Home / Romansa / Dilamar Nenek-nenek / 7. Penjelasan Mengejutkan

Share

7. Penjelasan Mengejutkan

Author: pramudining
last update Last Updated: 2025-12-01 12:13:12

Happy Reading

*****

Baru saja Cakra keluar dari ruangan Ari, ponsel perempuan itu sudah berdering. Ada panggilan masuk dari sang Nenek. Walau hatinya masih jengkel karena perbuatan elaki tadi,

"Ya, Nek," ucap perempuan yang masih menyimpan jengkel pada lelaki yang baru saja pergi itu.

"Ar, kamu sudah teken kontrak dengan perusahaan, Cakra, kan? Awas saja kalau kamu menolak kerja sama yang dia tawarkan dan memarahinya gara-gara masalah kemarin," tanya si nenek tanpa berniat basa-basi sama sekali.

Perempuan yang baru saja bertemu dengan Cakra, mengembuskan napas. "Nenek benar-benar dibutakan oleh cinta, ya? Segitunya pengen lelaki itu ada di kantor kita. Apa, sih, hebatnya dia?"

Bukannya marah, perempuan sepuh itu malah tertawa. "Nenek memang sudah dibutakan oleh ketampanan Cakra. Nenek jatuh cinta sejak pertemuan dengannya kemarin. Dia harus menjadi bagian dari keluarga kita. Awas saja kaau kamu menolak atau menghalanginya."

"Nenek, ingat umur!" Si perempuan sampai berteriak mendengar pernyataan sang nenek yang tanpa malu-malu mengatakan hal itu. Bukannya malu jatuh cinta pada lelaki yang jauh lebih muda bahkan lebih pantas menjadi cucunya, si nenek malah terang-terangan menyatakan perasaannya.

Berkali-kali, Ari menepuk kening dan menggelengkan kepalanya sendiri. Tak habis pikir, pelet aapa yang sudah digunakan leaki bernama Cakra itu.

"Apa, sih, Ar, teriak-teriak. Memangnya kenapa? Banyak kok yang seumuran Nenek menikah dengan lelaki yang lebih muda bahkan usianya jauh di bawah Cakra. Nenek sudah lelah nyuruh kamu nikah, Ar. Daripada nenek nggak punya temen di rumah, mending Nenek melamar Cakra jadi pasangan sah. Kalau dia terima lamaran itu, kan, rumah ini bakalan rame lagi, nggak sepi seperti sekarang."

"Aku bukannya nggak mau nikah, Nek. Sebentar lagi, deh, aku pasti ikah, kok."

"Kebanyakan janji kamu, Ar."

Sambungan terputus. Rupanya, sang nenek memutus begitu saja percakapan mereka. Ari mengumpat dengan perlakuan sang nenek.

Masih kesal dengan kelakuan neneknya, pintu ruangan Ari diketuk. "Siapa? Saya sedang sibuk dan nggak menerima tamu saat ini," ucapnya keras.

"Bu, ini saya, Mega," ucap seorang perempuan dari luar.

"Masuk," putus Ari.

Sang sekretaris masuk dengan membawa paper bag. "Bu, ini HP dan kartu baru seperti yang Ibu minta kemarin." Menyerahkan paper bag tersebut pada sang atasan.

"Makasih, Ga," ucap Ari. Seketika raut wajah yang semula keruh berubah cerah lagi. "Kalau nggak ada kepentingan lagi, kamu bisa meninggalkan ruangan ini."

"Sama-sama. Saya permisi kalau gitu, Bu." Mega berbalik, akan segera pergi meninggalkan ruangan tersebut. Namun, Ari membuka suara sehingga sang asisten menghentikan langkahnya.

"Ada apa, Bu?" tanya Mega.

"Ga, kamu masih terus menyelidiki siapa yang mencuri HP saya, kan?"

"Masih, Bu. Sampai saat ini, pihak IT perusahaan masih memperbaiki rekaman pengawasan di tanggal tersebut."

"Oke. Saya kira kalian lupa. Sudah hampir seminggu, tapi belum ada kabar." Ari menatap serius sang asisten.

