Beranda / Romansa / Dimanja Mantan Posesif / Tawaran Tak Terduga

Share

Tawaran Tak Terduga

last update Tanggal publikasi: 2026-01-28 19:04:29

Begitu pintu Ruang 3 terbuka, udara dingin dari pendingin ruangan langsung menyambut Kiran. Ruangan itu tidak seperti ruang wawancara pada umumnya yang berisi deretan meja panjang. Hanya ada satu meja bundar dengan tiga kursi yang menghadap ke arahnya.

Tiga orang pewawancara sudah menunggu. Dua pria paruh baya yang tampak kaku, dan seorang wanita dengan pakaian blouse putih formal yang menatap Kiran dengan sorot mata menilai.

"Duduk, Kirana Calissa," ujar wanita itu. Suaranya datar, namun tegas.

Kiran duduk dengan punggung tegak, mencoba menyembunyikan getaran di tangannya. "Terima kasih, Bu."

Wawancara dimulai. Awalnya, pertanyaan mereka terasa profesional—tentang pengalaman kerjanya di luar kota dan bagaimana dia menangani krisis komunikasi. Kiran menjawab semuanya dengan lancar. Selama enam tahun, dia telah menempa dirinya menjadi praktisi komunikasi yang handal. Ini adalah bidang yang dia kuasai.

Namun, di tengah sesi, suasana mendadak berubah. Ponsel milik pewawancara wanita di tengah meja bergetar. Dia melirik layar, lalu ekspresinya berubah menjadi sangat waspada.

"Halo, selamat pagi, Pak," ucap wanita itu dengan suara yang mendadak sangat lirih.

Kiran terdiam, berusaha tidak menguping. Namun, dia bisa merasakan aura di ruangan itu mendadak tegang. Kedua pewawancara pria di sisi kiri dan kanan pun mendadak merapikan duduk mereka, seolah-olah orang yang sedang menelepon itu berada di ruangan yang sama.

Wanita itu hanya mengangguk berkali-kali. "Baik, Pak... Saya mengerti... Baik."

Setelah menutup panggilan, wanita itu menatap dua rekan di sebelahnya, memberikan kode lewat tatapan mata, lalu kembali fokus pada Kiran. Dia menutup map berkas Kiran dengan suara plak yang cukup keras.

"Kirana, kami sudah melihat kualifikasimu. Kamu memang sangat kompeten di bagian Manajemen Komunikasi," ujar wanita itu.

Kiran baru saja hendak bernapas lega, sebelum kalimat selanjutnya menghantamnya.

"Tapi, kami tidak akan memberikan posisi itu kepadamu. Kami punya penawaran lain."

Kiran mengernyit bingung. Jantungnya berdegup tidak karuan. "Penawaran lain? Maksudnya posisi apa, Bu?"

"Asisten Pribadi Direktur Pemasaran," jawab wanita itu singkat. "Tugasmu mengatur jadwal, membalas pesan, email, dan memastikan hubungan antara klien dengan direktur berjalan lancar. Kamu punya kemampuan komunikasi yang kami butuhkan untuk posisi ini."

Kiran tertegun. "Tapi, saya tidak pernah menjadi asisten pribadi. Saya melamar untuk staf—"

"Gajinya dua puluh juta rupiah per bulan," potong wanita itu tanpa kompromi. "Itu belum termasuk uang lembur, tunjangan bulanan, dan asuransi kesehatan penuh untuk keluarga."

Angka dua puluh juta itu terngiang-ngiang di telinga Kiran. Itu adalah jumlah yang dia butuhkan untuk membayar deposit operasi ayahnya hanya dalam hitungan hari. Nominal itu adalah nyawa bagi ayahnya.

"Kenapa... kenapa saya ditawarkan posisi ini?" tanya Kiran ragu. "Saya yakin banyak pelamar lain yang punya pengalaman sebagai asisten."

"Kami tidak menawarkan kesempatan dua kali, Kirana. Kami butuh jawabanmu sekarang. Ambil, atau pintu keluar ada di belakangmu," desak wanita itu, tatapannya mengunci mata Kiran.

Bayangan ibunya yang memaki, tagihan rumah sakit yang membengkak, dan wajah pucat ayahnya berkelebat di pikiran Kiran. Dia tahu ada sesuatu yang aneh. Bagaimana mungkin perusahaan sebesar RDJ memberikan gaji fantastis untuk posisi yang bahkan tidak dia kuasai?

Namun, dia tidak punya kemewahan untuk menolak.

"Saya terima, Bu," ucap Kiran dengan suara sedikit bergetar.

Wanita itu langsung mengambil stempel dan menekan kuat di atas berkas Kiran. "Diterima. Besok jam delapan pagi, lapor ke bagian HRD di lantai sepuluh. Jangan terlambat."

