MasukDone 4 bab ya, Kakak. Jangan lupa komentarnya, makasih banyak
Kiran menatap pada Elvano yang bersikap berbeda.Jika biasanya Elvano akan semangat mengajaknya masuk.Tetapi berbeda dengan sekarang.Ya, karena sekarang, sang kekasih sedang marah.Dan, Kiran juga tidak akan bisa tidur, sebelum menyelesaikan pembahasan mereka tadi.“Aku ingin bicara denganmu setelahnya baru bisa tidur.” Kiran merangsek masuk begitu saja setelah bicara.Elvano tersentak.“Ki, jangan ….” Elvano tidak bisa mencegah Kiran masuk.Dan begitu Elvano menyusul Kiran ke dalam.Elvano menatap Kiran yang berdiri diam dengan tatapan tertuju ke meja.Kiran memutar kepala ke arah Elvano berdiri. “Kamu minum?” Kiran menunjuk ke meja. Tatapan Kiran tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.“Belum.” Elvano mendekat ke meja, dia kembali menutup botol yang tadi dibukanya sebelum Kiran datang.“Tapi kamu mau minum?” Kiran menatap tak suka jika Elvano sampai mabuk.“Belum minum, Ki. Cium bau napasku, belum bau alkohol, ‘kan?” Kini Elvano dan Kiran saling tatap.Kiran menghela napas ka
Di rumah keluarga Bimantara.Noah baru saja tiba di rumah bersama Yessica.Mereka menghampiri kedua orang tua yang duduk di ruang keluarga.“Bagaimana pestanya?” Kamila Bimantara, menatap kedua anaknya yang baru saja sampai di rumah.“Biasa saja, tidak ada yang menarik kecuali saat bertemu salah satu keluarga Radjasa.” Yessica langsung duduk di samping Kamila, merangkul manja lengan ibunya sebelum menyandarkan kepala di pundak.“Radjasa? Mereka datang ke pesta Tuan Jones?” Tatapan Raihan Bimantara–ayah Noah, tak suka mendengar nama yang baru saja Yessica sebut.“Wajar jika datang, apalagi mereka memegang salah satu proyek milik Tuan Jones.” Suara Noah begitu datar.“Justru itu, kedatangan mereka akan memperkuat kerjasama mereka. Kita akan lebih sulit mengambil proyek-proyek besar karena selalu kalah bersaing dengan mereka.” Raihan bicara dengan nada tinggi.Sudah bertahun-tahun Bimantara bersaing dengan RDJ, dan tidak pernah sekalipun perusahaan mereka bisa mengalahkan RDJ Group.“Mun
Kiran terdiam mendengar pertanyaan Elvano.Apa benar dia takut jika Elvano marah?Atau dia takut, diamnya Elvano seperti serigala yang memantau mangsa?Kiran menggeleng pelan dia harus percaya pada Elvano.Kiran memejamkan mata beberapa saat sebelum kembali menatap pada Elvano yang masih menyandarkan kepala di pundaknya.“Tidak.” Kiran membalas dengan tenang. “Hanya tidak nyaman, bukan berarti aku takut.”Perlahan Elvano membuka matanya. Napasnya berembus berat.Senyum Elvano terangkat kecil. Dia mengangkat kepalanya dari pundak Kiran, tetapi sekarang dagunya yang bersandar di sana.“Aku hanya sedang menenangkan diri.”Kening Kiran berkerut dalam mendengar ucapan Elvano.“Menenangkan diri dari?” Kiran memastikan.Napas Elvano berembus kasar.Dia mengangkat dagunya dari pundak Kiran. Duduk dengan tenang menghadap ke dinding kaca di depannya, tanpa melepas tautan jemari mereka.“Dari emosiku sendiri.”“Apa sekarang sudah lebih baik?” Kiran memastikan.Saat menoleh pada Kiran, senyumnya
Mata Kiran membola lebar.“El, jangan aneh-aneh.” Wajah Kiran menegang. “Aku tidak akan ke mana-mana, jadi jangan khawatir.”Kiran membujuk.“Tidak bisa.” Elvano menolak. “Pilihannya, tinggal di kamarku atau tinggal di kamarmu?”Kiran menarik napas panjang.Ini memang bukan pertama kalinya mereka sekamar.Tetapi situasi sekarang berbeda.Sebelum Kiran kembali bicara. Kiran terkejut Elvano mendorongnya ke arah kamar miliknya.“Kalau begitu di kamarmu kalau kamu merasa tidak nyaman di kamarku.”Mata Kiran semakin membola.Kiran ingin mengelak, tetapi mereka sudah berada tepat di depan pintu kamarnya.“Buka pintunya.”Kiran melipat bibir mendengar perintah Elvano.Akhirnya Kiran mengeluarkan keycard dari dalam tas lalu menyentuhkan di panel bawah gagang pintu.Begitu kunci terbuka, Elvano yang membuka pintu.“El, aku juga tidak akan ke mana-mana, apa harus sekali sekamar?” Kiran membalikkan tubuhnya menghadap ke Elvano berdiri.Namun, tidak ada balasan dari Elvano.Kiran tahu balasannya.
