FAZER LOGINKiran menatap wanita muda dan anggun melangkah mendekati mereka.Tatapan wanita ini begitu angkuh, dagunya yang terangkat cukup menunjukkan sifat sombong wanita ini.“Apa seburuk ini kinerja pelayan toko kalian? Aku hanya memintamu mengambilkan tas yang kumau, tapi kamu membuatku menunggu.” Tatapan wanita ini begitu tajam.Rekan Shinta langsung melebarkan senyum sambil mengulurkan tas yang dimaksud.“Maaf sudah membuat Anda menunggu, Nona Yessica. Tadi ada sedikit kendala saja.”Baru saja tas itu akan diambil oleh wanita bernama Yessica, Kiran sudah lebih dulu merebutnya.“Aku yang melihat tas ini dulu dan menginginkannya.” Kiran menatap dingin, sikap Yessica ini sangat angkuh.Tidak tahu kenapa, saat melihat wanita ini, Kiran langsung tak suka. Seperti ada aura negatif yang menguar dari wanita ini.Wanita ini, Yessica. Menatap remeh pada Kiran.Yessica memperhatikan penampilan Kiran dari ujung kaki hingga kepala. Matanya menyipit.“Wanita sepertimu, apa bisa membeli tas semahal ini?
Setelah sarapan.Elvano mengajak Kiran ke mall. Tangan mereka terus saling menggenggam saat pandangan mereka tertuju ke toko-toko yang berjajar di sana.“Sebenarnya kamu mau nyari apa, El?” Kiran menatap bingung.Sejak tadi, Elvano tidak memberitahu apa yang dicarinya.Elvano hanya tersenyum, sampai tatapannya tertuju ke salah satu tas branded.“Kamu pasti tidak membawa tas bagus. Pesta nanti penuh dengan pengusaha-pengusaha besar, aku ingin kamu terlihat sempurna di mata mereka.” Elvano menarik tangan Kiran setelah selesai menjelaskan.Langkah Elvano tertahan karena Kiran bergeming di tempatnya.“Ada apa?” Elvano menatap bingung karena Kiran tidak mau ikut.“Apa ini perlu? Aku bisa pakai tas yang aku punya saja.” Kiran memastikan.Elvano menghela napas pelan. Dia berdiri berhadapan dengan Kiran, lalu meyakinkan. “Perlu. Kamu bukan sekadar asistenku, tapi pasanganku, calon menantu keluarga Radjasa.”Kiran tersentak. Tubuhnya membeku sesaat mendengar kalimat terakhir Elvano. “Kapan aku
Sore hari.Elvano menjemput Kiran di apartemen. Mobil berhenti di depan lobby, Elvano memandang Kiran yang sudah menunggu.Sopir keluar dari dalam mobil. Dia membuka pintu untuk Kiran, lalu memasukkan koper Kiran ke dalam bagasi..“Kamu bawa barang yang tadi aku berikan, ‘kan?” Elvano memastikan.Kiran mengangguk tanpa kata. “Berapa hari kita di sana?” tanya Kiran kemudian. Dia memandang Elvano yang ada di sampingnya.“Tergantung.” Senyum Elvano begitu lebar.Kening Kiran berkerut dalam. “Tergantung apa?”“Lihat saja nanti, bisa saja sedikit lama jika ada pembahasan bisnis atau kita jalan-jalan dulu?” Setelah bicara, Elvano mengalihkan pandangan dari Kiran.Kiran melongo. Ada saja rencana yang Elvano pikirkan.Kiran dan Elvano berangkat ke bandara. Mereka ikut penerbangan sore dan tiba di kota tujuan saat malam hari.Sesampainya di hotel tempat mereka akan menginap, Elvano memberikan keycard kamar untuk Kiran.“Kamar kita berseberangan, jadi kalau ada apa-apa bisa mudah saling mencar
Elvano cukup terkejut mendengar apa yang Surya katakan. Meski begitu, Elvano tetap tenang menyikapinya.“Semuanya baik-baik saja, Paman.” Menatap pada Surya yang diam, Elvano kembali bertanya, “Apa ada masalah, Paman?”Surya menggeleng. Senyum kecil berhias di bibirnya.“Tidak apa-apa. Aku hanya lega saja kalau Kiran tidak menjalani hidupnya hanya sekadar bekerja dan bekerja.”Mendengar balasan Surya, Elvano tersenyum lega.Keduanya sama-sama diam, tetapi belum ada yang bersiap berbaring untuk tidur.“Apa Kiran sudah cerita padamu?” Surya menoleh pada Elvano.Kening Elvano berkerut dalam. “Cerita soal?” Elvano memastikan sebelum menjawab.“Soal dari mana dia aku adopsi.” Wajah Surya berubah sendu setelah memperjelas.Elvano diam beberapa saat sebelum kepalanya mengangguk.“Kiran sudah cerita semuanya.” Surya mengembuskan napas pelan.Beban di pundak Surya seperti begitu berat.“Sudah bertahun-tahun, tapi aku tidak pernah tahu siapa keluarganya.” Surya bicara dengan tatapan tertuju k
