Share

Janji Ayah

last update Tanggal publikasi: 2026-04-01 09:43:22
Setelah Mila pergi.

Kiran kembali ke unit apartemen ayahnya.

Dia berdiri di depan pintu. Kiran menarik napas dalam-dalam sebelum mengembuskan pelan.

Setelah tenang, Kiran lantas masuk untuk menemui sang ayah.

Ketika tiba di dalam, tatapan Kiran tertuju pada Surya yang sudah memandangnya.

“Mila sudah pergi?” Surya memastikan.

Kiran mengangguk. Dia ikut duduk di samping sang ayah.

Surya mengembuskan napas pelan.

“Ibumu dipenjara, apa ada hubungannya dengan alasan kamu menanyakan soal asal-usulmu?”
Aililea (din din)

Kakak, jangan lupa komentarnya, ya. 2 bab lagi menyusul, terima kasih ^^

| 11
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci
Komen (12)
goodnovel comment avatar
Alfiah Ummi Hani
kiran kasihan sm anaknya bukan sm mila yg gila itu..semoga mila berubah setelah d bantu kiran
goodnovel comment avatar
wardah
masih aja peduli si kiran ini , biarin aja harusnya biar mikir si Mila nya
goodnovel comment avatar
Enisensi klara
makasih up nya kk
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • Dimanja Mantan Posesif    Tidak Aman

    Tatapan Kiran tertuju pada sang ayah.Bibirnya tersenyum kecil tanpa rasa bersalah.“Kulepas saat tadi mau mandi, Ayah,” kilahnya. Sedangkan kalung itu sudah tidak dia pakai berhari-hari ini.Surya mengembuskan napas lega.“Kenapa tidak dipakai lagi?” Surya kembali memanggang daging setelah mendapat jawaban dari Kiran.Senyum Kiran sedikit masam. Dia memasukkan potongan daging ke mulut, sebelum membalas, “Iya, nanti aku pakai lagi. Sekarang, bolehkan aku makan yang banyak dulu.”Kiran memberikan tatapan memelas ke ayahnya.“Baiklah, baiklah, makan dulu yang banyak sekarang.” Surya kembali meletakkan potongan daging di piring Kiran. Senyum hangat penuh kasih sayang, tidak lekang dari wajah tuanya.**Hari berikutnya.Kiran berada di ruangan Elvano mengatur berkas-berkas yang harus kekasihnya ini tandatangani.“Ini sudah semua, sisanya aku akan cek ulang sebelum kamu tandatangani.” Kiran menyodorkan beberapa stopmap yang sudah dia pilah.“Terima kasih.” Tangan Elvano terulur menerima ber

  • Dimanja Mantan Posesif    Ada Yang Merindukan

    Surya tersentak.Tetapi, dia segera memasang senyumnya.“Menangis? Siapa yang menangis?” Surya menyentuh pipinya agar Kiran tidak curiga.“Tapi mata Ayah juga merah.” Kiran tak percaya begitu saja. “Ada apa, Ayah? Apa ada masalah di pekerjaan? Karena itu Ayah tidak kerja?”Kiran berasumsi. Ayahnya tidak mungkin cuti tanpa alasan.Surya mencebik. Menyanggah pemikiran putrinya“Kamu ini terlalu curigaan, Kiran.” Secepatnya Surya mengelak. “Ayah sudah berangkat, tapi teman Ayah bilang butuh uang tambahan dan minta jatah kerja Ayah hari ini saja. Makanya Ayah pulang lagi. Biarlah dia dapat tambahan buat istrinya.”Mata Kiran menyipit. Dia masih tidak percaya.“Kamu ini, kenapa tidak percaya sekali sama ayahmu ini?” Surya kembali meyakinkan.Melihat sang ayah yang gigih menjelaskan. Kiran akhirnya mengabaikan.“Baiklah kalau benar seperti itu.” Kiran kembali menatap sang ayah sebelum masuk kamarnya. “Mumpung Ayah di rumah, bikin barbeque ya, Ayah. Saat kemah kemarin, aku belum puas. Jadi,

  • Dimanja Mantan Posesif    Sangat Yakin

    Di mobil Noah.Noah menatap ke jalanan yang mereka lewati.Tatapannya menyorot tak biasa. Ada optimisme yang membuat semangatnya terbakar.“Anda tahu kalau Kiran adalah anaknya Pak Surya, tapi kenapa Anda sangat yakin jika dia adik Anda, Pak?” Farhan menatap heran. Bagaimanapun sikap Noah sangat aneh saat ini.Noah menoleh pada Farhan.Senyum Noah terangkat kecil.“Bagaimana jika Kiran adalah anak angkat? Anak pungut? Atau semacamnya? Bukankah kita tidak tahu pasti?” Ucapan Noah sangat meyakinkan.Kening Farhan berkerut dalam.“Tapi, bukankah Pak Adrian bilang kalau Kiran anaknya Pak Surya?” Farhan bicara dengan sangat hati-hati.“Anak saja, tidak ada kata anak kandung atau anak angkat. Kata anak bisa kita asumsikan dengan banyak hal.”Farhan membuka bibir untuk bicara lagi.Tetapi ucapan Noah tak terbantah.Farhan kembali melipat bibirnya.Noah kembali memandang keluar jendela, setelah Farhan diam.“Entah kenapa, sejak pertama kali melihat Kiran. Wajahnya sangat tidak asing bagiku.”