Langkah Kiran terseret mengimbangi langkah Elvano yang lebar.Bahkan, beberapa kali ujung gaunnya terpijak heelsnya, membuat Kiran hampir terjerambab ke depan.“El, El, pelankan langkahmu.” Kiran tak mampu mengimbangi gerakan kaki Elvano.Ketika sampai di sebuah koridor.Akhirnya Elvano memperlambat langkah. Dia melepas tangan Kiran, sebelum mendorong tubuh Kiran.Kiran tersentak. Punggungnya membentur pelan dinding di belakangnya.“El.” Kiran memekik.Sebelum Kiran melayangkan protes atas sikap Elvano.Bibirnya sudah terbungkam kasar.Elvano menautkan bibir mereka, melumat bibir Kiran tanpa jeda.Satu tangan Kiran meremat kuat tas yang ada digenggamannya.Menolak sekarang, sama dengan memancing kemarahan Elvano lebih besar.Cemburu, hanya karena ini Elvano memperlakukan Kiran seperti sekarang.Elvano akhirnya melepas pagutan bibir mereka.Napas keduanya sama-sama tersengal.Elvano masih menatap penuh amarah. Kedua tangannya kini bertumpu di dinding tepat di kanan dan kiri samping kep
Senyum Noah terangkat kecil melihat kebingungan dari sorot mata Kiran.“Di sebuah tempat makan, kamu menabrakku sampai hampir jatuh, dan sekarang kamu juga hampir menabrakku. Apa menabrak tak sengaja menjadi kebiasaanmu, hm?” Kiran tersentak.Akhirnya Kiran ingat siapa pria di depannya ini.“Ternyata Anda.” Kiran tersenyum kecil walau sedikit canggung. “Maaf, saya benar-benar tidak sengaja.”Noah mengangguk-angguk masih dengan senyum hangat di wajahnya. Dan tatapannya tidak bisa teralihkan dari wajah Kiran. Seolah ada sesuatu yang menarik Noah untuk masuk lebih dalam ke sorot mata Kiran.“Kamu datang bersama keluargamu atau ….” Noah sengaja menjeda kalimatnya untuk disambung Kiran, memastikan ada hubungan apa antara Kiran dan Elvano.Kiran melipat bibirnya sejenak. “Saya datang mewakili keluarga Radjasa bersama atasan saya.”“Atasan?” Noah mengerutkan kening. Ini tidak seperti yang Yessica katakan. “Keluarga Radjasa, kamu datang bersama Elvano Radjasa?”Kiran mengangguk-angguk pelan
Mata Kiran terpejam ketika melihat Yoga mengangkat tangan, tetapi matanya kembali terbuka ketika tak kunjung merasakan hantaman dari tangan Yoga.Kiran melebarkan matanya ketika melihat Elvano berdiri memunggunginya sambil menahan pergelangan tangan Yoga.Kiran mengerjap tak percaya.“Lepas, sialan!
Kiran dan Sabrina berada di dalam lift setelah mereka selesai makan siang.“Soal sekretarisnya itu, lebih baik kamu hati-hati ya, Kiran. Dengar-dengar pamannya salah satu direktur di sini, makanya dia bisa semena-mena sampai berniat memfitnahmu.” Wajah Sabrina begitu cemas ketika menoleh pada Kiran.
Saat jam makan siang.Kiran keluar dari dalam lift yang baru saja terbuka di area lobby. Senyumnya mengembang kala matanya tertuju pada Sabrina yang menunggunya.“Habis cuti, kukira kamu dikasih kerjaan banyak.” Sabrina langsung menggandeng lengan Kiran yang baru saja tiba di hadapannya.Keduanya m
Operasi ayah Kiran berjalan dengan lancar, meskipun Surya belum sadar setelah operasi yang dijalaninya, tetapi Kiran akhirnya bisa sedikit lega.Hari selanjutnya.Kiran berangkat ke perusahaan seperti biasa sesuai janjinya pada Elvano sebelumnya karena sudah diberi cuti.Kiran datang lebih awal. Kak







