Share

bab 11 Bangsawan

Author: R.yan
last update publish date: 2026-04-20 23:40:39

Bab 11: Bangsawan

Di sudut gelap kandang kuda akademi yang berbau jerami dan tanah basah, Kael mengerang frustrasi. Urat-urat di leher dan lengannya menonjol ekstrem, memancarkan aura emas kemerahan khas ksatria Rank A yang sedang memusatkan seluruh energinya. Tangannya mencengkeram erat ujung popok bermotif anak ayam yang membalut pinggangnya, berusaha merobek benda memalukan itu dengan paksa.

"Hiaaaargh!!

Kael menariknya dengan kekuatan penuh yang biasanya mampu membelah batu karang. Namun, jangankan robek, serat popok itu sama sekali tidak bergeming. Alih-alih putus, bahan plastiknya melar sesaat sebelum membal kembali ke bentuk semula dengan bunyi jepret! yang nyaring, menghantam pinggang Kael dan memberikan sensasi sengatan panas di bokongnya yang masih merah akibat Holy Spanking.

"Sial... Sialan!!" umpat Kael dengan napas tersengal-sengal, matanya berair menahan perih.

Tiba-tiba, ia merasakan desakan lain. Sensasi penuh di kandung kemihnya mulai tak tertahankan. Sejak dihajar dan tertidur pulas akibat Lullaby, ia belum buang air sama sekali. Ketegangan fisik dan mentalnya membuat pertahanan tubuhnya melemah.

"Tidak, tidak, tidak. Aku ksatria elit keluarga Gold Glave. Aku bisa menahannya," gumam Kael merinding. Ia tahu, kembali ke asrama dengan kondisi seperti ini adalah bunuh diri sosial. Jika ada satu saja siswa yang melihatnya berjalan mengangkang dengan popok raksasa, karir dan harga dirinya akan mati malam ini juga.

Satu-satunya pilihan adalah pulang ke mansion keluarganya di pinggiran kota. Ia meraih kain panjang tua penutup kuda yang tadi dijadikan selimut, melilitkannya di pinggang untuk menyamarkan bagian bawahnya yang menggembung, lalu menyelinap keluar akademi menuju stasiun kereta sihir malam.

Namun, itu adalah keputusan terburuk yang pernah ia buat.

Jalur kereta menuju pinggiran kota terkenal sangat bergelombang. Jegrek... jegrek... Setiap kali gerbong berguncang, Kael harus menggigit bibirnya sampai berdarah. Ia duduk menyudut di gerbong paling sepi, kakinya dirapatkan kuat-kuat, sementara keringat dingin membanjiri dahinya yang pucat.

Brak! Kereta tiba-tiba mengerem mendadak untuk menghindari hewan liar yang melintasi rel. Guncangan keras itu menghancurkan pertahanan terakhir sang ksatria Rank A.

"A-akh..." Kael membelalak. Pertahanannya jebol. Ia tak kuasa menahannya lagi.

Rasa hangat perlahan menyebar di bagian bawahnya. Popok anak ayam ajaib buatan Raka itu dengan cepat merespons, menyerap cairan tersebut dan mengembang menjadi semakin tebal serta berat. Kini, setiap kali Kael bernapas atau bergerak sedikit saja, terdengar bunyi kresek-kresek lembap yang mengerikan.

Kael menundukkan kepalanya dalam-dalam, menutupi wajahnya dengan kedua tangan. Air mata penghinaan menetes ke lantai kereta. Sial... sial... sial! Habis sudah harga diriku! batinnya menjerit putus asa.

Begitu sampai di kediaman mewahnya, Kael berlari terburu-buru, mengabaikan para pelayan yang kebingungan melihat Tuan Muda mereka berjalan aneh dan setengah mengangkang. Ia mengunci diri di kamar dan segera membanting bel pemanggil dengan beringas.

"Panggilkan Master Penyihir keluarga kita! Semuanya! Bawa gulungan Dispel tingkat tertinggi! Sekarang!" teriaknya dari balik pintu mahoni.

Sambil menunggu para penyihir, Kael menggertakkan giginya. Matanya berkilat penuh dendam kesumat. Ia membuka laci meja dan mengeluarkan artefak komunikasi bayangan yang terlarang.

"Hubungkan aku dengan Shadow Guild," desis Kael ke arah artefak tersebut. Suaranya dingin dan mematikan. "Aku punya pekerjaan. Bayarannya sepuluh kali lipat dari harga normal. Targetnya siswa akademi bernama Raka. Kirim tim pembunuh bayaran terbaik kalian malam ini juga. Serang dia! Biar si babysitter sialan itu tahu rasa karena berani berurusan dengan keluarga Gold Glave!"

