تسجيل الدخولBegitu pintu Ruang 3 terbuka, udara dingin dari pendingin ruangan langsung menyambut Kiran. Ruangan itu tidak seperti ruang wawancara pada umumnya yang berisi deretan meja panjang. Hanya ada satu meja bundar dengan tiga kursi yang menghadap ke arahnya.
Tiga orang pewawancara sudah menunggu. Dua pria paruh baya yang tampak kaku, dan seorang wanita dengan pakaian blouse putih formal yang menatap Kiran dengan sorot mata menilai.
"Duduk, Kirana Calissa," ujar wanita itu. Suaranya datar, namun tegas.
Kiran duduk dengan punggung tegak, mencoba menyembunyikan getaran di tangannya. "Terima kasih, Bu."
Wawancara dimulai. Awalnya, pertanyaan mereka terasa profesional—tentang pengalaman kerjanya di luar kota dan bagaimana dia menangani krisis komunikasi. Kiran menjawab semuanya dengan lancar. Selama enam tahun, dia telah menempa dirinya menjadi praktisi komunikasi yang handal. Ini adalah bidang yang dia kuasai.
Namun, di tengah sesi, suasana mendadak berubah. Ponsel milik pewawancara wanita di tengah meja bergetar. Dia melirik layar, lalu ekspresinya berubah menjadi sangat waspada.
"Halo, selamat pagi, Pak," ucap wanita itu dengan suara yang mendadak sangat lirih.
Kiran terdiam, berusaha tidak menguping. Namun, dia bisa merasakan aura di ruangan itu mendadak tegang. Kedua pewawancara pria di sisi kiri dan kanan pun mendadak merapikan duduk mereka, seolah-olah orang yang sedang menelepon itu berada di ruangan yang sama.
Wanita itu hanya mengangguk berkali-kali. "Baik, Pak... Saya mengerti... Baik."
Setelah menutup panggilan, wanita itu menatap dua rekan di sebelahnya, memberikan kode lewat tatapan mata, lalu kembali fokus pada Kiran. Dia menutup map berkas Kiran dengan suara plak yang cukup keras.
"Kirana, kami sudah melihat kualifikasimu. Kamu memang sangat kompeten di bagian Manajemen Komunikasi," ujar wanita itu.
Kiran baru saja hendak bernapas lega, sebelum kalimat selanjutnya menghantamnya.
"Tapi, kami tidak akan memberikan posisi itu kepadamu. Kami punya penawaran lain."
Kiran mengernyit bingung. Jantungnya berdegup tidak karuan. "Penawaran lain? Maksudnya posisi apa, Bu?"
"Asisten Pribadi Direktur Pemasaran," jawab wanita itu singkat. "Tugasmu mengatur jadwal, membalas pesan, email, dan memastikan hubungan antara klien dengan direktur berjalan lancar. Kamu punya kemampuan komunikasi yang kami butuhkan untuk posisi ini."
Kiran tertegun. "Tapi, saya tidak pernah menjadi asisten pribadi. Saya melamar untuk staf—"
"Gajinya dua puluh juta rupiah per bulan," potong wanita itu tanpa kompromi. "Itu belum termasuk uang lembur, tunjangan bulanan, dan asuransi kesehatan penuh untuk keluarga."
Angka dua puluh juta itu terngiang-ngiang di telinga Kiran. Itu adalah jumlah yang dia butuhkan untuk membayar deposit operasi ayahnya hanya dalam hitungan hari. Nominal itu adalah nyawa bagi ayahnya.
"Kenapa... kenapa saya ditawarkan posisi ini?" tanya Kiran ragu. "Saya yakin banyak pelamar lain yang punya pengalaman sebagai asisten."
"Kami tidak menawarkan kesempatan dua kali, Kirana. Kami butuh jawabanmu sekarang. Ambil, atau pintu keluar ada di belakangmu," desak wanita itu, tatapannya mengunci mata Kiran.
Bayangan ibunya yang memaki, tagihan rumah sakit yang membengkak, dan wajah pucat ayahnya berkelebat di pikiran Kiran. Dia tahu ada sesuatu yang aneh. Bagaimana mungkin perusahaan sebesar RDJ memberikan gaji fantastis untuk posisi yang bahkan tidak dia kuasai?
Namun, dia tidak punya kemewahan untuk menolak.
"Saya terima, Bu," ucap Kiran dengan suara sedikit bergetar.
