로그인Bab 11: Bangsawan
Di sudut gelap kandang kuda akademi yang berbau jerami dan tanah basah, Kael mengerang frustrasi. Urat-urat di leher dan lengannya menonjol ekstrem, memancarkan aura emas kemerahan khas ksatria Rank A yang sedang memusatkan seluruh energinya. Tangannya mencengkeram erat ujung popok bermotif anak ayam yang membalut pinggangnya, berusaha merobek benda memalukan itu dengan paksa. "Hiaaaargh!! Kael menariknya dengan kekuatan penuh yang biasanya mampu membelah batu karang. Namun, jangankan robek, serat popok itu sama sekali tidak bergeming. Alih-alih putus, bahan plastiknya melar sesaat sebelum membal kembali ke bentuk semula dengan bunyi jepret! yang nyaring, menghantam pinggang Kael dan memberikan sensasi sengatan panas di bokongnya yang masih merah akibat Holy Spanking. "Sial... Sialan!!" umpat Kael dengan napas tersengal-sengal, matanya berair menahan perih. Tiba-tiba, ia merasakan desakan lain. Sensasi penuh di kandung kemihnya mulai tak tertahankan. Sejak dihajar dan tertidur pulas akibat Lullaby, ia belum buang air sama sekali. Ketegangan fisik dan mentalnya membuat pertahanan tubuhnya melemah. "Tidak, tidak, tidak. Aku ksatria elit keluarga Gold Glave. Aku bisa menahannya," gumam Kael merinding. Ia tahu, kembali ke asrama dengan kondisi seperti ini adalah bunuh diri sosial. Jika ada satu saja siswa yang melihatnya berjalan mengangkang dengan popok raksasa, karir dan harga dirinya akan mati malam ini juga. Satu-satunya pilihan adalah pulang ke mansion keluarganya di pinggiran kota. Ia meraih kain panjang tua penutup kuda yang tadi dijadikan selimut, melilitkannya di pinggang untuk menyamarkan bagian bawahnya yang menggembung, lalu menyelinap keluar akademi menuju stasiun kereta sihir malam. Namun, itu adalah keputusan terburuk yang pernah ia buat. Jalur kereta menuju pinggiran kota terkenal sangat bergelombang. Jegrek... jegrek... Setiap kali gerbong berguncang, Kael harus menggigit bibirnya sampai berdarah. Ia duduk menyudut di gerbong paling sepi, kakinya dirapatkan kuat-kuat, sementara keringat dingin membanjiri dahinya yang pucat. Brak! Kereta tiba-tiba mengerem mendadak untuk menghindari hewan liar yang melintasi rel. Guncangan keras itu menghancurkan pertahanan terakhir sang ksatria Rank A. "A-akh..." Kael membelalak. Pertahanannya jebol. Ia tak kuasa menahannya lagi. Rasa hangat perlahan menyebar di bagian bawahnya. Popok anak ayam ajaib buatan Raka itu dengan cepat merespons, menyerap cairan tersebut dan mengembang menjadi semakin tebal serta berat. Kini, setiap kali Kael bernapas atau bergerak sedikit saja, terdengar bunyi kresek-kresek lembap yang mengerikan. Kael menundukkan kepalanya dalam-dalam, menutupi wajahnya dengan kedua tangan. Air mata penghinaan menetes ke lantai kereta. Sial... sial... sial! Habis sudah harga diriku! batinnya menjerit putus asa. Begitu sampai di kediaman mewahnya, Kael berlari terburu-buru, mengabaikan para pelayan yang kebingungan melihat Tuan Muda mereka berjalan aneh dan setengah mengangkang. Ia mengunci diri di kamar dan segera membanting bel pemanggil dengan beringas. "Panggilkan Master Penyihir keluarga kita! Semuanya! Bawa gulungan Dispel tingkat tertinggi! Sekarang!" teriaknya dari balik pintu mahoni. Sambil