Sementara itu, di taman asrama akademi yang diterangi cahaya bulan purnama, suasana jauh lebih damai dan... sedikit canggung.

Bima duduk di bangku taman, memainkan ujung sarung pedangnya dengan kikuk. Di sebelahnya, Elena sedang membuka-buka buku mantra tingkat lanjut, meski matanya sejak tadi tidak fokus pada teks dan terus melirik ke arah Bima.

"Tadi... kau lihat senior Kael, kan?" Bima memulai obrolan, mencoba memecah keheningan. Ia menahan senyumnya yang sedari tadi ingin meledak. "Aku benar-benar ingin tertawa lepas waktu di halaman. Tapi mati-matian kutahan. Gila saja, kalau Raka melihatku tertawa, bisa-bisa aku dituduh 'anak nakal' dan ikut dihukum pakai popok!"

Elena menutup bukunya dan mendengus pelan, menatap Bima dengan senyum geli yang jarang ia tunjukkan. "Dasar penakut. Holy Knight macam apa kau ini? Berani melawan naga, tapi takut sama popok."

"Hey, itu bukan sembarang popok! Kau tidak lihat tekanan mental Kael hancur lebur?" Bima membela diri setengah merajuk.

"Iya, iya, aku tahu," potong Elena, tawanya akhirnya lepas juga. Suaranya renyah memecah malam. "Sebenarnya... aku juga dari tadi menahan tawa. Apalagi kalau mengingat wajahmu saat panik makan sayur brokoli sampai piringnya licin karena takut pada Raka. Serius sekali, persis kelinci raksasa yang sedang ketakutan."

Bima terdiam sejenak. Mendengar Elena tertawa lepas dan menggodanya membuat perutnya terasa seperti dipenuhi ribuan kupu-kupu. Entah mendapat dorongan keberanian dari mana, Bima tiba-tiba mencondongkan tubuhnya ke arah gadis itu.

"Oh ya? Jadi... menurutmu aku ini lucu?" goda Bima pelan, suaranya merendah. Tanpa sadar, tangan besarnya yang kapalan karena pedang bergerak merengkuh punggung tangan Elena yang sedari tadi berada di atas buku.

Hening menyergap. Waktu seakan berhenti berdetak.

Mata Elena membulat sempurna. Ia menatap tangan Bima yang menggenggam tangannya, lalu perlahan menatap wajah ksatria itu dari jarak dekat. Semburat merah merona perlahan menjalar dari leher hingga memenuhi kedua pipi sang High Mage yang biasanya terkenal sedingin es.

Menyadari apa yang baru saja ia lakukan, Bima terkesiap. Ia langsung menarik tangannya secepat kilat seolah baru saja menyentuh bara api.

"A-ah! Maaf! Aku... aku tidak sengaja!" seru Bima panik. Kini giliran wajahnya yang berubah menjadi merah padam layaknya kepiting rebus. Ia salah tingkah, membuang muka sambil menggaruk tengkuknya yang sama sekali tidak gatal.

Elena menunduk dalam-dalam, menyembunyikan wajahnya yang merona di balik rambut panjangnya yang tergerai. "T-tidak apa-apa..." cicitnya sangat pelan.

Tepat di tengah momen manis yang berdebar itu, suara gemerisik semak-semak terdengar menghancurkan suasana.

"Loh?"

Bima dan Elena terlonjak berdiri dari tempat duduk mereka seperti tersengat listrik. Dari balik pepohonan, Marco muncul menenteng kapak gandanya sehabis latihan malam. Sang Berserker Rank A itu menatap kedua pasangan itu dengan dahi berkerut bingung.

"Kak Elena, Kak Bima? Kok muka kalian berdua merah banget?" tanya Marco polos, berjalan mendekat tanpa memiliki kepekaan membaca situasi sedikit pun. Ia menatap mereka dengan raut khawatir. "Kalian demam, ya? Apa ini efek samping karena kelelahan mengalahkan bos monster dungeon kemarin?"

Bima dan Elena saling pandang dengan mata panik, lalu serempak menjawab dengan suara lantang yang terdengar berlebihan.

"TIDAK! KAMI TIDAK DEMAM!" seru Bima dan Elena bersamaan.

Marco terlonjak mundur, memeluk kapaknya. "kenapa nge-gas... aku kan cuma nanya—"

Ucapan Marco terpotong mendadak. Insting tempur ketiga murid elit itu tiba-tiba tersentak secara bersamaan. Angin malam yang semula sejuk membelai kulit mendadak berubah menjadi sangat dingin, tajam, dan memancarkan hawa membunuh yang pekat.

Dari atas dahan pohon ek raksasa di dekat mereka, sesosok bayangan hitam melesat dengan kecepatan dan kesenyapan yang luar biasa. Bayangan itu bergerak menyatu dengan kegelapan malam, berayun dari satu atap ke atap asrama lain dengan kelincahan seorang assassin profesional tingkat atas.