"Mana mungkin saya lupa, Bu. HP ibu kan benda yang sangat penting." Sang asisten menjeda kalimatnya. Melihat reaksi atasan perempuannya yang terkenal galak. Beberp detik tak ada tanggapan, Mega kembai berkata, "Saya permisi jika nggak ada hal lain lagi."

"Silakan. Terima kasih, ya, Ga."

Sang asisten cuma menganggukkan kepala sebagai jawabannya.

*****

Saat ini, Cakra sudah sampai di tempat kerjanya semula. Dia mulai menyalakan laptop dan bersiap untuk mengerjakan pekerjaan yang semat tertunda karena harus datang ke kantor si bos galak. Besok, untuk sementara ruangannya akan berpindah ke perusahaan gadis jutek yang dia temui tadi.

Di tengah-tengah pekerjaannya, si lelaki kembali teringat pada Ari dan segala perkataan serta ejekan yang membuat Cakra geleng-gelen kepala.

"Amit-amit kalau sampai punya istri kayak Bu Ari. Duh, bisa-bisa tiap hari tensi darah naik. Cantik, sih, tapi juteknya minta ampun. Pantas saja nggak laku-laku, kelakuannya kayak gitu. Nggak ada kalem-kalemnya," gumam Cakra sendirian sampai-sampai tak menyadari jika ada yang masuk ke ruangannya.

"Baru datang langsung grundel. Ngomelin siapa, sih?" tanya salah satu sahabat sekaligus rekan kerja Cakra.

"Itu, lho. Klien baru kita yang katanya cantik. Duh amit-amit, dah. Biarpun cantik, tapi kalau kelakuan kayak gitu. Males juga yang mau kena dekat." Tubuh Cakra bergerak jijik, membayangkan jika dia dekat dengan Ari.

Suara tawa terdengar, rekan kerja Cakra terkikik mendengar ceritanya. "Jangan suka ngatain perempuan yang jelek-jelek kayak tadi. Kalau dicatat malaikat dan pada akhirnya Allah menakdirkan kalian jadi pasangan, kamu bisa apa?" ucap lelaki berbadan lebih pendek dari Cakra yang kini sudah berdiri di sampingnya.

Cakra menutup mulut sahabatnya dengan tangan kanan. "Amit-amit, jangan sampai deh. Doa itu yang baik-baik. Masak aku kamu doakan nikah sama perempuan modelan kayak bos galak itu, sih," kata Cakra, "kamu nggak bakalan ngomong kayak tadi kalau ketemu sama cewek yang namanya Ari itu. Buh, orangnya super nyebelin."

Kedua bahu Cakra terangkat, tubuhnya bergerak, menunjukkan rasa jijik pada perempuan bernama Ari tersebut.

"Sstt. Pamali ngatain orang. Udah nggak usah bahas cewek itu. Gimana proyekmu? Lancar?"

"Lancar, tapi, ya, gitu."

"Gitu, gimana? Sudah tanda tangan kontrak?" tanya si rekan, penasaran.

"Sudah, cuma aku nggak tahu bakalan bisa tahan, apa nggak kerja sama bareng perempuan itu."

"Memangnya kenapa?"

Mengalirlah cerita Cakra yang membuat tawa rekan kerjanya menggema di ruangan tersebut. Namun, tawa itu harus terhenti karena ponsel sang pemilik ruangan berdering berkali-kali.

"Angkat saja, Cak."

"Nomor nggak dikenal, males," jawab Cakra, acuh.

"Ish, kamu nih. Siapa tahu klien baru, kan, lumayan, nambah job," saran rekan kerja Cakra.

"Iya ... iya. Aku angkat sekaran." Mengikuti saran rekannya, Cakra mengangkat panggilan di ponselnya.

"Halo, Mas. Ini Venya. Maaf, beberapa hari ini nggak bisa menghubungi. HP-ku hilang," kata seorang perempuan di seberang sana tanpa mengucapkan salam atau sapaan serta perkenalan diri.

"Hah? Siapa ini? Asal mangap aja, deh. Aku nggak kenal, ya."

"Mas, ini Venya. Masak sudah lupa sama suaraku, sih."

Cakra menepuk kening. " Gimana nggak lupa, kita kan nggak tiap hari telponan. Paling cuma chat aja yang sering."

"Iya, Mas. Maaf," ucap perempuan yang menelpon Cakra tadi.

