Compartilhar

Tenang Walau Panik

last update Última atualização: 2026-02-02 18:40:02

Kembali ke divisi pemasaran setelah selesai makan siang. Langkah kaki Kiran terhenti di tengah koridor ketika matanya tertuju pada Elvano yang berdiri di depan ruang kerja.

Jemari-jemari Kian meremat erat di sisi tubuhnya kalau melihat tatapan Elvano yang tertuju padanya.

“Kemari.”

Suara Elvano membuat Kiran terhenyak. Tertarik dari lamunan sejenak yang menguasai dirinya.

Kiran bergegas menghampiri Elvano.

“Ada apa, Pak?” Kiran tersenyum tenang, walau gemuruh di dadanya tak mampu dia kendalika
Continue a ler este livro gratuitamente
Escaneie o código para baixar o App
Capítulo bloqueado
Comentários (8)
goodnovel comment avatar
Istri Jungkook
palingan itu El yg berikan salep nya Kiran,cuman masih terhalang benci dan gengsi ...
goodnovel comment avatar
lilyedy.
El jgn galak2 dong kasihan Kiran,ibunya lebih galak dari kamu
goodnovel comment avatar
eva nindia
El dh yg ngasih salep memar.a.... Ampe kapan nih El masang muka kutub gtuu....
VER TODOS OS COMENTÁRIOS

Último capítulo

  • Dimanja Mantan Posesif    Sangat Canggung

    Kiran baru saja keluar dari kamar mandi, ketika melihat Alina masuk kamar.“Sudah selesai mandi?”Kiran mengangguk kecil. “Iya, Nyonya.”Senyum di wajah Alina sekilas memudar, sebelum kembali terangkat lebar. “Kamu sudah biasa datang kemari, tidak perlu sungkan dengan memanggil ‘Nyonya.’”Kiran tertegun. Dia menatap Alina yang sedang menghampirinya.Apa maksud ucapan wanita ini?Alina berdiri di depan Kiran. Kedua sudut bibirnya tertarik sempurna, sebelum dia berkata, “Panggil Bibi saja. Sepertinya lebih santai dan enak dengarnya.”Senyum Kiran terangkat kaku, dia mengangguk pelan.“Ini bajunya.” Alina memberikan pakaian baru ke tangan Kiran. Dia menatap nanar pada gadis muda di depannya ini. “Ini masih baru, sepertinya cocok dengan ukuran tubuhmu.”“Terima kasih Nyo … maksud saya, Bibi. Maaf sudah merepotkan Anda.” Kiran begitu sungkan, sampai bingung harus bersikap bagaimana.Tangan Alina mengusap lembut lengan Kiran. “Tidak masalah, sekarang ganti baju dulu. Habis ini kita makan ma

  • Dimanja Mantan Posesif    Masih Sama

    Kedua kaki Kiran seperti dipaku di marmer yang dipijaknya. Tubuhnya panas dingin mendengar suara Alina yang menggema di telinganya.“Ki, kenapa berhenti?” Kening Elvano berkerut dalam saat menatap Kiran.Wajah Kiran memelas saat memandang Elvano, kepalanya sampai menggeleng pelan.Sebelum Kiran bisa benar-benar kabur dari sana, Alina sudah keluar menghampiri mereka.“Kiran, akhirnya main ke sini lagi.” Kiran tertegun, matanya terpaku pada senyum Alina yang tidak berubah sama sekali. Hangat begitu tulus. Ketegangan dan kecemasan yang sebelumnya dirasakannya, sekarang perlahan memudar.“Selamat sore, Nyonya.” Kiran sedikit membungkukkan tubuhnya.“Kenapa sungkan begitu.” Senyum Alina begitu lebar.Kiran tersenyum canggung, kepalanya mengangguk-angguk pelan.“Kiran akan pulang agak malam, jadi sepertinya dia akan sekalian makan malam di sini.”Kiran tersentak. Dia menoleh pada Elvano, sebelum bibirnya menolak ucapan Elvano, Kiran sudah lebih dulu mendengar Alina bicara.“Benarkah? Bagus

  • Dimanja Mantan Posesif    Tidak Peduli

    Widya menatap malas, bahkan tak peduli walau Surya kesakitan. “Bu Widya, ada apa ini?” Inggit–tetangga Surya, lari tergopoh menghampiri Surya dan Widya, setelah mendengar pertengkaran keduanya.Tidak ada balasan dari Widya, Inggit terkejut melihat Surya terduduk di lantai.“Pak Surya.” Inggit berjongkok di samping Surya, tetapi tidak berani menyentuh pria ini. “Bu, sepertinya jantung Pak Surya kambuh.” Inggit menatap Widya yang berdiri.“Tidak usah ikut campur, lebih baik kamu pergi!” Widya menunjuk ke rumah Inggit.“Bu, Pak Surya kesakitan begini. Saya bantu bawa masuk.” Inggit membujuk.Widya malah mendecih. Dia melangkah masuk begitu saja meninggalkan Surya bersama Inggit di depan rumah.Inggit sangat terkejut dengan yang Widya lakukan. Wanita 45 tahun ini, mencoba membantu Surya berdiri.Inggit tidak kuat menopang tubuh Surya, sehingga dia memanggil tetangga lain yang kebetulan melintas untuk membantu Surya bangun dari lantai.Inggit memastikan Surya bisa duduk dengan nyaman, seb