Bima dan Elena—dengan persepsi tajam Rank SS mereka—dengan mudah bisa mengikuti pergerakan kilat bayangan tersebut.

"Aura pembunuh bayaran tingkat tinggi," bisik Bima. Insting Holy Knight-nya langsung aktif murni, melupakan kegugupannya tadi. Tangannya refleks meraba gagang pedang sucinya. "Dan dia menggunakan sihir penyamar jejak bayangan. Tidak cuma satu... ada tiga orang."

"Arah gerakannya..." Elena menyipitkan mata, menghitung lintasan bayangan yang terus melesat di udara itu. Wajahnya perlahan berubah pias. "...Menara Timur Asrama Junior."

Marco menelan ludah kasar. Matanya membelalak ngeri. "Menara Timur... kamar pojok di lantai tiga. Bukankah itu... jendela kamar Kak Raka?"

Ketiganya terdiam mematung. Angin malam berhembus meniup dedaunan kering di sekitar mereka, menciptakan keheningan yang mencekam.

Namun anehnya, alih-alih panik, berteriak memperingatkan penjaga, atau bergegas lari untuk menyelamatkan Raka dari ancaman maut, raut wajah Bima, Elena, dan Marco justru perlahan memancarkan ekspresi yang sama: simpati yang teramat dalam, dan rasa kasihan yang tak terhingga.

"Haruskah kita ke sana dan menolongnya?" tanya Marco dengan suara bergetar ragu.

"Menolong siapa? Raka?" balas Bima, membayangkan kekuatan absolut yang sanggup mengubah pedang sucinya menjadi kerincingan plastik.

"Bukan," jawab Elena sambil memijat keningnya yang tiba-tiba berdenyut, membayangkan wujud Kael dengan popok anak ayam siang tadi. "Menolong para pembunuh bayaran itu."

Malam itu, di bawah temaram rembulan akademi, sebuah doa tulus dipanjatkan oleh tiga murid terkuat—bukan untuk keselamatan teman Rank F mereka, melainkan untuk sisa-sisa harga diri para assassin malang yang sebentar lagi akan dihancurkan tanpa ampun.

Bersambung

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Dikira S Rank, Ternyata Aku Babysitter F Rank   Bab 129 Grand Opening

    Bab 129: Grand OpeningPagi hari.Untuk pertama kalinya sejak proyek dimulai—Momo Cafe resmi berdiri.Bangunan pualam putih itu bersinar indah diterpa matahari pagi.Jendela-jendela kristalnya memantulkan cahaya ke seluruh Distrik Satu.Di depan bangunan—sebuah pita merah besar telah terpasang.Puluhan kursi tersusun rapi.Karpet merah membentang hingga ke jalan utama.Dan untuk pertama kalinya—seluruh keluarga besar Nightfall berkumpul.---Jack berdiri paling depan.Mengenakan setelan formal hitam.Wajahnya dipenuhi kebanggaan.Di sampingnya—Anna mengenakan seragam koki putih lengkap dengan celemek baru.Topi kokinya berdiri tegak.Ia tampak jauh lebih percaya diri dibanding pertama kali bertemu Raka.---Tidak jauh dari sana—Viper.Mantis.Dan Crow.Berd

  • Dikira S Rank, Ternyata Aku Babysitter F Rank   Bab 128: Teman Baru

    Bab 128: Teman BaruSinar senja masuk melalui jendela-jendela tinggi Perpustakaan House Nightfall.Suasana yang selama dua puluh tahun terasa suram kini terasa jauh lebih ringan.Alasannya sederhana.Black Dragon Calamity akhirnya bebas.Walaupun—ukurannya sekarang hanya sedikit lebih besar dari Blaze.Elena menutup buku catatan yang sedari tadi ia pegang.Lalu menghela napas panjang."Kalau begitu..."Semua menoleh."Karena urusan Paman Nox sudah selesai."Jeda."Aku mau mencari beberapa buku sihir dulu."Mata Elena langsung berbinar.Sebagai penyihir.Perpustakaan kuno ini adalah surga.Ribuan buku sihir kuno.Mantra yang sudah hilang dari dunia.Penelitian berusia ratusan tahun.Mustahil ia pulang tanpa membaca apa pun.Raka mengangguk."Hm."Lalu ia menoleh ke arah Lullaby."Lullaby."Guardian kuno itu berkedip."Ya, Tuan Muda?""Apa kau mau keluar?"Hening.Lulla

