로그인Ekhem, ya gimana, ya. Siapa yang mau titip pesan buat El, silakan drop di komen, nanti tak tempel di dinding keluhan pembaca ElKi, wkwkwkwkw makasih yang sudah baca kisah El dan Kiran (^_^)
Nindy langsung memeluk kedua orang tuanya bersamaan. Dia benar-benar lega melihat kedua orang tuanya baik-baik saja.Sedang kedua orang tua Nindy, Andy dan Indah, kebingungan karena putri mereka mendadak memeluk seperti ini.“Nindy, ada apa? Baru juga datang langsung memeluk seperti ini?” Indah sampai mengusap-usap lengan Nindy yang memeluk lehernya dengan kencang.“Iya, kayak tadi pagi nggak ketemu saja.” Andy ikut menimpali.Nindy melepas pelukan. Matanya yang merah dan basah kini menatap nanar pada kedua orang tuanya.Saat itu Indah melihat keanehan dari sorot mata putrinya.“Ada apa? Kenapa kamu mau menangis seperti itu? Apa ada yang menyakitimu? Apa di kantor ada masalah?” Indah langsung mencecar.Nindy menggeleng-geleng. Dia tak mampu berkata-kata karena begitu lega melihat kedua orang tuanya baik-baik saja.Sampai tatapan Andy tertuju pada pria berjas rapi yang berdiri tak jauh dari mereka. Pelanggan tidak mungkin berani masuk ke pantry toko.Tatapan Andy kembali tertuju pada N
“Nindy, tenangkan dirimu.” Suara Noah sedikit meninggi. Dia sampai mencengkram kedua lengan Nindy agar tidak panik.Nindy terdiam mendengar suara Noah. Matanya yang merah memancar ketakutan yang luar biasa.Noah menarik napas dalam-dalam untuk menenangkan dirinya sendiri. Lalu dia menatap Nindy yang sudah siap menangis, dia mencoba menenangkan.“Mungkin keluargamu kebetulan tidak memegang ponsel. Sekarang kamu tenang dulu, lalu katakan padaku, kira-kira di mana mereka saat ini. Aku akan antar ke sana.” Nada suara Noah pelan dan penuh perhatian.Nindy menarik napas dalam-dalam untuk meredakan kepanikannya agar bisa berpikir dengan tenang.Lalu Nindy menatap pada Noah yang memperhatikannya.“Papa dan Mama harusnya ada di toko kue yang mereka jalankan selama bertahun-tahun ini. Kalau adikku, dia seharusnya di kampus.” Nindy bicara dengan suara tertahan karena tubuhnya masih gemetar.“Oke.” Noah perlahan melepas tangannya dari lengan Nindy.Noah mengeluarkan ponsel dari saku jas bagian da
Noah mengerutkan kening melihat perubahan ekspresi di wajah Nindy. “Kenapa tidak dijawab? Siapa yang menghubungimu?” Noah memastikan saat melihat wajah Nindy yang berubah pucat.Nindy menelan ludah dengan susah payah, jemarinya meremas pinggiran ponsel yang masih terus bergetar.“Sepertinya ini nomor Edo.” Suara Nindy pelan, matanya menyorot panik. “Sebelumnya dia mengirim pesan ancaman padaku. Sekarang, dia pasti sedang mengamuk karena Nandira kabur.”Punggung Noah menegak dengan matanya yang menyorot dingin. “Angkat panggilannya. Nyalakan pengeras suara, aku mau dengar apa yang akan dia katakan padamu.” Noah memberi instruksi.Noah menatap pada Nindy yang mengangguk pelan. Dia lalu mengeluarkan ponselnya dari saku jas bagian dalam lagi, kemudian menyalakan alat perekam.Segala ucapan Edo yang mungkin bisa digunakan untuk menjerat Edo lebih dalam, harus disimpan sebagai bukti.Nindy menggeser tombol hijau di layar ponselnya dengan hati-hati.Saat panggilan itu sudah terhubung, dengan
Nindy meringis melihat Noah terkejut sampai begitu.Apalagi ekspresi wajah Noah tampak tak senang saat mempertanyakan apa yang Nindy katakan.“Aku hanya tanya, kenapa kamu sangat terkejut seperti itu?” Nindy bicara dengan hati-hati.Noah lebih dulu mengusap permukaan bibir dengan tisu. Saat tatapannya kembali tertuju pada Nindy, Noah berkata, “Karena pertanyaanmu bisa membuat orang salah paham.”Bibir Nindy terlipat dalam mendengar ucapan Noah. Dia diam dengan tatapan penuh penyesalan.Nindy menatap Noah yang baru saja meletakkan tisu dengan kasar ke meja. Dia bersalah.“Maaf, aku tidak bermaksud seperti itu.” Nindy meremat jemarinya. “Kamu tanya banyak hal tentang Nandira, jadi aku kepikiran ke sana.” Tatapan Noah tertuju pada Nindy yang diam dengan ekspresi wajah menyesal. Noah mengembuskan napas pelan.Noah mengembuskan napas kasar. “Aku bertanya, bukan karena aku menginginkan seperti yang kamu tanyakan. Tapi aku bertanya, hanya agar kamu mengeluarkan kegelisahan dan semua yang se
Kedua pundak Nindy menegang mendengar pertanyaan Noah.Tatapannya tertuju pada Noah yang menunggu jawabannya.Kedua tangan Nindy memegangi gelas jusnya, tatapannya kini diturunkan, tertuju pada cairan berwarna cerah di dalamnya. “Dulu kami sangat dekat, sering berbagi cerita apa saja walau kami beda kota. Tapi sejak Nandira menikah dengan Edo, dia memang mulai menjaga jarak padahal sekarang tinggal di kota sama. Bukan hanya denganku saja, tapi dengan semua orang yang dia kenal. Terutama dengan laki-laki.”Noah diam mendengarkan. Dia mengerti maksud Nindy. Edo yang memiliki kecemburuan berlebih pasti menekan Nandira agar tidak berinteraksi dengan lawan jenis.“Lalu, kalau Nandira sudah pernah menikah sebelum dengan Edo, di mana mantan suaminya sekarang?” Noah mencoba mencari topik untuk melegakan pikiran Nindy. Dia menyadari kalau Nindy menyimpan banyak beban rahasia yang membuat Nindy terus gelisah.Nindy diam dengan tatapan tertuju pada Noah. Dia ragu untuk menjawab, sampai melipat se
Di rumah sakit.Suasana di dalam kamar rawat inap begitu tenang, hanya terdengar deru halus dari mesin pendingin ruangan. Nindy masih duduk di samping ranjang, tatapannya terus tertuju pada Nandira yang belum juga sadar. Sampai Nindy mendengar suara pintu yang terbuka.Nindy menoleh ke arah pintu. Tatapannya kini tertuju pada Noah yang baru saja masuk ke dalam kamar diikuti oleh dua orang petugas polisi di belakang Noah. Nindy bangkit dari kursinya. Tubuhnya menghadap ke arah Noah saat dia sedikit membungkuk. “Selamat siang, Pak Noah.”Noah mengangguk kecil sebagai balasan. Lalu tatapannya tertuju pada Nandira yang terbaring lemah di atas ranjang.Noah berdiri di dekat ranjang. Napasnya berembus pelan melihat wajah Nandira yang lebam seperti ini. Bayangan seperti apa Edo saat menghajarnya begitu miris dalam ingatan Noah.Tatapan Noah kembali tertuju pada Nindy. “Bagaimana kondisinya sekarang?” Suara Noah pelan dan penuh keprihatinan.Nindy mengembuskan napas pelan, tatapannya tertu







