تسجيل الدخولKiran diam.Dia melihat Noah yang menatap tak goyah padanya.Kiran mengembuskan napas panjang sampai kedua bahunya melorot.Sebelum dia mendudukkan tubuhnya di tepian ranjang.Kiran mengguyar rambutnya ke belakang, setelahnya dia kembali menatap Noah.“Aku benar-benar tidak cocok di sini.” Tatapan Kiran lurus dan datar pada Noah. “Banyak hal yang tak bisa aku mengerti dari kalian, terutama soal perjodohan konyol yang sangat kolot ini.”Noah menghela napas panjang. Dia ikut duduk di samping Kiran.“Itu takkan pernah terjadi, jika kamu tak menginginkannya. Aku tidak akan membiarkan mereka memaksa apa yang tidak kamu inginkan.” Noah mencoba meyakinkan.Dia hanya ingin Kiran tetap di sini sesuai rencana, agar mereka bisa bernostalgia lebih lama.Noah melihat diamnya Kiran. Dia mencoba kembali membujuk.“Aku akan menepati janjiku. Jangan terburu-buru bertindak. Mama juga sudah mengakui kesalahannya. Jika sampai Mama atau Papa benar-benar memaksamu, aku akan dengan tegas berdiri di sampingm
“Kiran punya hidupnya sendiri, apa kalian masih mau membahas ini?”Suara menginterupsi dari Noah mengejutkan Yessica dan Kamila.Dua wanita ini langsung menatap pada Noah.“Kak.” Yessica panik. “Bukan itu maksudku, aku hanya merasa kalau–”“Tujuan kita mencari dan membawa Kiran kembali, bukan untuk memaksanya melakukan apa yang kita kehendaki.” Noah memotong ucapan Yessica dengan cepat.Yessica terdiam.Sedang Kamila mengembuskan napas pelan.“Sudah jangan dibahas lagi. Yang terpenting sekarang cari tahu di mana Kiran dan jemput dia pulang. Apa kata orang jika dia tinggal di luar bersama pria tanpa status pernikahan?” Nada bicara Kamila sedikit putus asa.“Mama selalu cemas dengan kata orang.” Noah bicara pelan tetapi penuh penekanan. “Jika Mama percaya Kiran, Mama tidak akan menakutkan apa pun.”Kamila terdiam mendengar ucapan Noah.Saat itu, pelayan datang menghampiri.“Nona Kiran pulang bersama Nyonya Fania.” Pelayan bicara dengan sedikit menundukkan kepala.Kamila menegakkan pungg
Kiran tersentak mendengar ucapan Fania.Tatapannya sampai menyorot tak percaya.“Yessica seperti itu?” Kiran memastikan.Dia tidak ingat apa pun tentang masa kecilnya. Mungkin Fania bisa sedikit memberinya petunjuk, kenapa Kiran selalu tak nyaman setiap dekat dengan Yessica.Fania mengangguk pelan.“Bibi sangat ingat, bagaimana Nania perlahan tak ingin main denganmu waktu kalian masih kecil. Bibi kira, itu hal wajar, seiring berjalannya waktu, Bibi baru tahu kalau Nania tidak mau dekat denganmu karena diancam dan sering disakiti Yessica.”Kiran dibuat terkejut sekian kalinya mendengar ucapan Fania.“Lalu saat kuliah, ini yang membuat Bibi sangat yakin jika Yessica bukanlah wanita yang baik. Dia merebut kekasih Nania, tapi setelahnya dia bersikap seolah menjadi korban.”Kiran sangat syok, mulutnya sampai terbuka dan matanya menyorot tak menyangka.“Kamu tahu, apa yang membuat Bibi sangat sakit hati? Setelah membuat Nania putus asa, sampai Bibi harus memindahnya ke kampus lain. Yessica
“Paman, apa Kiran memberitahu Paman sekarang dia ada di mana? Jika ya, biar aku jemput.” Noah berdiri di samping Surya yang sejak tadi diam.Surya masih di tempat pesta, duduk di tempatnya dan tak bisa menghalangi Kiran pergi.Surya menoleh pada Noah. Dia menggerakkan tangan, mengisyaratkan agar Noah duduk.Noah mengikuti isyarat Surya. Dia duduk di kursi samping Surya.Surya mengembuskan napas kasar. Tampak jelas wajah lelahnya.“Tidak usah mencemaskan Kiran. Aku percaya padanya dan percaya pada Elvano.”Noah terdiam mendengar perkataan Surya.Surya memandang ke ruangan pesta. Para tamu masih menikmati acara seolah tidak pernah ada masalah seperti tadi.“Sebenarnya ada beberapa hal yang tidak aku ceritakan padamu tentang Kiran.” Surya menatap pada Noah yang ada di sampingnya.Noah masih diam, menunggu apa yang ingin Surya katakan.“Selama ini hidupnya sudah penuh tekanan, mantan istri dan kedua anakku tidak menyukainya. Itu karena aku yang semakin tua dan semakin tak mampu menjaganya
