แชร์

bab 10 berontak

ผู้เขียน: R.yan
last update วันที่เผยแพร่: 2026-04-20 22:20:08

Bab 10: berontak

Halaman belakang akademi kini menjadi sangat bersih, bahkan hampir mengkilap. Belasan senior dari tim elit Golden Griffon baru saja melesat pergi secepat kilat setelah meletakkan sapu mereka. Mereka meninggalkan debu yang mengepul dan aroma ketakutan yang pekat; seolah-olah mereka lebih memilih berduel dengan naga daripada harus menatap telapak tangan Raka sekali lagi.

Kini, suasana menjadi sunyi senyap. Hanya tersisa Raka yang masih duduk tenang di bangku kayu, dan Kael yang masih tertelungkup tak berdaya di pangkuannya.

"Lepaskan aku, Babysitter sialan!" raung Kael. Suaranya pecah, parau antara amarah yang meluap dan sisa tangisannya yang memalukan. "Kembalikan pakaian bangsawanku! Kau tahu berapa harga pakaianku itu? Kau tidak akan bisa membayarnya meski bekerja seribu tahun!"

Kael mencoba meronta. Otot-otot lengannya yang Rank A menegang hingga urat-uratnya menonjol, memicu kekuatan fisik murninya untuk meledak. Namun, tangan Raka yang menekan punggungnya terasa seperti segel gunung kuno—tak tergoyahkan, berat, namun penuh otoritas. "Yakin orang ini rank F, kenapa kuat sekali ?", batin kael.

Itu karena dia masih di dalam skill raka "playpen area" membuat semua aman untuk anak, bukan hanya senjata yang diubah jadi mainan tapi termasuk kekuatan fisik juga disesuaikan ke mode balita.

Raka menghela napas panjang, menatap ke arah Bima, Elena, dan Marco yang masih menonton dengan rahang jatuh seolah sedang melihat keajaiban dunia yang terlarang.

"Sepertinya... bayi yang satu ini memang agak sulit diatur ya?" gumam Raka dengan nada prihatin yang dibuat-buat.

"KEMBALIKAN PAKAIANKU!" Kael berteriak lagi, wajahnya merah padam sampai ke telinga. "Kalau ayahku tahu kau memakaikan benda menjijikkan ini padaku, kau akan digantung di alun-alun kota!"

Raka menggelengkan kepalanya perlahan, memberikan tatapan "Ayah yang Kecewa". "Kael, Kael... Anak pintar tidak bicara kasar. Dan anak pintar tidak mengancam orang lain saat mereka sendiri sedang memakai popok bermotif anak ayam warna-warni."

Raka mengangkat telapak tangannya lagi. Kali ini, auranya bukan lagi merah muda, melainkan ungu tua yang memberikan sensasi tekanan batin yang luar biasa berat.

"Karena kau masih tantrum dan menolak untuk diam..." Raka menjentikkan jarinya ke arah botol susu artefaknya

[Skill Combined: Lullaby of Peace + Dominant Nanny]

Seketika, raka bernyanyi lagu nina bobo dengan suara baritonnya bergema di telinga Kael. Dunia di sekitar Kael mendadak melambat. Amarahnya yang meledak-ledak mendadak terserap habis, digantikan oleh rasa kantuk yang sangat masif, seolah seluruh tenaganya ditarik keluar.

"Aku... Tidak mungkin.. aku tidak... mengantuk..." gumam Kael parau. Kepalanya mulai terkulai lemas di lengan Raka. Kelopak matanya terasa seberat timah.

"Sstt... Waktunya bobo siang, Kael. Dunia ini terlalu berisik untuk bayi nakal sepertimu," bisik Raka lembut, persis seperti seorang ayah yang sedang menidurkan anaknya yang kelelahan setelah menangis seharian.

Dalam hitungan detik, Kael—sang ksatria bangsawan sombong kebanggaan senior—tertidur pulas di pangkuan Raka. Ia bahkan mulai mendengkur halus, sesekali menghisap jempolnya secara tidak sadar. Efek Dominant Nanny benar-benar menghancurkan ego dewasanya hingga ke titik nol.

Raka dengan santai mengangkat tubuh kekar Kael yang kini terasa seringan kapas bagi kekuatannya, lalu memindahkannya ke tumpukan jerami bersih di pojok kandang kuda.

"Marco, tolong ambilkan selimut atau kain apa saja di gudang. Kasihan dia kalau kedinginan setelah lelah menangis," perintah Raka.