Kiran berdiri, membungkuk sopan, dan segera keluar dari ruangan itu. Begitu pintu tertutup di belakangnya, dia menyandarkan punggungnya ke dinding koridor. Napasnya memburu. Dia merasa baru saja menandatangani kontrak dengan iblis, namun di saat yang sama, dia merasa lega karena nyawa ayahnya setidaknya punya harapan.

Sambil berjalan menuju lift, Kiran merogoh ponsel dari tasnya. Jemarinya dengan lincah mengetik pesan untuk dikirimkan ke Sabrina.

Pandangannya terus tertuju ke layar ponsel, hingga dia tidak menyadari ada langkah kaki yang mendekat dari arah berlawanan.

Bruk!

Tubuh Kiran menghantam sesuatu yang keras—dada bidang seseorang yang kokoh. Ponsel di tangannya terlepas, jatuh membentur lantai marmer dengan suara keras.

"Ma—"

Kalimat permintaan maaf Kiran terhenti di tenggorokan. Udara di sekitarnya mendadak terasa tipis.

Kiran mendongak perlahan, dan dunianya seolah runtuh saat itu juga.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Komen (8)
goodnovel comment avatar
Istri Jungkook
itu pasti El yg ditabrak sama kiran
goodnovel comment avatar
lilyedy.
Bang El pasti yg turun tangan, jadi asprinya dia???
goodnovel comment avatar
Adeena
emang sengaja ini El buntutin Kiran...
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • Dimanja Mantan Posesif   Kabar Baik Lain

    Dada Kiran mendesir mendengar ucapan Ayudhia. Dia menganguk-angguk.“Iya, Kak. Aku akan ingat,” kata Kiran sambil mengangguk-angguk pelan di dalam pelukan.Ayudhia melepas pelukan. Tangannya mengusap pipi Kiran dengan tatapan sayang sebagai kakak yang siap melindungi adiknya, lalu dia beranjak meninggalkan Kiran untuk mengurus hal yang lainnya.Elvano duduk merapat pada Kiran. Dia menautkan jemari mereka, mata Elvano memancarkan kehangatan dan kasih sayang untuk Kiran.“Aku harap kamu tidak memendam lelahmu sendiri,” ucap Elvano dengan nada lembut. “Sekarang, kamu tidak sendiri, ada aku, ada orang tuaku, orang tuamu, keluarga kita. Kami akan bersamamu, jangan lagi memendam semua masalahmu sendirian seperti dulu.” Setelah bicara, Elvano mengecup lembut punggung tangan Kiran.Kiran mengangguk pelan, senyumnya lebar dan matanya berkaca-kaca. “Iya, aku akan memanfaatkanmu dan keluarga untuk menjagaku,” seloroh Kiran kemudian yang dia akhiri dengan tawa kecil.“Boleh,” balas Elvano, lalu d

  • Dimanja Mantan Posesif   Semua Bahagia

    Keesokan harinya.Kiran dan bayinya sudah diperbolehkan meninggalkan rumah sakit karena kondisi keduanya yang sehat.Elvano berjalan menuntun Kiran meninggalkan kamar inap, sedang Alina menggendong bayi Kiran dan disampingnya ada Aksa yang mendampingi sambil membawakan barang-barang menantu dan cucunya.“Dia anteng sekali, bahkan semalam kalau tidak dibangunkan, dia tidak menyusu. Bahaya sekali Keanu ini, bisa-bisa sakit kalau tidak minum susu tepat waktu,” ucap Alina sambil memandangi wajah cucunya yang doyan tidur.“Mungkin dia lebih suka tidur,” kata Aksa saat memandang cucu tampannya ini.Di depan kedua orang tua ini. Kiran menahan senyum mendengar percakapan Alina dan Aksa. Dia tak menyangka mereka sangat perhatian pada putranya.Mereka masuk ke dalam mobil yang sudah menunggu di depan lobby lalu meninggalkan rumah sakit menuju kediaman Radjasa.Begitu mobil yang membawa Elvano, Kiran, dan bayi Keanu tiba di halaman kediaman Radjasa.Tatapan Kiran dan Elvano tertuju ke teras ruma

