مشاركة

Bukan Miliknya

last update تاريخ النشر: 2026-02-25 13:07:08
Wajah Kiran memucat melihat kepanikan sang ayah. Jangan sampai ayahnya syok dan sakit lagi kalau tahu dia menggadaikan kalung itu demi biaya operasi ayahnya.

“Tidak, Yah. Tidak aku jual, kok. Tapi, memang tidak aku pakai karena takut hilang karena kalung itu sangat berharga.” Senyum Kiran begitu kaku. Dia menjelaskan dengan apa yang melintas di kepalanya saat ini di tengah kepanikannya.

Wajah tegang Surya perlahan memudar. Napas pelan meluncur dari bibirnya. “Ingat, Kiran. Kamu jangan pernah men
استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق
الفصل مغلق
تعليقات (15)
goodnovel comment avatar
DyazRini Janardhani
dania,,kamu belum tau ya,,kalo elvano bucin sama kiran,,
goodnovel comment avatar
Enisensi klara
Knapa gak ngaku aja sih El kalo itu sepatu kamu beli utk Kiran . Dan Dania selalu aja iri dengki dasar Kunti
goodnovel comment avatar
Enisensi klara
Ternyata sepatu yg diberikan El ..bukan sepatu Ayudhia ,tapi sepatu yg sengaja El beli utk Kiran ...ciiieeh ..El perhatian sama mantan wkwkwk
عرض جميع التعليقات

أحدث فصل

  • Dimanja Mantan Posesif   Rumah Tahanan

    Setelah turun dari pesawat.Mereka dijemput Farhan menggunakan dua mobil.“Tidak ada yang tahu kalau aku kembali, ‘kan?” Noah memastikan. Dia ingin kepergiannya ke rumah tahanan bersama Kiran berjalan lancar.Farhan mengangguk. “Anda tenang saja, Pak.”Noah menoleh ke Kiran dan Elvano setelah selesai bicara.“Kiran, kamu semobil denganku,” kata Noah.Kiran menoleh pada Elvano, kekasihnya sudah memasang wajah tak senang.“Aku akan semobil dengan El.” Telunjuk Kiran terarah pada Elvano.Noah kini yang kesal karena tak dipilih oleh Kiran, akhirnya dia mengajak Sabrina dan Wina masuk ke dalam mobil.Mereka langsung menuju ke rumah tahanan tempat ayah Sabrina berada.Tak membutuhkan waktu lama, sampai akhirnya mereka tiba.Theo yang mengurus izin agar mereka semua bisa masuk menemui ayah Sabrina secara bersamaan, setelahnya mereka menunggu di ruang tunggu khusus.“Seharusnya kita tidak diperbolehkan masuk bersama-sama, untung saja Theo punya koneksi.” Elvano menoleh pada Kiran yang duduk di

  • Dimanja Mantan Posesif   Sombong ke Noah

    Hari berikutnya.Kiran berdiri di depan teras, tatapannya tertuju pada Elvano yang baru saja turun dari dalam mobil.Senyum Kiran dilempar ke arah sang kekasih yang sudah menatapnya, sampai tatapan Kiran tertuju ke arah lain.Dari pintu satunya, Kiran melihat seorang pria yang turun dan berjalan di belakang Elvano.Kiran menyipitkan mata, sepertinya dia pernah melihat pria ini, tetapi di mana?Elvano berhenti di hadapan Kiran. “Kalian sudah siap?” Kiran mengangguk pelan, sampai tatapannya tertuju pada pria yang ada di belakang Elvano.“Dia ….” Kiran tak berani menunjuk ke pria yang dimaksud. Hanya tatapannya yang mengarah ke pria matang di belakang Elvano.Elvano menoleh pada Theo–sahabat kakaknya.“Theo, kamu lupa dengannya? Dia yang pernah membantuku waktu mengejar pelaku yang menculikmu.” Elvano segera menjelaskan.Kiran melipat bibir dengan ekspresi sungkan.“Senang melihatmu lagi.” Theo menyapa Kiran lebih dulu.Kiran membungkuk ke arah Theo, pria yang berusia enam tahun lebih t

  • Dimanja Mantan Posesif   Izin Dari Elvano

    Kiran menoleh cepat ke arah Elvano.Keningnya berkerut dalam.Tatapan Kiran ragu, bahkan senyum yang terangkat di bibirnya menyiratkan rasa tidak percaya.“Itu hanya mimpi, bagaimana bisa dibilang ingatan masa kecilku?” Kiran bicara agak lirih seolah ragu.“Sebelumnya, kamu juga bilang itu mimpi. Saat dikonfirmasi ke Noah, yang ada di mimpimu, sama seperti saat kejadian waktu kamu kecil.” Elvano meyakinkan. “Bisa saja, itu memang potongan kejadian masa kecilmu, Ki.”Kiran terdiam. Matanya menyorot ragu.Kiran tidak ingin terlalu berpikir ke sana, takutnya itu hanya halusinasinya karena sangat ingin tahu masa lalunya yang hilang.Kiran tidak mau salah dalam berpikir dan bertindak, yang bisa merugikan dirinya sendiri juga orang lain.“Oh ya, aku dan Noah berencana menemui orang yang menculikku waktu kecil. Aku harap, kamu bisa ikut.” Kiran mengabaikan mimpinya dan membahas apa yang dia rencanakan semalam dengan Noah.Elvano terkejut sampai menoleh cepat ke arah Kiran.“Untuk apa?” Kening

