Share

Hanya Alasan

last update publish date: 2026-02-23 10:21:47
Kiran duduk di kursi selasar dekat ICU sambil memangku laptop. Jemarinya sibuk menari di atas keyboard, mengetik kata demi kata agar tersusun rapi di laporan yang sedang dibuatnya.

Senyum Kiran mengembang kecil saat laporannya selesai. Tangannya meraih ponsel di samping tempat duduknya, tetapi sebelum jarinya mengetik pesan untuk atasannya, dia sudah lebih dulu menerima pesan dari Elvano.

[Laporan kunjungan kemarin sudah selesai?]

Jempol Kiran dengan cepat mengetik pesan balasan untuk Elvano.

[S
Aililea (din din)

Ekhem, ya gimana, ya. Siapa yang mau titip pesan buat El, silakan drop di komen, nanti tak tempel di dinding keluhan pembaca ElKi, wkwkwkwkw makasih yang sudah baca kisah El dan Kiran (^_^)

| 22
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (7)
goodnovel comment avatar
Alfiah Ummi Hani
hmmm..bilang aja msh care...
goodnovel comment avatar
DyazRini Janardhani
emang cuma akal²an aja kamu el,,bilang aja mau ketemu sama kiran,,dasar elvano
goodnovel comment avatar
wardah
bisa aja si El triknya ,,, kan jadi mau g mau Kiran Nerima makanan nya dari pada di buang
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Dimanja Mantan Posesif   Akal-akalan Yessica

    Malam berikutnya. Kiran, Noah, dan Surya duduk di ruang tunggu bandara. Mereka segera pergi ke bandara begitu Kiran pulang dari RDJ. Saat menunggu panggilan untuk masuk ke pesawat, tatapan Noah tertuju ke cincin di jari manis kiri Kiran. “Cincin baru?” Pertanyaan Noah mengalihkan tatapan Kiran pada Noah, sebelum dia menurunkan pandangan ke jari manisnya. “Pemberian El.” Tidak ada yang Kiran tutupi. “Di jari manis?” Kening Noah berkerut dalam. Kiran kembali mengamati cincin di jarinya. “Ada yang salah?” Noah ingin bicara, tetapi sekuat tenaga dia tahan. Mempertimbangkan apakah ucapannya akan menyinggung Kiran. “Memang dipakaikan di jari manis. El akan melamarku segera.” Kiran jujur pada Noah. Lagi pula, cepat atau lambat rencana mereka akan diketahui semua orang. “Melamar?” Noah terkejut dan menatap tak percaya. “Ada yang salah?” Kiran menatap aneh melihat reaksi Noah. “Usiaku sudah dua puluh sembilan tahun, bukankah wajar kalau El ingin melamarku?” “Ini ….” Tatapan Noah me

  • Dimanja Mantan Posesif   Harus Datang

    Kiran keluar dari dalam lift yang baru saja terbuka di lantai ruang kerja Elvano yang baru.Tangan kanannya menenteng paper bag yang sudah dia siapkan dari rumah.Kaki Kiran berhenti melangkah di depan pintu ruang kerja Elvano.Dia mengetuk lebih dulu, sebelum masuk ke dalam ruangan.“Kamu sudah datang.”Tatapan Kiran tertuju pada Elvano yang melangkah cepat menghampirinya.Dari sudut pandangannya, Kiran bisa melihat aura yang berbeda dari Elvano.Kekasihnya ini sekarang lebih dewasa dan tampak berwibawa.“Kebetulan aku juga mau ke sini menemuimu, ternyata kamu mengirim pesan dulu untuk memintaku datang.” Kiran menghentikan langkah saat berhadapan dengan Elvano.“Benarkah?” Senyum Elvano begitu lebar.Sampai tatapannya tertuju ke paper bag yang Kiran angkat di hadapannya.“Apa ini?” tanya Elvano.“Hadiah.” Kiran menyerahkan paper bag ke tangan Elvano. “Bukankah kemarin aku sudah bilang, aku akan memberimu hadiah lain untuk kenaikan pangkatmu.”Elvano tak sabar. Dia menerima paper bag

  • Dimanja Mantan Posesif   Tawaran Posisi

    Alina beberapa saat menahan napas mendengar apa yang Elvano katakan. Apalagi putranya sudah menatap penuh curigaSebelum akhirnya Alina buru-buru mengembangkan senyum lalu menggeleng pelan. “Tidak kenapa-napa. Wajar kalau kami terkejut. Kami kira, Kiran akan tetap di sini bersama ayahnya.” Alina akhirnya membuka suara. Menepis dugaan Elvano kepadanya dan sang suami.“Kalian sekarang ragu pada Kiran karena informasi ini?” Elvano memastikan. Dia tak senang.“Kiran memang menerima keluarganya. Tapi dia pergi hanya untuk acara penyambutan saja, dia akan tetap di sini bersama ayahnya.” Elvano memperjelas. “Mungkin statusnya berubah, tapi di mana dia akan tinggal dan hidup, itu tidak akan pernah berubah.”Alina dan Aksa diam.“Aku tahu, Papa dan Mama tidak akan mempermasalahkan asal-usul Kiran, karena itu aku harap kalian jangan pernah berubah sikap terhadapnya, hanya karena dia sekarang menjadi bagian dari keluarga Bimantara.” Nada bicara Elvano tegas tak terbantah.Alina terkejut melihat

