ログイン“Ke mana? Ke mana dia pergi?” Wajah Noah berubah tegang. Dia tidak akan melepas Yessica begitu saja.Raihan menggeleng. “Yessica hanya mengatakan ingin keluar.”Sedang Kamila yang baru saja menghentikan tangisnya, kini menatap pada Noah sambil berkata, “Semalam, Mama melihat Yessica panik saat menghubungi seseorang. Mama mendengar dia menggerutu karena orang yang dihubunginya tak membalas.”“Semalam?” Noah mengulang. “Apa Mama dan Papa tahu? Yessica meminta orang untuk membunuh Kiran lagi. Aku tebak, dia pasti pergi untuk menemui pria itu. Berarti dia ke tempat Kiran tinggal.”Noah melebarkan bola mata saat menebak ke mana Yessica pergi.Kamila dan Raihan tersentak.“Yessica ingin membunuh Kiran?” Suara Kamila meninggi. “Noah!” Kamila menatap tak percaya.“Saat di danau waktu itu, Yessica juga berniat menenggelamkan Kiran, itu bukan sebuah permainan.” Noah bicara dengan tegas.“Aku harus mengejar Yessica, tidak ada waktu untuk menjelaskan lagi. Jika kalian menyayangi Kiran, maka kalia
Kamila dan Raihan semakin syok.“Apa maksudmu, Noah?” Raihan menatap semakin bingung.“Noah, Mama sudah sangat syok dengan semua bukti yang kamu berikan. Katakan semua sekaligus, Noah. Mama tidak bisa menahannya lagi.” Kamila benar-benar frustasi, kedua kakinya tak mampu menopang tubuhnya, dia kembali terduduk di kursi, kedua tangan menekan kepala kuat.Raihan mendekati Noah, saat berdiri di depan putranya, Raihan segera bertanya, “Apa maksud ucapanmu jika Yessica itu anak Papa, Noah. Apa kamu punya bukti? Jangan membuat keluarga kita kacau dengan memberikan pernyataan tanpa bukti, Noah.”“Aku memang tidak punya bukti valid kalau Yessica anak Papa. Hanya saja tindakan Martha, bukanlah hal yang bisa dianggap wajar. Martha takut jika Calissa tetap ada di rumah ini posisi putrinya akan tergeser, yaitu Yessica. Lalu, apa lagi hubungannya jika bukan karena sesuatu yang erat? Kenapa Martha harus takut dengan keberadaan Calissa?” Noah mengungkap asumsinya berdasarkan fakta yang didapat.Raih
Kamila tersentak.Dia menatap bingung pada Noah yang baru saja menyebut nama seorang wanita, apalagi tatapan putranya tertuju pada Raihan.“Martha? Martha siapa?” Tatapan Kamila kini tertuju pada Raihan. Matanya menyorot penuh curiga. “Siapa Martha ini? Kenapa Noah bertanya seperti ini?”Raihan terkejut mendengar nada bicara Kamila yang meninggi.“Aku juga tidak tahu siapa yang Noah maksud.” Raihan kebingungan karena istrinya marah. Dia menoleh pada Noah, lantas bertanya, “Apa maksudmu bertanya seperti ini, Noah? Jangan menciptakan kesalahpahaman.”Noah tetap tenang walau rasanya ingin meledak. Dia membuka stopmap yang dibawanya. Noah mengeluarkan foto Martha saat muda.“Ini, mungkin dengan melihat foto ini, Papa bisa ingat.” Noah mengulurkan foto Martha ke Raihan.Setelah Raihan menerima foto yang Noah sodorkan, dia kembali bicara. “Apa hubungan Papa dengan wanita itu? Jawaban Papa akan menentukan semuanya.”Raihan memperhatikan foto yang Noah berikan, keningnya berkerut dalam, wajahn
Noah mendapatkan penerbangan pagi. Dia baru saja masuk ke dalam mobil yang akan membawanya pulang.“Langsung ke rumah,” perintah Noah pada sopirnya.Noah lebih dulu mematikan mode pesawat sebelum menghubungi Elvano.Beberapa saat menunggu nada dering dari seberang panggilan, akhirnya terdengar suara dari Elvano.Tanpa berbasa-basi, Noah langsung bertanya, “Bagaimana kondisi Kiran?” “Kamu sudah menemui orang tuamu dan Yessica?”Noah mencebik mendengar balasan Elvano. “Aku baru saja tiba dan sedang dalam perjalanan ke rumah.”“Jawab dulu, bagaimana kondisi Kiran?” Noah benar-benar tak sabar karena Elvano tak langsung menjawab pertanyaan darinya.“Tidak sabaran sekali.”Noah mengerutkan kening mendengar balasan Elvano. Dia tak mendengar suara apa pun dari seberang panggilan.Hampir saja Noah berteriak jika dia tak mendengar Elvano berkata, “Nyalakan kameramu.”Noah melakukan apa yang Elvano katakan.Dan, sekarang dia melihat wajah sang adik yang pucat dengan senyum kecil di bibir.Noah
