Se connecterBab 78: Harga Sultan
Di tengah himpitan tekanan aura emas [Royal Dragon Pressure] yang membuat paving blok pelataran arena retak halus, Raka Nightfall tetap berdiri tegak. Dengan celemek beruang kesayangannya yang berkibar pelan, ia justru melipat kedua lengannya dengan santai, memancarkan aura Dominant Nanny yang secara tidak logis mampu menetralisir intimidasi kasta tertinggi tersebut. Raka tersenyum tipis, sebuah senyuman kapitalis murni yang sangat pekat. "Mohon maaf, YBab 188: Dede Ian di Mana?Di kebun belakang Momo Cafe...Valerian masih memegang bunga Starsoul Lily dengan sangat hati-hati.Amanda berdiri di sampingnya, sementara Raka, Jack, Marco, Bima, Kael, dan Elena masih berkumpul mengelilingi pot.Suasana di kebun yang tadinya tegang kini seharusnya terasa jauh lebih lega.Namun tiba-tiba Amanda melirik ke kiri.Kemudian melirik ke kanan.Ia celingak-celinguk...Seolah-olah sedang mencari keberadaan seseorang.Raka yang memperhatikannya langsung bertanya."Ada apa, Putri Amanda?"Amanda masih melihat ke sekeliling kebun."Ngomong-ngomong..."Ia mengerutkan keningnya heran."Dede Ian di mana?"Langkah Valerian seketika tersentak kaku."...!"Raka langsung cepat-cepat menutup mulutnya.Marco memalingkan wajah ke arah lain.Bima menggigit bibir bawahnya s
Bab 187: Bunga yang Kembali DipetikDi kebun belakang Momo Cafe..."Ugh..."Jack perlahan membuka matanya.Pandangan pertamanya masih buram.Ia mencoba menggerakkan tubuhnya.Lalu—GLEK.Jack membeku.Sesuatu masih berada di mulutnya.Ia membuka mata lebar-lebar.Sebuah botol susu berwarna merah muda.Jack langsung mencabut botol itu dari mulutnya."KAK RAKA!!"Raka yang duduk di sampingnya menoleh santai."Oh, sudah bangun?"Jack menatap botol di tangannya dengan wajah tidak percaya."...Kenapa aku minum susu lagi?"Raka menunjuk botol."Mana-mu habis."Jack menatapnya tajam."Aku pingsan, Kak!""Iya.""Dan bukannya membangunkanku..."Raka tersenyum."...aku memberimu susu."Jack menutup wajahnya.Bima yang berada tidak jauh dari sana langsung
Bab 186: Mekarnya Bunga LegendarisDi kebun belakang Momo Cafe...Jack masih berdiri diam sambil memegang botol susu berwarna merah muda.Tatapannya tampak kosong.Di dalam botol itu terdapat campuran susu murni Momo dan Strawberry Magis:Momo Strawberry Milk.Jack menatap botol itu beberapa saat, lalu perlahan menoleh menatap Raka."...Kak.""Hm?""Aku ini petani."Raka mengangguk polos."Aku tahu.""Aku juga sudah dewasa.""Aku tahu."Jack mengangkat botol merah muda itu tinggi-tinggi."Jadi... kenapa solusi masalah kekurangan manaku harus susu lagi?"Raka menunjuk ke arah pot Starsoul Lily."Karena mana-mu sudah hampir benar-benar habis."Jack terdiam seribu bahasa.Raka menunjuk botol di tangan Jack."Minumlah."Jack menghela napas panjang dan pasrah."...Ini ter
Bab 185: Menanam Kembali Starsoul LilyDi kebun belakang Momo Cafe...Jack berdiri di depan sebuah pot besar yang sudah disiapkan.Raka berdiri di sampingnya, sementara Marco, Elena, Bima, dan Kael ikut keluar dari dalam cafe.Leviathan juga berada tidak jauh dari sana dalam wujud kura-kura birunya.Jack menarik napas."Baik.""Kalau semua syarat terpenuhi...""...kita bisa menghidupkan kembali Starsoul Lily."Ia membuka Farmer System.TING!Tangannya masuk ke dalam ruang penyimpanan sistem.Perlahan...Jack menarik keluar sesuatu.Batang bunga yang sudah mengering, lengkap dengan bagian akar yang masih menempel.Raka langsung memperhatikannya."Itu..."Jack mengangguk."Batang dan akar Starsoul Lily."Ia meletakkannya dengan hati-hati di atas meja.Lalu Jack mengeluarkan sebuah batu mana berwarna hijau zamrud yang memancarkan tekanan luar biasa.Mana Stone — Rank S.Marco membelalak."Jadi i