Marco segera berlari mengambil kain penutup kuda yang tebal dan menyelimuti Kael dengan penuh khidmat, seolah sedang melakukan upacara pemakaman bagi harga diri seniornya. "Selesai, Kak Raka. Apa... apa dia akan bangun?"

"Dia akan bangun dua jam lagi dengan ingatan yang sangat samar, tapi pantatnya akan tetap terasa panas membara setiap kali dia mencoba bersikap sombong padaku," jawab Raka santai sambil menepis debu di celananya.

Bima mendekat, menatap Kael yang tidur lelap dengan popok anak ayamnya yang menyembul dari balik selimut kuda. "Ka, kau benar-benar horor. Menghancurkan fisik itu biasa, tapi kau... kau menghancurkan eksistensi sosialnya sampai ke akar-akar. Dia akan trauma melihat peternakan ayam seumur hidupnya."

Elena hanya bisa memijat keningnya, membayangkan laporan yang harus ia buat jika ditanya dewan. "Berita ini pasti akan sampai ke telinga dewan. Seorang Rank A ditidurkan dan dipakaikan popok di kandang kuda... Raka, kau sadar kan kalau kau baru saja memicu perang antara junior dan senior?"

Raka hanya tersenyum tipis, matanya menatap botol susunya yang kini kembali tenang.

"Perang? Tidak akan ada perang, Elena," ujar Raka kalem. "Yang ada hanyalah sesi bimbingan konseling massal. Kalau mereka ingin datang menantang, silakan. Aku masih punya banyak stok popok untuk seluruh satu angkatan senior."

Bima dan Marco serempak menelan ludah.

"Ayo balik ke asrama. Aku lapar," ajak Raka santai. "Bima, jangan lupa sayurmu dimakan ya nanti malam. Aku tahu kau menyembunyikan wortel di bawah meja kemarin."

Bima tersentak, wajahnya pucat pasi seolah baru saja dijatuhi hukuman mati. "I-iya, Kak Raka! Siap habiskan sampai piringnya kinclong!"

Dua Jam Kemudian...

Sinar matahari sore menembus celah-celah kayu kandang kuda, menyinari wajah Kael yang mulai mengernyit. Ia menggeliat pelan, merasakan sensasi empuk di bawah tubuhnya.

"Ugh... di mana aku?" gumam Kael, suaranya masih serak karena bangun tidur.

Ia mencoba duduk, namun tiba-tiba rasa panas yang luar biasa menyengat di bagian bokongnya. NYUT! Kael memekik pelan, tangannya refleks meraba bagian belakangnya. Matanya yang mengantuk mendadak melotot lebar saat jemarinya menyentuh tekstur plastik yang tebal, empuk, dan... berbunyi kresek-kresek.

Kael menyibak selimut kuda yang menutupi tubuhnya. Detik itu juga, jantungnya seolah berhenti berdetak.

"A-apa... APA-APAAN INI?!"

Kael berdiri dengan gemetar, melihat popok bermotif anak ayam yang melingkari pinggangnya. Ia melihat ke sekeliling; bau kotoran kuda dan jerami menyengat hidungnya. Ia berada di kandang kuda. Sendirian. Tanpa pakaian bangsawan. Hanya dengan pakaian dalam dan sebuah popok raksasa.

"RAKAAAAAA! AKAN KUBUNUH KAU!!!"

Kael mencoba merobek popok itu dengan kekuatan ksatria-nya, namun setiap kali ia mencoba menariknya, rasa panas di pantatnya meningkat berkali-kali lipat, membuatnya kembali jatuh terduduk sambil merengek kesakitan.

Ingatannya samar, namun rasa hangat di pangkuan Raka suara nyanyian raka itu terus terngiang, membuatnya merasa ingin menangis lagi tanpa alasan yang jelas. Ksatria terkuat senior itu kini meringkuk di pojokan kandang kuda, menangis sesenggukan meratapi takdirnya yang kini lebih rendah dari seekor anak ayam.

