로그인Keesokan harinya.
Elvano memperhatikan Kiran yang baru saja masuk ke dalam mobilnya.
Elvano memperhatikan wajah Kiran yang lesu. “Ada apa, Ki? Apa ada masalah?”
Kiran menoleh pada Elvano setelah memakai sabuk pengaman. Napasnya berembus kasar, tubuhnya begitu lemas saat bersandar.
Bola mata Elvano membulat lebar mendengar nama Kiran disebut.“Jangan, dia bisa mengomeliku berjam-jam.”Elvano mengambil sendok di nampan, dengan cepat Elvano mulai memasukkan suapan ke mulut.Alina tersentak.Putranya ini benar-benar membuatnya tak habis pikir.Segala omelan dan ancamannya sudah tidak mempan, tetapi Elvano bisa panik dan ketakutan saat nama Kiran disebut.Alina memperhatikan Elvano yang makan dengan tergesa-gesa.“Pelan-pelan makannya, El.” Alina sekarang panik melihat cara makan Elvano.Dengan mulut penuh, Elvano membalas, “Biar cepat habis dan cepat belajar lagi.”Alina dibuat tak berkata-kata karena tingkah putranya.Sampai satu piring nasi yang Alina bawa, benar-benar habis tak bersisa.“Kamu makan terburu-buru seperti itu, bisa membuat perutmu sakit.” Alina khawatir.Elvano baru saja menenggak habis segelas air putih. Dia menatap sang mama yang memandang waswas.“Yang penting sudah makan ‘kan, Ma.” Elvano melebarkan senyumnya.Dia mengulurkan nampan berisi piri
Pria ini tersentak. Wajahnya seketika memucat.“Aku sudah melakukan apa yang kamu katakan, apa lagi yang kamu inginkan?” Pria ini menahan geram dan panik karena keluarganya terus dijadikan senjata untuk mengancam dirinya.“Kamu bohong!” Suara Martha tertahan. Matanya menyorot menuh kilatan yang menyambar-nyambar. “Katakan yang sebenarnya padaku.”Tangan pria ini mengepal. “Apa yang sebenarnya kamu inginkan? Bukankah yang terpenting, aku diam dan tidak menyeret namamu dalam kasus ini. Urusan kita sekedar bisnis, aku butuh uang dan kamu memberiku pekerjaan. Sekarang, berhenti menekanku dan jangan mengganggu keluargaku lagi!”Pria ini begitu emosi.Martha tersenyum miring.Suaranya sedikit tertahan saat Martha berucap, “Dia masih hidup. Kamu tidak melakukan tugasmu dengan benar. Kamu membohongiku.”Pria ini tersentak mendengar ucapan Martha. Dia meneguk ludak kasar.“Karena kebohonganmu ini, sekarang aku dan putriku tidak bisa tenang. Jika sampai apa yang aku lakukan ini terbongkar, kamu
Kening Kiran berkerut dalam.“Siapa yang bertengkar.” Kiran memalingkan muka dari Noah. “El memang sibuk, kok.”Kiran kembali menatap pada Noah. “Kenapa tiba-tiba sekali kamu tanya soal El? Bukannya kamu tak menyukainya? Untuk apa mencari tahu kabarnya?” Mata Kiran menyipit curiga.Noah mengembuskan napas kasar dari mulutnya.“Ya, siapa tahu. Diam-diam dia menyakitimu.” “Tidak mungkin.” Kiran membantah dengan cepat. “El takkan pernah bisa melakukan itu.” Kiran bicara dengan penuh keyakinan.Noah menggeser posisi duduknya sampai menghadap Kiran. Dia menatap sang adik yang sangat percaya diri. “Kenapa tidak mungkin? Kamu sangat yakin dia tidak akan menyakitimu?” “Ya, tentu saja aku yakin. Karena yang tahu bagaimana hubungan kami, ya hanya kami. Kamu mana paham.” Noah menyipitkan mata.“Apa? Kenapa menatapku seperti itu?” Kiran mendadak merinding karena tatapan Noah.“Kalian tidak melakukan hal-hal di luar batas, ‘kan?” Noah menyelidik.Bola mata Kiran membola. Sampai impulsif melayan
