공유

Hanya Alasan

last update 게시일: 2026-02-23 10:21:47
Kiran duduk di kursi selasar dekat ICU sambil memangku laptop. Jemarinya sibuk menari di atas keyboard, mengetik kata demi kata agar tersusun rapi di laporan yang sedang dibuatnya.

Senyum Kiran mengembang kecil saat laporannya selesai. Tangannya meraih ponsel di samping tempat duduknya, tetapi sebelum jarinya mengetik pesan untuk atasannya, dia sudah lebih dulu menerima pesan dari Elvano.

[Laporan kunjungan kemarin sudah selesai?]

Jempol Kiran dengan cepat mengetik pesan balasan untuk Elvano.

[S
Aililea (din din)

Ekhem, ya gimana, ya. Siapa yang mau titip pesan buat El, silakan drop di komen, nanti tak tempel di dinding keluhan pembaca ElKi, wkwkwkwkw makasih yang sudah baca kisah El dan Kiran (^_^)

| 25
이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요
잠긴 챕터
댓글 (7)
goodnovel comment avatar
Alfiah Ummi Hani
hmmm..bilang aja msh care...
goodnovel comment avatar
DyazRini Janardhani
emang cuma akal²an aja kamu el,,bilang aja mau ketemu sama kiran,,dasar elvano
goodnovel comment avatar
wardah
bisa aja si El triknya ,,, kan jadi mau g mau Kiran Nerima makanan nya dari pada di buang
댓글 더 보기

최신 챕터

  • Dimanja Mantan Posesif   Lebih Aman

    Nindy langsung memeluk kedua orang tuanya bersamaan. Dia benar-benar lega melihat kedua orang tuanya baik-baik saja.Sedang kedua orang tua Nindy, Andy dan Indah, kebingungan karena putri mereka mendadak memeluk seperti ini.“Nindy, ada apa? Baru juga datang langsung memeluk seperti ini?” Indah sampai mengusap-usap lengan Nindy yang memeluk lehernya dengan kencang.“Iya, kayak tadi pagi nggak ketemu saja.” Andy ikut menimpali.Nindy melepas pelukan. Matanya yang merah dan basah kini menatap nanar pada kedua orang tuanya.Saat itu Indah melihat keanehan dari sorot mata putrinya.“Ada apa? Kenapa kamu mau menangis seperti itu? Apa ada yang menyakitimu? Apa di kantor ada masalah?” Indah langsung mencecar.Nindy menggeleng-geleng. Dia tak mampu berkata-kata karena begitu lega melihat kedua orang tuanya baik-baik saja.Sampai tatapan Andy tertuju pada pria berjas rapi yang berdiri tak jauh dari mereka. Pelanggan tidak mungkin berani masuk ke pantry toko.Tatapan Andy kembali tertuju pada N

  • Dimanja Mantan Posesif   Memastikan

    “Nindy, tenangkan dirimu.” Suara Noah sedikit meninggi. Dia sampai mencengkram kedua lengan Nindy agar tidak panik.Nindy terdiam mendengar suara Noah. Matanya yang merah memancar ketakutan yang luar biasa.Noah menarik napas dalam-dalam untuk menenangkan dirinya sendiri. Lalu dia menatap Nindy yang sudah siap menangis, dia mencoba menenangkan.“Mungkin keluargamu kebetulan tidak memegang ponsel. Sekarang kamu tenang dulu, lalu katakan padaku, kira-kira di mana mereka saat ini. Aku akan antar ke sana.” Nada suara Noah pelan dan penuh perhatian.Nindy menarik napas dalam-dalam untuk meredakan kepanikannya agar bisa berpikir dengan tenang.Lalu Nindy menatap pada Noah yang memperhatikannya.“Papa dan Mama harusnya ada di toko kue yang mereka jalankan selama bertahun-tahun ini. Kalau adikku, dia seharusnya di kampus.” Nindy bicara dengan suara tertahan karena tubuhnya masih gemetar.“Oke.” Noah perlahan melepas tangannya dari lengan Nindy.Noah mengeluarkan ponsel dari saku jas bagian da