Bersambung

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Dikira S Rank, Ternyata Aku Babysitter F Rank   Bab 300 — Cinta Ayah (Season 1 Finale)

    Bab 300 — Cinta Ayah (Season 1 Finale)Tiga hari berlalu.Istana Aethelgard berdiri kembali. Lebih kokoh. Setiap batu yang tersusun menyimpan cerita. Keringat rakyat. Tawa anak-anak. Tangan raja yang ikut mengangkat balok.Dan di samping Momo Cafe —Sebuah bangunan baru.Dua lantai. Dinding putih bersih. Jendela-jendela besar yang membiarkan cahaya matahari masuk. Halaman luas dengan ayunan dan bangku-bangku kayu. Taman kecil di sisi kiri — bunga-bunga yang baru ditanam oleh Elena.Di atas pintu utama, sebuah papan nama kosong menunggu diberi nama.Rakyat berkumpul. Bangsawan hadir. Anak-anak asuh Raka berdiri di barisan depan.Pita merah membentang di depan pintu utama.Lady Veronika melangkah maju, membawa gunting emas di atas bantal beludru. Senyumnya anggun — tapi matanya hangat."Raka."Dia menyerahkan gunting itu."Ini milikmu. Gedung ini ada karena kerja kerasmu — dan keputusanmu."Raka menerima gunting itu. Menatapnya sejenak.Veronika tersenyum."Ayo, gunting pitanya. Kau aka

  • Dikira S Rank, Ternyata Aku Babysitter F Rank   Bab 299 — Gotong Royong

    Bab 299 — Gotong Royong Pintu Momo Cafe terbuka.Cahaya pagi menyambut mereka — hangat, cerah, dan penuh suara.Raka melangkah keluar. Diikuti yang lain.Dan pemandangan di depan mereka—RAMAI.Ratusan rakyat Aethelgard bergerak di reruntuhan istana. Batu diangkat. Kayu digergaji. Tali ditarik. Dinding mulai berdiri kembali — satu per satu, dengan tangan-tangan yang penuh keringat.Tidak ada sihir. Tidak ada perintah raja.Hanya rakyat biasa — petani, pedagang, tukang kayu, pandai besi — bekerja bersama. Bahu-membahu.Seorang pria tua mengangkat balok kayu bersama pemuda yang bahkan belum cukup umur untuk masuk akademi. Dua wanita menyusun bata dengan presisi yang mengalahkan tukang bangunan profesional.Di kejauhan, beberapa anak kecil mengumpulkan batu-batu kecil. Mereka tidak cukup kuat untuk mengangkat balok, tetapi tetap ingin membantu.Seorang tukang kayu tertawa ketika seorang anak menyerahkan palu yang hampir sebesar lengannya."Terima kasih, Paman!""Jangan sampai kena kakim

  • Dikira S Rank, Ternyata Aku Babysitter F Rank   Bab 298 — Kabar Baik

    Bab 298 — Kabar BaikRaka menatap Veronika yang baru saja duduk di kursi depan meja bar."Kabar baik apa, Lady?"Veronika tersenyum. Bukan senyum bisnis — senyum puas."Lemonade Sunlight botolan... sukses besar."Hening sejenak."Kota-kota besar di seluruh Aethelgard sudah memesan ulang tiga kali dalam sebulan. Efek peremajaan kulitnya langsung terasa — pelanggan bisa melihat hasilnya dalam hitungan hari."Veronika mengeluarkan selembar laporan dari tasnya dan meletakkannya di meja."Dan bukan hanya itu. Karena efeknya nyata, permintaan di lini kosmetik bisniku juga ikut meningkat. Logikanya sederhana — setelah tampil lebih muda, mereka ingin tampil lebih cantik."Dia mengetuk laporan itu dengan jari."Keuntungan bersih bulan ini — tiga kali lipat dari proyeksi awal."Raka melotot."Tiga kali lipat?"Veronika menatap Raka."Sesuai kesepakatan kita — hasil keuntungan dari Lemonade Sunlight akan digunakan untuk mendirikan panti asuhan."DEG.Raka terdiam.Di hadapannya — panel transpara

  • Dikira S Rank, Ternyata Aku Babysitter F Rank   Bab 297 — Permintaan

    Bab 297 — Permintaan Raka bangkit dari kasur. Pelan. Tubuhnya masih protes — tapi kepalanya sudah jernih. Dia menatap Helios yang masih memakai popok motif kucing. Lalu Marco yang masih pakai onesie motif beruang. Raka menjentikkan jari.CTEK. FWUSH. Cahaya tipis menyelimuti keduanya — dan dalam sekejap, pakaian bangsawan mereka kembali. Jubah kerajaan Helios. Setelan resmi Marco. Amanda menatap dari belakang. "Yaah... padahal lucu." PLAK. Helios menjitak kepala Amanda. "Lucu darimana?!" Amanda memegangi kepalanya. "Aduh, kak" Helios terdiam. Wajahnya yang tadi merah karena malu perlahan melunak. Lalu menundukkan kepala. "...Terima kasih, Kak Raka." Marco juga membungkuk. Matanya berkaca-kaca — tapi dia cepat-cepat mengusapnya. "Terima kasih, sudah mengembalikan pakaian kami" Raka mengangguk. "Sam

