Mag-log inKalau jadi Dania, malu nggak sih. Dih, pakai nggak ingat perusahaan gede ada CCTV, wkwkwkwkwk silakan, dipersilakan yang mau kesal, bisa drop di kolom komentar, wkwkwkwkw
Elvano dan Kiran ikut ke mobil Fania. Sepanjang jalan Elvano menghafal jalan yang mereka lewati untuk antisipasi walau percaya dengan ikut Fania. Setelah beberapa saat. Mereka tiba di rumah mewah Fania. Mobil berhenti di dekat teras rumah. “Aku senang kalian mau mampir. Rumah ini biasanya sepi karena semua anakku sudah memiliki rumah sendiri di luar sana. Dengan kedatangan kalian, rasanya akan ramai.” Setelah bicara, Fania keluar dari mobil. Kiran menatap pada Elvano yang duduk di depan sedang menoleh ke arahnya. Melihat Elvano mengangguk. Kiran lantas keluar dari dalam mobil. “Ayo masuk, jangan sungkan.” Fania mempersilakan. Elvano menggandeng tangan Kiran. Keduanya melangkah mengikuti Fania. “Calissa, apa kamu mau ganti baju? Ada pakaian milik putri Bibi yang disimpan di rumah ini.” Fania berbalik menghadap Kiran. “Panggil aku dengan nama Kiran saja, Nyonya. Aku kurang familiar jika dipanggil dengan nama Calissa.” Kiran bicara dengan sangat sopan. Fania tertawa kecil. “Ba
Pesta tetap berlanjut.Sania dan Adrian duduk di meja yang tersedia.“Tidak kusangka, Calissa yang dulu manis dan patuh, sekarang begitu liar. Bahkan dia tidak mendengarkan apa yang ibunya katakan.” Sania menghela napas kecewa karena ekspektasinya terhadap Calissa tak sesuai realita.“Kiran tidak liar. Dia hanya terbiasa hidup keras.” Adrian langsung meluruskan.“Tapi tidak seharusnya dia bersikap seperti itu.” Sania langsung menyanggah.“Mama juga tidak seharusnya membahas soal pernikahan. Apalagi, Kiran baru saja kembali.” Nada bicara Adrian pelan tetapi tegas.Sania mendengkus. Dia menatap sang putra yang seolah terima begitu saja Calissa dibawa pria lain.“Harusnya tadi kamu menghalangi. Calissa itu calon istrimu, saat kecil kalian sudah dijodohkan bahkan bertunangan.” Sania bicara penuh penekanan.“Tapi dia bukan Calissa, dia Kiran.” Adrian meninggikan suaranya, walau setelahnya dia bicara dengan nada biasa. “Aku sudah tahu kalau Kiran memang memiliki kekasih. Dan pria itu tadi b
Kiran tersentak mendengar ucapan Sania.Apa maksud perkataan wanita ini?Kembalinya Kiran? Pernikahan? Kiran mengelak untuk mengerti.Kiran menoleh pada Elvano, dia melihat tatapan lurus dan datar dari kekasihnya ini.Apalagi jemari Elvano mempererat genggaman tangan mereka, sampai Kiran kebas.Tidak bisa, bukan ini yang Kiran harapkan dari pesta ini.Kiran menatap kembali pada Sania dan Kamila yang berdiri memunggungi mereka. Saat melihat Kamila baru saja akan membuka suara, Kiran lebih dulu bicara.“Apa yang sedang kalian bicarakan?” Suara Kiran tegas dan lantang.Sania dan Kamila terkejut, mereka menoleh bersamaan.“Kiran.” Wajah Kamila berubah pucat saat membalikkan tubuh menghadap ke arah Kiran. Dia melihat jelas sorot kekesalan dari mata Kiran.Sania melihat genggaman tangan Kiran dan pria di sampingnya. Dia tersenyum saat bertanya, “Ini siapa, Calissa?”Tatapan Kiran tertuju pada Sania. Kini, Kiran menautkan jemari mereka.“Elvano Radjasa, calon suamiku.” Dengan tegas penuh kesa
Kiran masih bergeming sambil menatap tak percaya. “Kiran.”“Adrian.”Kamila dan Sania terkejut bersamaan mendengar anak mereka memanggil nama satu sama lain.“Kiran, kamu ingat Adrian?” Kamila menatap penasaran pada Kiran.“Adrian, kamu ternyata sudah tahu ini Calissa?” Sania menatap heran karena putranya memanggil Calissa dengan nama Kiran.Kiran dan Adrian sama-sama terkejut. Mereka menatap orang tua mereka masing-masing.“Adrian atasanku di perusahaan lama. Dulu aku pernah bekerja di kota ini, di perusahaan Altamira.” Kiran menjelaskan.Kamila terperangah. Dia menatap pada Sania dengan rasa tak percaya.Begitu juga dengan Sania yang juga bingung.“Apa benar, Adrian?” Sania kini menatap putranya menuntut penjelasan.“Iya.” Adrian mengangguk. “Waktu aku masih menjabat sebagai manager.”Kiran kini yang terkejut mendengar penjelasan Adrian yang langsung bisa dia pahami.Dua orang tua yang tadinya terkejut, kini malah tertawa.“Kalau jodoh memang tidak ke mana, ya? Walau Calissa hilang
