تسجيل الدخولSetelah turun dari pesawat.Mereka dijemput Farhan menggunakan dua mobil.“Tidak ada yang tahu kalau aku kembali, ‘kan?” Noah memastikan. Dia ingin kepergiannya ke rumah tahanan bersama Kiran berjalan lancar.Farhan mengangguk. “Anda tenang saja, Pak.”Noah menoleh ke Kiran dan Elvano setelah selesai bicara.“Kiran, kamu semobil denganku,” kata Noah.Kiran menoleh pada Elvano, kekasihnya sudah memasang wajah tak senang.“Aku akan semobil dengan El.” Telunjuk Kiran terarah pada Elvano.Noah kini yang kesal karena tak dipilih oleh Kiran, akhirnya dia mengajak Sabrina dan Wina masuk ke dalam mobil.Mereka langsung menuju ke rumah tahanan tempat ayah Sabrina berada.Tak membutuhkan waktu lama, sampai akhirnya mereka tiba.Theo yang mengurus izin agar mereka semua bisa masuk menemui ayah Sabrina secara bersamaan, setelahnya mereka menunggu di ruang tunggu khusus.“Seharusnya kita tidak diperbolehkan masuk bersama-sama, untung saja Theo punya koneksi.” Elvano menoleh pada Kiran yang duduk di
Hari berikutnya.Kiran berdiri di depan teras, tatapannya tertuju pada Elvano yang baru saja turun dari dalam mobil.Senyum Kiran dilempar ke arah sang kekasih yang sudah menatapnya, sampai tatapan Kiran tertuju ke arah lain.Dari pintu satunya, Kiran melihat seorang pria yang turun dan berjalan di belakang Elvano.Kiran menyipitkan mata, sepertinya dia pernah melihat pria ini, tetapi di mana?Elvano berhenti di hadapan Kiran. “Kalian sudah siap?” Kiran mengangguk pelan, sampai tatapannya tertuju pada pria yang ada di belakang Elvano.“Dia ….” Kiran tak berani menunjuk ke pria yang dimaksud. Hanya tatapannya yang mengarah ke pria matang di belakang Elvano.Elvano menoleh pada Theo–sahabat kakaknya.“Theo, kamu lupa dengannya? Dia yang pernah membantuku waktu mengejar pelaku yang menculikmu.” Elvano segera menjelaskan.Kiran melipat bibir dengan ekspresi sungkan.“Senang melihatmu lagi.” Theo menyapa Kiran lebih dulu.Kiran membungkuk ke arah Theo, pria yang berusia enam tahun lebih t
Kiran menoleh cepat ke arah Elvano.Keningnya berkerut dalam.Tatapan Kiran ragu, bahkan senyum yang terangkat di bibirnya menyiratkan rasa tidak percaya.“Itu hanya mimpi, bagaimana bisa dibilang ingatan masa kecilku?” Kiran bicara agak lirih seolah ragu.“Sebelumnya, kamu juga bilang itu mimpi. Saat dikonfirmasi ke Noah, yang ada di mimpimu, sama seperti saat kejadian waktu kamu kecil.” Elvano meyakinkan. “Bisa saja, itu memang potongan kejadian masa kecilmu, Ki.”Kiran terdiam. Matanya menyorot ragu.Kiran tidak ingin terlalu berpikir ke sana, takutnya itu hanya halusinasinya karena sangat ingin tahu masa lalunya yang hilang.Kiran tidak mau salah dalam berpikir dan bertindak, yang bisa merugikan dirinya sendiri juga orang lain.“Oh ya, aku dan Noah berencana menemui orang yang menculikku waktu kecil. Aku harap, kamu bisa ikut.” Kiran mengabaikan mimpinya dan membahas apa yang dia rencanakan semalam dengan Noah.Elvano terkejut sampai menoleh cepat ke arah Kiran.“Untuk apa?” Kening
