LOGINNoah berdiri di depan teras rumah saat malam semakin larut.Apa yang dikatakan orang tuanya, membuat Noah cemas.Dia takut Kiran berubah pikiran, lalu menjauh dari mereka jika Kiran tersinggung.Dia berdiri diam, memandang ke arah rumah Kiran.Sampai tatapannya tertuju pada Surya yang baru saja pulang.Noah melangkah meninggalkan rumahnya untuk menghampirri Surya.“Paman, baru pulang?” Noah menyapa sebelum Surya masuk ke dalam rumah.Tangan Surya sudah memegang gagang pintu saat mendengar suara Noah. Dia membalikkan tubuhnya, tatapannya kini tertuju pada Noah yang sedang menghampirinya.“Nak, Noah. Kenapa malam begini masih belum istirahat?” Surya membuka pintu untuk mempersilakan Noah masuk sekalian.Noah melebarkan senyum. Dia berhenti melangkah, kini berdiri di depan Surya.“Hanya belum bisa tidur, Paman. Aku mau mencari Kiran untuk mengajaknya mengobrol, tapi takut Kiran sudah tidur.” Surya mengangguk-angguk. Dia lebih dulu mempersilakan Noah masuk ke dalam rumah.Mereka masuk ke
“Apa?” Kamila dan Raihan terkejut bersamaan.“Bagaimana bisa Kiran kerja di sana?” Kamila menatap tak percaya.Yessica tersenyum dalam hati, meski wajahnya menunjukkan kecemasan.“Mama dan Papa jangan marah dulu. Mungkin, Kiran kerja di sana juga demi dapat uang. Jadi, wajar kalau Kiran kerja di perusahaan besar seperti RDJ.” Yessica memberikan tatapan simpati.Yessica menipiskan senyum. Dia harus membuat Kiran dipaksa keluar dari RDJ.“Baiklah kalau sekarang dia butuh pekerjaan untuk menghasilkan uang. Tapi sekarang, ada kita yang bisa memberikan apa pun yang dia mau. Sepertinya dia tidak perlu lagi kerja di perusahaan itu.” Tangan Raihan mengepal, matanya menyorot tak suka.“Jangan begitu, Pa. Takutnya kalau Papa memaksa Kiran berhenti bekerja, dia pasti sedih.” Yessica menunjukkan rasa peduli untuk membalut niatnya.“Tapi RDJ? Kamu tahu bagaimana RDJ dan Bimantara bersaing, Yess.” Kamila menatap cemas.“Aku tahu, Ma.” Yessica mengembuskan napas berat, seolah ini juga menjadi beban
“Kiran, aku benar-benar tulus dengan apa yang aku lakukan. Apa kamu tidak bisa memaafkanku? Aku tahu jika salah, dan aku tidak bisa melihatmu bersikap dingin padaku seperti ini.”Yessica harus terus membujuk. Mendekati Kiran agar terhindar dari kecurigaan.Dia aman karena sekarang Kiran hilang ingatan, tetapi tidak tahu kapan Kiran akan kembali ingat dan membongkar, apa yang pernah dia lakukan.Kiran masih diam mendengar ucapan Yessica.Sampai akhirnya napas panjang diembuskan dari bibir Kiran.Senyum Kiran diangkat tipis.Sikap manis Yessica yang jauh berbeda dari sikap sebelumnya, membuat Kiran semakin tidak nyaman.“Tidak ada yang bersikap dingin.” Kiran kembali bicara. “Hanya saja, semua ini masih terasa canggung bagiku. Aku tidak ingat siapa kamu dan bagaimana hubungan kita dulu, jadi jangan memaksaku untuk langsung menerima semua ini.” Nada bicara Kiran penuh penekanan.Yessica mengangguk dengan senyum penuh sandiwara. “Ya, aku mengerti.”“Meski kamu belum terbiasa, tapi aku leg
“Aku tidak bisa.”Nada bicara Kiran pelan tetapi penuh penekanan.Kiran mau melangkah, tetapi Yessica menggenggam tangannya dengan erat.“Kiran, apa kamu masih marah padaku? Aku bersungguh-sungguh ingin memperbaiki kesalahpahaman yang terjadi sebelumnya. Aku tidak ada maksud lain.”Kiran menatap Yessica yang memandangnya dengan penuh harap.Dilihat banyak orang seperti ini, sangat tidak nyaman untuk Kiran.Kiran menarik pelan tangan dari genggaman Yessica. “Baiklah, tapi tidak sampai larut malam.”Senyum Yessica terangkat lebar. “Baiklah, aku hanya mau mengajakmu jalan ke mall. Seperti dulu saat kita jalan berdua bersama.”Kiran belum bisa mengingat masa kecilnya sedikit pun.Tetapi sikap dan ucapan Yessica saat ini sangat meyakinkan kalau mereka memang dulu sangat dekat.Yessica mengajak Kiran ke mobil yang menunggu di depan.Sebelum masuk ke dalam mobil, tatapan Kiran tertuju pada sopir yang duduk di belakang setir.Pria paruh baya ini yang biasa mengantar Noah, Kiran bisa sedikit t
