INICIAR SESIÓNKiran akhirnya melakukan sesi interview bersama dua pelamar lainnya. Meski suasana aula begitu menegangkan, tetapi Kiran bisa bernapas lega setelah mampu menjawab beberapa pertanyaan yang dilontarkan bergantian oleh ketiga pewawancara.
Sampai tatapan salah satu pewawancara wanita tertuju pada Kiran lagi, sebelum bibirnya kembali melontarkan pertanyaan, suara dering ponselnya yang ada di atas meja, mengalihkan perhatiannya. Nama yang terpampang di layar, membuat wanita berpakaian blouse putih itu, bergegas menjawab panggilan itu. Dia sedikit memiringkan kepala ke arah samping ketika ponsel menyentuh telinganya. “Halo, selamat pagi, Pak.” Suaranya begitu lirih. Wanita itu diam mendengarkan suara dari seberang panggilan. Kepalanya mengangguk-angguk pelan, bersamaan dengan ekor mata yang melirik ke arah berkas di meja. “Baik, Pak ….” “Saya mengerti ….” “Baik.” Panggilan itu berakhir. Kiran duduk dengan tenang menunggu pewawancara yang menjeda sesi interview. Kiran kembali melebarkan senyum ketika wanita berpakaian blouse putih yang duduk berhadapan tak jauh darinya, kini kembali memandangnya. Dua peserta lain dipersilakan meninggalkan aula setelah dijanjikan akan segera dihubungi setelah hasil wawancara mereka keluar. Sedang Kiran? Dia tak disuruh pergi, membuatnya duduk dengan wajah panik dan bingung. Bahkan kini jemarinya mulai meremat pelan rok di atas paha. Wajahnya begitu tegang. “Kirana Calissa, kamu mendaftar di bagian Management Komunikasi, benar?” Pertanyaan pewawancara membuat kepala Kiran mengangguk pelan, meskipun di dalam hatinya kini benar-benar bingung. Jelas-jelas dia sudah melamar untuk posisi itu sebelum dipanggil interview tadi. “Benar, Bu.” Kiran memperhatikan para pewawancara saling berbisik. Kiran berusaha tenang walau saat ini jantungnya berdegup sangat cepat. Ketika melihat tatapan pewawancara kembali tertuju padanya, Kiran masih dengan punggung tegak, dia siap mendengarkan keputusan yang akan didapatnya. “Dilihat dari pengalaman kerja di resume yang kamu serahkan. Kami ingin menawarkan pekerjaan di bagian lain.” Kening Kiran berkerut samar. “Bagian lain? Apakah bisa dijelaskan lebih detailnya, Bu?” “Menjadi asisten direktur pemasaran. Kamu pandai dalam berkomunikasi, tugasmu hanya mengatur jadwal, membalas pesan juga email yang ditujukan untuk direktur. Serta memastikan hubungan antara klien dengan direktur bisa berjalan dengan lancar.” Kiran mengulum bibirnya. Pandangannya sedikit diturunkan, bahkan kini wajahnya gelisah dan bingung. Asisten direktur. Dia tidak pernah menjabat posisi ini. Pandangan Kiran kembali tertuju pada pewawancara. “Tapi saya kurang yakin bisa berkompeten di–” “Gajinya dua puluh juta, belum ditambah uang lembur juga tunjangan bulanan dan tahunan. Bagaimana? Apa kamu berminat?” Pewawancara memotong ucapan Kiran dengan cepat. Bola mata Kiran membulat lebar. Dua puluh juta masih ditambah bonus lain. Dengan gaji sebesar itu, Kiran bisa mengumpulkan biaya operasi Bypass jantung ayahnya lebih cepat. “Kami tidak menawarkan kesempatan dua kali. Kami tunggu jawabanmu sekarang juga.” Desakan dari pewawancara, juga kebutuhan yang Kiran harus cukupi, membuat kepalanya seketika mengangguk walau ada sedikit sisa keraguan di hatinya. “Saya terima, Bu.” Kiran meremat kuat rok di atas paha, dengan senyum kaku di wajahnya. Pewawancara langsung memberikan cap di resume milik Kiran, lalu meminta Kiran untuk datang melapor besok ke bagian HRD. Kiran