LOGINKiran duduk di ruang tunggu lobby.Sampai, Elvano akhirnya tiba di sana.“Sudah luang?” Kiran berdiri menyambut Elvano.“Kenapa tidak naik saja langsung?” Elvano sudah berdiri tepat berhadapan dengan Kiran.Kiran menggeleng. “Tidak enak saja. Aku sedang diskors, tidak nyaman jika berkeliaran di perusahaan.”Melihat Elvano yang diam, Kiran kembali bicara. “Aku bawa makan siang, bagaimana kalau kita makan di taman samping?”Kiran mengangkat paper bag yang dibawanya.Elvano mengangguk pelan. Mana mungkin dia menolak.Mereka pergi ke taman samping.Di bawah pohon rindang, di bangku yang biasa digunakan karyawan melepas penat. Kiran dan Elvano duduk di sana.“Kamu bilang mau pergi dengan ayahmu?” Elvano menatap pada Kiran yang sedang mengeluarkan kotak makanan dari dalam paper bag.“Besok, tadi aku baru saja menemui Kak Mila.” Kiran bicara tanpa menatap Elvano.Kiran sibuk menyiapkan alat makan untuk sang kekasih.“Bagaimana? Apa yang dia mau?”Kiran mengangkat pandangan ke Elvano. Sambil m
Siang hari.Kiran pamit ke Surya jika mau mengurus sesuatu.Dia pergi ke kafe setelah menghubungi Mila.Di sana, Kiran melihat Mila yang sudah menunggu.“Kamu benar-benar datang.”Melihat senyum semringah Mila. Kiran tetap memasang wajah datar.Kiran duduk berhadapan dengan Mila.“Sudah berapa bulan?” Kiran bicara tanpa ekspresi.Mila menyentuh perutnya. “Baru dua bulan.”Pandangan Mila tertunduk. “Aku juga baru tahu kalau hamil kemarin. Karena itu, aku bingung.”Kiran mengembuskan napas pelan.“Sekarang kamu maunya bagaimana? Aborsi?”Kiran melihat Mila tersentak karena ucapannya.“Aku tidak tahu.”Jawaban Mila membuat Kiran mengembuskan napas pelan.“Dari kejadian ini, apa kamu sudah sadar apa kesalahanmu?” Kiran bicara dengan tegas. Sorot matanya penuh penekanan.Mila memejamkan mata sejenak sebelum mengangkat pandangannya ke Kiran. “Aku tahu.”“Jika melakukan aborsi, dosamu akan semakin besar karena membunuh bayi yang tidak bersalah.” Kiran kembali bicara. “Tapi jika kamu pertahan
Setelah Mila pergi.Kiran kembali ke unit apartemen ayahnya.Dia berdiri di depan pintu. Kiran menarik napas dalam-dalam sebelum mengembuskan pelan.Setelah tenang, Kiran lantas masuk untuk menemui sang ayah.Ketika tiba di dalam, tatapan Kiran tertuju pada Surya yang sudah memandangnya.“Mila sudah pergi?” Surya memastikan.Kiran mengangguk. Dia ikut duduk di samping sang ayah.Surya mengembuskan napas pelan.“Ibumu dipenjara, apa ada hubungannya dengan alasan kamu menanyakan soal asal-usulmu?” Surya langsung menebak.Kiran mengangguk pelan. “Tapi Ayah jangan cemas.”Sambil mengusap punggung tangan sang ayah, Kiran kembali berkata, “Ibu tidak akan ditahan lama, Yah. Dia dimasukkan ke kantor polisi, hanya untuk membuat efek jera saja. Paling tidak sampai sebulan Ibu sudah bebas.”Surya mengembuskan napas pelan.“Ayah marah karena aku membiarkan Ibu ditahan?” Kiran memastikan.Dia melihat wajah lelah sang ayah.“Tidak, Ayah tidak marah. Jika memang ibumu bersalah, memang sudah sepatutny
Kiran bergeming mendengar ayahnya marah. Sejauh dalam ingatannya, ayahnya adalah orang penyabar yang jarang sekali membentak, apalagi pada anak-anaknya.“Ayah sekarang juga membentakku demi Kiran?”Tatapan Kiran kini tertuju pada Mila yang masih saja tidak mau berhenti.Tidak ingin membuat ayahnya sakit lagi jika terlalu emosi. Kiran mencengkram lengan Mila.“Ayah di sini saja.” Kiran memperingatkan sebelum menarik paksa Mila menjauh dari ayahnya.Mila tersentak.Dia berusaha memberontak, tetapi cengkraman Kiran terlalu kuat.“Lepaskan, kamu tidak berhak menjauhkanku dari Ayah.”Begitu sampai di depan pintu lift, Kiran melepas kasar lengan Mila.“Lebih baik kamu pergi dari sini dan berhenti mengganggu Ayah.” Suara Kiran penuh dengan penekanan.“Kamu berani mengusirku?! Sekarang kamu benar-benar menjadi pembangkang!”Kiran menatap datar.“Aku memang pembangkang sejak dulu.” Setelah mendengkus kecil. Kiran kembali bicara. “Jika bukan karena Ayah yang sakit, aku tidak akan diam saja men