Bibir Kiran terlipat dalam. Dia buru-buru berdiri, lalu mengambil rantang di atas meja.Kiran melirik sejenak ke Elvano, sebelum melangkah menjauh.Saat akan melewati Aksa yang berdiri di dekat pintu, Kiran lebih dulu membungkukkan tubuhnya. “Saya permisi dulu, Pak Aksa.” Kiran melewati Aksa begitu saja. Panik dan malu bercampur menjadi satu.Sedang Aksa menatap kepergian Kiran dengan kening berkerut dalam.Begitu pintu tertutup, tatapan Aksa kini beralih pada Elvano yang baru saja bangkit dari duduknya.“Kalian ….” Aksa sengaja menjeda kalimatnya.Tatapannya penuh curiga.Dia tidak melihat jelas apa yang baru saja Elvano dan Kiran lakukan, tetapi dia melihat kepanikan di wajah Kiran.“Kami kenapa? Tidak ada salahnya mencium calon istri, tapi Papa keburu masuk ruangan.” Setelah bicara, senyum Elvano dilebarkan sempurna.Bola mata Aksa membulat lebar.Bisa-bisanya putranya ini bicara dengan sangat blak-blakkan.“Calon istri?” Nada bicara Aksa penuh penekanan. “Memangnya kamu sudah mem
Kiran tersenyum geli mendengar pertanyaan Elvano.Dia menegakkan tubuhnya. Duduk sedikit miring menghadap Elvano.“Tidak, mereka tidak melakukan itu.” Senyum Kiran terangkat kecil. “Mereka senang bisa bertemu denganku.”“Bagaimana denganmu?” Pertanyaan Elvano mengembangkan senyum Kiran. “Aku hanya lega, tapi tidak tahu apakah itu perasaan senang dan bahagia, atau hanya menerima.” Pasti tidak mudah untuk Kiran menerima begitu saja keluarganya setelah bertahun-tahun berpisah. Elvano memahaminya.“Tidak apa-apa. Kamu berhak mengungkap perasaanmu tanpa tekanan.” Tangan Elvano terulur untuk mengusap rambut Kiran.Kiran mengangguk-angguk manja, sampai dia teringat Yessica.“Masalahnya, sekarang aku bersaudara dengan wanita sombong itu.” Kiran mengembuskan napas kasar setelah bicara. Dia tidak rela memiliki hubungan status dengan wanita yang suka berbuat semena-mena.“Wanita sombong?” Satu sudut alis Elvano tertarik ke atas. “Maksudmu wanita yang berdebat denganmu di toko tas? Siapa namany
Kedua pundak Dania menegang, bola matanya bergerak liar mencari kata-kata untuk membalas ucapan Kiran.“Kamu tidak usah mengelak lagi! Aku tahu, semua yang aku alami ini karena laporan darimu!” Kiran tersenyum hambar. Dania masih saja kukuh memfitnahnya.Melihat tenangnya Kiran, emosi Dania semaki
Dania tersentak. Tatapannya tertuju pada tangan Kiran yang sekarang berpindah memegang tali tas. Mata Dania menyipit, dia yakin tadi melihat Kiran menggenggam tangan Elvano.Telapak tangan Dania mengepal erat. Namun, dia bersikap biasa ketika memandang pada Elvano.“Selamat siang, Pak.” Dania sedik
Jemari Kiran menyapu cepat air mata yang ada di wajahnya. Tangannya memasukkan semua barang-barangnya ke dalam tas, sebelum dia berdiri. Tatapan Kiran tertuju pada Elvano yang kini juga berdiri berhadapan dengannya. Senyum Kiran paksakan terpajang di wajahnya yang merah dan basah, dia mencoba be
Wajah Kiran memucat melihat kepanikan sang ayah. Jangan sampai ayahnya syok dan sakit lagi kalau tahu dia menggadaikan kalung itu demi biaya operasi ayahnya.“Tidak, Yah. Tidak aku jual, kok. Tapi, memang tidak aku pakai karena takut hilang karena kalung itu sangat berharga.” Senyum Kiran begitu kak







