Share

Bab 8 Keadilan

Author: R.yan
last update publish date: 2026-04-20 21:55:14

Bab 8: keadilan

Debu pertempuran telah mengendap, namun atmosfer di Aula Utama Akademi Aethelgard justru memuncak hingga ke titik didih. Di tengah ruangan yang megah itu, Raka berdiri dengan tenang meskipun kedua tangannya terborgol sihir penekan mana yang berpendar ungu gelap. Di sampingnya, Marco berdiri dengan bahu merosot dan wajah tertunduk dalam.

Di depan mereka, jajaran Dewan Instruktur dan Valerius van Deimos duduk di kursi tinggi yang mengintimidasi.

"Kesaksian kalian sama sekali tidak masuk akal!" bentak salah satu Instruktur Senior sambil memukul meja marmer hingga retak. "Bima, Elena, kalian adalah sahabat karib Raka. Wajar jika kalian mengarang dongeng fantastis tentang 'Lullaby' atau 'Playpen' hanya untuk menutupi fakta bahwa kalianlah yang membunuh monster itu demi menaikkan reputasi Raka!"

"Tapi itu kenyataannya, Sialan!" teriak Bima, tangannya gemetar menahan amarah di gagang pedangnya. "Kami hampir mati tercabik-cabik! Raka yang menidurkan Behemoth itu dengan satu lagu! Apa kalian buta?!"

"Cukup, Bima!" Valerius memotong dengan suara sedingin es. "Tim elit yang lain ditemukan pingsan karena kelelahan mana. Tidak ada saksi mata netral di lokasi. Secara logika sistem, seorang Rank F Babysitter tidak mungkin menahan entitas Rank S. Tuduhannya mutlak: Raka dan Marco melanggar protokol keamanan tingkat tinggi dengan menyusup ke zona merah tanpa izin."

Valerius menatap putranya, Marco, dengan tatapan tajam yang menusuk. "Marco van Deimos, karena posisi keluargamu dan fakta bahwa kau mungkin dipaksa atau dikendalikan oleh sihir hipnotis Raka, Bapak akan mencabut tuntutanmu. Kau bebas. Kembali ke asramamu sekarang dan lupakan sampah ini."

Hening sejenak. Raka hanya tersenyum tipis, tidak sedikit pun tampak terkejut. Ia sudah lama tahu bahwa dunia ini lebih suka menyembah label Rank daripada melihat kenyataan yang ada di depan mata.

"Dan untuk Raka," lanjut Valerius dengan nada final, "Kau dijatuhi hukuman kurungan isolasi selama satu bulan dan seluruh fasilitas beasiswamu dicabut. Kau adalah aib bagi Angkatan Zenith."

Raka baru saja ingin melangkah mengikuti penjaga, namun sebuah geraman berat menghentikan langkah semua orang.

"Ini tidak benar, Ayah! Berhenti berbohong pada dirimu sendiri!"

Semua mata tertuju pada Marco. Tubuh sang Berserker itu gemetar hebat, bukan karena takut, tapi karena menahan amarah tulus yang meledak di dadanya.

"Apa kau bilang, Marco?" Valerius menyipitkan mata, suaranya mengandung ancaman.

"Aku juga bersalah! Aku masuk ke sana atas kemauanku sendiri!" Marco melangkah maju, berdiri kokoh tepat di depan Raka, menghalangi para penjaga yang ingin menarik Raka.

"Kak Raka tidak menghipnotisku. Dia menyelamatkanku! Jika Ayah ingin menghukumnya, maka hukum aku juga! Aku tidak mau diselamatkan oleh nama keluarga sementara orang yang melindungiku diperlakukan seperti sampah!" Marco berteriak, suaranya bergema di langit-langit aula.

Valerius tertegun. Marco yang ia kenal adalah anak manja yang selalu bersembunyi di ketiak kekuasaannya. Melihat Marco membela seseorang dengan mempertaruhkan statusnya sendiri adalah keajaiban yang lebih besar daripada jatuhnya sang Behemoth.

"Marco, kau sadar kau sedang menghancurkan masa depanmu sendiri?" desis Valerius.

"Aku sadar sesadar-sadarnya! Ayah selalu bilang Berserker harus punya harga diri. Dan harga diriku melarangku melihat pengasuhku... maksudku, sahabatku, dihukum sendirian!" Marco menoleh ke arah Raka, matanya berkaca-kaca namun penuh tekad. "Maaf, Kak Raka... aku belum bisa membuktikan kebenaran itu pada dunia sekarang. Tapi aku tidak akan membiarkanmu sendirian di sel itu."

