Share

Keputusan Final

Author: Young Lady
last update Last Updated: 2025-12-24 23:50:25

Tanisha tahu, keputusan itu akan terdengar kejam bagi siapa pun yang tak berada di posisinya. Menghilang. Mematikan ponsel. Pergi tanpa memberi penjelasan.

Namun justru karena ia tahu betul apa yang sedang Langit hadapi, Tanisha memilih jalan itu.

Ia duduk di kursi penumpang mobil hitam yang membawanya menjauh dari gedung pengadilan. Kaca jendela tertutup rapat, meredam hiruk-pikuk di luar. Adinda duduk di sampingnya, diam sejak tadi, seolah sama-sama paham bahwa hari ini bukan hari untuk banyak bicara.

Putusan sudah keluar. Resmi. Baskara Prameswara dinyatakan bersalah.

Kalimat itu masih terngiang di kepala Tanisha, meski sidang sudah selesai hampir satu jam lalu. Suara palu hakim, gumam wartawan, kilatan kamera—semuanya bercampur menjadi satu memori yang berat.

Tanisha menunduk, tangannya perlahan mengusap perutnya yang kini tak lagi bisa disembunyikan oleh baju longgar.

“Kita pulang ke tempat yang kemarin, ya,” ucap Adinda pel
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Dilamar Adiknya, Dinikahi Kakaknya   Saling Menyentuh

    Langit menyentuh Tanisha lagi malam itu—bukan dengan tergesa, bukan pula dengan tuntutan. Sentuhan itu datang seperti kebiasaan baru yang diam-diam terbentuk di antara mereka. Terjadi begitu saja, seolah tubuh mereka telah menemukan ritme yang sama tanpa perlu kesepakatan verbal. Tidak ada ranjang yang berderit keras, tidak ada pakaian yang terlepas seluruhnya. Hanya tangan yang saling mencari, bahu yang disandari, dan napas yang akhirnya menemukan jeda setelah hari-hari yang terlalu panjang.Tanisha duduk di tepi ranjang kecilnya, mengenakan kaus longgar dan celana rumah. Rambutnya dibiarkan tergerai seadanya, masih sedikit lembap karena baru saja mandi. Langit berdiri di belakangnya, jas kerjanya sudah ia lepaskan, kemeja digulung sampai siku. Ia belum sepenuhnya melepas penat—bahunya masih tegang, rahangnya masih mengeras oleh sisa hari yang melelahkan.Tanisha merasakan tangan Langit menyentuh pundaknya lebih dulu. Bukan memeluk. Bukan menarik. Hanya

  • Dilamar Adiknya, Dinikahi Kakaknya   Jangan Salah Orang

    Langit duduk sendiri di ruang kerjanya, menatap layar laptop yang sejak tadi tak benar-benar ia baca. Beberapa berkas terbuka bersamaan. Laporan singkat, catatan waktu, rekaman suara yang sudah disaring ulang. Semua tampak rapi, terstruktur—seperti biasa. Namun, kepalanya tidak sedang berada di sana.Pikirannya kembali ke satu detail kecil yang sejak kemarin tak mau lepas. Tato di pinggang Tanisha.Bukan karena bentuknya yang mencolok. Justru karena kesederhanaannya. Terlalu sederhana untuk sesuatu yang seharusnya tak berarti apa-apa—namun terasa begitu familiar. Langit menyandarkan punggung ke kursi, menatap langit-langit.“Bukan kamu,” gumamnya pelan. “Nggak mungkin.”Ia mengulang kalimat itu seperti mantra.Malam itu—malam sebelum pernikahan adiknya—semua terlalu kacau untuk bisa dikaitkan dengan Tanisha. Ia ingat betul kondisinya sendiri. Lelah, marah, terpojok oleh tekanan politik, dan terlalu lengah untuk menyadari bahwa ia sedang d