berdiri dan pamit bergantian pada para pewawancara, meskipun masih tidak mengerti mengapa dirinya justru diterima pada posisi yang sama sekali tidak dia pilih. “Terima kasih atas kesempatannya. Saya akan berusaha keras memberikan yang terbaik untuk RDJ Group.” Setelahnya, Kiran melangkah keluar dari ruang wawancara. Dia membuang napas lega ketika sudah menginjakkan kaki di luar. Sedikit sisa keraguan di hatinya, dia buang sempurna. Demi sang ayah, dia akan melakukan segalanya. Sambil melangkah menuju lift, Kiran mengeluarkan ponsel dari dalam tas lalu jemarinya dengan lincah mengetik pesan untuk dikirimkan ke Sabrina. Pandangannya terus tertuju ke benda pipih di tangan, hingga …. Bruk Tubuh Kiran menghantam sesuatu yang keras. Ponsel di tangannya sampai terlepas sebelum jatuh membentur lantai. “Ma–” Sebelum kalimatnya terucap dengan sempurna, bibir Kiran sudah lebih dulu terbungkam ketika matanya tertuju pada sosok yang kini berdiri di hadapannya.Dahi Kiran berkerut dalam. Sejauh ingatan yang masih tersisa di kepalanya, Elvano tidak suka kopi pahit. Namun, bukankah kesukaan orang bisa berubah? Bahkan sifat dan perilaku saja bisa?Lantas, kenapa Kian begitu yakin kalau Elvano, masih sama seperti dulu?“Kenapa reaksimu begitu? Kamu tidak percaya?”Suara penuh penekanan dari Dania, menarik kesadaran Kiran kembali.Kiran menatap pada Dania yang berwajah datar. Senyum Kiran terangkat tipis di bibir ketika kepalanya menggeleng pelan.“Bukan, Bu,” sanggah Kiran cepat, takut jika membuat Dania marah. “Saya akan membuatkan kopi untuk Pak Elvano. Terima kasih.”Dania masih menatap datar pada Kiran yang melangkah menjauh darinya. Seringai tipis berhias di wajahnya.Di pantry.Kiran sudah menyalakan mesin kopi. Dia diam memandang cangkir di meja, tangannya sudah gatal ingin meraih gula dan susu di rak penyimpanan.Kian begitu meyakini kalau Elvano tidak suka kopi tanpa gula. Tetapi jawaban Dania membuat Kiran menahan diri.‘Bisa saja dia
“Kamu tuli?”Ketiga kalinya Kiran mendengar Elvano bicara, kalimat pria ini semakin pedas. Kiran menarik napas dalam-dalam sebelum diembuskan perlahan. Tubuhnya menegak, walau kedua kakinya gemetar, lemas.Sikap tenang adalah kunci keberhasilannya selama ini.Dalam sekali hela napas, Kiran mulai bicara. “Perkenalkan, saya Kirana Callisa, usia saya dua puluh delapan tahun. Saya berpengalaman di bidang komunikasi lebih dari empat tahun.” Kiran menjeda perkenalan dirinya. Suaranya hampir saja bergetar saat melihat tatapan dingin Elvano.“Terima kasih sudah memberi saya kesempatan bergabung dengan RDJ Group, saya–”“Masa percobaan tiga bulan, jika dalam tiga bulan itu kamu tidak berkompeten dan tidak memberi kontribusi nyata untuk perusahaan, maka serahkan surat pengunduran dirimu ke HRD.”Kiran tersentak. Tatapannya tertuju pada Elvano yang baru saja memotong kalimatnya begitu saja.Kiran bingung, dalam kontrak kerjanya, jelas-jelas tertulis jika masa kontraknya lima tahun dan tidak ad
Keesokan harinya. Kedua kalinya Kiran menginjakkan kaki di RDJ Group, kali ini dia datang sebagai salah satu karyawan perusahaan besar ini. Kiran mengembuskan napas panjang. “Baik, Kiran. Kamu bisa melakukannya.” Senyum Kiran terangkat sempurna, menutupi kecemasan yang sedang dirasakannya. Kiran lebih dulu melapor ke bagian HRD. Setelah mendapat kontrak kerja dan arahan dari pihak HRD, Kiran langsung naik ke lantai sepuluh, ruang divisi pemasaran berada. Begitu tiba di divisi pemasaran. Kiran menghentikan langkah sejenak, matanya menelisik ke seluruh ruangan, para staff di sini mulai sibuk dengan pekerjaan mereka. “Kamu mencari siapa? Ada yang bisa kubantu?” Suara dari belakang punggungnya, membuat Kiran memutar tumit dengan cepat. Kini, Kiran berhadapan dengan wanita berpenampilan anggun. Dari ujung rambut hingga kaki, wanita ini benar-benar tampak sempurna. Kiran melihat lanyard berwarna sama dengan miliknya menggantung di leher wanita ini, lalu dia membaca posisi
