LOGINKakak, hari ini aku up 3 bab ya. Jangan lupa komentarnya. Terima kasih
Kedua pundak Nindy menegang mendengar pertanyaan Noah.Tatapannya tertuju pada Noah yang menunggu jawabannya.Kedua tangan Nindy memegangi gelas jusnya, tatapannya kini diturunkan, tertuju pada cairan berwarna cerah di dalamnya. “Dulu kami sangat dekat, sering berbagi cerita apa saja walau kami beda kota. Tapi sejak Nandira menikah dengan Edo, dia memang mulai menjaga jarak padahal sekarang tinggal di kota sama. Bukan hanya denganku saja, tapi dengan semua orang yang dia kenal. Terutama dengan laki-laki.”Noah diam mendengarkan. Dia mengerti maksud Nindy. Edo yang memiliki kecemburuan berlebih pasti menekan Nandira agar tidak berinteraksi dengan lawan jenis.“Lalu, kalau Nandira sudah pernah menikah sebelum dengan Edo, di mana mantan suaminya sekarang?” Noah mencoba mencari topik untuk melegakan pikiran Nindy. Dia menyadari kalau Nindy menyimpan banyak beban rahasia yang membuat Nindy terus gelisah.Nindy diam dengan tatapan tertuju pada Noah. Dia ragu untuk menjawab, sampai melipat se
Di rumah sakit.Suasana di dalam kamar rawat inap begitu tenang, hanya terdengar deru halus dari mesin pendingin ruangan. Nindy masih duduk di samping ranjang, tatapannya terus tertuju pada Nandira yang belum juga sadar. Sampai Nindy mendengar suara pintu yang terbuka.Nindy menoleh ke arah pintu. Tatapannya kini tertuju pada Noah yang baru saja masuk ke dalam kamar diikuti oleh dua orang petugas polisi di belakang Noah. Nindy bangkit dari kursinya. Tubuhnya menghadap ke arah Noah saat dia sedikit membungkuk. “Selamat siang, Pak Noah.”Noah mengangguk kecil sebagai balasan. Lalu tatapannya tertuju pada Nandira yang terbaring lemah di atas ranjang.Noah berdiri di dekat ranjang. Napasnya berembus pelan melihat wajah Nandira yang lebam seperti ini. Bayangan seperti apa Edo saat menghajarnya begitu miris dalam ingatan Noah.Tatapan Noah kembali tertuju pada Nindy. “Bagaimana kondisinya sekarang?” Suara Noah pelan dan penuh keprihatinan.Nindy mengembuskan napas pelan, tatapannya tertu
Tatapan Edo tertuju ke arah pengawalnya menunjuk.Mata Edo kini menatap lurus pada pelayan tua yang sudah mengabdi di keluarganya selama puluhan tahun.Edo mengayunkan langkah dengan mata menyipit ragu. Bagaimana bisa wanita yang sangat dipercayainya, ternyata malah mengkhianatinya?Begitu Edo berdiri di depan pelayan tua, ketegangan begitu terasa mencekam di ruangan ini.Semua pelayan semakin tertunduk dalam, bahkan untuk bernapas bebas pun mereka tak berani.Edo menatap tajam pada pelayan tua ini. Wajahnya mengisyaratkan rasa tak percaya dengan tuduhan yang baru saja didengarnya.“Apa yang dikatakan penjaga itu benar, Bi?” tanya Edo memastikan. Nada suaranya pelan tetapi penuh dengan penekanan.Pelayan tua hanya menunduk dalam-dalam, jari-jarinya meremas ujung celemek tanpa berani mengeluarkan suara.Melihat diamnya pelayan ini, emosi Edo semakin meledak.Edo mencengkeram kuat kedua lengan pelayannya, memaksa agar pelayan kepercayaannya ini menatap ke arah matanya. “Jawab aku! Aku me
Nandira akhirnya dipindahkan ke ruang rawat inap setelah selesai ditangani oleh tim medis di ruang UGD. Kiran masih setia berdiri di samping ranjang, menatap Nandira yang tidur karena efek obat bius agar Nandira bisa istirahat dengan tenang setelah mengalami trauma akibat kekerasan yang dialaminya.Tatapan Kiran kini tertuju pada Nindy yang duduk di kursi samping ranjang.Kiran melihat mata Nindy yang masih merah dan hingga agak bengkak. “Dokter Nandira akan baik-baik saja, kamu jangan terlalu cemas lagi.” Kiran bicara dengan pelan sambil mengusap lembut pundak Nindy.Tatapan Nindy terangkat ke arah Kiran. Dia mengangguk pelan sambil memaksakan senyumnya.“Terima kasih karena kamu dan Pak Elvano mau ikut menemaniku tadi. Kalau kalian tadi tidak ikut denganku, entah apa yang akan terjadi padaku meski aku menemukan Nandira.” Suara Nindy agak berat karena mengatur napasnya yang sejak tadi tak beraturan karena panik dan takut.Senyum Kiran terangkat tipis. Dia mengangguk-angguk pelan. “
Di dalam mobil.Nindy terus merangkul pundak Nandira. Tangan kanannya sesekali menyingkirkan helaian rambut Nandira yang menutupi wajah.“Ya Tuhan, Dira. Apa yang sudah pria itu lakukan padamu? Bagaimana bisa dia sekejam ini padamu?” Buliran kristal bening jatuh dari pelupuk mata Nindy. Dia sampai gemetaran melihat wajah Nandira yang hampir sulit dikenali karena luka lebam yang memenuhi wajah. Bahkan sudut alis dan bibir Nandira juga pecah.Di dalam pelukan Nindy. Nandira masih bisa tersenyum“Terima kasih kalian datang. Jika tidak, mungkin aku hanya tinggal nama jika tertangkap.” Suara Nandira begitu lemah.Nindy memeluk erat tubuh Nandira. Matanya terpejam menahan air mata yang terus mengalir.Di kursi depan, Kiran terus memperhatikan kondisi Nandira.Dia benar-benar tidak menyangka jika Edo bisa segila dan sekejam ini.Kiran menatap pada Elvano yang sedang menyetir. Tatapan matanya menyiratkan kecemasan. “Edo pasti tidak akan tinggal diam mengetahui Nandira kabur. Dia juga tidak aka
Pelayan tua ini panik melihat penjaga menyadari kalau Nandira yang pergi.Dia menjatuhkan belanjaannya, lalu kedua tangannya menghalangi pria bertubuh kekar ini agar tidak pergi mengejar Nandira.“Lepaskan aku, Nenek Tua!” amuk penjaga.“Tidak, kamu tidak boleh pergi!” Pelayan tua ini mempertahankan posisinya memeluk pria ini.Pelayan ini tahu, dia tidak bisa mencegah lebih lama penjaga ini agar tak mengejar Nandira, tetapi setidaknya dia memberi waktu untuk Nandira lari lebih jauh, atau setidaknya mencari bantuan.Penjaga pria ini sudah sangat kesal karena dihalangi. Dia mencengkram kuat kedua pundak wanita tua yang menghalanginya, lalu mendorong tubuh wanita ini sampai terjerambab di rumput.“Awas saja kamu!” Pria itu mengancam lalu berlari menuju pintu kecil.Nandira berlari sekuat tenaganya dengan kaki terseret. Dia menuju ke jalan utama untuk bisa berlari menjauh dari rumah ini.Saat menoleh ke belakang, Nandira melihat penjaga mengejarnya.Mata Nandira membola. Dia sekuat tenaga







