FAZER LOGINKiran berjalan-jalan di tepian sungai yang membelah bagian utara dan selatan area wisata ini.Sepanjang melihat-lihat, senyum manis terus berhias di bibirnya.Di belakangnya. Noah dan Elvano berjalan bersama. Keduanya tampak bersaing, tetapi sebenarnya sedang sama-sama melindungi Kiran.“Kiran tidak bisa berenang, kamu malah mengajaknya berwisata di wahana air. Kolam renang dan sungai di sini hanya akan menjadi pemandangan sia-sia.” Elvano membuka suara setelah sejak tadi diam.“Kiran bukan tidak bisa berenang. Sepertinya trauma yang dialaminya masih membekas di perasaannya, meski dia hilang ingatan.”Elvano menghentikan langkah mendengar balasan dari Noah.“Apa maksudmu?” Kening Elvano berkerut dalam saat menatap pada Noah.Noah ikut menghentikan gerakan kakinya. Dia menoleh pada Elvano yang sudah menatapnya.Noah lebih dulu memandang ke Kiran yang sedang berjongkok memperhatikan bunga di tepi sungai. Sebelum kembali menatap pada Elvano.“Saat kecil, kami pernah pergi ke tempat ini.
Mata Elvano menyorot tak suka. Atmosphere di tempat ini berubah dingin.Kiran yang terkejut, perlahan menoleh pada Elvano.Sejak awal Elvano tidak menyukai keberadaan Adrian, sekarang mereka bertemu lagi di sini.“Adrian.” Noah menatap heran. “Kamu mengundangnya?” tanya Noah saat menatap pada Yessica.Yessica mengangguk-angguk cepat. “Ya, aku pikir, lebih banyak orang, lebih bagus. Apalagi, aku dengar kalau Adrian juga ternyata dulu atasan Kiran, jadi pasti mereka juga dekat, ‘kan?” Tatapan Yessica tertuju pada Kiran setelah bicara.Sedang Adrian menatap pada Elvano, dia menerima tatapan tajam dari pria yang dicintai oleh Kiran ini.“Kalian kenapa hanya berdiri? Karena Adrian sudah datang, kita duduk dan makan dulu. Setelahnya kalian bisa main sepuasnya.” Suara Raihan mengalihkan tatapan semua orang.Kiran menyentuh lengan Elvano. Kepalanya mengangguk pelan saat Elvano menoleh padanya.Mereka semua akhirnya bergabung bersama yang lain.Makanan yang dihidangkan di meja, semua terasa
Kening Kiran berkerut dalam melihat Noah begitu bersemangat.Apalagi mata Noah sekarang berkaca-kaca.“Ya, siapa yang tidak tahu tempat ini? Arena wisata air yang sudah berdiri lebih dari dua puluh lima tahun. Punya taman bunga yang indah dan tempat-tempat istirahat yang nyaman. Memangnya, kamu bilang ingat, aku ingat apa? Aku saja baru pertama kali ke sini, dulu hanya baca-baca artikel tentang tempat wisata ini.”Tatapan Noah yang tadi menggebu-gebu, kini berubah lesu.Noah mengira Kiran ingat masa kecil mereka saat dulu bermain di sini.“Noah, ada apa?” Kiran memastikan karena melihat tatapan Noah berubah kecewa.“Sudahlah, mungkin memang benar kalau kamu belum ingat apa pun tentang masa kecil kita.” Tatapan Noah tertuju ke papan nama wisata. “Kukira, kamu ingat jika tempat ini adalah tempat favoritmu bermain.” Noah menoleh lagi pada Kiran, kini senyumnya begitu getir.Kiran terperangah. Dia menatap bersalah karena sudah membuat noah sedih.“Aku hanya bilang tahu, tapi aku tidak bil
Siang hari.Noah berdiri di luar mobil, menemani Kiran yang juga berdiri menunggu Elvano keluar dari hotel.“Kamu sudah memberitahunya kalau akan jalan-jalan?” Noah menoleh pada Kiran yang sejak tadi berdiri diam.“Sudah.” Kiran mengangguk. “Baru saja, sepuluh menit yang lalu saat kita dalam perjalanan.”Noah membulatkan bola mata. “Sudah kubilang kita mau pergi sejak pagi tadi, kenapa baru mengabarinya sekarang? Pantas saja dia tidak kunjung keluar?”Kiran melebarkan senyum, tanpa dosa berucap, “Ya, pagi tadi kamu belum kasih kepastian. Wajar jika aku belum memberitahu El.”Noah tak bisa berkata-kata karena tingkah sang adik.Daripada Kiran kesal, Noah akhirnya memilih menunggu.Tak beberapa lama. Elvano keluar dari hotel.Tatapan Elvano tertuju pada Noah, pantas saja Kiran menolak naik ke atas, ternyata ada Noah bersamanya.“Sudah lama?” Elvano bertanya sambil menatap pada Kiran.“Ti–”“Sudah sangat lama? Apa kamu berendam air mawar dulu?” Noah memotong ucapan Kiran, membalas ucapan