Wanita itu langsung mengambil stempel dan menekan kuat di atas berkas Kiran. "Diterima. Besok jam delapan pagi, lapor ke bagian HRD di lantai sepuluh. Jangan terlambat."
Kiran berdiri, membungkuk sopan, dan segera keluar dari ruangan itu. Begitu pintu tertutup di belakangnya, dia menyandarkan punggungnya ke dinding koridor. Napasnya memburu. Dia merasa baru saja menandatangani kontrak dengan iblis, namun di saat yang sama, dia merasa lega karena nyawa ayahnya setidaknya punya harapan.
Sambil berjalan menuju lift, Kiran merogoh ponsel dari tasnya. Jemarinya dengan lincah mengetik pesan untuk dikirimkan ke Sabrina.
Pandangannya terus tertuju ke layar ponsel, hingga dia tidak menyadari ada langkah kaki yang mendekat dari arah berlawanan.
Bruk!
Tubuh Kiran menghantam sesuatu yang keras—dada bidang seseorang yang kokoh. Ponsel di tangannya terlepas, jatuh membentur lantai marmer dengan suara keras.
"Ma—"
Kalimat permintaan maaf Kiran terhenti di tenggorokan. Udara di sekitarnya mendadak terasa tipis.
Kiran mendongak perlahan, dan dunianya seolah runtuh saat itu juga.
Malam harinya.Suasana ruang inap VIP terasa begitu tenang dan hangat. Lampu utama ruangan sudah diredupkan, menyisakan pencahayaan kuning remang yang memberikan rasa nyaman.Alina menolak untuk pulang dan memilih ikut menginap untuk mendampingi Kiran di malam pertama pascamelahirkan. Saat ini, Alina sedang duduk santai di sofa sudut ruangan seraya memperhatikan interaksi anak dan menantunya dengan senyum terkembang hangat di bibirnya.Di atas ranjang. Kiran duduk bersandar pada tumpukan bantal yang disiapkan Elvano. Pria itu dengan telaten dan penuh kesabaran menyuapi Kiran semangkuk bubur halus hangat khusus pasien."Satu suap lagi ya, Ki," ujar Elvano lembut, menyodorkan sendok berisi bubur ke depan bibir Kiran.Kiran menerima suapan itu dan mengunyahnya pelan, lalu menggeleng halus. "Sudah, El ... perutku masih terasa penuh sekali.""Sedikit lagi, Ki. Biar tenagamu cepat pulih," bujuk Elvano dengan tatapan penuh perhatian. Kiran menggeleng lagi sambil memberikan tatapan memelas.
Kamila melotot melihat Noah malah memastikan seolah tak percaya. Dia berjalan cepat menghampiri putranya, lalu dengan satu tarikan, Kamila menjewer telinga Noah.“Respon apa itu, huh? Bisa-bisanya memastikan begitu? Memangnya kamu tidak ambil andil dalam kehamilan, Nindy?” Kamila menarik kencang telinga putranya agar sadar.“Ma … Ma … sakit.” Noah memekik sampai harus mengimbangi tarikan jari sang mama. “Aku hanya memastikan, Ma. Bukan tidak mengakui.”Kamila melepas jarinya dari telinga Noah, dia menatap gemas ke putranya yang benar-benar sangat lamban kalau berpikir soal perasaan.Semua orang yang ada di ruangan sampai menahan tawa.Hingga tatapan Noah tertuju pada Nindy. Dia mendekat ke istrinya, lalu menatap penuh cinta saat pandangan mereka bertemu.“Kamu benar-benar sedang hamil?” Noah memastikan.Nindy mengangguk-angguk pelan. “Tapi perlu periksa lagi buat memastikan.”Noah begitu lega. Dia langsung memeluk Nindy dengan sangat erat.“Terima kasih, kamu benar-benar yang terbaik,