  • Dikira S Rank, Ternyata Aku Babysitter F Rank   Bab 296 — Rumah

    Bab 296 — RumahGelap.Hangat.Raka berdiri di tempat yang tidak ia kenali — tapi TERASA familiar.Padang rumput luas. Langit senja. Angin sepoi yang membawa aroma masakan rumah.Dan di depannya — dua orang.Wanita berambut panjang. Senyumnya lembut. Tangan yang dulu selalu mengelus kepalanya.Pria bertubuh tegap. Wajah tegas, tapi mata yang hangat.Ibu. Ayah."...Ibu? Ayah?"Ibunya tersenyum."Kamu sudah besar, Raka."Ayahnya mengangguk. Bangga."Kami melihat semuanya."Raka merasakan matanya panas."Aku... aku cuma babysitter—""Kamu menjaga mereka." Ibunya mendekat. Tangannya menyentuh pipi Raka — hangat. Nyata. "Itu lebih dari cukup."Ayahnya menepuk bahunya."Pulang, Raka. Mereka menunggumu."Raka ingin mengatakan sesuatu. Banyak hal yang selama ini tidak sempat ia ucapkan.Tapi suaranya tidak keluar.

  • Dikira S Rank, Ternyata Aku Babysitter F Rank   Bab 295 — Terlambat

    Bab 295 — Terlambat Derap kaki. Ratusan. Berat. Teratur. Debu terangkat dari jalur utama menuju medan perang — barisan demi barisan prajurit berlapis armor, membawa pedang, tombak, perisai. Di barisan depan — dua orang. Frans. Informan guild. Pedang terhunus. Wajah tegang. Matanya menyipit menatap langit yang masih gelap oleh sisa-sisa aura kegelapan. Dan di sebelahnya — Roland. Ketua Guild Petualang. Pria tua yang bahunya selebar lemari, membawa kapak raksasa di punggungnya. "PERCEPAT LANGKAH!" Roland berteriak ke belakang. "RAJA IBLIS TIDAK AKAN MENUNGGU KITA—" Mereka tiba di medan perang. Lalu berhenti. ... Tidak ada pertarungan. Tidak ada kegelapan yang membara. Tidak ada Raja Iblis. Yang ada — tanah gosong. Bekas lingkaran segel. Kawah-kawah bekas ledakan. Dan sekelompok orang yang duduk kelelahan di antara reruntuhan. Frans menur

  • Dikira S Rank, Ternyata Aku Babysitter F Rank   Bab 6 Dungeon

    Bab 6: dungeonSuasana di Akademi Aethelgard yang biasanya tenang mendadak pecah oleh raungan memekakkan telinga yang seolah merobek langit. Di tengah lapangan upacara, sebuah retakan dimensi berwarna hitam pekat muncul, memuntahkan hawa dingin yang mencekam Dungeon Break Rank S."Se

  • Dikira S Rank, Ternyata Aku Babysitter F Rank   Bab 5 Anak Asuh

    Bab 5: Anak AsuhSore itu, Raka duduk di bangku taman akademi yang tenang, membuka antarmuka sistem miliknya yang selama ini ia abaikan karena dianggap sampah. Namun, ada yang berbeda kali ini. Sebuah jendela transparan berkedip di depan matanya.> [System Update: Management List]> A

  • Dikira S Rank, Ternyata Aku Babysitter F Rank   Bab 4 Negosiasi

    Bab 4: Negosiasi di Ruang MenaraPintu kayu jati raksasa dengan ukiran naga itu tertutup rapat, namun tidak cukup tebal untuk menghalangi pendengaran tajam dua siswa Rank SS yang menempelkan telinga mereka di luar."Bisa dengar sesuatu?" bisik Bima, tangannya masih gemetar memegang gagang

  • Dikira S Rank, Ternyata Aku Babysitter F Rank   Bab 3 Aura

    Bab 3 Aura Sepanjang lorong menuju Menara Utama, Ratusan murid Akademi Aethelgard yang tadi berada di aula kini berkerumun. Tidak ada satu pun dari mereka yang berani menatap mata Raka Nightfall secara langsung. Pemuda berusia 20 tahun itu berjalan dengan langkah santai, posturnya tegap dan tenang

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status