Mag-log inBab 206: Mini Treant
Pagi hari di Momo Cafe...Matahari baru saja terbit ketika Jack sudah sibuk di kebun belakang.Jack memeriksa hasil panen satu per satu.Strawberry Magis sudah matang sempurna. Strong Banana tumbuh besar dan padat, sementara Jamur Hutan Kematian memenuhi baglog yang khusus dibuat untuk budidayanya.Jack tersenyum puas. Kebun yang dulu hanya berisi beberapa tanaman kini perlahan mulai berubah menjadi sumber bahan utama Momo CafeBab 285 — BertemuKenangan Keenam — Akademi Kerajaan. Tujuh Tahun Lalu.Helios berdiri di barisan calon ksatria. Umur dua puluh tahun. Tubuh tegap. Iris mata merah. Rambut emas menyala di bawah matahari.Di tribun kehormatan — Raja Aldric duduk. Mahkota emas. Jubah merah tua. Wajah yang sudah dimakan waktu dan penyesalan.Mata Raja menyapu barisan calon.Lalu BERHENTI.Pada satu wajah.Jantungnya berdegup. Tangannya mencengkeram sandaran takhta.Mata itu. Rambut itu. Garis rahang itu."...Sora?"Bukan. Bukan istrinya. Istrinya sudah meninggal. Dua puluh tahun lalu.Tapi wajah itu — SAMA.Raja berdiri dari takhtanya. Seluruh tribun berbisik.Dia turun. Satu anak tangga. Dua. Tiga.Pengawal bergerak mengikuti. Raja mengangkat tangan — mundur.Dia berjalan menuju barisan. Berdiri di depan Helios."Siapa namamu?"Helios menatapnya datar."Helios.""Siapa ibumu?"Hening."Sora.""Siapa ayahmu?""Tidak punya."Raja menatap wajah itu. Setiap garis. Setiap lekuk.Air matanya jatuh."Kamu... p
Bab 284 — HarapanCahaya baru.Kenangan Ketiga — SeleneMalam hari. Kamar panti.Helios kecil duduk di pinggir kasur. Seluruh tubuhnya BABAK BELUR. Lebam di lengan. Lecet di lutut. Luka di telapak tangan.Hari ini dia latihan terlalu keras. Jatuh berkali-kali. Pedang kayunya menghantam tangannya sendiri dua kali.Dia meringis saat menggerakkan jari."Jangan digerakkan."Selene kecil berdiri di depannya. Rambut panjang. Mata lembut. Boneka kelinci — Luna — diselipkan di ketiak kiri. Tangan kanannya memegang kotak P3K lusuh dari lemari panti."Sini, biar aku obatin.""Nggak usah, Selene. Cuma luka kecil—""DUDUK."Helios duduk.Selene membuka kotak P3K. Alkohol, kapas, perban. Tangannya — untuk anak seusia mereka — TELITI. Hati-hati.Alkohol menyentuh luka."SSSHH—""Tahan.""Perih...""Kalau nggak diobatin, infeksi. Kalau infeksi, nggak bisa latihan besok. Mau?""...Nggak.""Ya sudah tahan."Selene membersihkan setiap luka. Satu per satu. Perbannya dililitkan rapi — lebih rapi dari yan
Bab 283 — KenanganGelap.Helios membuka matanya. Tapi tidak ada yang berubah. Gelap. Dingin. Sunyi.Kakinya menapak sesuatu — bukan tanah. Bukan batu. Seperti air. Permukaan hitam yang beriak setiap kali dia melangkah.Hellfire di tangannya berkobar lemah. Nyala api hitam itu — satu-satunya cahaya di tempat ini."Di mana...?"Tidak ada jawaban.Helios berjalan. Satu langkah. Dua langkah. Sepuluh langkah.Semuanya sama. Gelap. Tak berujung.Ini... di dalam Raja Iblis?Lalu dia mendengarnya.Tawa anak kecil.Helios berhenti.Suara itu...Kegelapan di hadapannya BERGETAR — seperti layar yang terganggu. Lalu PECAH.Cahaya menyembur.Kenangan Pertama — LucianHalaman panti asuhan. Sore hari. Matahari hampir tenggelam.Dua anak kecil berdiri berhadapan. Memegang pedang kayu.Lucian kecil — rambut pirang, mata biru cerah, cengiran lebar — memutar pedang kayunya seperti showman."Oke Helios! Pelajaran pertama!"Helios kecil memegang pedang kayunya dengan dua tangan. Kaku. Gemetar sedikit."K