  • Dikira S Rank, Ternyata Aku Babysitter F Rank   Bab 127 Registrasi

    Bab 127: Registrasi⚡ BOOOOOOOOOMMMM!!!Cahaya emas meledak dari layar sistem.Seluruh perpustakaan bergetar hebat.Rantai-rantai kuno yang mengikat tubuh Nox menyala terang.CLANK!CLANK!!CLANK!!!Mata merah Nox membelalak.Tubuhnya yang kini hanya sedikit lebih besar dari kuda kembali diselimuti cahaya.⚡ TING!![Pet Registration In Progress...][Target: Black Dragon Calamity][Nox][Please Wait...]Hening.Sangat hening.Semua menahan napas.Elena.Lullaby.Bima.Bahkan Valerian.Semua menunggu.Lalu—⚡ TING!![Success!]⚡ ZUUUUUUUMMMMM!!!Ledakan cahaya kembali memenuhi perpustakaan.Tubuh Nox langsung terselimuti pusaran mana hitam pekat."Apa yang terjadi?!" raung Nox.Namun suaranya tiba-tiba terdengar jauh le

  • Dikira S Rank, Ternyata Aku Babysitter F Rank   Bab 126 Mengecil

    Bab 126: Mengecil⚡ ZUUUUUUUMMMMMM!!!Seluruh perpustakaan bergetar hebat.Rantai-rantai hitam kuno yang selama dua puluh tahun tidak pernah berubah mulai memancarkan cahaya merah gelap.CLANK!CLANK!!CLANK!!!Mata merah Nox membelalak."...Apa yang terjadi?"Tidak ada yang menjawab.Karena semua orang sedang melihat hal yang sama.Tubuh Black Dragon Calamity mulai berubah.⚡ ZUUUMMM!!Tubuh raksasa perlahan menyusut.Awalnya sangat lambat.Namun beberapa detik kemudian—perubahannya semakin jelas.Sayapnya mengecil.Lehernya memendek.Cakar-cakarnya menyusut.Bahkan tanduk hitam di kepalanya ikut mengecil.Elena menutup mulutnya."...Berhasil."Lullaby membeku.Sangat membeku.Sebagai penjaga perpustakaan—ia telah melihat banyak keajaiban.Namun ini pertama kalinya ia melihat seseorang menggunakan skill naga muda untuk mempengaruhi Calamity kuno.Nox sendiri terlihat linglung."...Aku..."Ia mengangkat salah satu cakarnya.Lalu menatapnya."...Aku benar-benar mengecil?"⚡ ZUUUUMMM!

  • Dikira S Rank, Ternyata Aku Babysitter F Rank   Bab 125: Ukuran

    Bab 125: UkuranSore hari mulai turun perlahan di Distrik Satu.Langit jingga memantulkan cahaya hangat ke jalanan batu yang mengarah menuju Menara Timur.Di ujung jalan—seorang ksatria suci berdiri dengan wajah serius.Sangat serius.Tangannya berada di belakang punggung.Tubuhnya tegak.Tatapannya lurus ke depan.Seolah sedang menunggu sesuatu yang sangat penting.Elena yang baru keluar dari kafe langsung berkedip."...Bima?"Bima menoleh."Mmph."Elena memiringkan kepala.Selama ini Bima memang selalu canggung saat berbicara dengannya.Apalagi setelah insiden turnamen dan seluruh tragedi anak asuh itu.Beberapa hari terakhir mereka bahkan hampir tidak pernah berbicara normal.Karena itu—melihat ksatria suci itu berdiri menunggu di pinggir jalan membuat Elena sedikit terkejut.Dan entah kenapa—pipinya terasa sedikit hangat."...Kau menunggu kami?""Ya.""Ada yang ingin kau katakan?""Ya.""Apa?"Elena berdeham kecil.Namun sebelum ia sempat mengatakan apa pun—Bima langsung berja

  • Dikira S Rank, Ternyata Aku Babysitter F Rank   Bab 124 Belum Lulus

    Bab 124: Belum LulusJauh di dalam Perpustakaan House Nightfall.Hening masih menyelimuti ruangan kuno itu.Black Dragon Calamity Nox menatap Lullaby yang masih berdiri membeku di depan rak-rak buku tua."...Lullaby.""Ya, Tuan Nox?""...Apa yang kau lihat?"Lullaby terdiam.Sangat lama.Ekspresinya terlihat aneh.Bahkan sedikit ragu.Hal yang hampir tidak pernah terjadi pada guardian kuno seperti dirinya."Aku..."Jeda."...kurasa aku tidak seharusnya mengatakannya."Nox menyipit."Itu buruk?""Belum tentu.""Itu baik?""Belum tentu juga."Hening.Nox semakin curiga."Apa aku mati?""Tidak.""Apa aku tetap tersegel?""...Tidak persis.""Apa aku bebas?"Lullaby membuka mulut.Lalu menutupnya lagi.Hening."...Lullaby.

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status