Sore hari.Kiran baru saja membuka sabuk pengaman saat mobil Elvano di depan lobby apartemen.“Aku keluar dulu.”Sebelum tangannya meraih pintu, Kiran kembali menoleh karena lengannya ditahan Elvano.“Ada apa lagi?” Kiran menatap pada Elvano yang masih memegang lengannya.“Besok, apa pun yang kamu lakukan dan di mana kamu berada, jangan lupa memberitahuku.”Satu sudut alis Kiran tertarik ke atas.Apa permintaan Elvano tidak terlalu berlebihan?Tetapi, Kiran juga tidak keberatan.“Iya, kamu jangan cemas.” Senyum Kiran terangkat kecil.“Kalau begitu aku keluar dulu.” Kiran kembali pamit.Namun, sebelum wajahnya teralihkan dari Elvano, Kiran dibuat terkejut saat Elvano meraih tengkuknya.Bibir mereka kini saling bersentuhan.Kiran tersentak.Mata Kiran terbuka ketika melihat Elvano memejamkan mata saat menautkan bibir mereka.Beberapa detik. Elvano akhirnya melepas Kiran.“Aku keluar dulu.” Kiran melipat bibir, setelahnya dia keluar dari mobil Elvano.Masih berdiri di depan lobby, tangan
Telunjuk Kiran mengetuk-ngetuk meja, sesekali dia menoleh ke koridor yang terhubung dengan lift.Kenapa Elvano belum kembali?Apa Elvano mendapat masalah besar karena dia?Kiran menggigit bibir bawahnya. Dia tidak bisa tenang.Sampai suara langkah yang familiar di telinganya, mengalihkan pandangan Kiran ke arah koridor.Meski tegang, tetapi masih ada senyum kecil di wajahnya ketika melihat kedatangan Elvano.“Kiran, ke ruanganku.”Mendengar suara tegas Elvano, senyum Kiran sempat memudar meskipun akhirnya kembali terangkat lembut.“Baik, Pak.” Kiran mengangguk.Kiran meninggalkan mejanya, dia bergegas menyusul Elvano yang sudah lebih dulu masuk ke dalam ruang kerja.Kiran menutup pintu dengan rapat, sebelum langkahnya yang pasti tertuju ke meja kerja Elvano.“Bagaimana rapatnya tadi? Mereka tidak mempersulitmu, ‘kan?” Kiran menatap cemas.Tatapan Elvano berbalut rasa bersalah. “Duduklah dulu.”Kiran menyadari perbedaan sikap Elvano. Dia mengikuti instruksi Elvano dengan segera duduk d
Jemari Kiran meremat erat tali tas yang menggantung di pundaknya saat merasakan jantungnya masih berdegup cepat karena perubahan sikap Elvano.‘Kenapa dia tadi tiba-tiba muncul di sana? Dan, kenapa tatapannya sangat berbeda dari sebelumnya?’Kepala Kiran dipenuhi banyak pertanyaan, tetapi bibirnya
Alina menghampiri suaminya yang baru saja menginjakkan kaki di dalam kamar. Penuh antusias dia menarik tangan Aksa sebelum dia ajak duduk di tepian ranjang.“Bagaimana? Apa kamu sudah mencari tahu kenapa sikap El agak berubah?” Alina tak bisa membendung rasa penasarannya, tatapannya begitu antusia.
Operasi ayah Kiran berjalan dengan lancar, meskipun Surya belum sadar setelah operasi yang dijalaninya, tetapi Kiran akhirnya bisa sedikit lega.Hari selanjutnya.Kiran berangkat ke perusahaan seperti biasa sesuai janjinya pada Elvano sebelumnya karena sudah diberi cuti.Kiran datang lebih awal. Kak
Sore hari. Kiran melangkah meninggalkan RDJ menuju halte bus terdekat, sampai langkahnya terhenti ketika melihat siapa yang menghadang jalannya. “Kenapa Kak Yoga di sini?” Kiran menatap waspada karena kemunculan Yoga. Tangan Yoga terulur cepat mencengkram kuat lengan Kiran. “Kemarin kamu tidak me