  • Dimanja Mantan Posesif   Ada Yang Mengganjal

    Malam semakin larut.Kiran duduk di teras, hanya diam memandangnya kegelapan yang menyelimuti malam ini.“Sudah malam, sebaiknya kamu segera tidur.”Kiran menoleh pelan pada Noah yang baru saja bicara.Mereka sejak tadi hanya duduk diam di sana, setelah kepergian Sabrina dan Wina.Napas Kiran dihela kasar, seperti ada beban di dada yang sangat ingin dia lepas.“Aku belum bisa tidur,” kata Kiran, “perlahan, masalah tentang penculikanku kembali terkuak. Anehnya, kenapa baru sekarang?”Kening Noah berkerut dalam. Dia mencoba menelaah maksud ucapan Kiran.“Maksudmu, bagian mananya yang kamu maksud dengan ‘baru sekarang’?” Noah memastikan.“Ayah Sabrina.” Tatapan Kiran tak goyah penuh keseriusan tertuju pada Noah. “Kenapa baru sekarang dia mau mengungkap kebenarannya? Kenapa tidak sejak dulu? Kenapa tidak sejak saat dia akan dijatuhi hukuman? Jika dia jujur sejak awal, apa yang terjadi sekarang, tidak akan pernah terjadi, bukan?” “Jika ayah Sabrina mengungkap dalangnya sejak awal, mungkin

  • Dimanja Mantan Posesif   Akan Mencari Tahu

    Noah terus membaca surat dari ayah Sabrina berulang kali.Semua berisi pengakuan, tetapi tak ada satu pun petunjuk di mana Martha dan tujuan Martha sebenarnya.Keluarga Bimantara tidak memiliki dendam dengan wanita ini, untuk apa Martha mengincar Calissa.“Apa kamu benar-benar yakin ayahmu tidak pernah mengatakan alasan Martha merencanakan ini semua?” Noah bicara dengan tegas untuk melepas rasa penasarannya.Sabrina sudah agak tenang setelah Kiran memeluknya. Sabrina dan Kiran kini ikut menatap pada Wina.Wina menggeleng.“Sepertinya Ayah sengaja tidak menulis atau memberitahu meski tahu. Mungkinkah Ayah sebenarnya ingin bertemu langsung dan bicara dengan salah satu keluarga Bimantara?” Wina mengungkap pemikirannya.Kiran diam mendengar ucapan Wina, ketika menatap pada sang kakak, Kiran lantas berkata, “Bisa saja, Noah. Mungkin dia takut surat ini tak sampai ke keluarga Bimantara, jadi untuk mengantisipasi, dia tak mengatakan hal lainnya.”Noah mengembuskan napas kasar.“Jika memang b

  • Dimanja Mantan Posesif   Masih Jadi Misteri

    Wajah Kiran sudah basah.Kiran ikut tak bisa menghentikan tangis karena mendengar suara isakkan Sabrina.“Sab, katakan ada apa? Jangan menangis terus menerus seperti ini. Kamu membuatku benar-benar sedih, Sab.”Kiran benar-benar bingung dengan apa yang membuat Sabrina sampai menangis seperti ini.Sabrina sesengguka. Dia bangkit dari pelukan Kiran masih dengan kepala tertunduk.Bahkan Sabrina tak berani membalas pelukan Kiran karena rasa bersalah.Kiran mengusap air matanya sendiri, sebelum dia menatap Sabrina yang terus menunduk.“Ceritakan padaku, ada masalah apa sebenarnya sampai kamu seperti ini?” Kiran berta

  • Dimanja Mantan Posesif   Coba Saja Dulu

    Saat jam makan siang. Dania masuk ke ruang kerja pamannya. Langkah pelannya terarah pasti menuju meja sang paman. “Paman, bagaimana hasil rapatnya tadi?” Dania langsung mengambil posisi duduk setelah bertanya. Malik menatap pada Dania, napasnya berembus pelan sebelum dia menjawab, “Elvano melindu

    last updateآخر تحديث : 2026-03-22
  • Dimanja Mantan Posesif   Sakit

    Hari berikutnya. Kiran berada di ruangan Elvano. Merapikan meja seperti biasanya sebelum sang atasan datang. Namun, ada yang berbeda hari ini dari Kiran. Wajahnya sedikit pucat, hidungnya juga memerah. Beberapa kali telunjuk Kiran menggosok pangkal hidungnya. Ketika baru saja selesai merapikan tu

    last updateآخر تحديث : 2026-03-20
  • Dimanja Mantan Posesif   Kebencian Dania

    Wajah Dania memucat, dia meneguk ludah kasar melihat sorot mata Elvano yang begitu tajam. “Bu-bukan begitu maksud saya, Pak.” Kepala Dania menggeleng pelan. Lagi-lagi ludah meluncur susah payah saat melewati kerongkongannya. Sorot mata Elvano yang begitu dingin, membuat kepala Dania tertunduk. Ta

    last updateآخر تحديث : 2026-03-19
  • Dimanja Mantan Posesif   Terlalu Ikut Campur

    Jemari Kiran menarik nota yang tertempel di luar plastik. Namanya dan divisi tempatnya berada, tertera di sana. “Mungkinkah Sabrina yang kirim?” Tadi, saat menghubunginya, suara Sabrina panik karena mencemaskan dirinya. Ah, benar. Pasti dari Sabrina. Kiran menatap serius ke layar ponsel kala me

    last updateآخر تحديث : 2026-03-20
فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status