Kiran diam.Dia melihat Noah yang menatap tak goyah padanya.Kiran mengembuskan napas panjang sampai kedua bahunya melorot.Sebelum dia mendudukkan tubuhnya di tepian ranjang.Kiran mengguyar rambutnya ke belakang, setelahnya dia kembali menatap Noah.“Aku benar-benar tidak cocok di sini.” Tatapan Kiran lurus dan datar pada Noah. “Banyak hal yang tak bisa aku mengerti dari kalian, terutama soal perjodohan konyol yang sangat kolot ini.”Noah menghela napas panjang. Dia ikut duduk di samping Kiran.“Itu takkan pernah terjadi, jika kamu tak menginginkannya. Aku tidak akan membiarkan mereka memaksa apa yang tidak kamu inginkan.” Noah mencoba meyakinkan.Dia hanya ingin Kiran tetap di sini sesuai rencana, agar mereka bisa bernostalgia lebih lama.Noah melihat diamnya Kiran. Dia mencoba kembali membujuk.“Aku akan menepati janjiku. Jangan terburu-buru bertindak. Mama juga sudah mengakui kesalahannya. Jika sampai Mama atau Papa benar-benar memaksamu, aku akan dengan tegas berdiri di sampingm
“Kiran punya hidupnya sendiri, apa kalian masih mau membahas ini?”Suara menginterupsi dari Noah mengejutkan Yessica dan Kamila.Dua wanita ini langsung menatap pada Noah.“Kak.” Yessica panik. “Bukan itu maksudku, aku hanya merasa kalau–”“Tujuan kita mencari dan membawa Kiran kembali, bukan untuk memaksanya melakukan apa yang kita kehendaki.” Noah memotong ucapan Yessica dengan cepat.Yessica terdiam.Sedang Kamila mengembuskan napas pelan.“Sudah jangan dibahas lagi. Yang terpenting sekarang cari tahu di mana Kiran dan jemput dia pulang. Apa kata orang jika dia tinggal di luar bersama pria tanpa status pernikahan?” Nada bicara Kamila sedikit putus asa.“Mama selalu cemas dengan kata orang.” Noah bicara pelan tetapi penuh penekanan. “Jika Mama percaya Kiran, Mama tidak akan menakutkan apa pun.”Kamila terdiam mendengar ucapan Noah.Saat itu, pelayan datang menghampiri.“Nona Kiran pulang bersama Nyonya Fania.” Pelayan bicara dengan sedikit menundukkan kepala.Kamila menegakkan pungg
Suara tegas Elvano menarik semua mata tertuju padanya. Auranya mampu membekukan seluruh ruangan, mengubah atmosphere yang panas menjadi sedingin kutub.Kiran bergeming dengan tatapan tertuju pada Elvano yang sedang melangkah ke arahnya.Pria itu muncul tak terduga. Seolah selalu ada untuknya, sama
Wajah Dania memucat, dia meneguk ludah kasar melihat sorot mata Elvano yang begitu tajam. “Bu-bukan begitu maksud saya, Pak.” Kepala Dania menggeleng pelan. Lagi-lagi ludah meluncur susah payah saat melewati kerongkongannya. Sorot mata Elvano yang begitu dingin, membuat kepala Dania tertunduk. Ta
Cengkraman jemari Widya semakin menguat di lengan Kiran. Bahkan otot-otot leher Widya tertarik sampai menyembul di bawah kulit. “Kamu berani membantah! Kamu pikir, nyawa ayahmu tidak lebih berharga dari kalungmu itu?” Mata Widya menajam, dia melepas lengan Kiran sambil mendorong kuat tubuh Kiran.
Sore hari. Kiran baru saja selesai merapikan berkas di meja, ketika ponsel di atas meja berdering. Matanya melirik pada layar ponsel. Pesan dari Widya terpampang di layar. [Pulang lebih awal dan jaga ayahmu, jangan banyak alasan!] Napas dari mulut Kiran berembus pelan. Jempolnya segera bergerak







