LOGINKakak, maaf ya kalau aku updatenya telat, yang mau tahu informasi soal aku, bisa ke Ighhe aku ya Kak, ketik aja aililea_dindin_812. Makasih Kakak
Tatapan Edo tertuju ke arah pengawalnya menunjuk.Mata Edo kini menatap lurus pada pelayan tua yang sudah mengabdi di keluarganya selama puluhan tahun.Edo mengayunkan langkah dengan mata menyipit ragu. Bagaimana bisa wanita yang sangat dipercayainya, ternyata malah mengkhianatinya?Begitu Edo berdiri di depan pelayan tua, ketegangan begitu terasa mencekam di ruangan ini.Semua pelayan semakin tertunduk dalam, bahkan untuk bernapas bebas pun mereka tak berani.Edo menatap tajam pada pelayan tua ini. Wajahnya mengisyaratkan rasa tak percaya dengan tuduhan yang baru saja didengarnya.“Apa yang dikatakan penjaga itu benar, Bi?” tanya Edo memastikan. Nada suaranya pelan tetapi penuh dengan penekanan.Pelayan tua hanya menunduk dalam-dalam, jari-jarinya meremas ujung celemek tanpa berani mengeluarkan suara.Melihat diamnya pelayan ini, emosi Edo semakin meledak.Edo mencengkeram kuat kedua lengan pelayannya, memaksa agar pelayan kepercayaannya ini menatap ke arah matanya. “Jawab aku! Aku me
Nandira akhirnya dipindahkan ke ruang rawat inap setelah selesai ditangani oleh tim medis di ruang UGD. Kiran masih setia berdiri di samping ranjang, menatap Nandira yang tidur karena efek obat bius agar Nandira bisa istirahat dengan tenang setelah mengalami trauma akibat kekerasan yang dialaminya.Tatapan Kiran kini tertuju pada Nindy yang duduk di kursi samping ranjang.Kiran melihat mata Nindy yang masih merah dan hingga agak bengkak. “Dokter Nandira akan baik-baik saja, kamu jangan terlalu cemas lagi.” Kiran bicara dengan pelan sambil mengusap lembut pundak Nindy.Tatapan Nindy terangkat ke arah Kiran. Dia mengangguk pelan sambil memaksakan senyumnya.“Terima kasih karena kamu dan Pak Elvano mau ikut menemaniku tadi. Kalau kalian tadi tidak ikut denganku, entah apa yang akan terjadi padaku meski aku menemukan Nandira.” Suara Nindy agak berat karena mengatur napasnya yang sejak tadi tak beraturan karena panik dan takut.Senyum Kiran terangkat tipis. Dia mengangguk-angguk pelan. “
Di dalam mobil.Nindy terus merangkul pundak Nandira. Tangan kanannya sesekali menyingkirkan helaian rambut Nandira yang menutupi wajah.“Ya Tuhan, Dira. Apa yang sudah pria itu lakukan padamu? Bagaimana bisa dia sekejam ini padamu?” Buliran kristal bening jatuh dari pelupuk mata Nindy. Dia sampai gemetaran melihat wajah Nandira yang hampir sulit dikenali karena luka lebam yang memenuhi wajah. Bahkan sudut alis dan bibir Nandira juga pecah.Di dalam pelukan Nindy. Nandira masih bisa tersenyum“Terima kasih kalian datang. Jika tidak, mungkin aku hanya tinggal nama jika tertangkap.” Suara Nandira begitu lemah.Nindy memeluk erat tubuh Nandira. Matanya terpejam menahan air mata yang terus mengalir.Di kursi depan, Kiran terus memperhatikan kondisi Nandira.Dia benar-benar tidak menyangka jika Edo bisa segila dan sekejam ini.Kiran menatap pada Elvano yang sedang menyetir. Tatapan matanya menyiratkan kecemasan. “Edo pasti tidak akan tinggal diam mengetahui Nandira kabur. Dia juga tidak aka