Waktu seperti berhenti.Elvano Radjasa, ada di hadapannya. Jas abu-abu arang yang melekat sempurna di tubuh tegapnya seolah menegaskan bahwa pria ini bukan lagi pemuda yang dulu pernah berjanji akan memberikan dunianya pada Kiran.Kini, dialah sang pemilik dunia itu.Kiran merasa paru-parunya kosong secara paksa ketika melihat sorot mata pria itu padanya.Sorot mata itu masih setajam dulu, namun kehangatan yang dulu pernah menjadi miliknya telah menguap, digantikan dengan sorot mata dingin yang begitu tebal.Kiran sudah menyiapkan dirinya untuk menyapa pria itu, sebuah sapaan lemah yang mungkin akan terdengar konyol.Namun, sebelum sempat bibirnya terbuka, Elvano melewatinya begitu saja.Aroma parfum woody dan citrus yang maskulin, aroma yang masih sama setelah enam tahun, menyapu indra penciuman Kiran, meninggalkan rasa perih di sudut hatinya.Kiran membalikkan tubuh perlahan, menatap punggung tegap yang menghilang perlahan. Senyum getir tersungging di bibirnya yang pucat.** Setel
Kiran akhirnya melakukan sesi interview bersama dua pelamar lainnya. Meski suasana aula begitu menegangkan, tetapi Kiran bisa bernapas lega setelah mampu menjawab beberapa pertanyaan yang dilontarkan bergantian oleh ketiga pewawancara.Sampai tatapan salah satu pewawancara wanita tertuju pada Kiran lagi, sebelum bibirnya kembali melontarkan pertanyaan, suara dering ponselnya yang ada di atas meja, mengalihkan perhatiannya.Nama yang terpampang di layar, membuat wanita berpakaian blouse putih itu, bergegas menjawab panggilan itu.Dia sedikit memiringkan kepala ke arah samping ketika ponsel menyentuh telinganya.“Halo, selamat pagi, Pak.” Suaranya begitu lirih.Wanita itu diam mendengarkan suara dari seberang panggilan. Kepalanya mengangguk-angguk pelan, bersamaan dengan ekor mata yang melirik ke arah berkas di meja.“Baik, Pak ….”“Saya mengerti ….” “Baik.” Panggilan itu berakhir.Kiran duduk dengan tenang menunggu pewawancara yang menjeda sesi interview. Kiran kembali melebarkan se
Kiran melangkahkan kaki di sepanjang koridor hotel yang tidak jauh dari rumah sakit, tempat yang akan ditinggalinya sementara ini. Selain untuk mempermudah dirinya menemui sang ayah, Kiran juga ingin menghindari keributan. Kehadiran Kiran tak pernah diharapkan. Rumah yang seharusnya menjadi tempat terhangat, terasa begitu dingin bagi Kiran setiap kali kakinya berpijak di sana. Kiran hanyalah anak angkat di keluarganya. Ibunya tak pernah sedikit pun menyayanginya, begitu juga dengan kedua kakaknya yang tak pernah peduli pada Kiran. Kiran hanya berguna ketika dia bisa menghasilkan uang. Kiran harus menyenangkan ibu dan kedua saudaranya, baru saat itulah dia akan dipandang. Walaupun sebenarnya Kiran tetap tidak akan dianggap, dan ibunya tetap akan mengeluarkan kata-kata tajam untuk Kiran. Lagipula Kiran masih memiliki cukup uang untuk menyewa kamar hotel dalam beberapa hari ke depan. Lebih baik merogoh kocek sedikit lebih banyak daripada pergi ke rumah itu. Karena untuk saat ini







