LOGINKakak, done 4 bab buat hari ini ya. Jangan lupa tinggalkan komentarnya ya, Kakak. Makasih banyak.
Kiran dan Surya akhirnya kembali ke rumah.Rumah sederhana ini, ternyata tetap menjadi ternyaman untuk Kiran.Tetapi ada yang lebih nyaman, yang harus dia tinggalkan demi melindungi ayahnya.Kiran teringat rumah lama mereka.Kiran menoleh pada Surya yang baru saja keluar dari kamarnya setelah meletakkan koper mereka.“Apa kamu sudah lapar? Mau Ayah masakin?” Surya menatap pada Kiran yang hanya berdiri diam.Senyum Kiran terangkat pelan.“Yah, ada sesuatu yang ingin aku bicarakan dengan Ayah.”Kening Surya berkerut samar. “Ya, tentu.”Surya mengangguk-angguk.Kiran meminta ayahnya duduk lebih dulu.Setelah memastikan satu sama lain duduk dengan nyaman, Kiran siap bicara.“Aku mau membahas soal rumah lama kita.” Kiran bicara dengan sangat hati-hati.Punggung Surya menegak. Dia menatap Kiran yang terlihat serius.“Kenapa tiba-tiba membahas soal rumah itu lagi? Kalau sudah hilang, ya sudah biarkan saja. Anggap saja memang belum rezeki kita.”Bibir Kiran dilipat mendengar ucapan sang ayah.
Malam hari.Elvano dan Kiran duduk di Coffee Shop yang ada di samping hotel.Keduanya pergi ke sana setelah makan malam.“Aku kira, keluargamu akan menahanmu dan tetap memintamu pergi besok.” Setelah bicara, Elvano menyesap kopi miliknya.“Meskipun menahan, aku juga akan tetap pergi.” Kiran membalas santai.Elvano menahan tawanya.“Baiklah, baiklah, aku percaya kamu bisa melakukan itu.”Senyum Kiran terangkat kecil mendengar ucapan Elvano.“Tapi aku masih ada yang mengganjal.” Kiran mengaduk kopinya. Tatapannya lantas tertuju pada Elvano lagi.“Apa?” Elvano menatap penasaran pada Kiran.“Soal Yessica. Aku masih penasaran, apakah aku dan dia dulu benar-benar berhubungan baik? Tidak seperti saat bertemu Noah, aku bisa melihat kasih sayang dari tatapan Noah. Sedang Yessica, entah kenapa aku merasa dia sangat membenciku, setiap kali menatapku, walau ada senyum di wajahnya.” Kiran bicara sambil membayangkan bagaimana Yessica tersenyum dan bicara padanya.Meski semua sikap Yessica tampak ba
Noah terdiam karena ucapan Kiran.Dia melihat keseriusan dari sorot mata sang adik. Apa Kiran sudah ingat sesuatu?“Apa kamu sedikit ingat soal masa lalumu?” Noah memastikan.Akan sangat membahagiakan baginya jika Kiran ingat.“Tidak.” Kiran membalas cepat. “Hanya saja, sesekali kamu mendengar rumor di luaran sana.” Kiran bicara dengan sangat tegas. “Hal yang benar, tidak selalu benar.”“Mungkin benar.” Noah menjeda ucapannya. “Aku tidak pernah benar-benar memperhatikan Yessica, begitu juga Papa dan Mama.” Satu sudut alis Kiran tertarik ke atas mendengar ucapan Noah.“Setelah kepergianmu, kami hanya berpikir harus menjaga Yessica dengan baik, karena bagaimanapun dia adalah pilihanmu.”Kiran mengembuskan napas kasar. Masih tak percaya jika mengingat dia memilih Yessica.“Aku tidak mau bicara banyak lagi.” Kiran ingin mengakhiri percakapan ini. “Aku akan ke hotel bersama Ayah dan besok pagi, kami akan pergi menggunakan penerbangan pertama.” Kiran bicara dengan tegas.Noah tidak bisa me
Yessica tersentak.Dia melihat tatapan mengintimidasi dari Kiran. Sorot mata Kiran benar-benar berbeda.“Aku benar-benar tidak tahu apa yang kamu maksud? Untuk apa aku menargetkanmu? Kiran, aku tahu jika salah. Jadi tolong jangan salah paham, aku hanya ingin menggodamu.”Wajah Kiran sangat datar.Menggoda? Sampai harus menarik Kiran ke arah Danau?“Orang lain mungkin akan percaya padamu. Tapi tidak denganku.” Suara Kiran tegas dan dalam. Yessica terdiam mendengar ucapan Kiran.“Dan, satu lagi. Jangan kamu pikir, aku tidak tahu semua kelakuanmu. Sayangnya aku tidak ingin ikut campur, jadi kamu juga seharusnya tahu batasanmu.”Yessica tersentak mendengar kalimat yang Kiran lontarkan.Tahu? Tahu kelakuan apa? Apakah Kiran sudah ingat masa kecilnya?Bola mata Yessica membulat sempurna.Tak jauh dari Kiran.Surya dan Elvano berdiri mengawasi, keduanya menatap waspada, takut jika Kiran dan Yessica bertengkar.Sampai mereka melihat Kiran membalikkan tubuh. Tatapan Kiran kini tertuju pada Su