menunggu para penyihir, Kael menggertakkan giginya. Matanya berkilat penuh dendam kesumat. Ia membuka laci meja dan mengeluarkan artefak komunikasi bayangan yang terlarang. "Hubungkan aku dengan Shadow Guild," desis Kael ke arah artefak tersebut. Suaranya dingin dan mematikan. "Aku punya pekerjaan. Bayarannya sepuluh kali lipat dari harga normal. Targetnya siswa akademi bernama Raka. Kirim tim pembunuh bayaran terbaik kalian malam ini juga. Serang dia! Biar si babysitter sialan itu tahu rasa karena berani berurusan dengan keluarga Gold Glave!" Sementara itu, di taman asrama akademi yang diterangi cahaya bulan purnama, suasana jauh lebih damai dan... sedikit canggung. Bima duduk di bangku taman, memainkan ujung sarung pedangnya dengan kikuk. Di sebelahnya, Elena sedang membuka-buka buku mantra tingkat lanjut, meski matanya sejak tadi tidak fokus pada teks dan terus melirik ke arah Bima. "Tadi... kau lihat senior Kael, kan?" Bima memulai obrolan, mencoba memecah keheningan. Ia menahan senyumnya yang sedari tadi ingin meledak. "Aku benar-benar ingin tertawa lepas waktu di halaman. Tapi mati-matian kutahan. Gila saja, kalau Raka melihatku tertawa, bisa-bisa aku dituduh 'anak nakal' dan ikut dihukum pakai popok!" Elena menutup bukunya dan mendengus pelan, menatap Bima dengan senyum geli yang jarang ia tunjukkan. "Dasar penakut. Holy Knight macam apa kau ini? Berani melawan naga, tapi takut sama popok." "Hey, itu bukan sembarang popok! Kau tidak lihat tekanan mental Kael hancur lebur?" Bima membela diri setengah merajuk. "Iya, iya, aku tahu," potong Elena, tawanya akhirnya lepas juga. Suaranya renyah memecah malam. "Sebenarnya... aku juga dari tadi menahan tawa. Apalagi kalau mengingat wajahmu saat panik makan sayur brokoli sampai piringnya licin karena takut pada Raka. Serius sekali, persis kelinci raksasa yang sedang ketakutan." Bima terdiam sejenak. Mendengar Elena tertawa lepas dan menggodanya membuat perutnya terasa seperti dipenuhi ribuan kupu-kupu. Entah mendapat dorongan keberanian dari mana, Bima tiba-tiba mencondongkan tubuhnya ke arah gadis itu. "Oh ya? Jadi... menurutmu aku ini lucu?" goda Bima pelan, suaranya merendah. Tanpa sadar, tangan besarnya yang kapalan karena pedang bergerak merengkuh punggung tangan Elena yang sedari tadi berada di atas buku. Hening menyergap. Waktu seakan berhenti berdetak. Mata Elena membulat sempurna. Ia menatap tangan Bima yang menggenggam tangannya, lalu perlahan menatap wajah ksatria itu dari jarak dekat. Semburat merah merona perlahan menjalar dari leher hingga memenuhi kedua pipi sang High Mage yang biasanya terkenal sedingin es. Menyadari apa yang baru saja ia lakukan, Bima terkesiap. Ia langsung menarik tangannya secepat kilat seolah baru saja menyentuh bara api. "A-ah! Maaf! Aku... aku tidak sengaja!" seru Bima panik. Kini giliran wajahnya yang berubah menjadi merah padam layaknya kepiting rebus. Ia salah tingkah, membuang muka sambil menggaruk tengkuknya yang sama sekali tidak gatal. Elena menunduk dalam-dalam, menyembunyikan wajahnya yang merona di balik rambut panjangnya yang tergerai. "T-tidak apa-apa..." cicitnya sangat pelan. Tepat di tengah momen manis yang berdebar itu, suara gemerisik semak-semak terdengar