  • Dimanja Mantan Posesif    Psikiater

    Di rumah sakit.Kiran duduk di kursi tunggu depan ruang pemeriksaan kejiwaan.Jemarinya saling meremat, bibir bawahnya dia gigit kuat-kuat saat pandangannya tertuju ke pintu ruangan yang ada di depannya.Sampai, tangan hangat Elvano mengurai jemarinya. Kiran menoleh ketika Elvano menggenggam sempurna telapak tangannya.“Gugup?” Pertanyaan Elvano sukses membuat napas Kiran berembus kasar.“Sedikit.” Meski memaksakan senyumnya, tetap saja terlihat kegelisahan di wajah Kiran.Elvano menggenggam lebih erat telapak tangan Kiran. “Aku akan terus bersamamu. Jangan terlalu tegang.”Kiran mengangguk pelan.Saat perawat memanggil nama Kiran.Elvano yang pertama kali berdiri.“Ayo.” Tangan Elvano masih menggenggam telapak tangan Kiran.Napas Kiran berembus panjang.Kiran akhirnya berdiri. Dia melangkah masuk ke ruang konsultasi bersama Elvano.Setelah menyapa ramah dokter yang dulu juga menangani kasus trauma sang kakak. Elvano langsung menyampaikan keluhan yang Kiran alami.“Jadi, seperti itu.

  • Dimanja Mantan Posesif    Mirip atau Memang Dia

    Noah berdiri duduknya.Dia melangkah meninggalkan mejanya, keluar dari restoran menuju area parkir.Begitu sampai di dekat Surya, Noah baru saja akan menyapa ketika Surya sudah lebih dulu menoleh ke arahnya.“Anda, baru mau makan di sini, Tuan?” Surya menyapa ramah.Senyum Noah terangkat kecil seperti biasa.“Aku baru saja selesai makan, Pak.” Noah membalas dengan tenang.“Oh, jadi Anda sudah mau pergi.” Gerakan Surya sigap siap membantu sopir Noah mengeluarkan mobil dari area parkir.Noah menggeleng. “Sebenarnya aku sedikit bosan.”Kening Surya berkerut dalam. Sebelum Surya merespon ucapannya, Noah sudah kembali bicara. “Apa aku boleh duduk di sini?”Surya tersentak. Dia menatap bingung.“Aku hanya sedang tidak ada kerjaan dan malas balik ke hotel, jadi ingin duduk santai saja di sini.” Noah segera menjelaskan.Surya mengangguk-angguk pelan.Noah benar-benar duduk di bangku yang biasa Surya duduki. Noah memperhatikan Surya yang sedang melakukan pekerjaannya, sampai akhirnya Surya k

  • Dimanja Mantan Posesif    Percaya Masih Hidup

    Surya menatap tegang pada Kiran.“Psikiater?” Surya mengulang.Kiran mengangguk.“Aku bisa mendengar suara ban meledak, bisa mendengar suara-suara keras lainnya yang tidak nyaman di telinga. Tapi, kenapa aku tidak bisa mendengar suara petir? Aku hanya ingin tahu, apa ini karena aku punya trauma.” Kiran mengembuskan napas kasar.Surya terdiam. “Ayah tenang saja, aku akan pergi dengan El. Aku akan baik-baik saja.” Kiran melebarkan senyumnya setelah meyakinkan Surya.Surya menatap Kiran yang penuh semangat.Dia tidak mau mematahkan, apa pun yang ingin putrinya lakukan.“Baiklah, kalau kamu pergi dengannya, Ayah bisa tenang.” Senyum lebar Surya terangkat di wajah tuanya. “Kalau begitu, sekarang kamu harus sarapan yang banyak, agar punya banyak tenaga dan bisa menjalani harimu dengan lancar.”Ucapan penuh semangat sang ayah, mampu membuat kepala Kiran mengangguk kuat.“Aku pasti akan makan banyak, apalagi jika makanannya masakan Ayah.”Setelah bicara, Kiran tertawa lepas.Sedang Surya lega

  • Dimanja Mantan Posesif    Membutuhkanmu

    Derasnya aliran sungai tak menghentikan usaha Elvano. Kedua tangannya terus bergerak mendayung sekuat tenaga agar bisa segera menggapai Kiran yang terbawa arus tak jauh darinya.Kiran tidak bisa berenang, Elvano harus bisa mengejar sebelum Kiran benar-benar hanyut dan hilang dari pandangannya.Tanga

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-29
  • Dimanja Mantan Posesif    Akhir Sandiwara

    Kedua pundak Dania menegang, bola matanya bergerak liar mencari kata-kata untuk membalas ucapan Kiran.“Kamu tidak usah mengelak lagi! Aku tahu, semua yang aku alami ini karena laporan darimu!” Kiran tersenyum hambar. Dania masih saja kukuh memfitnahnya.Melihat tenangnya Kiran, emosi Dania semaki

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-29
  • Dimanja Mantan Posesif    Merayu Anak Kecil

    Elvano menoleh pada Kiran, sebelum kembali menatap Leya.“Kakak Kiran asistennya Papa, jadi wajar kalau ikut.” Elvano menjelaskan dengan pelan.Kiran melambaikan tangan, senyumnya begitu hangat pada Leya yang kini menatap kesal padanya.“Nggak mau.” Leya melipat kedua tangan di depan dada. “Pokoknya

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-29
  • Dimanja Mantan Posesif    Memastikan Kiran Aman

    Tatapan Elvano menyorot tajam pada Robby, di saat tangannya merentang pelan ke samping untuk isyarat agar Theo tidak bertindak gegabah.“Aku tahu, bukan hanya itu tujuanmu. Baik, aku mengalah. Katakan apa yang mau kamu katakan, aku akan kabulkan tanpa syarat.” Elvano tak bisa mengambil resiko, saat

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-29
Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status