Noah semakin diam mendengar ucapan Yessica.Sampai, kalimat Yessica menjawab semua pertanyaan di kepalanya.“Aku sepertinya mau flu, aku ganti baju dulu, Kak.”Noah tetap diam menatap kepergian Yessica.Satu-satunya alasan yang bisa Noah mengerti kenapa Yessica ingin menjatuhkan Kiran, karena perbedaan status mereka yang dipaksa untuk disamakan.Di sisi lain.Surya mencari Kiran karena cemas. Langkah Surya terhenti ketika melihat Kiran sedang duduk bersama Elvano.Apalagi dari sudut pandangnya sekarang, Surya melihat Elvano begitu perhatian membersihkan rambut Kiran.Senyum Surya terangkat lebar. Dia lupa dengan siapa Kiran berada sekarang.Selama Kiran bersama Elvano, maka putrinya ini akan selalu baik-baik saja.Surya mengembuskan napas pelan, sebelum dia melangkah menghampiri Elvano dan Kiran.“Ternyata kalian di sini.” Surya berdiri di dekat Kiran dan Elvano duduk.Kiran dan Elvano menoleh bersama.Ketika melihat Surya di sana, Elvano buru-buru bangun dari duduknya. “Paman, silak
Kamila dan Raihan terkejut melihat Yessica yang datang sambil menggigil kedinginan.Kamila meminta sopir untuk segera mengambilkan pakaian ganti di mobil, sebelum mendekati Yessica.“Bagaimana bisa kamu basah kuyup begini?” Kamila membersihkan kotoran yang ada di rambut Yessica.“Yessica jatuh ke danau.” Adrian yang menanggapi pertanyaan Kamila.“Apa?” Kamila terkejut sambil menatap pada Adrian. “Bagaimana bisa jatuh ke danau?”Bibir Yessica masih bergetar. Kedua tangan masih memeluk erat tubuhnya.“Tadi, aku berniat mengajak main Kiran, tapi dia tak sengaja mendorongku.” Suara Yessica sedikit lirih dan goyah.“Yang mendorongmu Kiran?” Kamila memastikan.Yessica mengangguk, tetapi setelahnya menggeleng. “Mama jangan menyalahkan Kiran.” Yessica menjeda ucapannya sejenak sebelum kembali berkata, “Dia sepertinya juga tidak sengaja.”“Tapi Kiran juga tak seharusnya mendorongmu ke danau, Yess.” Raihan ikut bicara.Di dekat Raihan dan Kamila, Surya berdiri diam mendengar apa yang Yessica ka
Kedua pundak Dania menegang, bola matanya bergerak liar mencari kata-kata untuk membalas ucapan Kiran.“Kamu tidak usah mengelak lagi! Aku tahu, semua yang aku alami ini karena laporan darimu!” Kiran tersenyum hambar. Dania masih saja kukuh memfitnahnya.Melihat tenangnya Kiran, emosi Dania semaki
Wajah Kiran memucat melihat kepanikan sang ayah. Jangan sampai ayahnya syok dan sakit lagi kalau tahu dia menggadaikan kalung itu demi biaya operasi ayahnya.“Tidak, Yah. Tidak aku jual, kok. Tapi, memang tidak aku pakai karena takut hilang karena kalung itu sangat berharga.” Senyum Kiran begitu kak
Sore hari. Kiran melangkah meninggalkan RDJ menuju halte bus terdekat, sampai langkahnya terhenti ketika melihat siapa yang menghadang jalannya. “Kenapa Kak Yoga di sini?” Kiran menatap waspada karena kemunculan Yoga. Tangan Yoga terulur cepat mencengkram kuat lengan Kiran. “Kemarin kamu tidak me
Saat jam makan siang. Dania masuk ke ruang kerja pamannya. Langkah pelannya terarah pasti menuju meja sang paman. “Paman, bagaimana hasil rapatnya tadi?” Dania langsung mengambil posisi duduk setelah bertanya. Malik menatap pada Dania, napasnya berembus pelan sebelum dia menjawab, “Elvano melindu