Raka terdiam. Ia tidak menyangka "anak nakal" yang dulu menjegalnya di kantin kini siap membuang mahkota nya demi sebuah keadilan.

Bima dan Elena ikut melangkah maju, berdiri bahu-membahu di samping Marco. "Kalau begitu, hukum kami berempat. Karena kami saksi palsu menurut kalian, kan? Silakan kurung kami semua!" tantang Elena, tongkat sihirnya mulai mengeluarkan percikan es dingin.

Valerius van Deimos memijat pelipisnya yang berdenyut. Situasi ini sudah benar-benar lepas kendali. Empat talenta terbaik Angkatan Zenith bersatu melawan Dewan. Jika ia menghukum mereka semua secara berat, reputasi akademi akan hancur.

"Baik..." Valerius mendesah kalah, wajahnya tampak sepuluh tahun lebih tua. "Jika itu maumu, Marco. Kalian semua dihukum. Membersihkan seluruh area akademi, dari asrama hingga kandang kuda, tanpa bantuan sihir sedikit pun selama dua minggu ke depan!"

Raka tertawa kecil, suara tawa yang tenang namun terasa seperti kemenangan mutlak.

"Membersihkan akademi?" Raka mengusap pergelangan tangannya saat penjaga melepas borgol sihirnya. "Tidak masalah. Sebagai pengasuh, aku sudah sangat terbiasa membereskan kekacauan yang dibuat oleh anak-anak nakal."

Raka menepuk bahu Marco dengan bangga. "Kerja bagus, Marco. Kau baru saja naik level menjadi 'Anak Pintar' yang sesungguhnya."

Keesokan harinya, pemandangan paling aneh di Aethelgard tersaji: dua Rank SS, satu Berserker, dan satu Babysitter sedang memegang sapu lidi di halaman belakang.

Di sela-sela sapuan, Marco mendekat dan berbisik dengan wajah memerah, "Kak Raka... popokku... kurasa sudah penuh. Bisakah kau menggantinya?"

Raka menatap Marco. Ia melihat perubahan besar di mata pemuda itu. Keangkuhannya telah hilang, digantikan oleh kesetiaan dan keberanian. Raka merasa terharu. Ia menyadari Marco tidak lagi butuh "pengingat" fisik untuk menjadi orang baik.

Raka tersenyum hangat, lalu menjentikkan jarinya tanpa asap bedak, tanpa suara POOF.

"Sudah hilang, Marco. Bukan cuma diganti, tapi kucabut permanen," bisik Raka.

Marco meraba bagian belakang zirahnya. Kosong. Ringan. Benar-benar hilang. Ia menatap Raka dengan mulut menganga.

​"Kau sudah lulus, Marco. Kau bukan lagi bayi yang butuh diawasi dengan hukuman. Kau sudah jadi pria yang berani mengambil tanggung jawab," ucap Raka sambil melanjutkan menyapu dengan santai.

​Marco terpaku, matanya berkaca-kaca. Perasaan lega yang ia rasakan bukan hanya karena popoknya hilang, tapi karena ia akhirnya mendapatkan pengakuan dari orang yang ia hormati. "Terima kasih... Kak Raka!"

​"Woy! Jangan malah drama! Sapu bagian sana, banyak kotoran kuda!" teriak Bima dari kejauhan sambil mengayunkan sapu lidi seperti pedang.

​Elena hanya menggelengkan kepala, tertawa melihat kawan-kawannya yang kini tampak jauh lebih bahagia di tengah tumpukan sampah daripada saat mereka mendapatkan Rank SS di aula upacara. Di bawah matahari sore, tim paling aneh di akademi itu baru saja memulai legenda mereka yang sesungguhnya.