Yessica tersentak.Wajahnya seketika memucat.Tangan di samping tubuhnya mengepal erat. Yessica tetap tenang, dia tersenyum untuk menghindari kecurigaan Noah.“Bagaimana bisa Kakak menuduhku ingin mencelakai Kiran?” Yessica bersikap seolah keberatan dengan tuduhan yang dilayangkan padanya. “Aku tadi sudah menjelaskan, kalau ada debu di pakaian Kiran. Tahu akan dituduh seperti ini, lebih baik aku membiarkannya.”Yessica memasang wajah sedih setelah menjelaskan.Noah mengembuskan napas pelan. “Kuharap memang seperti itu.” “Kak, bagaimana bisa kamu mencurigaiku seperti itu?” Yessica merengek. Bagaimanapun caranya dia harus meyakinkan Noah jika dia tak seperti yang Noah pikirkan. “Setelah kehilangan Calissa. Kamu yang paling dekat denganku dan mengenal sifatku dengan baik. Bagaimana bisa kamu mengira aku ingin mencelakai Kiran?”Di balik sandiwaranya, Yessica memasang wajah sendu penuh keputusasaan.Noah menatap Yessica yang seperti menangis. “Aku memang tahu sifatmu, dan aku harap tida
Seringai berhias di bibir Yessica. Dia sedikit memperlambat langkahnya, membiarkan Kiran berada di depannya.Tangannya sudah siap untuk menyentuh punggung Kiran.“Kalian baru turun.”Suara dari belakang mengejutkan Yessica.Yessica menoleh ke belakang, dia tersentak melihat Noah berdiri di tangga atas.Begitu juga dengan Kiran yang berhenti melangkah. Saat menoleh, Kiran menyadari tangan Yessica masih di udara, menghadap ke arahnya.“Apa yang kamu lakukan?” Kiran menatap pada Yessica.Yessica kembali terkejut. Tatapannya tertuju pada Kiran. Dan dia baru menyadari tangannya masih menggantung di udara.Yessica menatap Kiran dan Noah bergantian, sampai dia buru-buru menepuk punggung Kiran.“Aku tadi melihat ada debu di pakaianmu, jadi berniat membersihkannya.”Kening Kiran berkerut dalam.Yessica segera menjauhkan tangan dari punggung Kiran setelah selesai menepuk. Dia memaksakan senyum di wajahnya.“Sudah bersih sekarang.” Yessica masih menunjukkan senyumnya.Noah melangkah turun mengha
Wajah Kiran memucat melihat kepanikan sang ayah. Jangan sampai ayahnya syok dan sakit lagi kalau tahu dia menggadaikan kalung itu demi biaya operasi ayahnya.“Tidak, Yah. Tidak aku jual, kok. Tapi, memang tidak aku pakai karena takut hilang karena kalung itu sangat berharga.” Senyum Kiran begitu kak
Sore hari. Kiran melangkah meninggalkan RDJ menuju halte bus terdekat, sampai langkahnya terhenti ketika melihat siapa yang menghadang jalannya. “Kenapa Kak Yoga di sini?” Kiran menatap waspada karena kemunculan Yoga. Tangan Yoga terulur cepat mencengkram kuat lengan Kiran. “Kemarin kamu tidak me
Operasi ayah Kiran berjalan dengan lancar, meskipun Surya belum sadar setelah operasi yang dijalaninya, tetapi Kiran akhirnya bisa sedikit lega.Hari selanjutnya.Kiran berangkat ke perusahaan seperti biasa sesuai janjinya pada Elvano sebelumnya karena sudah diberi cuti.Kiran datang lebih awal. Kak
Malam hari.Elvano tiba di rumah saat pukul delapan malam. Kakinya melangkah menuju tangga, ketika telinganya mendengar suara sang kakak ipar di ruang keluarga.Berbalik arah ke arah suara kakak dan kakak iparnya berada, Elvano menemukan keduanya sedang bicara di ruang keluarga.“Kalian di sini? Le