Mata Elvano melirik ke tas di samping kakinya.Senyumnya terangkat lebar.“Hanya kopi instan dan camilan.” Senyumnya semakin lebar sampai kedua mata Elvano sedikit menyipit.“Ternyata kamu sudah mempersiapkan semuanya, hm? Sengaja sekali mengganggu kebersamaanku dengan Ayah.” Kiran mengambil lagi ikan bakar yang ada di tangan Elvano. “Kamu bawa camilan, sudah makan camilan saja sana.”Elvano tersentak.“Camilan saja tidak cukup, Ki. Bagi ikannya, itu sepertinya enak.” Tangan Elvano terulur ke ikan yang Kiran pegang.Kiran menjauhkan ikannya dari gapaian Elvano. “Tidak bisa, ini milikku.”“Bukannya tadi diberikan padaku? Ayolah jangan pelit, kita makan bersama.”Melihat Elvano memaksa ingin mengambil ikannya, Kiran sampai tertawa.“Baiklah, kita makan bersama.” Kiran kembali mendekatkan ikan bakarnya.Tangan kanannya mengambil potongan kecil daging dari durinya. Kiran mengulurkan ke mulut Elvano.“Makanlah,” kata Kiran dengan tatapan begitu tulus.Dengan senang hati, Elvano membuka mulu
Kiran bangun dari kursinya.Matanya menajam ke arah kegelapan.Sampai bola matanya membulat lebar.“El.” Kiran menatap tak percaya sang kekasih ada di area perkemahan, semalam ini.Di saat Kiran dan ayahnya menatap tidak percaya dengan keberadaan Elvano di sana.Pria yang sedang menjadi obyek perhatian ini, baru saja bisa bangun setelah tak sengaja jatuh tersandung tanah yang tidak rata.Elvano tersenyum canggung.Kehadirannya tiba-tiba di sana, malah diawali tragedi yang memalukan.Kiran menghampiri Elvano.“Apa yang kamu lakukan di sini?” Kiran menatap penasaran.Elvano menggaruk kepala tidak gatal.“Aku ada perlu denganmu. Tapi ponselmu tidak bisa dihubungi.”Kiran tersentak.“Mungkin karena malam, jadi sinyalnya sulit.” Kiran menjelaskan, sebelum tatapannya tertuju ke kaki Elvano.“Apa lututmu sakit?” Kiran kembali menatap ke wajah Elvano.“Sepertinya.” Elvano membalas ragu.Kiran mengajak Elvano mendekat ke tenda.Saat tiba di hadapan Surya. Elvano langsung menyapa.“Maaf jika me
Malam hari.Elvano tiba di rumah saat pukul delapan malam. Kakinya melangkah menuju tangga, ketika telinganya mendengar suara sang kakak ipar di ruang keluarga.Berbalik arah ke arah suara kakak dan kakak iparnya berada, Elvano menemukan keduanya sedang bicara di ruang keluarga.“Kalian di sini? Le
Bibir Aldo tersenyum tipis, matanya memperhatikan ekspresi wajah Elvano dengan segala reaksi yang temannya ini tunjukan.“Apa lagi? Kamu bilang tidak mau tahu?” Aldo melepas tangannya dari cengkraman Elvano.Masih dengan wajah datar, Elvano berucap, “Katakan saja apa yang mau kamu katakan sebenarny
Kiran duduk di kursi selasar dekat ICU sambil memangku laptop. Jemarinya sibuk menari di atas keyboard, mengetik kata demi kata agar tersusun rapi di laporan yang sedang dibuatnya.Senyum Kiran mengembang kecil saat laporannya selesai. Tangannya meraih ponsel di samping tempat duduknya, tetapi sebel
Ragu-ragu, Kiran duduk di sofa berhadapan dengan Elvano. Matanya melirik sejenak pada Elvano yang sudah membuka penutup kotak makan siangnya. Dia lantas membuka makanan bagiannya.Ketika melihat ada daun bawang di atas makanan yang dibelinya, bibir Kiran sedikit berkerut.Kiran tidak suka daun bawa