​Bersambung

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Dikira S Rank, Ternyata Aku Babysitter F Rank   Bab 300 — Cinta Ayah (Season 1 Finale)

    Bab 300 — Cinta Ayah (Season 1 Finale)Tiga hari berlalu.Istana Aethelgard berdiri kembali. Lebih kokoh. Setiap batu yang tersusun menyimpan cerita. Keringat rakyat. Tawa anak-anak. Tangan raja yang ikut mengangkat balok.Dan di samping Momo Cafe —Sebuah bangunan baru.Dua lantai. Dinding putih bersih. Jendela-jendela besar yang membiarkan cahaya matahari masuk. Halaman luas dengan ayunan dan bangku-bangku kayu. Taman kecil di sisi kiri — bunga-bunga yang baru ditanam oleh Elena.Di atas pintu utama, sebuah papan nama kosong menunggu diberi nama.Rakyat berkumpul. Bangsawan hadir. Anak-anak asuh Raka berdiri di barisan depan.Pita merah membentang di depan pintu utama.Lady Veronika melangkah maju, membawa gunting emas di atas bantal beludru. Senyumnya anggun — tapi matanya hangat."Raka."Dia menyerahkan gunting itu."Ini milikmu. Gedung ini ada karena kerja kerasmu — dan keputusanmu."Raka menerima gunting itu. Menatapnya sejenak.Veronika tersenyum."Ayo, gunting pitanya. Kau aka

  • Dikira S Rank, Ternyata Aku Babysitter F Rank   Bab 299 — Gotong Royong

    Bab 299 — Gotong Royong Pintu Momo Cafe terbuka.Cahaya pagi menyambut mereka — hangat, cerah, dan penuh suara.Raka melangkah keluar. Diikuti yang lain.Dan pemandangan di depan mereka—RAMAI.Ratusan rakyat Aethelgard bergerak di reruntuhan istana. Batu diangkat. Kayu digergaji. Tali ditarik. Dinding mulai berdiri kembali — satu per satu, dengan tangan-tangan yang penuh keringat.Tidak ada sihir. Tidak ada perintah raja.Hanya rakyat biasa — petani, pedagang, tukang kayu, pandai besi — bekerja bersama. Bahu-membahu.Seorang pria tua mengangkat balok kayu bersama pemuda yang bahkan belum cukup umur untuk masuk akademi. Dua wanita menyusun bata dengan presisi yang mengalahkan tukang bangunan profesional.Di kejauhan, beberapa anak kecil mengumpulkan batu-batu kecil. Mereka tidak cukup kuat untuk mengangkat balok, tetapi tetap ingin membantu.Seorang tukang kayu tertawa ketika seorang anak menyerahkan palu yang hampir sebesar lengannya."Terima kasih, Paman!""Jangan sampai kena kakim

  • Dikira S Rank, Ternyata Aku Babysitter F Rank   Bab 298 — Kabar Baik

    Bab 298 — Kabar BaikRaka menatap Veronika yang baru saja duduk di kursi depan meja bar."Kabar baik apa, Lady?"Veronika tersenyum. Bukan senyum bisnis — senyum puas."Lemonade Sunlight botolan... sukses besar."Hening sejenak."Kota-kota besar di seluruh Aethelgard sudah memesan ulang tiga kali dalam sebulan. Efek peremajaan kulitnya langsung terasa — pelanggan bisa melihat hasilnya dalam hitungan hari."Veronika mengeluarkan selembar laporan dari tasnya dan meletakkannya di meja."Dan bukan hanya itu. Karena efeknya nyata, permintaan di lini kosmetik bisniku juga ikut meningkat. Logikanya sederhana — setelah tampil lebih muda, mereka ingin tampil lebih cantik."Dia mengetuk laporan itu dengan jari."Keuntungan bersih bulan ini — tiga kali lipat dari proyeksi awal."Raka melotot."Tiga kali lipat?"Veronika menatap Raka."Sesuai kesepakatan kita — hasil keuntungan dari Lemonade Sunlight akan digunakan untuk mendirikan panti asuhan."DEG.Raka terdiam.Di hadapannya — panel transpara

  • Dikira S Rank, Ternyata Aku Babysitter F Rank   Bab 297 — Permintaan

    Bab 297 — Permintaan Raka bangkit dari kasur. Pelan. Tubuhnya masih protes — tapi kepalanya sudah jernih. Dia menatap Helios yang masih memakai popok motif kucing. Lalu Marco yang masih pakai onesie motif beruang. Raka menjentikkan jari.CTEK. FWUSH. Cahaya tipis menyelimuti keduanya — dan dalam sekejap, pakaian bangsawan mereka kembali. Jubah kerajaan Helios. Setelan resmi Marco. Amanda menatap dari belakang. "Yaah... padahal lucu." PLAK. Helios menjitak kepala Amanda. "Lucu darimana?!" Amanda memegangi kepalanya. "Aduh, kak" Helios terdiam. Wajahnya yang tadi merah karena malu perlahan melunak. Lalu menundukkan kepala. "...Terima kasih, Kak Raka." Marco juga membungkuk. Matanya berkaca-kaca — tapi dia cepat-cepat mengusapnya. "Terima kasih, sudah mengembalikan pakaian kami" Raka mengangguk. "Sam