  • Dilamar Adiknya, Dinikahi Kakaknya   Sentuhan yang Nyata

    Sentuhan itu datang perlahan, nyaris seperti embun yang jatuh tanpa suara.Tanisha berada di tempat yang asing sekaligus terasa begitu akrab. Dindingnya tidak ia kenali, aroma udara tidak sama dengan rumah persembunyiannya, bukan pula apartemen lamanya, dan jelas bukan rumah Langit. Namun ada sesuatu di sana—sebuah getar di dada, rasa hangat yang menjalari kulit—yang membuatnya yakin ia pernah berada di tempat itu sebelumnya, entah kapan.Tangannya terasa berat, seolah terikat oleh perasaan yang tak bernama. Lalu seseorang menyentuhnya.Bukan sentuhan kasar, bukan juga terburu-buru. Hanya jari-jari yang menelusuri batas keberadaannya dengan penuh kesabaran, seperti ingin memastikan ia nyata. Nafas itu—hangat, teratur—jatuh di dekat telinganya, membuat bulu kuduk Tanisha meremang.“Tanisha.” Namanya diucapkan dengan suara yang ia kenal. Terlalu kenal.“Mas…” Tanisha ingin membuka mata, ingin memastikan, tapi kelopak matanya seolah direkatkan oleh mimpi. Sentuhan itu terasa begitu nyat

  • Dilamar Adiknya, Dinikahi Kakaknya   Siapa yang Menjebaknya?

    Langit duduk sendirian di ruang kerjanya, jendela besar di belakang meja dibiarkan terbuka setengah. Cahaya matahari masuk malas, menyentuh sudut ruangan tanpa pernah benar-benar menghangatkannya. Di meja kerjanya, berkas-berkas tersusun rapi—laporan partai, agenda rapat, catatan investigasi internal. Semuanya terlihat normal. Terlalu normal untuk pikiran yang sejak subuh tak berhenti bergerak.Langit tak bisa tidur. Bukan karena tubuhnya tak lelah, tapi karena pikirannya menolak berhenti di satu titik. Tato itu.Bentuknya sederhana. Kecil. Tidak mencolok. Tapi justru karena itulah ia terasa begitu familiar. Bukan karena Langit sering melihatnya—justru karena ia pernah melihatnya sekali, dalam keadaan yang tak seharusnya ia ingat dengan jelas.Malam itu.Malam yang selama ini ia kubur sebagai kesalahan. Sebagai jebakan. Sebagai noda yang tak perlu diurai ulang.Langit menekan jari telunjuknya ke pelipis, memejamkan mata sejenak.

  • Dilamar Adiknya, Dinikahi Kakaknya   Kalau Memang Kamu

    Awalnya Tanisha mengira semuanya akan berhenti di sana.Di saat Langit membeku, di saat tatapan lelaki itu terpaku pada tato kecil di pinggangnya—di saat udara terasa terlalu padat untuk dihirup—Tanisha bersiap pada kemungkinan terburuk. Ia sudah menyiapkan dirinya untuk ditinggalkan, untuk kembali berdiri sendiri, untuk sekali lagi menjadi perempuan yang ditatap dengan kebingungan dan jarak.Namun Langit tidak menjauh. Justru sebaliknya. Ia yang lebih dulu bergerak.Langit menarik napas panjang, seolah menata ulang dirinya sendiri. Tangannya yang sempat berhenti kini kembali menyentuh Tanisha, lebih hati-hati, lebih terkendali, seakan ia tidak sedang dikuasai amarah atau nafsu, melainkan kebutuhan yang jauh lebih sunyi—kebutuhan untuk memastikan bahwa perempuan di hadapannya masih nyata, masih miliknya, masih berada di sini.Tanisha terkejut, tapi tidak menolak.Ada kerinduan yang terlalu lama terpendam di antara mereka, ada jarak yang t

  • Dilamar Adiknya, Dinikahi Kakaknya   Tato di Pinggang

    “Kamu… sudah sejauh ini?”Suara Langit terdengar rendah, berat, seperti ditahan di dasar dadanya sendiri sebelum akhirnya lolos dengan susah payah. Kertas-kertas yang baru saja ia temukan masih tergenggam di tangannya—kusut, terlipat tak beraturan, ujungnya sudah sedikit robek karena tekanan jari-jarinya yang gemetar.Tanisha berdiri mematung di depan ranjang kecil itu. Tidak bergerak. Tidak mundur. Tidak pula mendekat. Wajahnya pucat, tapi rahangnya mengeras, seolah ia telah mempersiapkan diri untuk momen ini sejak lama—sejak hari ia menyelipkan berkas itu ke dalam laci, sejak hari ia memutuskan bahwa bertahan juga bisa menjadi bentuk kekerasan pada diri sendiri.“Itu jawabannya?” tanya Langit lagi. Nadanya naik setingkat, bukan berteriak, tapi cukup tajam untuk melukai. “Setelah semua yang terjadi, kamu diam-diam nyiapin gugatan cerai?”Tanisha mengangkat dagu, memaksa dirinya menatap mata Langit. “Aku nggak diam-diam. Aku cuma nggak merasa perl

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status