menghancurkan suasana. "Loh?" Bima dan Elena terlonjak berdiri dari tempat duduk mereka seperti tersengat listrik. Dari balik pepohonan, Marco muncul menenteng kapak gandanya sehabis latihan malam. Sang Berserker Rank A itu menatap kedua pasangan itu dengan dahi berkerut bingung. "Kak Elena, Kak Bima? Kok muka kalian berdua merah banget?" tanya Marco polos, berjalan mendekat tanpa memiliki kepekaan membaca situasi sedikit pun. Ia menatap mereka dengan raut khawatir. "Kalian demam, ya? Apa ini efek samping karena kelelahan mengalahkan bos monster dungeon kemarin?" Bima dan Elena saling pandang dengan mata panik, lalu serempak menjawab dengan suara lantang yang terdengar berlebihan. "TIDAK! KAMI TIDAK DEMAM!" seru Bima dan Elena bersamaan. Marco terlonjak mundur, memeluk kapaknya. "kenapa nge-gas... aku kan cuma nanya—" Ucapan Marco terpotong mendadak. Insting tempur ketiga murid elit itu tiba-tiba tersentak secara bersamaan. Angin malam yang semula sejuk membelai kulit mendadak berubah menjadi sangat dingin, tajam, dan memancarkan hawa membunuh yang pekat. Dari atas dahan pohon ek raksasa di dekat mereka, sesosok bayangan hitam melesat dengan kecepatan dan kesenyapan yang luar biasa. Bayangan itu bergerak menyatu dengan kegelapan malam, berayun dari satu atap ke atap asrama lain dengan kelincahan seorang assassin profesional tingkat atas. Bima dan Elena—dengan persepsi tajam Rank SS mereka—dengan mudah bisa mengikuti pergerakan kilat bayangan tersebut. "Aura pembunuh bayaran tingkat tinggi," bisik Bima. Insting Holy Knight-nya langsung aktif murni, melupakan kegugupannya tadi. Tangannya refleks meraba gagang pedang sucinya. "Dan dia menggunakan sihir penyamar jejak bayangan. Tidak cuma satu... ada tiga orang." "Arah gerakannya..." Elena menyipitkan mata, menghitung lintasan bayangan yang terus melesat di udara itu. Wajahnya perlahan berubah pias. "...Menara Timur Asrama Junior." Marco menelan ludah kasar. Matanya membelalak ngeri. "Menara Timur... kamar pojok di lantai tiga. Bukankah itu... jendela kamar Kak Raka?" Ketiganya terdiam mematung. Angin malam berhembus meniup dedaunan kering di sekitar mereka, menciptakan keheningan yang mencekam. Namun anehnya, alih-alih panik, berteriak memperingatkan penjaga, atau bergegas lari untuk menyelamatkan Raka dari ancaman maut, raut wajah Bima, Elena, dan Marco justru perlahan memancarkan ekspresi yang sama: simpati yang teramat dalam, dan rasa kasihan yang tak terhingga. "Haruskah kita ke sana dan menolongnya?" tanya Marco dengan suara bergetar ragu. "Menolong siapa? Raka?" balas Bima, membayangkan kekuatan absolut yang sanggup mengubah pedang sucinya menjadi kerincingan plastik. "Bukan," jawab Elena sambil memijat keningnya yang tiba-tiba berdenyut, membayangkan wujud Kael dengan popok anak ayam siang tadi. "Menolong para pembunuh bayaran itu." Malam itu, di bawah temaram rembulan akademi, sebuah doa tulus dipanjatkan oleh tiga murid terkuat—bukan untuk keselamatan teman Rank F mereka, melainkan untuk sisa-sisa harga diri para assassin malang yang sebentar lagi akan dihancurkan tanpa ampun. BersambungBab 300 — Cinta Ayah (Season 1 Finale)Tiga hari berlalu.Istana Aethelgard berdiri kembali. Lebih kokoh. Setiap batu yang tersusun menyimpan