  • Dikira S Rank, Ternyata Aku Babysitter F Rank   Bab 296 — Rumah

    Bab 296 — RumahGelap.Hangat.Raka berdiri di tempat yang tidak ia kenali — tapi TERASA familiar.Padang rumput luas. Langit senja. Angin sepoi yang membawa aroma masakan rumah.Dan di depannya — dua orang.Wanita berambut panjang. Senyumnya lembut. Tangan yang dulu selalu mengelus kepalanya.Pria bertubuh tegap. Wajah tegas, tapi mata yang hangat.Ibu. Ayah."...Ibu? Ayah?"Ibunya tersenyum."Kamu sudah besar, Raka."Ayahnya mengangguk. Bangga."Kami melihat semuanya."Raka merasakan matanya panas."Aku... aku cuma babysitter—""Kamu menjaga mereka." Ibunya mendekat. Tangannya menyentuh pipi Raka — hangat. Nyata. "Itu lebih dari cukup."Ayahnya menepuk bahunya."Pulang, Raka. Mereka menunggumu."Raka ingin mengatakan sesuatu. Banyak hal yang selama ini tidak sempat ia ucapkan.Tapi suaranya tidak keluar.

  • Dikira S Rank, Ternyata Aku Babysitter F Rank   Bab 295 — Terlambat

    Bab 295 — Terlambat Derap kaki. Ratusan. Berat. Teratur. Debu terangkat dari jalur utama menuju medan perang — barisan demi barisan prajurit berlapis armor, membawa pedang, tombak, perisai. Di barisan depan — dua orang. Frans. Informan guild. Pedang terhunus. Wajah tegang. Matanya menyipit menatap langit yang masih gelap oleh sisa-sisa aura kegelapan. Dan di sebelahnya — Roland. Ketua Guild Petualang. Pria tua yang bahunya selebar lemari, membawa kapak raksasa di punggungnya. "PERCEPAT LANGKAH!" Roland berteriak ke belakang. "RAJA IBLIS TIDAK AKAN MENUNGGU KITA—" Mereka tiba di medan perang. Lalu berhenti. ... Tidak ada pertarungan. Tidak ada kegelapan yang membara. Tidak ada Raja Iblis. Yang ada — tanah gosong. Bekas lingkaran segel. Kawah-kawah bekas ledakan. Dan sekelompok orang yang duduk kelelahan di antara reruntuhan. Frans menur

  • Dikira S Rank, Ternyata Aku Babysitter F Rank   bab 10 berontak

    Bab 10: berontak Halaman belakang akademi kini menjadi sangat bersih, bahkan hampir mengkilap. Belasan senior dari tim elit Golden Griffon baru saja melesat pergi secepat kilat setelah meletakkan sapu mereka. Mereka meninggalkan debu yang mengepul dan aroma ketakutan yang pekat; seolah-olah mereka

  • Dikira S Rank, Ternyata Aku Babysitter F Rank   bab 9 disiplin

    Bab 9: disiplin Sambil lanjut menyapu dedaunan kering yang berguguran di halaman belakang akademi, Raka merasakan saku celananya bergetar hebat. Ia merogoh botol susu artefaknya yang kini berpendar merah muda lembut. Jendela sistem muncul secara otomatis, memuntahkan rentetan notifikasi yang mem

  • Dikira S Rank, Ternyata Aku Babysitter F Rank   Bab 7 Playpen

    Bab 7: playpen Cahaya keemasan dan biru safir meledak dari tubuh Bima dan Elena saat partikel cahaya Nightmare Behemoth yang hancur terserap ke dalam inti mana mereka. Di dunia Aethelgard, mengalahkan monster Rank S bukan sekadar kemenangan, melainkan lonjakan evolusi yang masif bagi para pe

  • Dikira S Rank, Ternyata Aku Babysitter F Rank   Bab 6 Dungeon

    Bab 6: dungeonSuasana di Akademi Aethelgard yang biasanya tenang mendadak pecah oleh raungan memekakkan telinga yang seolah merobek langit. Di tengah lapangan upacara, sebuah retakan dimensi berwarna hitam pekat muncul, memuntahkan hawa dingin yang mencekam Dungeon Break Rank S."Se

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status