Pelayan tua ini panik melihat penjaga menyadari kalau Nandira yang pergi.Dia menjatuhkan belanjaannya, lalu kedua tangannya menghalangi pria bertubuh kekar ini agar tidak pergi mengejar Nandira.“Lepaskan aku, Nenek Tua!” amuk penjaga.“Tidak, kamu tidak boleh pergi!” Pelayan tua ini mempertahankan posisinya memeluk pria ini.Pelayan ini tahu, dia tidak bisa mencegah lebih lama penjaga ini agar tak mengejar Nandira, tetapi setidaknya dia memberi waktu untuk Nandira lari lebih jauh, atau setidaknya mencari bantuan.Penjaga pria ini sudah sangat kesal karena dihalangi. Dia mencengkram kuat kedua pundak wanita tua yang menghalanginya, lalu mendorong tubuh wanita ini sampai terjerambab di rumput.“Awas saja kamu!” Pria itu mengancam lalu berlari menuju pintu kecil.Nandira berlari sekuat tenaganya dengan kaki terseret. Dia menuju ke jalan utama untuk bisa berlari menjauh dari rumah ini.Saat menoleh ke belakang, Nandira melihat penjaga mengejarnya.Mata Nandira membola. Dia sekuat tenaga
Jantung Nandira berdegup cepat. Napasnya tersekat di tenggorokan dengan raut panik dan takut yang tak bisa dia sembunyikan lagi.Di hadapan Nandira saat ini.Pelayan tua yang sudah bekerja lama di rumah ini, berdiri menenteng keranjang belanja dengan tatapan tertuju pada Nandira yang ada di hadapannya.“Nyonya, apa yang terjadi pada Anda? Kenapa wajah Anda lebam begini?” Suara pelayan tua ini begitu panik.Nandira tersentak. Dia langsung mengangkat telunjuk di depan bibirnya agar pelayan ini tak bicara keras.“Bibi, kumohon jangan beritahu Edo. Biarkan aku pergi.” Nandira meratap, matanya kembali basah.Pelayan wanita ini menatap miris. Dia buru-buru menarik tangan Nandira.“Maaf, Nyonya.”Nandira terkejut tangannya ditarik pelayan. “Jangan membawaku kembali ke rumah, Bi.” Nandira memelas.Pelayan tetap berjalan sambil memegang lengan Nandira. “Saya tidak akan membawa Anda kembali ke sana, Nyonya. Tapi, kalau Anda terlihat oleh penjaga Tuan Edo, Anda akan dibawa masuk lagi.”Nandira te
“Ada apa? Kenapa wajahmu tegang seperti itu?” Elvano menoleh sekilas setelah Kiran memegang ponsel Nidny.Dan, yang membuat Elvano keheranan, kenapa wajah Kiran begitu tegang.Kiran mengalihkan tatapan dari ponsel ke wajah Elvano. Dia meneguk ludah kasar, lalu berkata, “Edo sudah tahu kalau Nindy menerima file-file dari Nandira.”Elvano terkejut sampai menoleh cepat pada Kiran.“Dia bahkan mengirim pesan ancaman pada Nindy.” Kiran memperlihatkan pesan yang diterima Nindy.[Aku tahu kamu menerima file dari Nandira. Jika kamu masih ikut campur dan tidak sayang keluargamu, maka coba saja lakukan seperti yang kamu harapkan.]Jari-jari Elvano mencengkram kuat setir setelah membaca sekilas pesan yang Edo kirimkan ke Nindy.“Pria itu benar-benar gila!” Elvano menggeram.Di sampingnya, Kiran kini menoleh pada Nindy yang tampak begitu cemas.“Jika Edo sudah tahu kalau Nindy penerima file itu, bukankah tidak menutup kemungkinan nyawa Nindy juga dalam bahaya?” Kiran menebak.Kiran menatap pada E