Elvano dan Kiran ikut ke mobil Fania. Sepanjang jalan Elvano menghafal jalan yang mereka lewati untuk antisipasi walau percaya dengan ikut Fania. Setelah beberapa saat. Mereka tiba di rumah mewah Fania. Mobil berhenti di dekat teras rumah. “Aku senang kalian mau mampir. Rumah ini biasanya sepi karena semua anakku sudah memiliki rumah sendiri di luar sana. Dengan kedatangan kalian, rasanya akan ramai.” Setelah bicara, Fania keluar dari mobil. Kiran menatap pada Elvano yang duduk di depan sedang menoleh ke arahnya. Melihat Elvano mengangguk. Kiran lantas keluar dari dalam mobil. “Ayo masuk, jangan sungkan.” Fania mempersilakan. Elvano menggandeng tangan Kiran. Keduanya melangkah mengikuti Fania. “Calissa, apa kamu mau ganti baju? Ada pakaian milik putri Bibi yang disimpan di rumah ini.” Fania berbalik menghadap Kiran. “Panggil aku dengan nama Kiran saja, Nyonya. Aku kurang familiar jika dipanggil dengan nama Calissa.” Kiran bicara dengan sangat sopan. Fania tertawa kecil. “Ba
Pesta tetap berlanjut.Sania dan Adrian duduk di meja yang tersedia.“Tidak kusangka, Calissa yang dulu manis dan patuh, sekarang begitu liar. Bahkan dia tidak mendengarkan apa yang ibunya katakan.” Sania menghela napas kecewa karena ekspektasinya terhadap Calissa tak sesuai realita.“Kiran tidak liar. Dia hanya terbiasa hidup keras.” Adrian langsung meluruskan.“Tapi tidak seharusnya dia bersikap seperti itu.” Sania langsung menyanggah.“Mama juga tidak seharusnya membahas soal pernikahan. Apalagi, Kiran baru saja kembali.” Nada bicara Adrian pelan tetapi tegas.Sania mendengkus. Dia menatap sang putra yang seolah terima begitu saja Calissa dibawa pria lain.“Harusnya tadi kamu menghalangi. Calissa itu calon istrimu, saat kecil kalian sudah dijodohkan bahkan bertunangan.” Sania bicara penuh penekanan.“Tapi dia bukan Calissa, dia Kiran.” Adrian meninggikan suaranya, walau setelahnya dia bicara dengan nada biasa. “Aku sudah tahu kalau Kiran memang memiliki kekasih. Dan pria itu tadi b
Sore hari. Kiran melangkah meninggalkan RDJ menuju halte bus terdekat, sampai langkahnya terhenti ketika melihat siapa yang menghadang jalannya. “Kenapa Kak Yoga di sini?” Kiran menatap waspada karena kemunculan Yoga. Tangan Yoga terulur cepat mencengkram kuat lengan Kiran. “Kemarin kamu tidak me
Saat jam makan siang. Dania masuk ke ruang kerja pamannya. Langkah pelannya terarah pasti menuju meja sang paman. “Paman, bagaimana hasil rapatnya tadi?” Dania langsung mengambil posisi duduk setelah bertanya. Malik menatap pada Dania, napasnya berembus pelan sebelum dia menjawab, “Elvano melindu
Hari berikutnya. Kiran berada di ruangan Elvano. Merapikan meja seperti biasanya sebelum sang atasan datang. Namun, ada yang berbeda hari ini dari Kiran. Wajahnya sedikit pucat, hidungnya juga memerah. Beberapa kali telunjuk Kiran menggosok pangkal hidungnya. Ketika baru saja selesai merapikan tu
Jemari Kiran menarik nota yang tertempel di luar plastik. Namanya dan divisi tempatnya berada, tertera di sana. “Mungkinkah Sabrina yang kirim?” Tadi, saat menghubunginya, suara Sabrina panik karena mencemaskan dirinya. Ah, benar. Pasti dari Sabrina. Kiran menatap serius ke layar ponsel kala me