Cakra mencoba mengenyahkan masalah mereka yang jarang melakukan panggilan audio. Dia lebih tertarik pada penjelasan si perempuan tadi."Kamu yakin, HP-mu hilang dan belum menghubungi aku sama sekali?" Suara Cakra meninggi.

"Sangat yakin, Mas. Sudah hampir seminggu dan belum ketemu HP itu. Jadi, terpaksa aku ganti baru. Save nomorku, ya."

"Lalu, siapa yang ketemuan sama aku kemarin?"

"Hah? Ketemuan gimana maksudmu, Mas?"

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Dilamar Nenek-nenek   71. Pantai dan Segala Keinginan

    Happy Reading *****"Coba balas kalau berani," tantang Ari karena yakin sang kekasih tidak akan pernah bisa membalas perbuatannya tadi."Baby, kamu kok curang sih? Dah tahu Mas nggak akan pernah bisa membalas," keluh Cakra. Bibirnya maju dan bergerak-gerak lucu membuat Ari tertawa bahagia. "Aku tahu kalau Mas nggak bakalan bisa membalas." Ari menjulurkan lidahnya."Baby, nggak usah mengoda gitu, ih." Suara Cakra meninggi, bukan marah, tetapi berusaha menahan sesuatu yang tengah bergejolak di tubuhnya saat ini. "Lupakan, kita nggak boleh mengecewakan para orang tua yang sudah sangat percaya dan membiarkan kita pergi berduaan seperti sekarang.""Hmm. Makanya, jangan nakal kayak tadi. Kalau khilaf bahaya. Mas bisa nggak diakui sebagai anak Mama," kata Cakra yang membuat perempuan cantik di sampingnya tertawa keras. "Oke ... Oke. Aku janji nggak akan nakal kayak tadi.""Terima kasih, Baby." Cakra mengusap lembut kepala kekasihnya.Beberapa menit kemudian, pasangan yang baru meresmikan

  • Dilamar Nenek-nenek   70. I Love You

    Happy Reading ****Cakra tersenyum salah tingkah bahkan kini lelaki itu menggaruk kepalanya yang tak gatal untuk mengalihkan perasaan salah tingkahnya. "Mas, pasti akan menjelaskan semuanya. Cuma, menjelaskan sesuatu itu kan butuh tenaga dan sekarang, perut Mas sudah keroncongan. Gimana kalau kita makan dulu aja?" alibi Cakra untuk mengalihkan pembahasan sebelumnya. "Huh, dasar. Ngeles aja kamu, Mas," kata Arimbi. "Tapi, emang bener Mas Cakra, Ma. Kita harus segera makan sebelum makanan yang kita pesan tadi dingin. Adek juga lapar, kok," sahut Kresna membela si sulung. "Ya, sudah. Ayo kita makan dulu," putus Sapta. "Ayo ... Ayo," sahut si nenek. Selesai acara makan bersama. Keluarga memberi kesempatan pada dua sejoli yang sedang dimabuk cinta itu untuk berduaan. Cakra tak menyia-nyiakan kesempatan yang ada. Segera mengajak kekasihnya ke suatu tempat setelah meminta ijin pada si nenek untuk tidak langsung mengantarkan Ari pulang. "Mas, kita mau ke mana?" tanya Ari ketika jalan

  • Dilamar Nenek-nenek   69. Hutang Penjelasan

    Happy Reading*****Bukan cuma Cakra yang terkejut mendengar kalimat penolakan yang diucapkan Ari. Namun, seluruh anggota keluarga termasuk sang nenek juga terkejut. "Ar, bukannya kamu mengatakan sama nenek kalau sudah siap untuk menikah. Lalu, kenapa sekarang malah menolak?" Perempuan sepuh yang menjadi satu-satunya keluarga Ari tersebut tampak sangat tidak suka ketika sang cucu melakukan penolakan seperti tadi. "Nek, tenang," sahut Cakra begitu bijak tak mau wanita pujaannya mendapat marah. "Mungkin Ari punya alasan sendiri kenapa menolak pernikahan denganku. Jadi, kita dengarkan saja alasannya." "Benar kata Mas Cakra, Nek. Ari pasti memiliki alasan kenapa sampai nggak mau menikah dengan Mas Cakra dalam waktu dekat," tambah Arimbi. "Iya benar. Bukankah tadi, dia sangat antusias menerima lamaran Mas Cakra. Jadi, kalau sekarang menolak, pasti punya alasan yang kuat." Sapta mencoba menjadi penengah di antara nenek dan cucunya. Baginya, sosok perempuan yang dicintai si sulung adala