  • Dimanja Mantan Posesif   Dapat Juga

    Kiran berdiri di depan etalase. Matanya menyapu ke gulungan dasi yang terpajang di sana.“Ada yang bisa saya bantu, Nona?”Tatapan Kiran tertuju pada pelayan toko, kepalanya mengangguk, tetapi Kiran belum menentukan pilihan.Dia menoleh pada Noah yang sudah berdiri di sampingnya.“Noah, menurutmu bagus yang mana?” Kiran menatap penuh harap Noah mau membantunya memilih.Noah memandang ke etalase, telunjuknya mengarah ke dasi berwarna navy.“Itu lebih cocok untuk pacarmu itu.” Noah menoleh lagi pada Kiran setelah memberi balasan.Senyum Kiran terangkat lebar. Dia meminta pelayan untuk membungkus dasi yang dipilih Noah.Kiran menoleh pada Noah yang sudah menjauh darinya.Dia menatap sang kakak yang sedang melihat manset bedah.Kiran mendekat, tatapannya tertuju ke etalase. Dia melihat-lihat manset bedah untuk Elvano.Kali ini Kiran tidak meminta saran Noah. Dia memilih manset bedah sesuai dengan yang dia inginkan.Saat menoleh pada Noah, Kiran melihat sang kakak sedang menatap ke tie cli

  • Dimanja Mantan Posesif   Yang Penting Senang

    Sore hari.Kiran melangkah keluar dari lift yang baru saja terbuka di lobby.Dia berjalan sambil bermain ponsel, berbalas pesan dengan Elvano yang masih belum bisa pulang bersamanya.Ketika baru saja menginjakkan kaki di depan lobby, Kiran melihat panggilan masuk dari Noah.Dia menggeser tombol jawab sebelum menyentuhkan ponsel ke telinga.“Halo, ada apa?” Kiran bicara sambil mengayunkan langkah pelan.“Kamu sudah pulang, ‘kan?” “Hm … tidak perlu menjemput. Aku akan pulang naik bus. Aku juga mau mampir membeli sesuatu dulu.” Kiran berjalan sambil sesekali mengangguk ke staff yang menyapanya.“Aku sudah ada di dekat pintu keluar. Kamu mau ke mana, aku antar.”Mata Kiran membola lebar.Pandangannya langsung tertuju ke arah pintu keluar area perusahaan.Kiran mengakhiri panggilan dengan cepat.Kakinya terayun cepat menuju pintu keluar.Sesampainya di sana, Kiran menatap tak percaya Noah benar-benar menunggunya.Kiran menoleh ke kanan dan kiri sebelum menarik tangan Noah untuk segera masu

  • Dimanja Mantan Posesif   Tidak Sesuai Dugaan

    Kening Elvano berkerut dalam.Dia melepas pelukannya.Elvano memegang kedua lengan Kiran, tatapannya tak teralihkan dari wajah sang kekasih.Bola mata Kiran terlihat berkaca-kaca.“Kenapa kamu berpikir jika aku sedih?” Elvano menatap ke dalam bola mata Kiran.Elvano bisa melihat kesedihan di balik senyum yang Kiran pajang.Kiran tenang, dia tak ingin Elvano semakin bersedih.Jemari Kiran meraih dasi Elvano.Dia merapikan ikatannya, sambil berucap, “Sikapmu ini cukup memberitahu bagaimana perasaanmu sekarang.”Tatapan Kiran kembali tertuju ke wajah Elvano. “Tidak apa-apa, kamu sudah bekerja keras.”Bibir Elvano dilipat ke dalam. Dia sedikit menurunkan pandangan dari Kiran, senyumnya dia kulum rapat.Ketika kembali menatap Kiran, Elvano menunjukkan senyumnya yang manis.“Jadi, kamu mengira aku bersedih?”Kiran mengangguk-angguk pelan. “Jika tidak, lalu apa?”Elvano mengembuskan napas panjang. “Ya, tidak bisa dibilang itu juga.”Satu sudut alis Kiran tertarik ke atas. Dia menatap bingung

  • Dimanja Mantan Posesif   Mematahkan Tuduhan

    Suara tegas Elvano menarik semua mata tertuju padanya. Auranya mampu membekukan seluruh ruangan, mengubah atmosphere yang panas menjadi sedingin kutub.Kiran bergeming dengan tatapan tertuju pada Elvano yang sedang melangkah ke arahnya.Pria itu muncul tak terduga. Seolah selalu ada untuknya, sama

    last updateLast Updated : 2026-03-19
  • Dimanja Mantan Posesif   Kebencian Dania

    Wajah Dania memucat, dia meneguk ludah kasar melihat sorot mata Elvano yang begitu tajam. “Bu-bukan begitu maksud saya, Pak.” Kepala Dania menggeleng pelan. Lagi-lagi ludah meluncur susah payah saat melewati kerongkongannya. Sorot mata Elvano yang begitu dingin, membuat kepala Dania tertunduk. Ta

    last updateLast Updated : 2026-03-19
  • Dimanja Mantan Posesif   Kalung Berharga

    Cengkraman jemari Widya semakin menguat di lengan Kiran. Bahkan otot-otot leher Widya tertarik sampai menyembul di bawah kulit. “Kamu berani membantah! Kamu pikir, nyawa ayahmu tidak lebih berharga dari kalungmu itu?” Mata Widya menajam, dia melepas lengan Kiran sambil mendorong kuat tubuh Kiran.

    last updateLast Updated : 2026-03-19
  • Dimanja Mantan Posesif   Lembur Lagi

    Sore hari. Kiran baru saja selesai merapikan berkas di meja, ketika ponsel di atas meja berdering. Matanya melirik pada layar ponsel. Pesan dari Widya terpampang di layar. [Pulang lebih awal dan jaga ayahmu, jangan banyak alasan!] Napas dari mulut Kiran berembus pelan. Jempolnya segera bergerak

    last updateLast Updated : 2026-03-19
More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status