cerita. Keringat rakyat. Tawa anak-anak. Tangan raja yang ikut mengangkat balok.Dan di samping Momo Cafe —Sebuah bangunan baru.Dua lantai. Dinding putih bersih. Jendela-jendela besar yang membiarkan cahaya matahari masuk. Halaman luas dengan ayunan dan bangku-bangku kayu. Taman kecil di sisi kiri — bunga-bunga yang baru ditanam oleh Elena.Di atas pintu utama, sebuah papan nama kosong menunggu diberi nama.Rakyat berkumpul. Bangsawan hadir. Anak-anak asuh Raka berdiri di barisan depan.Pita merah membentang di depan pintu utama.Lady Veronika melangkah maju, membawa gunting emas di atas bantal beludru. Senyumnya anggun — tapi matanya hangat."Raka."Dia menyerahkan gunting itu."Ini milikmu. Gedung ini ada karena kerja kerasmu — dan keputusanmu."Raka menerima gunting itu. Menatapnya sejenak.Veronika tersenyum."Ayo, gunting pitanya. Kau aka
Bab 299 — Gotong Royong Pintu Momo Cafe terbuka.Cahaya pagi menyambut mereka — hangat, cerah, dan penuh suara.Raka melangkah keluar. Diikuti yang lain.Dan pemandangan di depan mereka—RAMAI.Ratusan rakyat Aethelgard bergerak di reruntuhan istana. Batu diangkat. Kayu digergaji. Tali ditarik. Dinding mulai berdiri kembali — satu per satu, dengan tangan-tangan yang penuh keringat.Tidak ada sihir. Tidak ada perintah raja.Hanya rakyat biasa — petani, pedagang, tukang kayu, pandai besi — bekerja bersama. Bahu-membahu.Seorang pria tua mengangkat balok kayu bersama pemuda yang bahkan belum cukup umur untuk masuk akademi. Dua wanita menyusun bata dengan presisi yang mengalahkan tukang bangunan profesional.Di kejauhan, beberapa anak kecil mengumpulkan batu-batu kecil. Mereka tidak cukup kuat untuk mengangkat balok, tetapi tetap ingin membantu.Seorang tukang kayu tertawa ketika seorang anak menyerahkan palu yang hampir sebesar lengannya."Terima kasih, Paman!""Jangan sampai kena kakim
Bab 298 — Kabar BaikRaka menatap Veronika yang baru saja duduk di kursi depan meja bar."Kabar baik apa, Lady?"Veronika tersenyum. Bukan senyum bisnis — senyum puas."Lemonade Sunlight botolan... sukses besar."Hening sejenak."Kota-kota besar di seluruh Aethelgard sudah memesan ulang tiga kali dalam sebulan. Efek peremajaan kulitnya langsung terasa — pelanggan bisa melihat hasilnya dalam hitungan hari."Veronika mengeluarkan selembar laporan dari tasnya dan meletakkannya di meja."Dan bukan hanya itu. Karena efeknya nyata, permintaan di lini kosmetik bisniku juga ikut meningkat. Logikanya sederhana — setelah tampil lebih muda, mereka ingin tampil lebih cantik."Dia mengetuk laporan itu dengan jari."Keuntungan bersih bulan ini — tiga kali lipat dari proyeksi awal."Raka melotot."Tiga kali lipat?"Veronika menatap Raka."Sesuai kesepakatan kita — hasil keuntungan dari Lemonade Sunlight akan digunakan untuk mendirikan panti asuhan."DEG.Raka terdiam.Di hadapannya — panel transpara
Bab 297 — Permintaan Raka bangkit dari kasur. Pelan. Tubuhnya masih protes — tapi kepalanya sudah jernih. Dia menatap Helios yang masih memakai popok motif kucing. Lalu Marco yang masih pakai onesie motif beruang. Raka menjentikkan jari.CTEK. FWUSH. Cahaya tipis menyelimuti keduanya — dan dalam sekejap, pakaian bangsawan mereka kembali. Jubah kerajaan Helios. Setelan resmi Marco. Amanda menatap dari belakang. "Yaah... padahal lucu." PLAK. Helios menjitak kepala Amanda. "Lucu darimana?!" Amanda memegangi kepalanya. "Aduh, kak" Helios terdiam. Wajahnya yang tadi merah karena malu perlahan melunak. Lalu menundukkan kepala. "...Terima kasih, Kak Raka." Marco juga membungkuk. Matanya berkaca-kaca — tapi dia cepat-cepat mengusapnya. "Terima kasih, sudah mengembalikan pakaian kami" Raka mengangguk. "Sam