Malam semakin larut.Kiran duduk di teras, hanya diam memandangnya kegelapan yang menyelimuti malam ini.“Sudah malam, sebaiknya kamu segera tidur.”Kiran menoleh pelan pada Noah yang baru saja bicara.Mereka sejak tadi hanya duduk diam di sana, setelah kepergian Sabrina dan Wina.Napas Kiran dihela kasar, seperti ada beban di dada yang sangat ingin dia lepas.“Aku belum bisa tidur,” kata Kiran, “perlahan, masalah tentang penculikanku kembali terkuak. Anehnya, kenapa baru sekarang?”Kening Noah berkerut dalam. Dia mencoba menelaah maksud ucapan Kiran.“Maksudmu, bagian mananya yang kamu maksud dengan ‘baru sekarang’?” Noah memastikan.“Ayah Sabrina.” Tatapan Kiran tak goyah penuh keseriusan tertuju pada Noah. “Kenapa baru sekarang dia mau mengungkap kebenarannya? Kenapa tidak sejak dulu? Kenapa tidak sejak saat dia akan dijatuhi hukuman? Jika dia jujur sejak awal, apa yang terjadi sekarang, tidak akan pernah terjadi, bukan?” “Jika ayah Sabrina mengungkap dalangnya sejak awal, mungkin
Noah terus membaca surat dari ayah Sabrina berulang kali.Semua berisi pengakuan, tetapi tak ada satu pun petunjuk di mana Martha dan tujuan Martha sebenarnya.Keluarga Bimantara tidak memiliki dendam dengan wanita ini, untuk apa Martha mengincar Calissa.“Apa kamu benar-benar yakin ayahmu tidak pernah mengatakan alasan Martha merencanakan ini semua?” Noah bicara dengan tegas untuk melepas rasa penasarannya.Sabrina sudah agak tenang setelah Kiran memeluknya. Sabrina dan Kiran kini ikut menatap pada Wina.Wina menggeleng.“Sepertinya Ayah sengaja tidak menulis atau memberitahu meski tahu. Mungkinkah Ayah sebenarnya ingin bertemu langsung dan bicara dengan salah satu keluarga Bimantara?” Wina mengungkap pemikirannya.Kiran diam mendengar ucapan Wina, ketika menatap pada sang kakak, Kiran lantas berkata, “Bisa saja, Noah. Mungkin dia takut surat ini tak sampai ke keluarga Bimantara, jadi untuk mengantisipasi, dia tak mengatakan hal lainnya.”Noah mengembuskan napas kasar.“Jika memang b
Wajah Kiran sudah basah.Kiran ikut tak bisa menghentikan tangis karena mendengar suara isakkan Sabrina.“Sab, katakan ada apa? Jangan menangis terus menerus seperti ini. Kamu membuatku benar-benar sedih, Sab.”Kiran benar-benar bingung dengan apa yang membuat Sabrina sampai menangis seperti ini.Sabrina sesengguka. Dia bangkit dari pelukan Kiran masih dengan kepala tertunduk.Bahkan Sabrina tak berani membalas pelukan Kiran karena rasa bersalah.Kiran mengusap air matanya sendiri, sebelum dia menatap Sabrina yang terus menunduk.“Ceritakan padaku, ada masalah apa sebenarnya sampai kamu seperti ini?” Kiran berta
Saat jam makan siang. Dania masuk ke ruang kerja pamannya. Langkah pelannya terarah pasti menuju meja sang paman. “Paman, bagaimana hasil rapatnya tadi?” Dania langsung mengambil posisi duduk setelah bertanya. Malik menatap pada Dania, napasnya berembus pelan sebelum dia menjawab, “Elvano melindu
Hari berikutnya. Kiran berada di ruangan Elvano. Merapikan meja seperti biasanya sebelum sang atasan datang. Namun, ada yang berbeda hari ini dari Kiran. Wajahnya sedikit pucat, hidungnya juga memerah. Beberapa kali telunjuk Kiran menggosok pangkal hidungnya. Ketika baru saja selesai merapikan tu
Wajah Dania memucat, dia meneguk ludah kasar melihat sorot mata Elvano yang begitu tajam. “Bu-bukan begitu maksud saya, Pak.” Kepala Dania menggeleng pelan. Lagi-lagi ludah meluncur susah payah saat melewati kerongkongannya. Sorot mata Elvano yang begitu dingin, membuat kepala Dania tertunduk. Ta
Jemari Kiran menarik nota yang tertempel di luar plastik. Namanya dan divisi tempatnya berada, tertera di sana. “Mungkinkah Sabrina yang kirim?” Tadi, saat menghubunginya, suara Sabrina panik karena mencemaskan dirinya. Ah, benar. Pasti dari Sabrina. Kiran menatap serius ke layar ponsel kala me