Bab 282 — Legenda Turun TanganEnam orang melayang di udara. Napas berat. Luka di mana-mana.Raja Iblis berdiri di tempat yang sama. Tidak bergerak satu langkah pun."Sudah?"Helios mengepalkan tinjunya. Hellfire berkobar — tapi lebih lemah dari sebelumnya. Stamina terkuras karena menjadi manusia api.Bima di punggung Blaze, mengusap darah dari sudut bibirnya. Leonidas masih berdiri — tapi sayapnya berkedip.Viper, Mantis, Crow — di punggung Blacky. Senjata mereka retak.Raja Iblis mengangkat satu tangan. Bola kegelapan terbentuk di telapaknya. Besar. Menelan cahaya di sekitarnya."Kalau sudah — mati."BRAK!Sebuah pedang raksasa menghantam bola kegelapan itu dari samping.[Heaven Splitter]Gelombang energi MEMBELAH langit — garis emas sepanjang ratusan meter memotong udara.Raja Iblis menoleh.Alaric.Jenderal terkuat umat manusia berdiri di punggung Griffin-nya. Armor emas berkilat. Pedang raksasanya masih bergetar dari tebasan barusan."Kalian sudah cukup." Suara Alaric tenang. Teg
Bab 281 — Gelombang Pertama Raja Iblis berdiri di atas tanah Aethelgard. Aura kegelapan mengalir dari tubuhnya seperti asap hidup. Matanya merah. Dingin. Menatap ke bawah seperti menatap serangga. Di belakangnya — kota Aethelgard yang tinggal puing. Tujuh titik cahaya melesat ke arahnya. Yang pertama sampai — Helios. Blacky menukik dari atas. Crow mencengkeram punggung gagak raksasa tanpa ekspresi. Helios berdiri di kepala Blacky — Hellfire membara di kedua tangan. "Crow. Sekarang." [Shadow Bind] Bayangan Crow MELEDAK — menjalar di udara, membentuk rantai hitam yang mengikat kaki Raja Iblis.Helios melemparkan rantai api hitam.[Hellfire Chain] Raja Iblis melirik ke bawah. Rantai itu bergetar. Retak. Tapi satu detik cukup. "VIPER!" Dari bawah Blacky — tiga bayangan melesat. Viper. Mantis. Crow sudah di posisi. [Triple Formation — As
Bab 280 — BentengElena mengepalkan tangannya. Menatap ke langit — tujuh titik cahaya semakin menjauh."Sial..."Dia mengangkat tangannya.[Summon Familiar — Frost]Udara mendingin. Butiran salju berputar. Dari balik angin beku — seekor burung hantu salju mendarat di lengan Elena. Bulu putih bersih. Mata kuning keemasan. Sayapnya lebar, anggun.Tapi...Elena menatap Frost. Frost menatap Elena.Ukurannya hanya sebesar lengan Elena."...Sial. Aku tidak bisa menungganginya."Seraphina memiringkan kepala."Kau kan bisa sihir terbang. Untuk apa menunggangi familiar?"Elena menoleh. Matanya MENYALA."Itu BERBEDA, Seraphina!"Dia menunjuk ke langit — ke Alaric di punggung Griffin, Richard di punggung naga petir, Valerian di punggung elang es."LIHAT mereka! Mereka naik familiar mereka! Keren! Gagah! Epik!"Tangannya turun. Menatap Frost di lengannya."Aku? Terbang sendiri dengan sihir? Seperti... balon yang melayang?"Frost mengerjap. Tidak tersinggung.Marco mengangkat tangannya dari bawah.
Bab 9: disiplin Sambil lanjut menyapu dedaunan kering yang berguguran di halaman belakang akademi, Raka merasakan saku celananya bergetar hebat. Ia merogoh botol susu artefaknya yang kini berpendar merah muda lembut. Jendela sistem muncul secara otomatis, memuntahkan rentetan notifikasi yang mem
Bab 11: Bangsawan Di sudut gelap kandang kuda akademi yang berbau jerami dan tanah basah, Kael mengerang frustrasi. Urat-urat di leher dan lengannya menonjol ekstrem, memancarkan aura emas kemerahan khas ksatria Rank A yang sedang memusatkan seluruh energinya. Tangannya mencengkeram erat ujung pop
Bab 10: berontak Halaman belakang akademi kini menjadi sangat bersih, bahkan hampir mengkilap. Belasan senior dari tim elit Golden Griffon baru saja melesat pergi secepat kilat setelah meletakkan sapu mereka. Mereka meninggalkan debu yang mengepul dan aroma ketakutan yang pekat; seolah-olah mereka
Bab 1: Anugerah Di Aula Besar Akademi Aethelgard, sebuah monolit kristal kuno berdiri tegak, siap memancarkan takdir bagi setiap orang berusia 20 tahun. Hari ini adalah Upacara Manifestasi. Hari di mana para murid akademi akan diberikan "Anugerah”. Di barisan paling depan, tiga sahabat karib b