  • Dimanja Mantan Posesif   Perhatian Elvano

    Malam harinya.Suasana ruang inap VIP terasa begitu tenang dan hangat. Lampu utama ruangan sudah diredupkan, menyisakan pencahayaan kuning remang yang memberikan rasa nyaman.Alina menolak untuk pulang dan memilih ikut menginap untuk mendampingi Kiran di malam pertama pascamelahirkan. Saat ini, Alina sedang duduk santai di sofa sudut ruangan seraya memperhatikan interaksi anak dan menantunya dengan senyum terkembang hangat di bibirnya.Di atas ranjang. Kiran duduk bersandar pada tumpukan bantal yang disiapkan Elvano. Pria itu dengan telaten dan penuh kesabaran menyuapi Kiran semangkuk bubur halus hangat khusus pasien."Satu suap lagi ya, Ki," ujar Elvano lembut, menyodorkan sendok berisi bubur ke depan bibir Kiran.Kiran menerima suapan itu dan mengunyahnya pelan, lalu menggeleng halus. "Sudah, El ... perutku masih terasa penuh sekali.""Sedikit lagi, Ki. Biar tenagamu cepat pulih," bujuk Elvano dengan tatapan penuh perhatian. Kiran menggeleng lagi sambil memberikan tatapan memelas.

  • Dimanja Mantan Posesif   Keanu Arya Radjasa

    Kamila melotot melihat Noah malah memastikan seolah tak percaya. Dia berjalan cepat menghampiri putranya, lalu dengan satu tarikan, Kamila menjewer telinga Noah.“Respon apa itu, huh? Bisa-bisanya memastikan begitu? Memangnya kamu tidak ambil andil dalam kehamilan, Nindy?” Kamila menarik kencang telinga putranya agar sadar.“Ma … Ma … sakit.” Noah memekik sampai harus mengimbangi tarikan jari sang mama. “Aku hanya memastikan, Ma. Bukan tidak mengakui.”Kamila melepas jarinya dari telinga Noah, dia menatap gemas ke putranya yang benar-benar sangat lamban kalau berpikir soal perasaan.Semua orang yang ada di ruangan sampai menahan tawa.Hingga tatapan Noah tertuju pada Nindy. Dia mendekat ke istrinya, lalu menatap penuh cinta saat pandangan mereka bertemu.“Kamu benar-benar sedang hamil?” Noah memastikan.Nindy mengangguk-angguk pelan. “Tapi perlu periksa lagi buat memastikan.”Noah begitu lega. Dia langsung memeluk Nindy dengan sangat erat.“Terima kasih, kamu benar-benar yang terbaik,

  • Dimanja Mantan Posesif   Kebahagiaan Berlipat

    Perawat menatap pada Kamila, dengan senyum ramah dia membalas. “Bayinya laki-laki dan sangat sehat.”Semua orang tua langsung mengucap syukur. Sedang Elvano merasakan haru, matanya sampai berkaca-kaca dengan dada yang mendesir hebat mengetahui bayi dan istrinya baik-baik saja.“Kami akan memindah pasien ke ruang perawatan bersama bayinya, jadi nanti keluarga bisa ikut ke sana,” kata perawat lalu pamit dan kembali masuk ke dalam ruang persalinan.Elvano benar-benar tak menyangka bayinya benar berjenis kelamin laki-laki.“El, selamat ya.” Surya mendekat pada Elvano, lalu dia memeluk menantunya ini.“Terima kasih, Ayah.” Elvano membalas pelukan dari Surya.Tak hanya Surya, Aksa dan Raihan juga bergantian memeluk Elvano.Semua orang benar-benar bahagia. Mereka pergi ke ruang perawatan yang sudah disiapkan, setelah Kiran selesai ditangani.Di dalam ruang inap VIP ini, para orang tua sibuk mengerumuni bayi Kiran yang begitu tampan dan gemuk.Sedang Elvano duduk di tepian ranjang sambil men

  • Dimanja Mantan Posesif   Semua Panik

    Kepanikan melanda seluruh anggota keluarga saat brankar yang membawa Kiran didorong cepat menyusuri koridor Rumah Sakit Ibu dan Anak menuju ruang persalinan. Dokter dan perawat bergerak sigap karena kontraksi Kiran makin sering dan pembukaannya bertambah cepat.Begitu Kiran sudah masuk ke dalam ruang persalinan.Alina, Kamila, Raihan, Aksa, Surya, dan Nindy menunggu di depan pintu ruang persalinan dengan wajah panik.Para orang tua itu terus merapal doa untuk keselamatan Kiran dan bayinya.“Apa Elvano sudah dikabari?” Kamila bertanya sambil menatap pada Alina yang ada di sampingnya.Alina tersentak. Dia sangat mencemaskan Kiran sampai lupa mengabari putranya.“Sebentar biar aku telepon.” Alina mengeluarkan ponsel dari tasnya.Namun, sebelum Alina menekan nomor Elvano di layar ponselnya, sudah lebih dulu terdengar suara Nindy.“Aku tadi sudah kirim pesan ke Elvano, Mama Alina. Tadi aku hubungi, tapi tidak dijawab, mungkin dia sedang rapat, semoga pesanku segera dibaca,” ucap Nindy den

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status