya sehingga mereka bisa kembali memusatkan tujuan utama mereka dalam pencarian Aresh Vian.“Baik, Jenderal. Saya akan segera mencari cara,” kata Dilion.Setelahnya Nathan mempelajari beberapa dokumen tentang kerajaan itu dan semakin yakin bahwa dia harus segera bertemu dengan Josh Grey.Sang co-pilot memberi tanda bahwa mereka akan segera mendarat sehingga Nathan pun mulai bersiap-siap.Mereka berlima memang menggunakan pakaian tempur tapi ketika mereka tur
Ekstra Part 8Dilion pun menjelaskan, “Di Kerajaan Ashwin sedang terjadi sebuah masalah, Jenderal.”Nathan mengangkat alisnya dan langsung balik bertanya, “Masalah? Soal apa?”Ah, Nathan merasa agak sedikit kesal pada dirinya sendiri karena dia tidak mencari informasi yang cukup mengenai Kerajaan Ashwin.Padahal dia akan pergi ke sebuah kerajaan yang sebelumnya belum pernah dia datangi yang seharusnya membuatnya lebih berhati-hati. Walaupun dia tahu kerajaan itu bukan kerajaan yang besar seperti Kerajaan Veldera, tetap saja dia berpikir hanya telah ceroboh. “Ini … mereka sedang memiliki masalah internal. Jadi … Raja Kerajaan Veldera sedang berseteru dengan perdana menteri. Menurut kabar yang beredar Perdana Menteri menghendaki raja untuk turun tahta karena dinilai dia tidak bisa membuat status kerajaan mereka menjadi lebih berkembang.”Nathan menatap anak buahnya itu dengan tatapan keheranan serta raut wajah penasaran. “Dan raja tidak mau turun tahta?”Dilion menggelengkan kepalanya
Ekstra Part 7“Lalu, apa yang akan kau lakukan, Nathan?” Jefry bertanya dengan dahi mengerut yang tergambar jelas di wajahnya.Nathan mendesah pelan, “Tentu saja aku harus menemukan dia sebelum yang lain menemukannya.”“Kau akan berangkat mencarinya?”Nathan mengangguk dan memanggil salah satu anak buahnya. Dia memberikan beberapa perintah pada si anak buah dan menyuruhnya segera pergi melaksanakannya. Jefry yang masih terlalu terkejut dengan keputusan Nathan pun bertanya lagi, “Kau yakin kau akan pergi? Bukankah-”“Aku tidak bisa menunggu kabar di sini, Jeff. Aku akan pergi selama satu minggu. Jika memang aku tidak bisa menemukannya dalam satu minggu, aku akan langsung pulang,” potong Nathan tanpa terdengar ragu.Jefry Milton ingin sekali mencegah temannya itu untuk pergi. Akan tetapi, dia tahu temannya itu bukan orang yang akan berubah pikiran dengan mudah. Dia pun mengurungkan niatnya itu dan beralih mendukungnya.“Kalau begitu, jangan lupa memberiku kabar kapanpun kau menemukan s
Ekstra Part 6Perintah itu masih terngiang di telinga Nathan bahkan setelah dirinya dan Jefry meninggalkan ruang kerja Aldric.Mereka berjalan menyusuri koridor istana yang panjang tanpa banyak bicara. Baru ketika mereka tiba di halaman depan istana, Jefry menoleh ke arahnya."Jadi?"Nathan menghela napas panjang, "Aku belum menjawab.""Tapi kau pasti akan menerimanya."Nathan melirik sahabat lamanya itu, "Sekarang aku punya istri dan anak yang baru berusia beberapa bulan.""Dan kau juga punya seorang raja yang sedang memohon bantuanmu, Nathan. Apa yang akan kau lakukan?" tanya Jefry.Nathan masih diam saja. Jefry hanya mendesah pelan.Malam harinya, Nathan menceritakan semuanya kepada Angela. Saat itu mereka sedang berada di kamar mereka. George, bayi mungil mereka sudah tertidur pulas di dalam buaian.Nathan duduk di tepi tempat tidur sementara Angela mendengarkan dengan tenang."Jadi raja ingin menemukan dokter itu untuk Pangeran Liam?" tanya Angela.Nathan mengangguk, "Namanya Ares
Ekstra Part 5"Saya serius, Yang Mulia.""Tapi dia ... sudah membuatmu ...."Ruangan itu kembali hening.Sinar matahari sore masuk melalui jendela ruang kerja, membuat suasana terasa semakin tenang. Nathan menatap kedua orang di hadapannya sebelum melanjutkan."Saya tidak melupakan apa yang pernah terjadi, tapi dia tetap berhak mendapatkan kewarasannya kembali."Tatapannya sedikit menunduk.Aldric dan Jefry hanya mendengarkan.Kata-kata itu langsung membuat Aldric terdiam.Melihat ekspresi sang raja, Nathan tersenyum tipis, "Dan saya tidak ingin melihat Anda memikul penyesalan jika membiarkan kondisi mental Pangeran Liam tetap seperti itu."Untuk beberapa saat, tidak ada seorang pun yang berbicara.Kemudian Aldric akhirnya mengangguk pelan, "Terima kasih, Jenderal."Nathan hanya membalas dengan senyum kecil.Tiga hari kemudian, sebuah perintah rahasia mulai dijalankan. Atas instruksi Aldric, Jefry mengirim surat ke berbagai kerajaan di seluruh benua.Surat-surat itu dikirim kepada dok
Zach Drey yang mendengar hal itu pun segera menggelengkan kepalanya, mulai panik. Cepat-cepat Dia berkata, “Perdana Menteri, saya tidak memiliki niat apapun, apalagi niat buruk.”“Saya memang dulu prajurit Jenderal Reed dan bisa dibilang saya sangat setia kepadanya. Tapi, begitu saya resmi dipinda
“Ya, Yang Mulia. Jenderal Lee masih memiliki urusan yang harus dia kerjakan sebelum dia kembali ke istana ini.”Jawaban dari Steven itu pun telah mematahkan harapan Liam.Jelas tidak mungkin baginya untuk mengorek informasi lebih dalam lagi karena tidak mungkin Steven akan memberitahunya. Prajurit
“Aku yang memberinya izin, Paman.” Semua orang langsung menoleh ke arah orang yang baru saja menjawab pertanyaan John itu. John menaikkan alis, tanda dia tidak menyukai pernyataan orang itu. Sementara Nathan malah menyunggingkan senyuman kepadanya, “Angela.” Angela Jackson mengabaikan panggilan
“Jadi … kau mau memberikan nomor kontak siapa, heh?” Nathan meremas tangannya, terlihat ragu-ragu. Sang petugas yang sudah tidak sabar menunggu jawaban Nathan pun mengetukkan penanya pada besi sel penjara. “Cepatlah!” “Kau pikir hanya kau saja yang harus aku urus?” Sebetulnya Nathan tidak ingi







