LOGINKiran lebih dulu melirik pada Elvano yang duduk di sampingnya. Sang kekasih dan ayahnya, kini sama-sama memandang padanya.Jemari Kiran menggenggam sendok dengan erat saat tatapannya fokus ke sang ayah. “Ayah, sebenarnya aku mau mengakui sesuatu.” Kiran takut-takut.“Y-ya … apa itu?” Surya menunggu putrinya bicara.Kiran melipat bibir sejenak, wajahnya tegang ketika dia berkata, “Yah, sebenarnya aku dan El menjalin hubungan. Maaf kalau aku tidak jujur ke Ayah sejak awal dan malah mengakuinya sebagai atasanku saja.”Ruang makan seketika hening.Elvano melipat bibir rapat sambil ditutup punggung tangan.Sedang Surya bergeming beberapa saat,
“Uangmu masih cukup?”Kiran menoleh karena pertanyaan Elvano. Dia mengangguk pelan ketika menatap sang kekasih. “Masih.”Kiran kembali fokus ke ponselnya, dia mengirimkan uang sesuai dengan janjinya pada Widya.“Aku akan memberikan uang yang kamu butuhkan.” Elvano mengeluarkan ponsel dari saku jas setelah bicara.Kiran tersentak. Ketika menyadari Elvano membuka M-Banking di ponsel, Kiran langsung memegang tangan Elvano untuk menahan.“Apa yang mau kamu lakukan?” Kiran mendadak panik.Kening Elvano berkerut dalam ketika menoleh pada Kiran. “Aku mau memberimu uang untuk memberi kompensasi ke ibumu.”
Mata Widya melebar mendengar ucapan Kiran, wajahnya gelisah dengan kepanikan yang luar biasa dia rasakan.“Sya-syarat apa, Kiran?” Widya memastikan.“Bercerailah dari Ayah. Aku akan memberikan kompensasi untuk kalian. Tapi setelah itu, aku ingin Ibu tak pernah mengganggu Ayah lagi.”Widya, Yoga, dan Mila terkejut bersamaan mendengar ucapan Kiran.Tak terima dengan syarat yang Kiran ajukan, Mila menunjuk ke wajah Kiran. “Kamu jangan keterlaluan, bagaimana bisa kamu meminta Ibu menceraikan Ayah?”“Ternyata kamu selama ini punya uang, tapi kenapa tidak mau membantu?” Yoga ikut angkat suara.Kiran tersenyum tak percaya menden
Kiran berdiri di depan lobby apartemen saat melihat mobil Elvano melaju menghampirinya.Saat mobil berhenti tepat di hadapan Kiran, dia langsung membuka pintu sebelum masuk ke dalam.“Kamu bilang ke ayahmu kalau mau menemui ibumu?”Kiran menoleh sekilas pada Elvano saat mendengar pertanyaan kekasihnya ini. Sambil memakai sabuk pengaman, Kiran membalas, “Tidak.”“Lebih baik Ayah tidak tahu, aku takut Ayah berubah pikiran jika melihat Ibu memohon padanya.” Kiran mengembuskan napas kasar. “Walau, aku juga tidak tahu, apa tujuan Ibu meminta bertemu denganku. Hanya berjaga-jaga saja, lebih baik tidak mempertemukan Ayah dengan Ibu untuk sementara waktu.”Elvano mengangguk-angguk sebel
Kiran mendapat izin dari Elvano untuk tak kembali ke perusahaan. Dia menemani Surya merapikan barang di kamar, sebelum duduk di meja makan.“El tadi pesen makanan sebelum pergi. Ayah makan dulu, ya.” Kiran menyajikan makanan di piring.Surya memandang Kiran yang sibuk mengurus dirinya. Dadanya sesak melihat putri yang bahkan tak memiliki hubungan darah sama sekali dengannya ini, begitu peduli padanya.“Ayah, kenapa bengong? Ayo makan.” Melihat tatapan Kiran yang begitu lembut, Surya mengangguk pelan.Kiran ikut duduk berhadapan dengan Surya. Dia juga mulai menyantap makan siangnya.Saat pandangannya tertuju pada sang ayah yang sedang makan dengan lahap, senyum Kiran tiba-tiba berubah getir.“Ayah ….”Saat tatapan Surya tertuju padanya, Kiran lantas berkata, “Aku tahu, apa yang akan kukatakan ini mungkin sangat kurang ajar. Tapi, aku tidak bisa melihat Ayah terus hidup seperti ini.”Surya diam memandang pada Kiran, menunggu sampai putrinya ini menyelesaikan kalimatnya.“Ayah, apakah bi
Wajah Widya semakin memucat melihat Yoga murka.“Ibu benar-benar pilih kasih.” Wajah Yoga merah padam. “Kalau Ibu kasih aku uang itu buat bayar utang, rumah kita nggak akan diambil, Bu!”“Kamu nyalahin aku? Bagaimana denganmu?” Mila menarik kasar lengan Yoga. Sampai sang kakak terduduk di tanah. Saat Yoga menatap kesal padanya, Mila langsung berkata, “Kalau kamu tidak judi, tidak utang ke rentenir. Kita juga tidak akan diusir dari rumah!”“Oh, kamu mau bilang kalau minjamin uang ke pria yang menjadikanmu selingkuhan itu, lebih baik? Kamu juga bodoh! Bisa-bisanya modalin cowok!” sambar Yoga dengan amarah menggebu-gebu.“Diam! Diam kalian! Semua salah kalian semua!” teriak Widya histeris.Widya memukul-mukul tanah dengan linangan air mata. “Bagaimana ini? Rumah tidak ada, uang tidak punya. Di mana kita mau hidup sekarang? Ya Tuhan.”Mila dan Yoga terdiam. Keduanya hanya bisa terduduk lesu tak punya tujuan.**Kiran menoleh ke Surya yang duduk di bangku belakang mobil.Ayahnya akhirnya
Kelopak mata Kiran perlahan terbuka. Kepalanya seperti sulit digerakkan, tubuhnya terkulai tak bertenaga. Tangan Kiran terangkat pelan untuk menekan kepala, ketika itu dia baru menyadari kalau selang infus terpasang di lengannya. Mata Kiran mengedar, bau disinfektan yang begitu pekat, menyadarkann
Jemari Kiran menarik nota yang tertempel di luar plastik. Namanya dan divisi tempatnya berada, tertera di sana. “Mungkinkah Sabrina yang kirim?” Tadi, saat menghubunginya, suara Sabrina panik karena mencemaskan dirinya. Ah, benar. Pasti dari Sabrina. Kiran menatap serius ke layar ponsel kala me
Kursor di layar terus digerakkan, bola mata Kiran menyapu setiap folder sampai ke file sampah, tetapi tidak ada hasil. File yang sudah dibuatnya, raib begitu saja.Beberapa detik, Kiran hanya bisa terdiam. Sampai, kepalanya menoleh ke arah meja Dania. Kening Kiran berkerut samar bersamaa
Kaki Kiran berhenti bergerak. Matanya terpaku pada wanita yang baru saja masuk ke dalam ruangan Elvano.Wanita dengan rambut panjang berkilau, wajahnya begitu manis dan terawat, polesan make up di wajahnya bahkan tak menutup kecantikan alami wanita ini.Dan yang membuat tubuh Kiran membeku ketika p