  • Dimanja Mantan Posesif   Dibuat Panik

    Noah mengerutkan kening melihat perubahan ekspresi di wajah Nindy. “Kenapa tidak dijawab? Siapa yang menghubungimu?” Noah memastikan saat melihat wajah Nindy yang berubah pucat.Nindy menelan ludah dengan susah payah, jemarinya meremas pinggiran ponsel yang masih terus bergetar.“Sepertinya ini nomor Edo.” Suara Nindy pelan, matanya menyorot panik. “Sebelumnya dia mengirim pesan ancaman padaku. Sekarang, dia pasti sedang mengamuk karena Nandira kabur.”Punggung Noah menegak dengan matanya yang menyorot dingin. “Angkat panggilannya. Nyalakan pengeras suara, aku mau dengar apa yang akan dia katakan padamu.” Noah memberi instruksi.Noah menatap pada Nindy yang mengangguk pelan. Dia lalu mengeluarkan ponselnya dari saku jas bagian dalam lagi, kemudian menyalakan alat perekam.Segala ucapan Edo yang mungkin bisa digunakan untuk menjerat Edo lebih dalam, harus disimpan sebagai bukti.Nindy menggeser tombol hijau di layar ponselnya dengan hati-hati.Saat panggilan itu sudah terhubung, dengan

  • Dimanja Mantan Posesif   Kenapa Peduli?

    Nindy meringis melihat Noah terkejut sampai begitu.Apalagi ekspresi wajah Noah tampak tak senang saat mempertanyakan apa yang Nindy katakan.“Aku hanya tanya, kenapa kamu sangat terkejut seperti itu?” Nindy bicara dengan hati-hati.Noah lebih dulu mengusap permukaan bibir dengan tisu. Saat tatapannya kembali tertuju pada Nindy, Noah berkata, “Karena pertanyaanmu bisa membuat orang salah paham.”Bibir Nindy terlipat dalam mendengar ucapan Noah. Dia diam dengan tatapan penuh penyesalan.Nindy menatap Noah yang baru saja meletakkan tisu dengan kasar ke meja. Dia bersalah.“Maaf, aku tidak bermaksud seperti itu.” Nindy meremat jemarinya. “Kamu tanya banyak hal tentang Nandira, jadi aku kepikiran ke sana.” Tatapan Noah tertuju pada Nindy yang diam dengan ekspresi wajah menyesal. Noah mengembuskan napas pelan.Noah mengembuskan napas kasar. “Aku bertanya, bukan karena aku menginginkan seperti yang kamu tanyakan. Tapi aku bertanya, hanya agar kamu mengeluarkan kegelisahan dan semua yang se

  • Dimanja Mantan Posesif   Masih Berharap?

    Kedua pundak Nindy menegang mendengar pertanyaan Noah.Tatapannya tertuju pada Noah yang menunggu jawabannya.Kedua tangan Nindy memegangi gelas jusnya, tatapannya kini diturunkan, tertuju pada cairan berwarna cerah di dalamnya. “Dulu kami sangat dekat, sering berbagi cerita apa saja walau kami beda kota. Tapi sejak Nandira menikah dengan Edo, dia memang mulai menjaga jarak padahal sekarang tinggal di kota sama. Bukan hanya denganku saja, tapi dengan semua orang yang dia kenal. Terutama dengan laki-laki.”Noah diam mendengarkan. Dia mengerti maksud Nindy. Edo yang memiliki kecemburuan berlebih pasti menekan Nandira agar tidak berinteraksi dengan lawan jenis.“Lalu, kalau Nandira sudah pernah menikah sebelum dengan Edo, di mana mantan suaminya sekarang?” Noah mencoba mencari topik untuk melegakan pikiran Nindy. Dia menyadari kalau Nindy menyimpan banyak beban rahasia yang membuat Nindy terus gelisah.Nindy diam dengan tatapan tertuju pada Noah. Dia ragu untuk menjawab, sampai melipat se

  • Dimanja Mantan Posesif   Dimintai Keterangan

    Di rumah sakit.Suasana di dalam kamar rawat inap begitu tenang, hanya terdengar deru halus dari mesin pendingin ruangan. Nindy masih duduk di samping ranjang, tatapannya terus tertuju pada Nandira yang belum juga sadar. Sampai Nindy mendengar suara pintu yang terbuka.Nindy menoleh ke arah pintu. Tatapannya kini tertuju pada Noah yang baru saja masuk ke dalam kamar diikuti oleh dua orang petugas polisi di belakang Noah. Nindy bangkit dari kursinya. Tubuhnya menghadap ke arah Noah saat dia sedikit membungkuk. “Selamat siang, Pak Noah.”Noah mengangguk kecil sebagai balasan. Lalu tatapannya tertuju pada Nandira yang terbaring lemah di atas ranjang.Noah berdiri di dekat ranjang. Napasnya berembus pelan melihat wajah Nandira yang lebam seperti ini. Bayangan seperti apa Edo saat menghajarnya begitu miris dalam ingatan Noah.Tatapan Noah kembali tertuju pada Nindy. “Bagaimana kondisinya sekarang?” Suara Noah pelan dan penuh keprihatinan.Nindy mengembuskan napas pelan, tatapannya tertu

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status