“Hah!”Kiran membuka mata lebar dengan napas tak beraturan, dadanya naik turun dengan cepat, wajahnya pucat berbalut kepanikan.“Ki, Kiran. Akhirnya kamu bangun.” Kiran merasakan usapan lembut di punggung tangannya. Dia menoleh ke samping, tatapannya tertuju pada Elvano.Pria ini tersenyum manis padanya.“Bagaimana perasaanmu? Aku akan panggilkan Dokter untuk memeriksamu.” Elvano menekan tombol untuk memanggil perawat setelah bicara.Sedang Kiran diam beberapa detik, sebelum mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan.Terakhir kali yang diingatnya, Kiran merasakan dingin yang menusuk dan suara panik Elvano yang terus mendengung di telinganya.“Di mana aku?” Suara Kiran begitu lemah.“Di rumah sakit.” Elvano mencium punggung tangan Kiran. Dia tatap Kiran yang seperti orang bingung.“Yessica.” Tatapan Kiran tertuju pada Elvano.Raut wajah Elvano berubah suram mendengar nama Yessica.“Apa kamu tahu kalau pria itu suruhan Yessica?” Elvano memastikan.Kiran diam menatap Elvano yang sangat me
“Calissa, mainlah dengan anak lainnya.”Calissa menoleh ke sang mama, gadis kecil berusia lima tahun ini mengangguk.“Iya.” Setelah bicara, tatapan Calissa tertuju ke anak-anak perempuan yang berdiri menatapnya.Semua anak panti ini berpenampilan sangat jauh darinya. Terlihat sederhana dan kurang terawat.Calissa mendekat. Dia ragu-ragu menghampiri anak-anak yang menatapnya aneh.Apa Calissa aneh? Nyali Calissa menciut, langkahnya memelan saat anak-anak perempuan ini seperti tak mengharapkan kehadirannya.“Apa mereka tidak mau main denganku?” Calissa bergumam pelan.“Hai.” Calissa menoleh saat mendengar ada yang menyapanya dari samping.Tatapan Calissa tertuju pada anak perempuan yang memegang setangkai bunga, berpakaian sederhana dan tersenyum manis padanya.“Kamu mau main?”Satu kalimat yang didengar Calissa, membuat kepalanya mengangguk-angguk pelan.“Mau.”Anak perempuan di depannya ini, mengulurkan tangan ke arah Calissa. “Aku Yessica.”Senyum Calissa semakin lebar. “Calissa.”
Sore hari. Kiran baru saja selesai merapikan berkas di meja, ketika ponsel di atas meja berdering. Matanya melirik pada layar ponsel. Pesan dari Widya terpampang di layar. [Pulang lebih awal dan jaga ayahmu, jangan banyak alasan!] Napas dari mulut Kiran berembus pelan. Jempolnya segera bergerak
Keesokan harinya.Elvano memperhatikan Kiran yang baru saja masuk ke dalam mobilnya.Elvano memperhatikan wajah Kiran yang lesu. “Ada apa, Ki? Apa ada masalah?”
Hari berikutnya. Kiran berada di ruangan Elvano. Merapikan meja seperti biasanya sebelum sang atasan datang. Namun, ada yang berbeda hari ini dari Kiran. Wajahnya sedikit pucat, hidungnya juga memerah. Beberapa kali telunjuk Kiran menggosok pangkal hidungnya. Ketika baru saja selesai merapikan tu
Wajah Dania memucat, dia meneguk ludah kasar melihat sorot mata Elvano yang begitu tajam. “Bu-bukan begitu maksud saya, Pak.” Kepala Dania menggeleng pelan. Lagi-lagi ludah meluncur susah payah saat melewati kerongkongannya. Sorot mata Elvano yang begitu dingin, membuat kepala Dania tertunduk. Ta