Bab 296 — RumahGelap.Hangat.Raka berdiri di tempat yang tidak ia kenali — tapi TERASA familiar.Padang rumput luas. Langit senja. Angin sepoi yang membawa aroma masakan rumah.Dan di depannya — dua orang.Wanita berambut panjang. Senyumnya lembut. Tangan yang dulu selalu mengelus kepalanya.Pria bertubuh tegap. Wajah tegas, tapi mata yang hangat.Ibu. Ayah."...Ibu? Ayah?"Ibunya tersenyum."Kamu sudah besar, Raka."Ayahnya mengangguk. Bangga."Kami melihat semuanya."Raka merasakan matanya panas."Aku... aku cuma babysitter—""Kamu menjaga mereka." Ibunya mendekat. Tangannya menyentuh pipi Raka — hangat. Nyata. "Itu lebih dari cukup."Ayahnya menepuk bahunya."Pulang, Raka. Mereka menunggumu."Raka ingin mengatakan sesuatu. Banyak hal yang selama ini tidak sempat ia ucapkan.Tapi suaranya tidak keluar.
Bab 295 — Terlambat Derap kaki. Ratusan. Berat. Teratur. Debu terangkat dari jalur utama menuju medan perang — barisan demi barisan prajurit berlapis armor, membawa pedang, tombak, perisai. Di barisan depan — dua orang. Frans. Informan guild. Pedang terhunus. Wajah tegang. Matanya menyipit menatap langit yang masih gelap oleh sisa-sisa aura kegelapan. Dan di sebelahnya — Roland. Ketua Guild Petualang. Pria tua yang bahunya selebar lemari, membawa kapak raksasa di punggungnya. "PERCEPAT LANGKAH!" Roland berteriak ke belakang. "RAJA IBLIS TIDAK AKAN MENUNGGU KITA—" Mereka tiba di medan perang. Lalu berhenti. ... Tidak ada pertarungan. Tidak ada kegelapan yang membara. Tidak ada Raja Iblis. Yang ada — tanah gosong. Bekas lingkaran segel. Kawah-kawah bekas ledakan. Dan sekelompok orang yang duduk kelelahan di antara reruntuhan. Frans menur
Bab 10: berontak Halaman belakang akademi kini menjadi sangat bersih, bahkan hampir mengkilap. Belasan senior dari tim elit Golden Griffon baru saja melesat pergi secepat kilat setelah meletakkan sapu mereka. Mereka meninggalkan debu yang mengepul dan aroma ketakutan yang pekat; seolah-olah mereka
Bab 9: disiplin Sambil lanjut menyapu dedaunan kering yang berguguran di halaman belakang akademi, Raka merasakan saku celananya bergetar hebat. Ia merogoh botol susu artefaknya yang kini berpendar merah muda lembut. Jendela sistem muncul secara otomatis, memuntahkan rentetan notifikasi yang mem
Bab 8: keadilanDebu pertempuran telah mengendap, namun atmosfer di Aula Utama Akademi Aethelgard justru memuncak hingga ke titik didih. Di tengah ruangan yang megah itu, Raka berdiri dengan tenang meskipun kedua tangannya terborgol sihir penekan mana yang berpendar ungu gelap. Di sampingnya,
Bab 7: playpen Cahaya keemasan dan biru safir meledak dari tubuh Bima dan Elena saat partikel cahaya Nightmare Behemoth yang hancur terserap ke dalam inti mana mereka. Di dunia Aethelgard, mengalahkan monster Rank S bukan sekadar kemenangan, melainkan lonjakan evolusi yang masif bagi para pe