  • Dimanja Mantan Posesif    Tidak Berhak

    Elvano menggandeng tangan Kiran menuju mobil. Dia memastikan Kiran duduk dengan tenang, sebelum Elvano masuk ke belakang kemudi.Tatapan Kiran masih tertuju ke arah sang ayah yang sedang menyeka keringat. Air matanya kembali jatuh, sampai jemarinya butuh berkali-kali untuk menghapusnya.Elvano memberikan tisu pada Kiran lebih dulu, sebelum melajukan mobil meninggalkan tempat itu.“Apa yang ayahmu katakan benar, Ki. Ayahmu memiliki tanggung jawab pada istri dan anak-anaknya, meskipun dia tinggal bersamamu. Mungkin itu yang jadi pertimbangan ayahmu tetap harus bekerja.”Kiran menoleh cepat pada Elvano, wajahnya masih basah, bahkan matanya sampai merah. “Tapi tetap saja, tidak seharusnya Ayah kerja keras terus di sisa usianya.”“Bahkan di kondisinya sekarang, apa Ayah harus kerja banting tulang terus, sedangkan anak-anaknya saja tidak ada yang peduli padanya?” Kiran terisak setelah bicara. Dia menghapus cairan yang keluar dari hidungnya.Napas Elvano berembus pelan. “Tapi, kalau ini adal

  • Dimanja Mantan Posesif    Tidak Boleh Bekerja

    Tatapan Kiran masih tertuju ke bahu jalan, sebelum dia menoleh ke Elvano.“Itu Ayah, El.” Elvano menoleh ke belakang, tatapannya tertuju ke pria tua yang sedang membantu sebuah mobil keluar dari area parkir menuju jalan raya.“Iya, itu ayahmu.”Elvano menoleh lagi pada Kiran, sampai dia terkejut menyadari Kiran sudah melangkah meninggalkannya.Buru-buru menutup pintu mobil, Elvano bergegas menyusul langkah Kiran.Kiran panik, wajahnya begitu cemas melihat sang ayah memakai seragam juru parkir salah satu restoran yang ada di dekat sana.Kaki Kiran melangkah cepat, meninggalkan Elvano di belakang karena perasaan campur aduk melihat sang ayah bekerja.“Ayah.” Bibir Kiran bergerak memanggil saat sudah dekat dengan Surya.Surya tersentak mendengar suara Kiran, apalagi ketika tatapannya tertuju ke sang putri yang sedang melangkah menghampirinya.“Ki-Kiran.” Wajah Surya begitu panik.Dengan mata berkaca-kaca ketika berdiri di hadapan Surya, Kiran menarik lengan sang ayah agar menepi di bahu

  • Dimanja Mantan Posesif    Selalu Ada Kejutan

    Sore hari.Kiran baru saja merapikan meja saat Elvano muncul di samping mejanya.Kiran berdiri, tatapannya sekilas tertuju pada beberapa staff yang memandang ke arahnya, sebelum dia menatap cemas pada Elvano yang menghampiri mejanya.“Sore ini, ikut denganku menemui klien.” Setelah bicara, Elvano mengedipkan satu matanya.Kiran melipat bibir sejenak. “Baik, Pak.”Tangan Kiran terulur meraih tasnya yang ada di laci penyimpanan, lantas meninggalkan mejanya mengikuti langkah Elvano.Saat keduanya sampai di dalam lift. Kiran menatap Elvano yang berdiri di sampingnya.“Kamu mau mengajakku ketemu klien?” Kiran memastikan.Elvano menoleh pada Kiran. “Itu hanya alasan.” Elvano menautkan jemari mereka. “Kalau aku bilang mau mengajakmu pergi, kamu pasti takut ketahuan staff lain.”Kiran menahan senyum, kepalanya mengangguk-angguk pelan. “Baiklah, terima kasih sudah menutupi hubungan kita.”Keduanya turun di basement. Elvano segera mengajak Kiran masuk ke dalam mobil.“Apa Ibu masih menunggu di

Mais capítulos
Explore e leia bons romances gratuitamente
Acesso gratuito a um vasto número de bons romances no app GoodNovel. Baixe os livros que você gosta e leia em qualquer lugar e a qualquer hora.
Leia livros gratuitamente no app
ESCANEIE O CÓDIGO PARA LER NO APP
DMCA.com Protection Status