  • Dilamar Nenek-nenek   68. Ditolak

    Happy Reading*****Cakra menatap semua orang dengan tatapan seperti orang yang teraniaya."Sembarangan kalau ngomong. Mas, aja nggak boleh meluk dia apalagi kamu. Ayo, Baby." Cakra mengarahkan sang kekasih tanpa menyentuh perempuan tersebut sedikitpun menuju kursi yang sudah disediakan. Lelaki itu begitu patuh dengan ucapan serta perkataan para orang tua. Apalagi ketika mendengar ucapan Sapta, setahun lebih dia sudah berhasil menahan diri, lalu mengapa hari ini Cakra tidak bisa menahan diri. Toh, tak lama lagi, Ari akan menjadi miliknya seutuhnya. "Duduk di sini, ya, Beb," bisik Cakra begitu lembut dan sangat merdu di telinga si perempuan. Hati perempuan yang selama ini dikenal galak dan judes itu berbunga-bunga. Ternyata, lelaki yang dikenal lewat maya, tidak hanya romantis ketika chatting saja. Namun, Cakra juga sangat romantis di dunia nyata. "Terima kasih, Sayang," ucap Ari ketika Cakra menyeret kursi untuk diduduki."Sama-sama, Baby," balas si lelaki dengan senyum semringah

  • Dilamar Nenek-nenek   67. Nyosor

    Happy Reading*****"Hmm, gombal. Sejak kapan kamu jadi perayu ulung gitu, Mas?" kata Arimbi yang tak menyangka jika putra sulungnya pandai merayu seperti sekarang.Sapta merangkul sang istri. Lalu, berbisik tepat di telinga kiri Arimbi. "Mama nggak akan pernah menyangka jika bayi mungil yang kita besarkan saat itu sudah pandai merayu perempuan. Ah, waktu sungguh cepat berlalu dan mungkin sebentar lagi, kita akan segera menggendong bayi lagi, tapi cucu." Arimbi menoleh ke arah sang suami. "Iya, padahal rasanya baru kemarin Mas Cakra lulus sekolah," katanya menjawab perkataan sang suami. Cakra memutar bola mata sambil mengerucutkan bibir menatap sang Mama. Seolah-olah, lelaki itu mengatakan supaya Arimbi diam dan cuma bisa melihat apa yang akan dia lakukan untuk mewujudkan keinginan Arimbi. Mengerti arti tatapan putranya, Arimbi memutuskan untuk diam, melihat apa yang akan dilakukan sang putra sulung selanjutnya. Cakra kembali menatap Arimbi. Setelah melihat anggukan kepala perem

  • Dilamar Nenek-nenek   66. Lamaran

    Happy Reading *****Ari kembali berjalan gontai ke arah ruangannya, hatinya mendadak sangat kacau. Semua pekerjaan yang dia lakukan berantakan bahkan hingga jam kerja berakhir, perempuan itu masih saja tidak bisa fokus pada pekerjaannya bahkan chat yang dikirimkan pada sang kekasih maya juga belum dibalas sama sekali. Suasana hati si bos makin kacau jadinya.Sore, sepulang kantor, Ari sengaja langsung menuju kamar neneknya. Walau hatinya, hancur. Dia harus tetap bisa bahagia melihat kebahagiaan satu-satunya keluarga yang disayangi. "Nek," panggil Ari manja. Perempuan itu langsung meletakkan kepalanya di pangkuan si nenek yang duduk di sofa sambil menonton tayangan favoritnya. "Tumben. Ada apa?" kata si nenek sambil menoleh. Perempuan sepuh itu melihat tampilan Ari yang semrawut."Besok, Nenek akan makan malam dengan keluarganya Cakra dan bahas tanggal pernikahan. Kayaknya, aku nggak bakalan ikut.""Kenapa?" Si nenek mengerutkan kening. "Kerjaanku banyak banget yang belum tersele

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status