Bab 184: Racun yang Tak TerlihatKamar utama Kerajaan Aethelgard terasa begitu sunyi.Valerian berdiri di sisi ranjang, menatap tubuh Raja yang terbaring lemah tak berdaya.Amanda berdiri beberapa langkah di belakangnya dengan cemas."Bagaimana kondisi Ayahanda, Master?"Valerian tidak langsung menjawab.Ia mengangkat satu tangannya."Jangan ganggu aku sebentar."Amanda langsung mengangguk patuh."Baik."Valerian perlahan memejamkan matanya.Mana biru keperakan yang sangat pekat keluar dari tubuhnya, menyelimuti tubuh Sang Raja secara lembut.Aliran mana Valerian memasuki tubuh Raja.Menyusuri jaringan mana.Menembus lapisan demi lapisan sirkulasi energi.Hingga akhirnya...Mana Valerian mencapai Mana Heart.Seketika alis sang Archmage berkerut tajam."...Hm?"Amanda yang sejak tadi memperhatikan refleks menegang."Ada apa, Master?"Valerian tidak membalas. Ia justru memperdalam pers
Bab 183: Archmage yang KembaliRuang Dewan Kerajaan Aethelgard masih diselimuti keheningan.Hasil voting telah ditetapkan.6 : 4Usulan Pangeran Helios untuk menjadi pemangku pemerintahan resmi ditolak.Helios mengepalkan tangannya rapat-rapat.Namun ia tidak menunjukkan kemarahan secara terbuka.Sebaliknya, sudut bibirnya justru terangkat tipis dan dingin."Rapat ini selesai."Ia berbalik dan melangkah meninggalkan ruangan.BRAK!Pintu ganda tertutup rapat.Tidak ada seorang pun yang menyadari...Bahwa di balik senyum tipis itu, Helios sudah mulai merencanakan langkah licik berikutnya.Beberapa bangsawan mendesah lega.Sementara itu...Valerian berdiri santai di tempatnya.Wajahnya tampak sangat tenang dan berwibawa.Seolah-olah tidak ada hal besar yang baru saja terjadi.Amanda menatapnya denga
Bab 5: Anak AsuhSore itu, Raka duduk di bangku taman akademi yang tenang, membuka antarmuka sistem miliknya yang selama ini ia abaikan karena dianggap sampah. Namun, ada yang berbeda kali ini. Sebuah jendela transparan berkedip di depan matanya.> [System Update: Management List]> A
Bab 4: Negosiasi di Ruang MenaraPintu kayu jati raksasa dengan ukiran naga itu tertutup rapat, namun tidak cukup tebal untuk menghalangi pendengaran tajam dua siswa Rank SS yang menempelkan telinga mereka di luar."Bisa dengar sesuatu?" bisik Bima, tangannya masih gemetar memegang gagang
Bab 3 Aura Sepanjang lorong menuju Menara Utama, Ratusan murid Akademi Aethelgard yang tadi berada di aula kini berkerumun. Tidak ada satu pun dari mereka yang berani menatap mata Raka Nightfall secara langsung. Pemuda berusia 20 tahun itu berjalan dengan langkah santai, posturnya tegap dan tenang
Bab 2 Kekuatan "Kresek... kresek..." Bunyi aneh itu terdengar begitu nyaring di tengah keheningan aula yang mencekam. Marco menundukkan kepalanya ke bawah dengan gerakan patah-patah. "Gyahahaha!" Seseorang di kejauhan meledak tertawa, memecah keheningan. Dalam sekejap, seluruh aula dipenuhi oleh