Hari berikutnya.Kiran tidak ke kantor karena weekend.Semalam dia mengobrol dengan Noah sampai larut malam. Dan pagi ini, Kiran bisa tidur sepuasnya.Walau, suara ketukan pintu pada akhirnya membangunkannya.“Kamu belum bangun, Kiran?”Suara Surya terdengar dari luar.Kiran menguap sebelum membalas, “Ya, Ayah. Aku baru saja bangun.”“Baguslah, cepat cuci muka atau mandi. Orang tuamu dan semua orang ada di depan.”Kiran bangun dengan cepat.Dia duduk di atas ranjang sambil menatap ke pintu kamarnya.Kenapa mereka semua berkumpul di depan?Kening Kiran berkerut dalam.Dia mencoba menebak. Tetapi tak ada apa pun yang bisa dia pikirkan untuk saat ini.Kiran turun dari ranjang. Dia harus keluar menemui semua orang.Di halaman depan.Semua orang duduk di kursi yang sudah disusun rapi. Hidangan untuk sarapan juga sudah tersaji di meja.“Kiran belum bangun?” Kamila memastikan. Dia menatap pada Surya yang baru saja datang.“Baru saja bangun, mungkin sekarang mandi atau cuci muka dulu.” Surya
Noah berdiri di depan teras rumah saat malam semakin larut.Apa yang dikatakan orang tuanya, membuat Noah cemas.Dia takut Kiran berubah pikiran, lalu menjauh dari mereka jika Kiran tersinggung.Dia berdiri diam, memandang ke arah rumah Kiran.Sampai tatapannya tertuju pada Surya yang baru saja pulang.Noah melangkah meninggalkan rumahnya untuk menghampirri Surya.“Paman, baru pulang?” Noah menyapa sebelum Surya masuk ke dalam rumah.Tangan Surya sudah memegang gagang pintu saat mendengar suara Noah. Dia membalikkan tubuhnya, tatapannya kini tertuju pada Noah yang sedang menghampirinya.“Nak, Noah. Kenapa malam begini masih belum istirahat?” Surya membuka pintu untuk mempersilakan Noah masuk sekalian.Noah melebarkan senyum. Dia berhenti melangkah, kini berdiri di depan Surya.“Hanya belum bisa tidur, Paman. Aku mau mencari Kiran untuk mengajaknya mengobrol, tapi takut Kiran sudah tidur.” Surya mengangguk-angguk. Dia lebih dulu mempersilakan Noah masuk ke dalam rumah.Mereka masuk ke
“Apa?” Kamila dan Raihan terkejut bersamaan.“Bagaimana bisa Kiran kerja di sana?” Kamila menatap tak percaya.Yessica tersenyum dalam hati, meski wajahnya menunjukkan kecemasan.“Mama dan Papa jangan marah dulu. Mungkin, Kiran kerja di sana juga demi dapat uang. Jadi, wajar kalau Kiran kerja di perusahaan besar seperti RDJ.” Yessica memberikan tatapan simpati.Yessica menipiskan senyum. Dia harus membuat Kiran dipaksa keluar dari RDJ.“Baiklah kalau sekarang dia butuh pekerjaan untuk menghasilkan uang. Tapi sekarang, ada kita yang bisa memberikan apa pun yang dia mau. Sepertinya dia tidak perlu lagi kerja di perusahaan itu.” Tangan Raihan mengepal, matanya menyorot tak suka.“Jangan begitu, Pa. Takutnya kalau Papa memaksa Kiran berhenti bekerja, dia pasti sedih.” Yessica menunjukkan rasa peduli untuk membalut niatnya.“Tapi RDJ? Kamu tahu bagaimana RDJ dan Bimantara bersaing, Yess.” Kamila menatap cemas.“Aku tahu, Ma.” Yessica mengembuskan napas berat, seolah ini juga menjadi beban
Cengkraman jemari Widya semakin menguat di lengan Kiran. Bahkan otot-otot leher Widya tertarik sampai menyembul di bawah kulit. “Kamu berani membantah! Kamu pikir, nyawa ayahmu tidak lebih berharga dari kalungmu itu?” Mata Widya menajam, dia melepas lengan Kiran sambil mendorong kuat tubuh Kiran.
Sore hari. Kiran baru saja selesai merapikan berkas di meja, ketika ponsel di atas meja berdering. Matanya melirik pada layar ponsel. Pesan dari Widya terpampang di layar. [Pulang lebih awal dan jaga ayahmu, jangan banyak alasan!] Napas dari mulut Kiran berembus pelan. Jempolnya segera bergerak
Suara tegas Elvano menarik semua mata tertuju padanya. Auranya mampu membekukan seluruh ruangan, mengubah atmosphere yang panas menjadi sedingin kutub.Kiran bergeming dengan tatapan tertuju pada Elvano yang sedang melangkah ke arahnya.Pria itu muncul tak terduga. Seolah selalu ada untuknya, sama
Kiran berusaha kembali menarik tangannya, tetapi pria ini tak melepas. “Kamu sangat manis.” Ucapan Robby membuat wajah Kiran semakin memucat. “Pak Elvano sudah mabuk, bagaimana kalau menemaniku sebentar?” Seluruh tubuh Kiran merinding ketika Robby mengusap punggung tangannya. Tangannya dia tarik