Perawat menatap pada Kamila, dengan senyum ramah dia membalas. “Bayinya laki-laki dan sangat sehat.”Semua orang tua langsung mengucap syukur. Sedang Elvano merasakan haru, matanya sampai berkaca-kaca dengan dada yang mendesir hebat mengetahui bayi dan istrinya baik-baik saja.“Kami akan memindah pasien ke ruang perawatan bersama bayinya, jadi nanti keluarga bisa ikut ke sana,” kata perawat lalu pamit dan kembali masuk ke dalam ruang persalinan.Elvano benar-benar tak menyangka bayinya benar berjenis kelamin laki-laki.“El, selamat ya.” Surya mendekat pada Elvano, lalu dia memeluk menantunya ini.“Terima kasih, Ayah.” Elvano membalas pelukan dari Surya.Tak hanya Surya, Aksa dan Raihan juga bergantian memeluk Elvano.Semua orang benar-benar bahagia. Mereka pergi ke ruang perawatan yang sudah disiapkan, setelah Kiran selesai ditangani.Di dalam ruang inap VIP ini, para orang tua sibuk mengerumuni bayi Kiran yang begitu tampan dan gemuk.Sedang Elvano duduk di tepian ranjang sambil men
Kepanikan melanda seluruh anggota keluarga saat brankar yang membawa Kiran didorong cepat menyusuri koridor Rumah Sakit Ibu dan Anak menuju ruang persalinan. Dokter dan perawat bergerak sigap karena kontraksi Kiran makin sering dan pembukaannya bertambah cepat.Begitu Kiran sudah masuk ke dalam ruang persalinan.Alina, Kamila, Raihan, Aksa, Surya, dan Nindy menunggu di depan pintu ruang persalinan dengan wajah panik.Para orang tua itu terus merapal doa untuk keselamatan Kiran dan bayinya.“Apa Elvano sudah dikabari?” Kamila bertanya sambil menatap pada Alina yang ada di sampingnya.Alina tersentak. Dia sangat mencemaskan Kiran sampai lupa mengabari putranya.“Sebentar biar aku telepon.” Alina mengeluarkan ponsel dari tasnya.Namun, sebelum Alina menekan nomor Elvano di layar ponselnya, sudah lebih dulu terdengar suara Nindy.“Aku tadi sudah kirim pesan ke Elvano, Mama Alina. Tadi aku hubungi, tapi tidak dijawab, mungkin dia sedang rapat, semoga pesanku segera dibaca,” ucap Nindy den
Delapan bulan berlalu dengan cepat. Suasana di kediaman Radjasa mendadak sibuk. Usia kandungan Kiran sudah memasuki bulan kesembilan, dan hari perkiraan lahir hanya tinggal menghitung hari.Di kamar bayi yang berada tepat di sebelah kamar utama, para orang tua tampak sangat bersemangat menyelesaikan mendekor kamar bayi untuk menyambut kelahiran anak Kiran dan Elvano.Alina dan Kamila sibuk menyusun baju-baju bayi berukuran kecil ke dalam lemari, memasang kelambu, hingga menata sprei tempat tidur bayi. Sementara Aksa, Raihan, dan Surya berkumpul di sudut ruangan, sibuk merakit mainan gantung yang akan digantung di atas baby box.Kiran sendiri hanya duduk santai di sofa empuk kamar bayi seraya menikmati semangkuk buah potong segar karena gerakannya kini terbatas, ditemani Nindy yang juga ada di sana siang ini.Tangan Kiran mengusap lembut perutnya yang sudah sangat besar. Dia tersenyum-senyum sendiri memperhatikan kehebohan para kakek dan nenek yang ingin menyambut bayinya.“Mau aku
Keesokan harinya. Kiran sudah diperbolehkan pulang dari rumah sakit setelah kondisinya dinyatakan membaik dan stabil oleh dokter. Elvano menjelma menjadi sosok suami yang super protektif dan sigap luar biasa. Sejak langkah pertama keluar dari pintu kamar rawat inap, Elvano tidak membiarkan Kiran membawa apa pun, bahkan tas kecil miliknya sendiri sudah bertengger rapi di bahu Elvano.Dengan penuh kehati-hatian, Elvano menuntun Kiran melangkah menyusuri koridor rumah sakit hingga sampai di parkiran. “Hati-hati,” ucap Elvano memastikan Kiran tidak terbentur tepian kabin seolah istrinya ini bisa pecah kalau tersenggol.Kiran hanya tersenyum melihat sikap Elvano yang berlebihan, tetapi dia senang melihat antusias Elvano menjadi calon ayah.Kiran duduk dengan nyaman di dalam mobil, Elvano memasangkan sabuk pengaman untuk Kiran dengan gerakan sangat lembut, memastikan tali pengaman itu tidak menekan perut istrinya terlalu kencang.“Sudah nyaman, ‘kan? Tidak ada yang menekan?” Elvano memast







